<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3725440842778217774</id><updated>2012-02-16T19:20:33.209-08:00</updated><category term='tante-tante'/><category term='suami selingkuh'/><category term='cewek cantik'/><category term='foto janda muda'/><category term='cerita setengah baya'/><category term='cerita gadis'/><category term='cerita seru 17 tahun'/><category term='perek bandung'/><category term='cerita jorok'/><category term='ngentot smu'/><category term='cerita lonte'/><category term='foto pembantu telanjang'/><category term='cerita sahabat'/><category term='tante jalang'/><category term='cerita pembantu'/><category term='psk bugil'/><category term='cerita penis'/><category term='cerita romantis'/><category term='cerita kontol'/><category term='cerita wts'/><category term='janda bispak'/><category term='cerita hot'/><category term='janda seksi'/><category term='cerita kekasih'/><category term='abg smu jakarta'/><category term='foto pembantu bugil'/><category term='ngentot abg smu'/><category term='ngentot cewek abg'/><category term='kisah bugil'/><category term='abg smu'/><category term='istri selingkuh'/><category term='memek ibu kos'/><category term='cerita seksi'/><category term='janda muda'/><category term='cerita pacar'/><category term='memek gadis'/><category term='cerita babu'/><category term='foto telanjang'/><category term='janda diperkosa'/><category term='memek ibu'/><category term='cerita seks daun muda'/><category term='cerita pacaran'/><category term='cerita tentang janda'/><category term='kelentit'/><category term='certa memek'/><category term='ngentot janda'/><category term='foto istri bugil'/><category term='ngentot cewek smu'/><category term='cerita seks'/><category term='cerita nikah'/><category term='cerita perek'/><category term='pelacur abg'/><category term='foto pembantu diperkosa'/><category term='tante gatel'/><category term='memek merah'/><category term='ngentot pembantu'/><category term='cewek bandung'/><category term='foto gadis'/><category term='cerita saru 17 tahun'/><category term='foto perek'/><category term='istri muda bugil'/><category term='istri telanjang'/><category term='cerita memek'/><category term='psk telanjang'/><category term='cerita pelacur'/><category term='cerita seru'/><category term='janda telanjang'/><category term='kisah ewasa'/><category term='cerita seksual'/><category term='foto bugil'/><category term='pembantu bugil'/><category term='gadis bandung bugil'/><category term='pelacur bandung'/><category term='foto janda'/><category term='cerita bogel'/><category term='cerita dewasa abg'/><category term='cerita janda'/><category term='perek jakarta'/><category term='cerita porn'/><category term='pacarku selingkuh'/><category term='janda cantik'/><category term='ngentot abg'/><category term='cerita sensual'/><category term='tante pelacur'/><category term='selangkangan'/><category term='cewek jakarta'/><category term='foto perek jakarta'/><category term='pembantu bispak'/><category term='cerita dewasa'/><category term='cerita porno'/><category term='cerita sex'/><category term='abg bandung'/><category term='kisah dewasa'/><category term='cerita lucah'/><category term='janda bugil'/><category term='foto memek'/><category term='pembantu diperkosa'/><category term='gadis bandung'/><category term='pelacur jakarta'/><category term='kisah telanjang'/><category term='cerita daun muda'/><category term='pelacur jalang'/><category term='cerita dewasa janda'/><category term='cerita psk'/><category term='cerita istri selingkuh'/><category term='selangkangan gadis'/><category term='foto bispak'/><category term='memek janda'/><category term='cewek abg'/><category term='pelacur tante'/><category term='pembantu telanjang'/><category term='cerita nikmat'/><category term='cerita abg smu'/><category term='foto pelacur'/><category term='tante binal'/><category term='cerita seks janda'/><category term='tempek tante'/><category term='memek pembantu'/><category term='cerita jorok pembantu'/><category term='cerita seks pembantu'/><category term='kisah daun muda'/><category term='cerita saru'/><category term='abg bugil'/><title type='text'>Cerita Dewasa</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>love hurt</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3725440842778217774.post-2003944478989445959</id><published>2008-10-03T22:39:00.001-07:00</published><updated>2008-10-03T22:39:48.022-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pelacur jalang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tempek tante'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tante pelacur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tante jalang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tante binal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pelacur tante'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tante-tante'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tante gatel'/><title type='text'>Tante Yani</title><content type='html'>Jakarta! Ya, akhirnya jadi juga aku ke Jakarta. Kota impian semua orang, paling tidak bagi orang sedesaku di Gumelar, Kabupaten Banyumas, 23 Km ke arah utara Purwokerto, Jawa Tengah. Aku memang orang desa. Badanku tidak menggambarkan usiaku yang baru menginjak 16 tahun, bongsor berotot dengan kulit sawo gelap. Baru saja aku menamatkan ST (Sekolah Teknik) Negeri Baturaden, sekitar 5 Km dari Desa Gumelar, atau 17 Km utara Purwokerto. Kegiatanku sehari-hari selama ini kalau tidak sekolah, membantu Bapak dan Emak berkebun. Itulah sebabnya badanku jadi kekar dan kulit gelap. Kebunku memang tak begitu luas, tapi cukup untuk menopang kehidupan keluarga kami sehari-hari yang hanya 5 orang. Aku punya 2 orang adik laki-laki semua, 12 dan 10 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dikatakan aku ini orangnya ?kuper?. Anak dari desa kecil yang terdiri dari hanya belasan rumah yang terletak di kaki Gunung Slamet. Jarak antar rumahpun berjauhan karena diselingi kebun-kebun, aku jadi jarang bertemu orang. Situasi semacam ini mempengaruhi kehidupanku kelak. Rendah diri, pendiam dan tak pandai bergaul, apalagi dengan wanita. Pengetahuanku tentang wanita hampir dapat dikatakan nol, karena lingkungan bergaulku hanya seputar rumah, kebun, dan sekolah teknik yang muridnya 100% lelaki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman, kisah yang akan Anda baca ini adalah pengalaman nyata kehidupanku sekitar 9 sampai 6 tahun lalu. Pengalaman nyata ini aku ceritakan semuanya kepada Mas Joko, kakak kelasku, satu-satunya orang yang aku percayai yang hobinya memang menulis. Dia sering menulis untuk majalah dinding, buletin sekolah, koran dan majalah lokal yang hanya beredar di seputar Purwokerto. Mas Joko kemudian meminta izinku untuk menulis kisah hidupku ini yang katanya unik dan katanya akan dipasang di internet. Aku memberinya izin asalkan nama asliku tidak disebutkan. Jadi panggil saja aku Tarto, nama samaran tentu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ke Jakarta atas seizin orang tuaku, bahkan merekalah yang mendorongnya. Pada mulanya aku sebenarnya enggan meninggalkan keluargaku, tapi ayahku menginginkan aku untuk melanjutkan sekolah ke STM. Aku lebih suka kerja saja di Purwokerto. Aku menerima usulan ayahku asalkan sekolah di SMA (sekarang SMU) dan tidak di kampung. Dia memberi alamat adik misannya yang telah sukses dan tinggal di bilangan Tebet, Jakarta. Ayahku sangat jarang berhubungan dengan adik misannya itu. Paling hanya beberapa kali melalui surat, karena telepon belum masuk ke desaku. Kabar terakhir yang aku dengar dari ayahku, adik misannya itu, sebut saja Oom Ton, punya usaha sendiri dan sukses, sudah berkeluarga dengan satu anak lelaki umur 4 tahun dan berkecukupan. Rumahnya lumayan besar. Jadi, dengan berbekal alamat, dua pasang pakaian, dan uang sekedarnya, aku berangkat ke Jakarta. Satu-satunya petunjuk yang aku punyai: naik KA pagi dari Purwokerto dan turun di stasiun Manggarai. Tebet tak jauh dari stasiun ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stasiun Manggarai, pukul 15.20 siang aku dicekam kebingungan. Begitu banyak manusia dan kendaraan berlalu lalang, sangat jauh berbeda dengan suasana desaku yang sepi dan hening. Singkat cerita, setelah ?berjuang? hampir 3 jam, tanya ke sana kemari, dua kali naik mikrolet (sekali salah naik), sekali naik ojek yang mahalnya bukan main, sampailah aku pada sebuah rumah besar dengan taman yang asri yang cocok dengan alamat yang kubawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdebar-debar aku masuki pintu pagar yang sedikit terbuka, ketok pintu dan menunggu. Seorang wanita muda, berkulit bersih, dan .. ya ampun, menurutku cantik sekali (mungkin di desaku tidak ada wanita cantik), berdiri di depanku memandang dengan sedikit curiga. Setelah aku jelaskan asal-usulku, wajahnya berubah cerah. ?Tarto, ya ? Ayo masuk, masuk. Kenalkan, saya Tantemu.? Dengan gugup aku menyambut tangannya yang terjulur. Tangan itu halus sekali. ?Tadinya Oom Ton mau jemput ke Manggarai, tapi ada acara mendadak. Tante engga sangka kamu sudah sebesar ini. Naik apa tadi, nyasar, ya ?? Cecarnya dengan ramah. ?Maaar, bikin minuman!? teriaknya kemudian. Tak berapa lama datang seorang wanita muda meletakkan minuman ke meja dengan penuh hormat. Wanita ini ternyata pembantu, aku kira keponakan atau anggota keluarga lainnya, sebab terlalu ?trendy? gaya pakaiannya untuk seorang pembantu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aku tak menduga sambutan yang begitu ramah. Menurut cerita yang aku dengar, orang Jakarta terkenal individualis, tidak ramah dengan orang asing, antar tetangga tak saling kenal. Tapi wanita tadi, isteri Oomku, Tante Yani namanya (?Panggil saja Tante,? katanya akrab) ramah, cantik lagi. Tentu karena aku sudah dikenalkannya oleh Oom Ton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diberi kamar sendiri, walaupun agak di belakang tapi masih di rumah utama, dekat dengan ruang keluarga. Kamarku ada AC-nya, memang seluruh ruang yang ada di rumah utama ber-AC. Ini suatu kemewahan bagiku. Dipanku ada kasur yang empuk dan selimut tebal. Walaupun AC-nya cukup dingin, rasanya aku tak memerlukan selimut tebal itu. Mungkin aku cukup menggunakan sprei putih tipis yang di lemari itu untuk selimut. Rumah di desaku cukup dingin karena letaknya di kaki gunung, aku tak pernah pakai selimut, tidur di dipan kayu hanya beralas tikar. Aku diberi ?kewenangan? untuk mengatur kamarku sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih merasa canggung berada di rumah mewah ini. Petang itu aku tak tahu apa yang musti kukerjakan. Selesai beres-beres kamar, aku hanya bengong saja di kamar. ?Too, sini, jangan ngumpet aja di kamar,? Tante memanggilku. Aku ke ruang keluarga. Tante sedang duduk di sofa nonton TV. ?Sudah lapar, To ?? ?Belum Tante.? Sore tadi aku makan kue-kue yang disediakan Si Mar. ?Kita nunggu Oom Ton ya, nanti kita makan malam bersama-sama.? Oom Ton pulang kantor sekitar jam 19 lewat. ?Selamat malam, Oom,? sapaku. ?Eh, Ini Tarto ? Udah gede kamu.? ?Iya Oom.? ?Gimana kabarnya Mas Kardi dan Yu Siti,? Oom menanyakan ayah dan ibuku. ?Baik-baik saja Oom.? Di meja makan Oom banyak bercerita tentang rencana sekolahku di Jakarta. Aku akan didaftarkan ke SMA Negeri yang dekat rumah. Aku juga diminta untuk menjaga rumah sebab Oom kadang-kadang harus ke Bandung atau Surabaya mengurusi bisnisnya. ?Iya, saya kadang-kadang takut juga engga ada laki-laki di rumah,? timpal Tante. ?Berapa umurmu sekarang, To ?? ?Dua bulan lagi saya 16 tahun, Oom.? ?Badanmu engga sesuai umurmu.? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari baruku dimulai. Aku diterima di SMA Negeri 26 Tebet, tak jauh dari rumah Oom dan Tanteku. Ke sekolah cukup berjalan kaki. Aku memang belum sepenuhnya dapat melepas kecanggunganku. Bayangkan, orang udik yang kuper tamatan ST (setingkat SLTP) sekarang sekolah di SMA metropolitan. Kawan sekolah yang biasanya lelaki melulu, kini banyak teman wanita, dan beberapa diantaranya cantik-cantik. Cantik ? Ya, sejak aku di Jakarta ini jadi tahu mana wanita yang dianggap cantik, tentunya menurut ukuranku. Dan tanteku, Tante Yani, isteri Oom Ton menurutku paling cantik, dibandingkan dengan kawan-kawan sekolahku, dibanding dengan tante sebelah kiri rumah, atau gadis (mahasiswi ?) tiga rumah ke kanan. Cepat-cepat kuusir bayangan wajah tanteku yang tiba-tiba muncul. Tak baik membayangkan wajah tante sendiri. Pada umumnya teman-teman sekolahku baik, walaupun kadang-kadang mereka memanggilku ?Jawa?, atau meledek cara bicaraku yang mereka sebut ?medok?. Tak apalah, tapi saya minta mereka panggil saja Tarto. Alasanku, kalau memanggil ?Jawa?, toh orang Jawa di sekolah itu bukan hanya aku. Mereka akhirnya mau menerima usulanku. Terus terang aku di kelas menjadi cepat populer, bukan karena aku pandai bergaul. Dibandingkan teman satu kelas tubuhku paling tinggi dan paling besar. Bukan sombong, aku juga termasuk murid yang pintar. Aku memang serius kalau belajar, kegemaranku membaca menunjang pengetahuanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegemaranku membaca inilah yang mendorongku bongkar-bongkar isi rak buku di kamarku di suatu siang pulang sekolah. Rak buku ini milik Oom Ton. Nah, di antara tumpukan buku, aku menemukan selembar majalah bergambar, namanya Popular. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya penemuan majalah inilah merupakan titik awalku belajar mandiri tentang wanita. Tidak sendiri sebetulnya, sebab ada ?guru? yang diam-diam membimbingku. Kelak di kemudian hari aku baru tahu tentang ?guru? itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah itu banyak memuat gambar-gambar wanita yang bagus, maksudnya bagus kualitas fotonya dan modelnya. Dengan berdebar-debar satu-persatu kutelusuri halaman demi halaman. Ini memang majalah hiburan khusus pria. Semua model yang nampang di majalah itu pakaiannya terbuka dan seronok. Ada yang pakai rok demikian pendeknya sehingga hampir seluruh pahanya terlihat, dan mulus. Ada yang pakai blus rendah dan membungkuk memperlihatkan bagian belahan buah dada. Dan, ini yang membuat jantungku keras berdegup : memakai T-shirt yang basah karena disiram, sementara dalamnya tidak ada apa-apa lagi. Samar-samar bentuk sepasang buah kembar kelihatan. Oh, begini tho bentuk tubuh wanita. Dasarnya aku sangat jarang ketemu wanita. Kalau ketemu-pun wanita desa atau embok-embok, dan yang aku lihat hanya bagian wajah. Bagaimana aku tidak deg-deg-an baru pertama kali melihat gambar tubuh wanita, walaupun hanya gambar paha dan sebagian atas dada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak ketemu majalah Popular itu aku jadi lain jika memandang wanita teman kelasku. Tidak hanya wajahnya yang kulihat, tapi kaki, paha dan dadanya ?kuteliti?. Si Rika yang selama ini aku nilai wajahnya lumayan dan putih, kalau ia duduk menyilangkan kakinya ternyata memiliki paha mulus agak mirip foto di majalah itu. Memang hanya sebagian paha bawah saja yang kelihatan, tapi cukup membuatku tegang. Ya tegang. ?Adikku? jadi keras! Sebetulnya penisku menjadi tegang itu sudah biasa setiap pagi. Tapi ini tegang karena melihat paha mulus Rika adalah pengalaman baru bagiku. Sayangnya dada Rika tipis-tipis saja. Yang dadanya besar si Ani, demikian menonjol ke depan. Memang ia sedikit agak gemuk. Aku sering mencuri pandang ke belahan kemejanya. Dari samping terkadang terbuka sedikit memperlihatkan bagian dadanya di sebelah kutang. Walau terlihat sedikit cukup membuatku ?ngaceng?. Sayangnya, kaki Ani tak begitu bagus, agak besar. Aku lalu membayangkan bagaimana bentuk dada Ani seutuhnya, ah ngaceng lagi! Atau si Yuli. Badannya biasa-biasa saja, paha dan kaki lumayan berbentuk, dadanya menonjol wajar, tapi aku senang melihat wajahnya yang manis, apalagi senyumnya. Satu lagi, kalau ia bercerita, tangannya ikut ?sibuk?. Maksudku kadang mencubit, menepuk, memukul, dan, ini dia, semua roknya berpotongan agak pendek. Ah, aku sekarang punya ?wawasan? lain kalau memandang teman-teman cewe. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah! Tante Yani! Ya, kenapa selama ini aku belum ?melihat dengan cara lain?? Mungkin karena ia isteri Oomku, orang yang aku hormati, yang membiayai hidupku, sekolahku. Mana berani aku ?menggodanya? meskipun hanya dari cara memandang. Sampai detik ini aku melihat Tante Yani sebagai : wajahnya putih bersih dan cantik. Tapi dasar setan selalu menggoda manusia, bagaimana tubuhnya ? Ah, aku jadi pengin cepat-cepat pulang sekolah untuk ?meneliti? Tanteku. Jangan ah, aku menghormati Tanteku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh! Kenapa begini ? Apanya yang begini ? Tante Yani! Seperti biasa, kalau pulang aku masuk dari pintu pagar langsung ke garasi, lalu masuk dari pintu samping rumah ke ruang keluarga di tengah-tengah rumah. Melewati ruang keluarga, sedikit ke belakang sampai ke kamarku. Isi ruang keluarga ini dapat kugambarkan : di tengahnya terhampar karpet tebal yang empuk yang biasa digunakan tante untuk membaca sambil rebahan, atau sedang dipijit Si Mar kalau habis senam. Agak di belakang ada satu set sofa dan pesawat TV di seberangnya. Sewaktu melewati ruang keluarga, aku menjumpai Tante Yani duduk di kursi dekat TV menyilang kaki sedang menyulam, berpakaian model kimono. Duduknya persis si Rika tadi pagi, cuma kaki Tante jauh lebih indah dari Rika. Putih, bersih, panjang, di betis bawahnya dihiasi bulu-bulu halus ke atas sampai paha. Ya, paha, dengan cara duduk menyilang, tanpa disadari Tante belahan kimononya tersingkap hingga ke bagian paha agak atas. Tanpa sengaja pula aku jadi tahu bahwa tante memiliki paha selain putih bersih juga berbulu lembut. Sejenak aku terpana, dan lagi-lagi tegang. Untung aku cepat sadar dan untung lagi Tante begitu asyik menyulam sehingga tidak melihat ulah keponakannya yang dengan kurang ajar ?memeriksa? pahanya. Ah, kacau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak sekali ini aku melihat Tante memakai kimono. Kenapa aku tadi terangsang mungkin karena ?penghayatan? yang lain, gara-gara majalah itu. Selesai makan ada dorongan aku ingin ke ruang tengah, meneruskan ?penelitianku? tadi. Aku ada alasan lain tentu saja, nonton TV swasta, hal baru bagiku. Mungkin aku mulai kurang ajar : mengambil posisi duduk di sofa nonton TV tepat di depan Tante, searah-pandang kalau mengamati pahanya! ?Gimana sekolahmu tadi To ?? tanya Tante tiba-tiba yang sempat membuatku kaget sebab sedang memperhatikan bulu-bulu kakinya. ?Biasa-biasa saja Tante.? ?Biasa gimana ? Ada kesulitan engga ?? ?Engga Tante.? ?Udah banyak dapat kawan ?? ?Banyak, kawan sekelas.? ?Kalau kamu pengin main lihat-lihat kota, silakan aja.? ?Terima kasih, Tante. Saya belum hafal angkutannya.? ?Harus dicoba, yah nyasar-nyasar dikit engga apa-apa, toh kamu tahu jalan pulang.? ?Iya Tante, mungkin hari Minggu saya akan coba.? ?Kalau perlu apa-apa, uang jajan misalnya atau perlu beli apa, ngomong aja sama Tante, engga usah malu-malu.? Gimana kurang baiknya Tanteku ini, keponakannya saja yang nakal. Nakal ? Ah ?kan cuma dalam pikiran saja, lagi pula hanya ?meneliti? kaki yang tanpa sengaja terlihat, apa salahnya. ?Terima kasih Tante, uang yang kemarin masih ada kok.? ?Emang kamu engga jajan di sekolah ?? Berdesir darahku. Sambil mengucapkan ?jajan? tadi Tante mengubah posisi kakinya sehingga sekejap, tak sampai sedetik, sempat terlihat warna merah jambu celana dalamnya! Aku berusaha keras menenangkan diri. ?Jajan juga sih, hanya minuman dan makanan kecil.? Akupun ikut-ikutan mengubah posisi, ada sesuatu yang mengganjal di dalam celanaku. Untung Tante tidak memperhatikan perubahan wajahku. Sepanjang siang ini aku bukannya nonton TV. Mataku lebih sering ke arah Tante, terutama bagian bawahnya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya tak ada kejadian istimewa. Rutin saja, sekolah, makan siang, nonton TV, sesekali melirik kaki Tante. Oom Ton pulang kantor selalu malam hari. Saat ketemu Oomku hanya pada makan malam, bertiga. Si Luki, anak lelakinya 4 tahun biasanya sudah tidur. Kalau Luki sudah tidur, Tinah, pengasuhnya pamitan pulang. Pada acara makan malam ini, sebetulnya aku punya kesempatan untuk menikmati? (cuma dengan mata) paha mulus berbulu Tante, sebab malam ini ia memakai rok pendek, biasanya memakai daster. Tapi mana berani aku menatap pemandangan indah ini di depan Oom. Betapa bahagianya mereka menurut pandanganku. Oom tamat sekolahnya, punya usaha sendiri yang sukses, punya isteri yang cantik, putih, mulus. Anak hanya satu. Punya sopir, seorang pembantu, Si Mar dan seorang baby sitter Si Tinah. Sopir dan baby sitter tidak menginap, hanya pembantu yang punya kamar di belakang. Praktis Tante Yani banyak waktu luang. Anak ada yang mengasuh, pekerjaan rumah tangga beres ditangan pembantu. Oh ya, ada seorang lagi, pengurus taman biasa di panggil Mang Karna, sudah agak tua yang datang sewaktu-waktu, tidak tiap hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokkan harinya ada kejadian ?penting? yang perlu kuceritakan. Pagi-pagi ketika aku sedang menyusun buku-buku yang akan kubawa ke sekolah, ada beberapa lembar halaman yang mungkin lepasan atau sobekan dari majalah luar negeri terselip di antara buku-buku pelajaranku. Aku belum sempat mengamati lembaran itu, karena buru-buru mau berangkat takut telat. Di sekolah pikiranku sempat terganggu ingat sobekan majalah berbahasa Inggris itu, milik siapa ? Tadi pagi sekilas kulihat ada gambarnya wanita hanya memakai celana jean tak berbaju. Inilah yang mengganggu pikiranku. Sempat kubayangkan, bagaimana kalau Ani hanya memakai jean. Kaki dan pahanya yang kurang bagus tertutup, sementara bulatan dadanya yang besar terlihat jelas. Ah.. nakal kamu To! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang sekolah tidak seperti biasa aku tidak langsung ke meja makan, tapi ngumpet di kamarku. Pintu kamar kukunci dan mulai mengamati sobekan majalah itu. Ada 4 lembar, kebanyakan tulisan yang tentu saja tidak kubaca. Aku belum paham Bahasa Inggris. Di setiap pojok bawah lembaran itu tertulis: Penthouse. Langsung saja ke gambar. Gemetaran aku dibuatnya. Wanita bule, berpose membusungkan dadanya yang besar, putih, mulus, dan terbuka seluruhnya! Paha dan kakinya meskipun tertutup jean ketat, tapi punya bentuk yang indah, panjang, persis kaki milik Tante. Hah, kenapa aku jadi membandingkan dengan tubuh Tante ? Peduli amat, tapi itulah yang terbayang. Kenapa aku sebut kejadian penting, karena baru sekaranglah aku tahu bentuk utuh sepasang buah dada, meskipun hanya dari foto. Bulat, di tengah ada bulatan kecil warna coklat, dan di tengah-tengah bulatan ada ujungnya yang menonjol keluar. Segera saja tubuhku berreaksi, penisku tegang, dada berdebar-debar. Halaman berikutnya membuatku lemas, mungkin belum makan. Masih wanita bule yang tadi tapi sekarang di close-up. Buah dadanya makin jelas, sampai ke pori-porinya. Ini kesempatanku untuk ?mempelajari? anatomi buah kembar itu. Dari atas kulit itu bergerak naik, sampai puting yang merupakan puncaknya, kemudian turun lagi ?membulat?. Ya, beginilah bentuk buah dada wanita. Putingnya, apakah selalu menonjol keluar seperti menunjuk ke depan ? Jawabannya baru tahu kelak kemudian hari ketika aku ?praktek?. Tiba-tiba terlintas pikiran nakal, Tante Yani! Bagaimana ya bentuk buah dada Tanteku itu ? Ah, kenapa selama ini aku tak memperhatikannya. Asyik lihat ke bawah terus sih! Memang kesempatannya baru lihat paha. Kimono Tante waktu itu, kalau tak salah, tertutup sampai dibawah lehernya. Tapi ?kan bisa lihat bentuk luarnya. Ah, memang mataku tak sampai kesitu. Melihat bentuk paha dan kaki cewe bule ini mirip milik Tante, aku rasa bentuk dadanyapun tak jauh berbeda, begitu aku mencoba memperkirakan. Begitu banyak aku berdialog dengan diri sendiri tentang buah dada. Begitu banyak pertanyaan yang bermuara pada pertanyaan inti : Bagaimana bentuk buah dada Tanteku yang cantik itu ? Untungnya, atau celakanya, pertanyaanku itu segera mendapat jawaban, di meja makan. Di pertengahan makan siangku, Tante muncul istimewa. Mengenakan baju-mandi, baju mirip kimono tapi pendek dari bahan seperti handuk tapi lebih tipis warna putih dan ada pengikat di pinggangnya. Tante kelihatan lain siang itu, segar, cerah. Kelihatannya baru selesai mandi dan keramas, sebab rambutnya diikat handuk ke atas mirip ikat kepala para syeh. ?Oh, kamu sudah pulang, engga kedengaran masuknya,? sapanya ramah sambil berjalan menuju ke tempatku. ?Dari tadi Tante,? jawabku singkat. Ia berhenti, berdiri tak jauh dari dudukku. Kedua tangannya ke atas membenahi handuk di rambutnya. Posisi tubuh Tante yang beginilah memberi jawaban atas pertanyaanku tadi. Luar biasa! Besar juga buah dada Tante ini, persis seperti perkiraanku tadi, bentuknya mirip punya cewe bule di Penthouse tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun aku melihatnya masih ?terbungkus? baju-mandi, tapi jelas alurnya, bulat menonjol ke depan. Di bagian kanan baju mandinya rupanya ada yang basah, ini makin mempertegas bentuk buah indah itu. Samar-samar aku bisa melihat lingkaran kecil di tengahnya. Sehabis mandi mungkin hanya baju-mandi itu saja yang membungkus tubuhnya sekarang. Bawahnya aku tak tahu. Bawahnya! Ya, aku melupakan pahanya. Segera saja mataku turun. Kini lebih jelas, bulu-bulu lembut di pahanya seperti diatur, berbaris rapi. Ah aku sekarang lagi tergila-gila buah dada. Pandanganku ke atas lagi. Mudah-mudahan ia tak melihatku melahap (dengan mata) tubuhnya. Memang ia tidak memperhatikanku, pandangannya ke arah lain masih terus asyik merapikan rambutnya. Tapi aku tak bisa berlama-lama begini, disamping takut ketahuan, lagipula aku ?kan sedang makan. Kuteruskan makanku. Bagaimana reaksi tubuhku, susah diceritakan. Yang jelas kelaminku tegang luar biasa. Tiba-tiba ia menarik kursi makan di sebelahku dan duduk. Ah, wangi tubuhnya terhirup olehku. ?Makan yang banyak, tambah lagi tuh ayamnya.? Bagaimana mau makan banyak, kalau ?diganggu? seperti ini. Aku mengiakan saja. Rupanya ?gangguan nikmat? belum selesai. Aku duduk menghadap ke utara. Di dekatku duduk si Badan-sintal yang habis mandi, menghadap ke timur. Aku bebas melihat tubuhnya dari samping kiri. Ia menundukkan kepalanya dan mengurai rambutnya ke depan. Dengan posisi seperti ini, badan agak membungkuk ke depan dan satu-satunya pengikat baju ada di pinggang, dengan serta merta baju mandinya terbelah dan menampakkan pemandangan yang bukan main. Buah dada kirinya dapat kulihat dari samping dengan jelas. Ampun.. putihnya, dan membulat. Kalau aku menggeser kepalaku agak ke kiri, mungkin aku bisa melihat putingnya. Tapi ini sih ketahuan banget. Jangan sampai. Betapa tersiksanya aku siang ini. Tersiksa tapi nikmat! Oh Tuhan, janganlah aku Kau beri siksa yang begini. Aku khawatir tak sanggup menahan diri. Rasa-rasanya tanganku ingin menelusup ke belahan baju mandi ini lalu meremas buah putih itu? Kalau itu terjadi, bisa-bisa aku dipulangkan, dan hilanglah kesempatanku meraih masa depan yang lebih baik. Apa yang kubilang pada ayahku ? Dapat kupastikan ia marah besar, dan artinya, kiamat bagiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung, atau sialnya, Tante cepat bangkit menuju ke kamar sambil menukas: ?Teruskan ya makannya.? ?Ya Tante,? sahutku masih gemetaran. Aah., aku menemukan sesuatu lagi. Aku mengamati Tante berjalan ke kamarnya dari belakang, gerakan pinggulnya indah sekali. Pinggul yang tak begitu lebar, tapi pantatnya demikian menonjol ke belakang. Tubuh ideal, memang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya aku disuruh makan duluan sendiri. Tante menunggu Oom yang telat pulang malam ini. Masih terbayang kejadian siang tadi bagaimana aku menikmati pemandangan dada Tante yang membuat aku tak begitu selera makan. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan Tante yang muncul dari kamarnya. Masih mengenakan baju-mandi yang tadi, rambutnya juga masih diikat handuk. Langsung ia duduk disebelahku persis di kursi yang tadi. Belum habis rasa kagetku, tiba-tiba pula ia pindah dan duduk di pangkuanku! Bayangkan pembaca, bagaimana nervous-nya aku. Yang jelas penisku langsung mengeras merasakan tindihan pantat Tante yang padat. Disingkirkannya piringku, memegang tangan kiriku dan dituntunnya menyelinap ke belahan baju-mandinya. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Kuremas dadanya dengan gemas. Hangat, padat dan lembut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantepun menggoyang pantatnya, terasa enak di kelaminku. Goyangan makin cepat, aku jadi merasa geli di ujung penisku. Rasa geli makin meningkat dan meningkat, dan .. Aaaaah, aku merasakan nikmat yang belum pernah kualami, dan eh, ada sesuatu terasa keluar berbarengan rasa nikmat tadi, seperti pipis dan? aku terbangun. Sialan! Cuma mimpi rupanya. Masa memimpikan Tante, aku jadi malu sendiri. Kejadian siang tadi begitu membekas sampai terbawa mimpi. Eh, celanaku basah. Mana mungkin aku ngompol. Lalu apa dong ? Cepat-cepat aku periksa. Memang aku ngompol! Tapi tunggu dulu, kok airnya lain, lengket-lengket agak kental. Ah, kenapa pula aku ini ? Apa yang terjadi denganku ? Besok coba aku tanya pada Oom. Gila apa! Jangan sama Oom dong. Lalu tanya kepada Tante, tak mungkin juga. Coba ada Mas Joko, kakak kelasku di ST dulu. Mungkin teman sekolahku ada yang tahu, besok aku tanyakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya aku ceritakan hal itu kepada Dito teman paling dekat. Sudah barang tentu kisahnya aku modifikasi, bukan Tante yang duduk di pangkuanku, tapi ?seseorang yang tak kukenal?. ?Kamu baru mengalami tadi malam ?? ?Ya, tadi malam.? ?Telat banget. Aku sudah mengalami sewaktu kelas 2 SMP, dua tahun lalu. Itu namanya mimpi basah.? ?Mimpi basah ?? ?Ya. Itu tandanya kamu mulai dewasa, sudah aqil-baliq. Lho, emangnya kamu belum pernah dengar ?? Malu juga aku dibilang telat dan belum tahu mimpi basah. Tapi juga ada rasa sedikit bangga, aku mulai dewasa! ?Rupanya kamu badan aja yang gede, pikiran masih anak-anak.? Ah biar saja. Beberapa hari sebelum mimpi basah itu toh aku sudah ?menghayati? wanita sebagai orang dewasa! ?Kamu punya pacar ?? ?Engga.? ?Atau pernah pacaran ?? ?Engga juga.? ?Pantesan telat kalau begitu. Waktu kelas 3 SMP aku punya pacar, teman sekelas. Enak deh, sekolah jadi semangat.? ?Kalau pacaran ngapain aja sih ?? tanyaku lugu. Memang betul aku belum tahu tentang pacaran. Tentang wanitapun aku baru tahu beberapa hari lalu. ?Ha.. ha.. ha.! Kampungan lu! Ya tergantung orangnya. Kalau aku sih paling-paling ciuman, raba-raba, udah. Kalau si Ricky kelewatan, sampai pacarnya hamil.? Ciuman, raba-raba. Aku pernah lihat orang ciuman di filem TV, enak juga kelihatannya, belum pernah aku membayangkan. Kalau meraba, pernah kubayangkan meremas dada Tante. ?Hamil ?? Pelajaran baru nih. ?Ada juga yang sampai ?gitu? tapi engga hamil. Engga tahu aku caranya gimana.? ?Gitu gimana ?? ?Kamu betul-betul engga tahu ?? Lalu ia cerita bagaimana hubungan kelamin itu. Dengan bisik-bisik tentunya. Aku jadi tegang. Pantaslah aku dibilang kampungan, memang betul-betul baru tahu saat ini. Kelamin lelaki masuk ke kelamin wanita, keluar bibit manusia, lalu hamil. Bibit! Mungkin yang keluar dari kelaminku semalam adalah bibit manusia. Bagaimana mungkin kelaminku sebesar ini bisa masuk ke lubang pipis wanita ? Sebesar apa lubangnya, dan di mana ? Yang pernah aku lihat kelamin wanita itu kecil, berbentuk segitiga terbalik dan ada belahan kecil di ujung bawahnya. Tapi yang kulihat dulu itu di desa adalah kelamin anak-anak perempuan yang sedang mandi di pancuran. Kelamin wanita dewasa sama sekali aku belum pernah lihat. Bagaimana bentuknya ya ? Mungkin segitiganya lebih besar. Ah, pikiranku terlalu jauh. Ciuman saja dulu. Aku sependapat dengan Dito, kalau pacaran ciuman dan raba-raba saja. Aku jadi ingin pacaran, tapi siapa yang mau pacaran sama aku yang kuper ini ? Ya dicari dong! Si Rika, Ani atau Yuli ? Siapa sajalah, asal mau jadi pacarku, buat ciuman dan diraba-raba. Sepertinya sedap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang aku membayangkan bagaimana seandainya aku pacaran sama Rika. Pahanya yang lumayan mulus enak dielus-elus. Tanganku terus ke atas membuka kancing bajunya, lalu menyelusup dan? sopir Bajaj itu memaki-maki membuyarkan lamunanku. Tanpa sadar aku berjalan terlalu ke tengah. Di balik kutang Rika hanya ada sedikit tonjolan, tak ada ?pegangan?, kurang enak ah. Tiba-tiba Rika berubah jadi Ani. Melamun itu memang enak, bisa kita atur semau kita. Ketika membuka kancing baju Ani aku mulai tegang. Kususupkan empat jariku ke balik kutang Ani. Nah ini, montok, keras walau tak begitu halus. Telapak tanganku tak cukup buat ?menampung? dada Ani. Aku berhenti, menunggu lampu penyeberangan menyala hijau. Sampai di seberang jalan kusambung khayalanku. Ani telah berubah menjadi Yuli. Anak ini memang manis, apalagi kalau tersenyum, bibirnya indah, setidaknya menurutku. Aku mulai mendekatkan mulutku ke bibir Yuli yang kemudian membuka mulutnya sedikit, persis seperti di film TV kemarin. Kamipun berciuman lama. Kancing baju seragam Yulipun mulai kulepas, dua kancing dari atas saja cukup. Kubayangkan, meski dari luar dada Yuli menonjol biasa, tak kecil dan tak besar, ternyata dadanya besar juga. Kuremas-remas sepuasnya sampai tiba di depan rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali ke dunia nyata. Masuk melalui pintu garasi seperti biasa, membuka pintu tengah sampai ke ruang keluarga. Juga seperti biasa kalau mendapati Tante sedang membaca majalah sambil rebahan di karpet, atau menyulam, atau sekedar nonton TV di ruang keluarga. Yang tidak biasa adalah, kedua bukit kembar itu. Tante membaca sambil tengkurap menghadap pintu yang sedang kumasuki. Posisi punggungnya tetap tegak dengan bertumpu pada siku tangannya. Mengenakan daster dengan potongan dada rendah, rendah sekali. Inipun tak biasa, atau karena aku jarang memperhatikan bagian atas. Tak ayal lagi, kedua bukit putih itu hampir seluruhnya tampak. Belahannya jelas, sampai urat-urat lembut agak kehijauan di kedua buah dada itu samar-samar nampak. Aku tak melewatkan kesempatan emas ini. Tante melihat sebentar ke arahku, senyum sekejap, terus membaca lagi. Akupun berjalan amat perlahan sambil mataku tak lepas dari pemandangan amat indah ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir lengkap aku ?mempelajari? tubuh Tanteku ini. Wajah dan ?komponen?nya mata, alis, hidung, pipi, bibir, semuanya indah yang menghasilkan : cantik. Walaupun dilihat sekejap, apalagi berlama-lama. Paha dan kaki, panjang, semuanya putih, mulus, berbulu halus. Pinggul, meski baru lihat dari bentuknya saja, tak begitu lebar, proporsional, dengan pantat yang menonjol bulat ke belakang. Pinggang, begitu sempit dan perut yang rata. Ini juga hanya dari luar. Dan yang terakhir buah dada. Hanya puting ke bawah saja yang belum aku lihat langsung. Kalau daerah pinggul, bagian depannya saja yang aku belum bisa membayangkan. Memang aku belum pernah membayangkan, apalagi melihat kelamin wanita dewasa. Aku masih penasaran pada yang satu ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokkan harinya, siang-siang, Dito memberiku sampul warna coklat agak besar, secara sembunyi-sembunyi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nih, buat kamu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa nih ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Simpan aja dulu, lihatnya di rumah, Hati-hati” Aku makin penasaran. “Lanjutan pelajaranku kemarin. Gambar-gambar asyik” bisiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah aku berniat langsung masuk kamar untuk memeriksa benda pemberian Dito. Tante lagi membaca di karpet, kali ini terlentang, mengenakan daster dengan kancing di tengah membelah badannya dari atas ke bawah. Kancingnya yang terbawah lepas sebuah yang mengakibatkan sebagian pahanya tampak, putih. “Suguhan” yang nikmat sebenarnya, tapi kunikmati hanya sebentar saja, pikiranku sedang tertuju ke sampul coklat. Dengan tak sabaran kubuka sampul itu, sesudah mengunci pintu kamar, tentunya. Wow, gambar wanita bule telanjang bulat! Sepertinya ini lembaran tengah suatu majalah, sebab gambarnya memenuhi dua halaman penuh. Wanita bule berrambut coklat berbaring terlentang di tempat tidur. Segera saja aku mengeras. Buah dadanya besar bulat, putingnya lagi-lagi menonjol ke atas warna coklat muda. Perutnya halus, dan ini dia, kelaminnya! Sungguh beda jauh dengan apa yang selama ini kuketahui. Aku tak menemukan “segitiga terbalik” itu. Di bawah perut itu ada rambut-rambut halus keriting. Ke bawah lagi, lho apa ini ? Sebelah kaki cewe itu dilipat sehingga lututnya ke atas dan sebelahnya lagi menjuntai di pinggir ranjang memperlihatkan selangkangannya. Inilah rupanya lubang itu. Bentuknya begitu “rumit”. Ada daging berlipat di kanan kirinya, ada tonjolan kecil di ujung atasnya, lubangnya di tengah terbuka sedikit. Mungkin di sinilah tempat masuknya kelamin lelaki. Tapi, mana cukup ? Oo, seperti inilah rupanya wujud kelamin wanita dewasa. Tiba-tiba pikiran nakalku kambuh : begini jugakah punya Tante? Pertanyaan yang jelas-jelas tak mungkin mendapatkan jawaban! Bagaimana dengan punya Rika, Ani, atau Yuli? Sama susahnya untuk mendapatkan jawaban. Lupakan saja. Tunggu dulu, barangkali Si Mar pembantu itu bisa memberikan “jawaban”. Orangnya penurut, paling tidak dia selalu patuh pada perintah majikannya, termasuk aku. Bahkan dulu itu tanpa aku minta membantuku beres-beres kamarku, dengan senang pula. Orangnya lincah dan ramah. Tidak terlalu jelek, tapi bersih. Kalau sudah dandan sore hari ngobrol dengan pembantu sebelah, orang tak menyangka kalau ia pembantu. Dulu waktu pertama kali ketemupun aku tak mengira bahwa ia pembantu. Setiap pagi ia menyapu dan mengepel seluruh lantai, termasuk lantai kamarku. Kadang-kadang aku sempat memperhatikan pahanya yang tersingkap sewaktu ngepel, bersih juga. Yang jelas ia periang dan sedikit genit. Tapi masa kusuruh ia membuka celana dalamnya “Coba Mar aku pengin lihat punyamu, sama engga dengan yang di majalah” Gila!. Jangan langsung begitu, pacari saja dulu. Ah, pacaran kok sama pembantu. Apa salahnya? dari pada tidak pacaran sama sekali. Okey, tapi bagaimana ya cara memulainya ? Ah, dasar kuper! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi lebih memperhatikan Si Mar. Mungkin ia setahun atau dua tahun lebih tua dariku, sekitar 18 lah. Wajahnya biasa-biasa saja, bersih dan selalu cerah, kulit agak kuning, dadanya tak begitu besar, tapi sudah berbentuk. Paha dan kaki bersih. Mulai hari ini aku bertekat untuk mulai menggoda Si Mar, tapi harus hati-hati, jangan sampai ketahuan oleh siapapun. Seperti hari-hari lainnya ia membersihkan kamarku ketika aku sedang sarapan. Pagi ini aku sengaja menunda makan pagiku menunggu Si Mar. Tante masih ada di kamarnya. Si Mar masuk tapi mau keluar lagi ketika melihat aku ada di dalam kamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuk aja mbak, engga apa-apa” kataku sambil pura-pura sibuk membenahi buku-buku sekolah. Masuklah dia dan mulai bersih-bersih. Tanganku terus sibuk berbenah sementara mataku melihatnya terus. Sepasang pahanya nampak, sudah biasa sih lihat pahanya, tapi kali ini lain. Sebab aku membayangkan apa yang ada di ujung atas paha itu. Aku mengeras. Sekilas tampak belahan dadanya waktu ia membungkuk-bungkuk mengikuti irama ngepel. Tiba-tiba ia melihatku, mungkin merasa aku perhatikan terus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, Mas” Kaget aku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, engga. Apa mbak engga cape tiap hari ngepel” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mula-mula sih capek, lama-lama biasa, memang udah kerjaannya” jawabnya cerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah berapa lama mbak kerja di sini ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah dari kecil saya di sini, udah 5 tahun” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betah ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betah dong, Ibu baik sekali, engga pernah marah. Mas dari mana sih asalnya ?”Tanyanya tiba-tiba. Kujelaskan asal-usulku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo, engga jauh dong dari desaku. Saya dari Cilacap” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaannya selesai. Ketika hendak keluar kamar aku mengucapkan terima kasih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tumben.” Katanya sambil tertawa kecil. Ya, tumben biasanya aku tak bilang apa-apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana, yang kemarin ?” Dito meminta gambar cewe itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, katanya buat aku” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan dong, itu aku koleksi. Kembaliin dulu entar aku pinjamin yang lain, lebih serem!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok deh, kubawa” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah Si Luki sedang main-main di taman sama pengasuhnya. Sebentar aku ikut bermain dengan anak Oomku itu. Tinah sedikit lebih putih dibanding Si Mar, tapi jangan dibandingkan dengan Tante, jauh. Orangnya pendiam, kurang menarik. Dadanya biasa saja, pinggulnya yang besar. Tapi aku tak menolak seandainya ia mau memperlihatkan miliknya. Pokoknya milik siapa saja deh, Rika, Ani, Yuli, Mar, atau Tinah asal itu kelamin wanita dewasa. Penasaran aku pada “barang” yang satu itu. Apalagi milik Tante, benar-benar suatu karunia kalau aku “berhasil” melihatnya! Di dalam ada Si Mar yang sedang nonton telenovela buatan Brazil itu. Aku kurang suka, walaupun pemainnya cantik-cantik. Ceritanya berbelit. Duduk di karpet sembarangan, lagi-lagi pahanya nampak. Rasanya si Mar ini makin menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau makan sekarang, Mas ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entar aja lah” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti bilang, ya. Biar saya siapin” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante mana mbak?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kan senam” Oh ya, ini hari Rabu, jadwal senamnya. Seminggu Tante senam tiga kali, Senin, Rabu dan Jumat. Ketika aku selesai ganti pakaian, aku ke ruang keluarga, maksudku mau mengamati Si Mar lebih jelas. Tapi Si Mar cepat-cepat ke dapur menyiapkan makan siangku. Biar sajalah, toh masih banyak kesempatan. Kenapa tidak ke dapur saja pura-pura bantu ? Akupun ke dapur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masak apa hari ini ?” Aku berbasa-basi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada ayam panggang, oseng-oseng tahu, sayur lodeh, pilih aja” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau semua” Candaku. Dia tertawa renyah. Lumayan buat kata pembukaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sini aku bantu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, engga usah” Tapi ia tak melarang ketika aku membantunya. Ih, pantatnya menonjol ke belakang walau pinggulnya tak besar. Aku ngaceng. Kudekati dia. Ingin rasanya meremas pantat itu. Beberapa kali kusengaja menyentuh badannya, seolah-olah tak sengaja. ‘Kan lagi membantu dia. Dapat juga kesempatan tanganku menyentuh pantatnya, kayaknya sih padat, aku tak yakin, cuma nyenggol sih. Mar tak berreaksi. Akhirnya aku tak tahan, kuremas pantatnya. Kaget ia menolehku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iih, Mas To genit, ah” katanya, tapi tidak memprotes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Habis, badanmu bagus sih”. Sekarang aku yakin, pantatnya memang padat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, biasa saja kok” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun berlanjut, kutempelkan badan depanku ke pantatnya. Barangku yang sudah mengeras terasa menghimpit pantatnya yang padat, walaupun terlapisi sekian lembar kain. Aku yakin iapun merasakan kerasnya punyaku. Berlanjut lagi, kedua tanganku kedepan ingin memeluk perutnya. Tapi ditepisnya tanganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ih, nakal. Udah ah, makan dulu sana!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya deh makan dulu, habis makan terus gimana ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeee!” sahutnya mencibir tapi tak marah. Tangannya berberes lagi setelah tadi berhenti sejenak kuganggu. Walaupun penasaran karena aksiku terpotong, tapi aku mendapat sinyal bahwa Si Mar tak menolak kuganggu. Hanya tingkat mau-nya sampai seberapa jauh, harus kubuktikan dengan aksi-aksi selanjutnya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali aku menunda sarapanku untuk “aksi selanjutnya” yang telah kukhayalkan tadi malam. Ketika ia sedang menyapu di kamarku, kupeluk ia dari belakang. Sapunya jatuh, sejenak ia tak berreaksi. Amboi ..dadanya berisi juga! Jelas aku merasakannya di tanganku, bulat-bulat padat. Kemudian Si Marpun meronta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Mas, jangan!” protesnya pelan sambil melirik ke pintu. Aku melepaskannya, khawatir kalau ia berteriak. Sabar dulu, masih banyak kesempatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih” kataku waktu ia melangkah keluar kamar. Ia hanya mencibir memoncongkan mulutnya lucu. Mukanya tetap cerah, tak marah. Sekarang aku selangkah lebih maju! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat janjiku hari ini untuk mengembalikan foto porno milik Dito. Tapi di mana foto itu ? Jangan-jangan ada yang mengambilnya. Aku yakin betul kemarin aku selipkan di antara buku Fisika dan Stereometri (kedua buku itu memang lebar, bisa menutupi). Nah ini dia ada di dalam buku Gambar. Pasti ada seseorang yang memindahkannya. Logikanya, sebelum orang itu memindahkan, tentu ia sempat melihatnya. Tiba-tiba aku cemas. Siapa ya ? Si Mar, Tinah, atau Tante ? Atau lebih buruk lagi, Oom Ton ? Aku jadi memikirkannya. Siapapun orang rumah yang melihat foto itu, membuatku malu sekali! Yang penting, aku harus kembalikan ke Dito sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siangnya pulang sekolah ketika aku masuk ke ruang keluarga, Si Mar sedang memijit punggung Tante. Tante tengkurap di karpet, Si Mar menaiki pantat Tante. Punggung Tante itu terbuka 100 %, tak ada tali kutang di sana. Putihnya mak..! Si Mar cepat-cepat menutup punggung itu ketika tahu mataku menjelajah ke sana, sambil melihatku dengan senyum penuh arti. Sialan! Si Mar tahu persis kenakalanku. Aku masuk kamar. Hilang kesempatan menikmati punggung putih itu. Tadi pagi aku lupa membawa buku Gambar gara-gara mengurus foto si Dito. Aku berniat mempersiapkan dari sekarang sambil berusaha melupakan punggung putih itu. Sesuatu jatuh bertebaran ke lantai ketika aku mengambil buku Gambar. Seketika dadaku berdebar kencang setelah tahu apa yang jatuh tadi. Lepasan dari majalah asing. Di tiap pojok bawahnya tertulis “Hustler” edisi tahun lalu. Satu serial foto sepasang bule yang sedang berhubungan kelamin! Ada tiga gambar, gambar pertama Si Cewe terlentang di ranjang membuka kakinya sementara Si Cowo berdiri di atas lututnya memegang alatnya yang tegang besar (mirip punyaku kalau lagi tegang cuma beda warna, punyaku gelap) menempelkan kepala penisnya ke kelamin Cewenya. Menurutku, dia menempelnya kok agak ke bawah, di bawah “segitiga terbalik” yang penuh ditumbuhi rambut halus pirang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar kedua, posisi Si Cewe masih sama hanya kedua tangannya memegang bahu si Cowo yang kini condong ke depan. Nampak jelas separoh batangnya kini terbenam di selangkangan Si Cewe. Lho, kok di situ masuknya ? Kuperhatikan lebih saksama. Kayaknya dia “masuk” dengan benar, karena di samping jalan masuk tadi ada “yang berlipat-lipat”, persis gambar milik Dito kemarin. Menurut bayanganku selama ini, “seharusnya” masuknya penis agak lebih ke atas. Baru tahu aku, khayalanku selama ini ternyata salah! Gambar ketiga, kedua kaki Si Cewe diangkat mengikat punggung Si Cowo. Badan mereka lengket berimpit dan tentu saja alat Si Cowo sudah seluruhnya tenggelam di “tempat yang layak” kecuali sepasang “telornya” saja menunggu di luar. Mulut lelaki itu menggigit leher wanitanya, sementara telapak tangannya menekan buah dada, ibujari dan telunjuk menjepit putting susunya. Gemetaran aku mengamati gambar-gambar ini bergantian. Tanpa sadar aku membuka resleting celanaku mengeluarkan milikku yang dari tadi telah tegang. Kubayangkan punyaku ini separoh tenggelam di tempat si Mar persis gambar kedua. Kenyataanya memang sekarang sudah separoh terbenam, tapi di dalam tangan kiriku. Akupun meniru gambar ketiga, tenggelam seluruhnya, gambar kedua, setengah, ketiga, seluruhnya..geli-geli nikmat… terus kugosok… makin geli.. gosok lagi.. semakin geli… dan.. aku terbang di awan.. aku melepas sesuatu… hah.. cairan itu menyebar ke sprei bahkan sampai bantal, putih, kental, lengket-lengket. Enak, sedap seperti waktu mimpi basah. Sadar aku sekarang ada di kasur lagi, beberapa detik yang lalu aku masih melayang-layang. He! Kenapa aku ini? Apa yang kulakukan ? Aku panik. Berbenah. Lap sini lap sana. Kacau! Kurapikan lagi celanaku, sementara si Dia masih tegang dan berdenyut, masih ada yang menetes. Aku menyesal, ada rasa bersalah, rasa berdosa atas apa yang baru saja kulakukan. Aku tercenung. Gambar-gambar sialan itu yang menyebabkan aku begini. Masturbasi. Istilah aneh itu baru aku ketahui dari temanku beberapa hari sesudahnya. Si Dito menyebutnya ‘ngeloco’. Aneh. Ada sesuatu yang lain kurasakan, keteganganku lenyap. Pikiran jadi cerah meski badan agak lemas.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari itu aku jadi tak bersemangat, ingat perbuatanku siang tadi. Rasanya aku telah berbuat dosa. Aku menyalahkan diriku sendiri. Bukan salahku seluruhnya, aku coba membela diri. Gambar-gambar itu juga punya dosa. Tepatnya, pemilik gambar itu. Eh, siapa yang punya ya ? Tahu-tahu ada di balik buku-bukuku. Siapa yang menaruh di situ ? Ah, peduli amat. Akan kumusnahkan. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, tidak akan masturbasi lagi. Perasaan seperti ini masih terbawa sampai keesokkan harinya lagi. Sehingga kulewatkan kesempatan untuk meraba dada Mar seperti kemarin. Ia telah memberi lampu hijau untuk aku “tindaklanjuti”. Tapi aku lagi tak bersemangat. Masih ada rasa bersalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya aku “harus” tegang lagi. Bukan karena Si Mar yang (menurutku) bersedia dijamah tubuhnya. Tapi lagi-lagi karena Si Putih molek itu, Tante Yani. Siang itu aku pulang agak awal, pelajaran terakhir bebas. Sebentar aku melayani Luki melempar-lempar bola di halaman, lalu masuk lewat garasi, seperti biasa. Hampir pingsan aku ketika membuka pintu menuju ruang keluarga. Tante berbaring terlentang, mukanya tertutupi majalah “Femina”, terdengar dengkur sangat halus dan teratur. Rupanya ketiduran sehabis membaca. Mengenakan baju-mandi seperti dulu tapi ini warna pink muda, rambut masih terbebat handuk. Agaknya habis keramas, membaca terus ketiduran. Model baju mandinya seperti yang warna putih itu, belah di depan dan hanya satu pengikat di pinggang. Jelas ia tak memakai kutang, kelihatan dari bentuk buah dadanya yang menjulang dan bulat, serta belahan dadanya seluruhnya terlihat sampai ke bulatan bawah buah itu. Sepasang buah bulat itu naik-turun mengikuti irama dengkurannya. Berikut inilah yang membuatku hampir pingsan. Kaki kirinya tertekuk, lututnya ke atas, sehingga belahan bawah baju-mandi itu terbuang ke samping, memberiku “pelajaran” baru tentang tubuh wanita, khususnya milik Tante. Tak ada celana dalam di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanteku ternyata punya bulu lebat. Tumbuh menyelimuti hampir seluruh “segitiga terbalik”. Berwarna hitam legam, halus dan mengkilat, tebal di tengah menipis di pinggir-pinggirnya. “Arah” tumbuhnya seolah diatur, dari tengah ke arah pinggir sedikit ke bawah kanan dan kiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan yang di gambar, rambut Tante yang di sini lurus, tak keriting. Wow, sungguh “karya seni” yang indah sekali! Kelaminku tegang luar biasa. Aku lihat sekeliling. Si Tinah sedang bermain dengan anak asuhnya di halaman depan. Si Mar di belakang, mungkin sedang menyetrika. Kalau Tante sedang di ruang ini, biasanya Si Mar tidak kesini, kecuali kalau diminta Tante memijit. Aman! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan wajah tertutup majalah aku jadi bebas meneliti kewanitaan Tante, kecuali kalau ia tiba-tiba terbangun. Tapi aku ‘kan waspada. Hampir tak bersuara kudekati milik Tante. Kini giliran bagian bawah rambut indah itu yang kecermati. Ada “daging berlipat”, ada benjolan kecil warna pink, tampaknya lebih menonjol dibanding milik bule itu. Dan di bawah benjolan itu ada “pintu”. Pintu itu demikian kecil, cukupkah punyaku masuk ke dalamnya ? Punyaku ? Enak saja! Memangnya lubang itu milikmu ? Bisa saja sekarang aku melepas celanaku, mengarahkan ujungnya ke situ, persis gambar pertama, mendorong, seperti gambar kedua, dan …Tiba-tiba Tante menggerakkan tangannya. Terbang semangatku. Kalau ada cermin di situ pasti aku bisa melihat wajahku yang pucat pasi. Dengkuran halus terdengar kembali. Untung., nyenyak benar tidurnya. Bagian atas baju-mandinya menjadi lebih terbuka karena gerakan tangannya tadi. Meski perasaanku tak karuan, tegang, berdebar, nafas sesak, tapi pikiranku masih waras untuk tidak membuka resleting celanaku. Bisa berantakan masa depanku. Aku “mencatat” beberapa perbedaan antara milik Tante dengan milik bule yang di majalah itu. Rambut, milik Tante hitam lurus, milik bule coklat keriting. Benjolan kecil, milik Tante lebih “panjang”, warna sama-sama pink. Pintu, milik Tante lebih kecil. Lengkaplah sudah aku mempelajari tubuh wanita. Utuhlah sudah aku mengamati seluruh tubuh Tante. Seluruhnya ? Ternyata tidak, yang belum pernah aku lihat sama sekali : puting susunya. Kenapa tidak sekarang ? Kesempatan terbuka di depan mata, lho! Mataku beralih ke atas, ke bukit yang bergerak naik-turun teratur. Dada kanannya makin lebar terbuka, ada garis tipis warna coklat muda di ujung kain. Itu adalah lingkaran kecil di tengah buah, hanya pinggirnya saja yang tampak. Aku merendahkan kepalaku mengintip, tetap saja putingnya tak kelihatan. Ya, hanya dengan sedikit menggeser tepi baju mandi itu ke samping, lengkaplah sudah “kurikulum” pelajaran anatomi tubuh Tante. Dengan amat sangat hati-hati tanganku menjangkau tepi kain itu. Mendadak aku ragu. Kalau Tante terbangun bagaimana ? Kuurungkan niatku. Tapi pelajaran tak selesai dong! Ayo, jangan bimbang, toh dia sedang tidur nyenyak. Ya, dengkurannya yang teratur menandakan ia tidur nyenyak. Kembali kuangkat tanganku. Kuusahakan jangan sampai kulitnya tersentuh. Kuangkat pelan tepi kain itu, dan sedikit demi sedikit kugeser ke samping. Macet, ada yang nyangkut rupanya. Angkat sedikit lagi, geser lagi. Kutunggu reaksinya. Masih mendengkur. Aman. Terbukalah sudah.. Puting itu berwarna merah jambu bersih. Berdiri tegak menjulang, bak mercusuar mini. Amboi . indahnya buah dada ini. Tak tahan aku ingin meremasnya. Jangan, bahaya. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini. Bukan saja khawatir Tante terbangun, tapi takut aku tak mampu menahan diri, menubruk tubuh indah tergolek hampir telanjang bulat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi tak tenang. Berulang kali terbayang rambut-rambut halus kelamin dan puting merah jambu milik Tante itu. Apalagi menjelang tidur. Tanpa sadar aku mengusap-usap milikku yang tegang terus ini. Tapi aku segera ingat janjiku untuk tidak masturbasi lagi. Mendingan praktek langsung. Tapi dengan siapa ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku pulang cepat. Masih ada dua mata pelajaran sebetulnya, aku membolos, sekali-kali. Toh banyak juga kawanku yang begitu. Percuma di kelas aku tak bisa berkonsentrasi. Di garasi aku ketemu Tante yang siap-siap mau pergi senam. Dibalut baju senam yang ketat ini Tante jadi istimewa. Tubuhnya memang luar biasa. Dadanya membusung tegak ke depan, bagian pinggang menyempit ramping, ke bawah lagi melebar dengan pantat menonjol bulat ke belakang, ke bawah menyempit lagi. Sepasang paha yang nyaris bulat seperti batang pohon pinang, sepasang kaki yang panjang ramping. Walaupun tertutup rapat aku ngaceng juga. Lagi-lagi aku terrangsang. Diam-diam aku bangga, sebab di balik pakaian senam itu aku pernah melihatnya, hampir seluruhnya! Justru bagian tubuh yang penting-penting sudah seluruhnya kulihat tanpa ia tahu! Salah sendiri, teledor sih. Ah, salahku juga, buktinya kemarin aku menyingkap putingnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kok udah pulang, To” sapanya ramah. Ah bibir itu juga menggoda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Tante, ada pelajaran bebas” jawabku berbohong. Kubukakan pintu mobilnya. Sekilas terlihat belahan dadanya ketika ia memasuki mobil. Uih, dadanya serasa mau “meledak” karena ketatnya baju itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih” katanya. “Tante pergi dulu ya”. Mobilnya hilang dari pandanganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasai mandi hari sudah hampir gelap. Di ruang keluarga Tante sedang duduk di sofa nonton TV sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senamnya di mana Tante ?” Aku coba membuka percakapan. Aku memberanikan diri duduk di sofa yang sama sebelah kanannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dekat, di Tebet Timur Dalam”. Malam ini Tante mengenakan daster pendek tak berlengan, ada kancing-kancing di tengahnya, dari atas ke bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tumben, kamu tidur siang” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Tante, tadi main voli di situ” jawabku tangkas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu suka main voli ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Kampung saya sering olah-raga Tante” Aku mulai berani memandangnya langsung, dari dekat lagi. Ih, bahu dan lengan atasnya putih banget! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pantesan badanmu bagus” Senang juga aku dipuji Tanteku yang rupawan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Kalau ini mungkin saya dari kecil kerja keras di kebun, Tante” Wow, buah putih itu mengintip di antara kancing pertama dan kedua di tengah dasternya. Ada yang bergerak di celanaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kerja apa di kebun ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengolah tanah, menanam, memupuk, panen” Buah dada itu rasanya mau meledak keluar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa saja yang kamu tanam ?” tanyanya lagi sambil mengubah posisi duduknya, menyilangkan sebelah kakinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kancing terakhir daster itu sudah terlepas. Waktu sebelah pahanya menaiki pahanya yang lain, ujung kain daster itu tidak “ikut”, jadi 70 % paha Tante tersuguh di depan mataku. Putih licin. Yang tadi bergerak di celanaku, berangsur membesar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Macam-macam tergantung musimnya, Tante. Kentang, jagung, tomat” Hampir saja aku ketahuan mataku memelototi pahanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kamu mau makan, duluan aja” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti aja Tante, nunggu Oom” Aku memang belum lapar. Adikku mungkin yang “lapar” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oom tadi nelepon ada acara makan malam sama tamu dari Singapur, pulangnya malam” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya belum lapar” jawabku supaya aku tidak kehilangan momen yang bagus ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu betah di sini ?” Ia membungkuk memijit-mijit kakinya. Betisnya itu… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kerasan sekali, Tante. Cuman saya banyak waktu luang Tante, biasa kerja di kampung, sih. Kalau ada yang bisa saya bantu Tante, saya siap” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kamu biasakan dulu di sini, nanti Tante kasih tugas” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kakinya Tante ?” Sekedar ada alasan buat menikmati betisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pegel, tadi senamnya habis-habisan” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kancing daster yang satu dengan kancing lainnya terdapat “celah”. Ada yang sempit, ada yang lebar, ada yang tertutup. Celah pertama, lebar karena busungan dadanya, menyuguhkan bagian kanan atas buah dada kiri. Celah kedua memperlihatkan kutang bagian bawah. Celah ketiga rapat, celah keempat tak begitu lebar, ada perutnya. Celah berikutnya walaupun sempit tapi cukup membuatku tahu kalau celana dalam Tante warna merah jambu. Ke bawah lagi ada sedikit paha atas dan terakhir, ya yang kancingnya lepas tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau bantu Tante sekarang ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan saja saya siap” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kewajiban saya, Tante. Masa numpang di sini engga kerja apa-apa” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pijit kaki Tante, mau ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah ? Aku tak menyangka diberi tugas mendebarkan ini &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya sama Si Mar, tapi dia lagi engga ada” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi saya engga bisa mijit Tante, cuma sekali saya pernah mijit kaki teman yang keseleo karena main bola” Aku berharap ia jangan membatalkan perintahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga apa-apa. Tante ambil bantal dulu” Goyang pinggulnya itu… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ia tengkurap di karpet. Hatiku bersorak. Aku mulai dari pergelangan kaki kirinya. Aah, halusnya kulit itu. Hampir seluruh tubuh Tante pernah kulihat, tapi baru inilah aku merasakan mulus kulitnya. Mataku ke betis lainnya mengamati bulu-bulu halus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini Tante, kurang keras engga ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukup segitu aja, enak kok” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan memijit, mata jelalatan. Lekukan pantat itu bulat menjulang, sampai di pinggang turun menukik, di punggung mendaki lagi. Indah. Kakinya sedikit membuka, memungkinkan mataku menerobos ke celah pahanya. Tanganku pindah ke betis kanannya aku menggeser dudukku ke tengah, dan..terobosan mataku ke celah paha sampai ke celana dalam merah jambu itu. Huuuh, sekarang aku betul-betul keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aah” teriaknya pelan ketika tanganku menjamah ke belakang lututnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga apa-apa. Jangan di situ, sakit. Ke atas saja” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke Atas ? Berarti ke pahanya ? Apa tidak salah nih ? Jelas kok, perintahnya. Akupun ke paha belakangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ampuuun, halusnya paha itu. Kulit Tante memang istimewa. Kalau ada lalat hinggap di paha itu, mungkin tergelincir karena licin! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai tak tenang. Nafas mulai tersengal, entah karena mijit atau terangsang, atau keduanya. Aku tak hanya memijit, terkadang mengelusnya, habis tak tahan. Tapi Tante diam saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua paha yang diluar, yang tak tertutup daster selesai kupijit. Entah karena aku sudah “tinggi” atau aku mulai nakal, tanganku terus ke atas menerobos dasternya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeeh” desahnya pelan. Hanya mendesah, tidak protes! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua tanganku ada di paha kirinya terus memijit. Kenyal, padat. Tepi dasternya dengan sendirinya terangkat karena gerakan pijitanku. Kini seluruh paha kirinya terbuka gamblang, bahkan sebagian pantatnya yang melambung itu tampak. Pindah ke paha kanan aku tak ragu-ragu lagi menyingkap dasternya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak To, kamu pintar juga memijit” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hampir saja berkomentar :”Paha Tante indah sekali”. Untung aku masih bisa menahan diri. Terus memijit, sekali-kali mengelus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke atas lagi To” suaranya jadi serak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang kuimpikan! Sudah lama aku ingin meremas pantat yang menonjol indah ke belakang itu, kini aku disuruh memijitnya! Dengan senang hati Tante! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku betul-betul meremas kedua gundukan itu, bukan memijit, dari luar daster tentunya. Dengan gemas malah! Keras dan padat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Tante. Tante tidak tahu dengan begini justru menyiksa saya! kataku dalam hati. Rasanya aku ingin menubruk, menindihkan kelaminku yang keras ini ke dua gundukan itu. Pasti lebih nikmat dibandingkan ketika memeluk tubuh mbak Mar dari belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ih, geli To. Udah ah, jangan di situ terus” ujarnya menggelinjang kegelian. Barusan aku memang meremas pinggir pinggulnya, dengan sengaja! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cape, To ?” tanyanya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama sekali engga, Tante” jawabku cepat, khawatir saat menyenangkan ini berakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bener nih ? Kalau masih mau terus, sekarang punggung, ya ?”. Aha, “daerah jamahan” baru! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahunya kanan dan kiri kupencet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeh” desahnya pelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turun ke sekitar kedua tulang belikat. Lagi-lagi melenguh. Daster tak berlengan ini menampakkan keteknya yang licin tak berbulu. Rajin bercukur, mungkin. Ah, di bawah ketek itu ada pinggiran buah putih. Dada busungnya tergencet, jadi buah itu “terbuang” ke samping. Nakalku kambuh. Ketika beroperasi di bawah belikat, tanganku bergerak ke samping. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jari-jariku menyentuh “tumpahan” buah itu. Tidak langsung sih, masih ada lapisan kain daster dan kutang, tapi kenyalnya buah itu terasa. Punggungnya sedikit berguncang, aku makin terangsang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke bawah lagi, aku menelusuri pinggangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukup, To..” Kedua tangannya lurus ke atas. Ia tengkurap total. Nafasnya terengah-engah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Depannya Tante ?” usulku nakal. Lancang benar kau To. Tante sampai menoleh melihatku, kaget barangkali atas usulku yang berani itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaki depannya ‘kan belum Tante” aku cepat-cepat meralat usulku. Takut dikiranya aku ingin memijit “depannya punggung” yang artinya buah dada! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh aja kalau kamu engga cape”. Ya jelas engga dong! Tante berbalik terlentang. Sekejap aku sempat menangkap guncangan dadanya ketika ia berbalik. Wow! Guncangan tadi menunjukkan “eksistensi” kemolekkan buah dadanya! Aduuh, bagaimana aku bisa bertahan nih ? Tubuh molek terlentang dekat di depanku. Ia cepat menarik dasternya ke bawah, sebagai reaksi atas mataku yang menatap ujung celana dalamnya yang tiba-tiba terbuka, karena gerakan berbalik tadi. Silakan ditutup saja Tante, toh aku sudah tahu apa yang ada dibaliknya, rambut-rambut halus agak lurus, hitam, mengkilat, dan lebat. Lagi pula aku masih bisa menikmati “sisanya”: sepasang paha dan kaki indah! Aku mulai memijit tulang keringnya. Singkat saja karena aku ingin cepat-cepat sampai ke atas, ke paha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lutut aku lompati, takut kalau ia kesakitan, langsung ke atas lutut, kuremas dengan gemas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iih, geli”. Aku tak peduli, terus meremas. Paha selesai, untuk mencapai paha atas aku ragu-ragu, disingkap atau jangan. Singkap ? Jangan! Ada akal, diurut saja. Mulai dari lutut tanganku mengurut ke atas, menerobos daster sampai pangkal paha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaah, Tooo ….” Biar saja. Kulihat wajahnya, matanya terpejam. Aku makin bebas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sendirinya tepi daster itu terangkat karena terdorong tanganku. Samar-samar ada bayangan hitam di celana dalam tipis itu. Jelas rambut-rambut itu. Ke bawah lagi, urut lagi ke atas. Aaah lagi. Dengan cara begini, sah-sah saja kalau jempol tanganku menyentuh selangkangannya. Sepertinya basah di sana. Ah masak. Coba ulangi lagi untuk meyakinkan. Urut lagi. Ya, betul, basah! Kenapa basah ? Ngompol ? Aku tidak mengerti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“To …” panggilnya tiba-tiba. Aku memandangnya, kedua tanganku berhenti di pangkal pahanya. Matanya sayu menantang mataku, nafasnya memburu, dadanya naik-turun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Tante” mendadak suaraku serak. Dia tak menyahut, matanya tetap memandangiku, setengah tertutup. Ada apa nih ? Apakah Tante ….. ? Ah, mana mungkin. Kalau Tante terrangsang, mungkin saja, tapi kalau mengajak ? Jangan terlalu berharap, To! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meneruskan pekerjaanku. Kini tak memijit lagi, tapi menelusuri lengkungan pinggulnya yang indah itu, membelai. Habis tak tahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uuuuh” desahnya lagi menanggapi kenakalanku. Keterlaluan aku sekarang, kedua tanganku ada di balik dasternya, mengelus mengikuti lengkungan samping pinggul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Too …. ” panggilnya lagi. Kulepas tanganku, kudekati wajahnya dengan merangkak di atas tubuhnya bertumpu pada kedua lutut dan telapak tanganku, tidak menindihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Tante” panggilku mesra. Mukaku sudah dekat dengan wajahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya kemudian terpejam, mulut setengah terbuka. Ini sih ajakan. Aku nekat, sudah kepalang, kucium bibir Tante perlahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehhmmmm” Tante tidak menolak, bahkan menyambut ciumanku. Tangan kirinya memeluk punggungku dan tangan kanannya di belakang kepalaku. Nafasnya terdengar memburu. Aku tidak lagi bertumpu pada lututku, tubuhku menindih tubuhnya. Menekan. Ia membuka kakinya. Aku menggeser tubuhku sehingga tepat di antara pahanya yang baru saja ia buka. Kelaminku yang keras tepat menindih selangkangannya. Kutekan. Nikmatnya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehhhmmmmmm” reaksinya atas aksiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami saling bermain lidah. Sedapnya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terengah-engah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersengal-sengal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kananku meremas dada kirinya. Besar, padat, dan kenyal! Ooooohhhh, aku melayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He!, ini Tantemu, isteri Oommu! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, benar. Memangnya kenapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kamu cium, kamu remas dadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis enak, dan ia tak menolak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kancing dasternya telah kulepas, tanganku menyusup ke balik kutangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain besar, padat, dan kenyal, ternyata juga halus dan hangat! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Tante melepas ciumanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan di sini, To” katanya terputus-putus oleh nafasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menjawab aku mengangkat tubuhnya, kubopong ia ke kamarnya. “Uuuuuhhh” lenguhnya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke kamarmu saja” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sampai ke dipanku, Tante minta turun. Berdiri di samping dipan. Aku memeluknya, dia menahan dadaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kunci dulu pintunya” Okey, beres. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulepas seluruh kancingnya, dasternya jatuh ke lantai. Tinggal kutang dan celana dalam. Buah dada itu serasa mau meledak mendesak kutangnya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupeluk lagi dia. Dadanya merapat di dadaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tooo, hhehhhhhhh” katanya gemas seperti menahan sesuatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berciuman lagi. Main lidah lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya menyusup ke celanaku, meremas-remas kelaminku di balik celana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eehhmmmmmm” dengusnya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kesulitan ia membuka ikat pinggangku, membuka resleting celanaku, merogoh celana dalamku, dan mengeluarkan “isinya” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eehhh” Ia melepas ciuman, melihat ke bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa Tante” Tanyaku disela-sela dengus nafasku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besar sekali” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mempermainkan penisku. Menggenggam, meremas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geli, geliii sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stop Tante, jangan sampai keluar. Aku ingin pengalaman baru, Tante. Ingin memasuki kelaminmu..sekarang! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutarik tangannya dari penisku. Untung Tante menurut. Aku tak jadi “keluar” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulepas tali kutangnya, tapi yang belakang susah dilepas. Tante membantu. Buah dada itu terbuka. Wow.luar biasa indahnya. Belum sempat aku menikmat buah itu, Tante memelukku. Meraih tangan kananku, dituntunnya menyelip ke celana dalamnya. Dibawah rambut-rambut itu terasa basah. Diajarinya aku bagaimana jariku harus bermain di sana : menggesek-gesek antara benjolan dan pintu basah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uuuuuuhhhhhh, Tooo..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilepasnya bajuku, singletku, celanaku luar dalam. Aku telanjang bulat. Kutarik juga celana dalamnya. Ia telanjang bulat juga. Luar biasa. Pinggang itu ramping, perut itu rata, ke bawah melebar lengkungannya indah. Rambut-rambut halus itu menggemaskan, diapit oleh sepasang paha yang nyaris bulat. Seluruhnya dibalut kulit yang putih dan mulusnya bukan main!. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditariknya aku ke dipan. Ia merebahkan diri. Kakinya ditekuk lalu dibuka lebar. Dipegangnya kelaminku, ditariknya, ditempelkannya di selangkangan. Rasanya terlalu ke bawah. Ah, dia ‘kan yang lebih tahu. Aku nurut saja. Tangannya pindah ke pantatku. Ditariknya aku mendekat tubuhnya. Sesuatu yang hangat terasa di ujung penisku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya memegang penisku lagi. Belum masuk ternyata. Disapu-sapukannya kepala penisku di pintu itu. Sementara ia menggoyang pantatnya. Geliii, Tante. Aku manut saja seperti kerbau dicucuk hidung. Memang belum pengalaman! Didorongnya lagi pantatku. Meleset! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah kupikir waktu pertama kali aku melihat kelamin Tante beberapa hari lalu, mana cukup lubang sesempit itu menampung kelaminku yang lagi tegang ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante membuka pahanya lebih lebar lagi, mengarahkan penisku lagi, dan aku sekarang yang mendorong. Kepalanya sudah separoh tenggelam, tapi macet! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelaminmu besar, sih!”keluhnya. Padahal barusan ia mengaguminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menggoyang pantatnya dan…bless. Masuk separoh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaaahhh” teriak kami berbarengan. Terasa ada sesuatu yang menjepit penisku, hangat, enak! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantatnya bergoyang lagi, tumitnya mendorong pantatku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blesss..masuk lagi. Makin hangat, makin sedap, dan geli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goyang lagi, aku dorong sekarang. Masuk semuanya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seedaaaaaaaaap! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante bergoyang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmaaaaaaaat! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante menjepit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geliiiiiiiiiiiiiiii! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutarik pelan. Terasa gesekan, enak. Ya, digesek begini enak. Tarik sedikit lagi, dan kudorong lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Idiiiiiiiiiiih, sedaaaaapp Too” Tante berteriak, agak keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geli di ujung sana. Tariik, dorooong &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin geli.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geli sekali… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahaaaaaann… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahan dulu, To” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mungkin, sudah geli sekali.lalu.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melambung, melayang, melepas.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaaaahhhhhhh” teriakku. Nikmatnya sampai ke ubun-ubun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengejang, melepas lagi, berdenyut, enak, melepas lagi, nikmat sekali..! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Genjot lagi, To” teriaknya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana bisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, To” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah selesai! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante masih menggoyang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ikut saja, pasif &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tooooo, ..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante gelisah, goyangnya tak kubalas. Aku sudah selesai! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeeeeeeeehh” keluhnya, sepertinya kecewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergerak-gerak tak karuan, menendang, menggeliat, gelisah.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penisku mulai menurun, di dalam sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante berangsur diam, lalu sama sekali diam, kecewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal aku yang bingung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit yang lalu aku mengalami peristiwa yang luar biasa, yang baru kali ini aku melakukan. Baru kali ini pula aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kenikmatan berhubungan kelamin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmatnya susah digambarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan kelamin antara pria yang mulai menginjak dewasa dengan wanita dewasa muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama-sama diinginkan oleh keduanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya yang memulai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdua pula yang melanjutkan, keterusan dan…kepuasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepuasan ? Aku memang puas sekali, tapi Tante ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah masalahnya sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangkap wajah kecewa pada Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilakunya yang gelisah juga menandakan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi merasa bersalah. Aku egois. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendapatkan kenikmatan luar biasa sementara aku tak mampu memberi kepuasan kepada “lawan mainku”, Tante Yani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat tadi, ia ingin terus sementara aku sudah selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bingung bagaimana mengatasi kebisuan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih menindih tubuhnya. Penisku masih di dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah dadanya masih terasa kencang mengganjal dadaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangannya lurus ke atas melihat plafon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus ambil inisiatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucium pipinya mesra, penuh perasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan saya, Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante menoleh, tersenyum dan balas mencium pipiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara aku agak lega, Tante tak marah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu engga perlu minta maaf, To” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harus Tante, saya tadi nikmat sekali, sebaliknya Tante belum merasakan. Saya engga mampu, Tante. Saya belum pengalaman Tante. Baru kali ini saya melakukan itu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul ? Baru pertama kamu melakukan ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga apa-apa, To. Tante bisa mengerti. Kamu bukannya tidak mampu. Hanya karena belum biasa saja. Syukurlah kalau kamu tadi bisa menikmati” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nikmaaat sekali, Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante diam lagi, mengelus-elus punggungku. Nyaman sekali aku seperti ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“To ” panggilnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini rahasia kita berdua saja ya ? Tante minta kamu jangan katakan hal ini pada siapapun” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu Tante, tadinya sayapun mau bilang begitu” Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Mendadak aku jadi cemas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante ” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hhmm” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana kalau Tante nanti ..” Aku tak berani meneruskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti apa ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akibat perbuatan tadi, lalu Tante ..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hamil ?” potongnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga usah kamu pikirkan. Tante sudah jaga-jaga” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya engga mengerti Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“To, lain kali saja ya Tante jelasin. Sekarang Tante harus mandi, Oommu ‘kan sebentar lagi datang” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, celaka. Sampai lupa waktu. Aku bangkit hendak mencabut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pelan-pelan To” katanya sambil menyeringai, lalu matanya terpejam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeeeeehhh” desahnya hampir tak terdengar, ketika aku mencabut kelaminku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubantu ia mengenakan kutangnya. Buah dada itu belum sempat aku nikmati. Lain kali pasti! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante ” aku memanggil ketika ia sudah rapi kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupeluk ia erat sekali, kubisikkan di dekat kupingnya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Tante” lalu kucium pipinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ” jawabnya singkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sana mandi, cuci yang bersih niih” katanya lagi sambil menggenggam penisku waktu bilang ‘niih’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ooohhh, nikmatnya hari ini aku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini pertama kali aku ciuman dengan nikmat, pacaran sampai “keterusan”. Pertama kali penisku memasuki kelamin wanita. Pertama kali aku menumpahkan “air” ku ke dalam tubuh wanita, tidak ke perut atau ke lantai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih istimewa lagi, wanita itu adalah Tante Yani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita dengan tubuh yang luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuknya, potongannya, halusnya, padatnya, putihnya, bulunya….. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal wanita itu sudah 26 tahun, sepuluh tahun di atas usiaku. Tapi lebih padat dari Si Ani yang 17 tahun, lebih manis dari Si Yuli yang sepantaranku, lebih indah dari Si Rika yang seumurku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang masih mengganjal, wanita itu Tanteku, isteri Oom Ton. Ya, aku meniduri isteri Oomku! Aku mendapatkan pengalaman baru dari isterinya! Aku memperoleh kenikmatan dari meniduri isterinya. Isteri orang yang membiayai sekolahku, yang memberiku makan dan tempat tinggal! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa jahatnya aku. Betapa kurangajarnya aku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sekarang jadi pengkhianat! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengkhianati adik misan ayahku! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, keliru kalau semua kesalahan ditimpakan kepadaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang menyuruh memijat ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okey, seharusnya memijat saja, kenapa pakai mengelus ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakai meremas pantat ? Habis, siapa yang tahan ? Aku masih 16 tahun, masih sangat muda, tapi sudah matang secara seksual, mudah terrangsang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante sendiri, kenapa tidak menolak ? Bisa saja ia menempelengku ketika aku mau mencium bibirnya di karpet itu. Bisa saja ia menolak waktu aku membopongnya ke kamarku. Dan aku, bisa saja memberontak waktu ia merogoh celana dalamku, waktu ia menggenggam kelaminku dan diarahkan ke kelaminnya…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya : salah kami berdua! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, aku ingin mengulangi ……….! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya, kami sarapan bertiga, Aku, Oom, dan Tante. Aku jadi tidak berani menatap mata Oom waktu kami berbicara. Mungkin karena ada perasaan bersalah. Sedangkan Tante, biasa-biasa saja. Sikapnya kepadaku wajar, seolah tak terjadi apa-apa. Tak ada pembicaraan penting waktu makan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante bangkit menuangkan minuman buat Oom. Kupandangi tubuhnya. Aku jadi ingat peristiwa semalam. Rasanya aku tak percaya, tubuh yang ada di depanku ini, yang sekarang tertutup rapat, sudah pernah aku tiduri. Aku ngaceng lagi.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susah sekali aku berkonsentrasi menerima pelajaran hari ini. Pikiranku ke rumah terus, ke Tante. Bagaimana ia “menuntunku” masuk. Bagaimana aku mulai belajar “menggesek”, terus keenakkan. Aku ingin lagi…! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante bagaimana ya, apakah ia ingin lagi ? Aku meragukannya, mengingat semalam ia tidak puas. Jangan-jangan ia kapok. Tadi pagi sikapnya biasa saja. Mestinya sedikit lebih mesra kepadaku. Memangnya kamu ini siapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik begitu, wajar saja, ‘kan ada suaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian ketika aku pulang sekolah, kulihat ada mobil Oom di garasi. Apakah Oom Ton tak ke kantor hari ini ? Atau jangan-jangan Oom tahu kalau aku .. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, jangan berpikir begitu. Dua hari terakhir ini sikap Oom kepadaku tak ada perubahan apa-apa. Sikap Tante juga wajar-wajar saja. Justru aku yang kelimpungan. Bayangkan. Setiap hari ketemu Tante. Aku selalu membayangkan “dalam”-nya, walau pakaian Tante tertutup rapat. Lalu, terbayang, aku sudah pernah menjamah tubuh itu, dan terangsang lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua hari ini aku betul-betul tersiksa. Terlihat paha Tante yang sedikit tersingkap saja, aku langsung “naik”. Ooh..! Aku ingin lagiiiiii. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang ini aku makan sendirian. Kamar Tante tertutup rapat. Oom pasti ada di dalam, mobilnya ada. Tante juga tentunya. Mungkin mereka sedang …? Siang-siang ? Biar saja, toh suami-isteri. Sekejap ada rasa tak nyaman. Tanteku sedang ditiduri suaminya…! Aku iri! Memangnya kamu siapa ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja aku selesai menyantap sendok terakhir makananku, kemudian mengangkat gelas, ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka, Tante keluar, mengenakan baju tidur. Aku terpana. Tanganku yang sedang memegang gelas berhenti, belum sempat minum, terpesona oleh Tante dengan baju tidurnya. Kelihatan ia baru bangun tidur, melihatku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah pulang, To” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah dari tadi Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tutup pintu kamarnya kembali lalu mendekatiku, dan tiba-tiba mencium pipiku erat, lenganku merasakan lembutnya sesuatu yang menandakan Tante tak memakai kutang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir saja aku menumpahkan air minum karena kaget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada kabar gembira.”katanya berbisik. Sebelum aku berreaksi atas aksinya itu, Tante sudah beranjak ke belakang meninggalkanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi penasaran. Penasaran pada benda lembut yang mendesak lenganku tadi, serta pada kabar gembira apa ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ia kembali lagi, aku berdiri untuk memuaskan rasa penasaran tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante menempelkan telunjuknya ke mulut sambil matanya melirik ke kamar. Aku mengerti isyarat ini. Jangan ganggu, ada suaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejam kemudian kulihat Oom Ton duduk di sofa ruang tengah bersama Tante. Oom Ton berpakaian rapi berdasi, seperti hendak ke kantor, sedangkan Tante mengenakan daster pendek tak berlengan berkancing tengah, daster kesukaanku. Terlihat segar, baru saja mandi, mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tarto” Oom Ton memanggilku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Oom” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oom mau ke Bandung, dua hari. Kamu jaga rumah ya ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini rupanya kabar gembira itu! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, Oom, kapan Oom berangkat ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar lagi, jam tiga” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari Oom tak ada di rumah, tentunya dua malam juga. Dua malam aku menjaga rumah, bersama Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua malam bersama Tante ? Bukan main!. Eit, jangan berharap dulu, ya. ‘Kan tadi Ia bilang kabar gembira ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok kamu yakin kabar gembiranya Tante adalah karena Oom ke Bandung ? Jangan sok pasti ya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melirik Tante, Ia biasa-biasa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Dadan datang membawa tas di bahunya, masuk garasi menghidupkan mesin mobil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Papa berangkat ya, Ma” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Pa, hati-hati di jalan, ya ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama juga hati-hati di rumah” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oom mencium pipi Tante, lalu menciumi Si Luki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jaga baik-baik, ya To” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Oom” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seisi rumah mengantar Oom sampai depan pintu pagar, melambai sampai mobilnya berbelok ke jalan Tebet Timur Raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya masuk ke rumah kembali. Hatiku bersorak. Dadaku penuh berharap dan kepalaku penuh rencana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luki dibawa pengasuhnya ke rumah sebelah. Mbak meneruskan pekerjaannya di belakang. Aman. Tinggal aku dan Tante. Kuberanikan diriku. Kupeluk Tante dari belakang. Betul ‘kan, Tante tak memakai kutang. Wah, sudah lama sekali aku tak menyentuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante sedikit kaget, lalu berbalik membalas pelukanku. Cuma sebentar, melepaskan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar, dong To” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante …” Serak suaraku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti malam saja ” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha, rencana di kepalaku bisa terlaksana malam ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami duduk berdampingan di sofa, sedikit berjarak. Aku nonton TV, Tante membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahan lagi, penisku sudah tegang dari tadi. Sekarang baru jam setengah empat sore. Berapa jam lagi aku mesti menunggu ? Oh, lama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante, tolonglah aku. Aku tak sanggup lagi menunggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat sekeliling meyakinkan situasi. Luki masih sama si Tinah di tetangga. Mbak Mar menyetrika di belakang. Aman! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupegang tangan Tante yang sedang ada di pahanya. Dengan begini aku bisa meremas-remas tangannya sambil merasakan lembutnya paha. Ia sesekali membalas remasanku, tetap membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditariknya tangannya untuk membuka halaman buku bacaannya, tanganku “tertinggal” di pahanya. Kesempatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuusap lembut pahanya. Paha itu masih seperti yang kemarin, padat, kenyal, halus, berbulu lembut. Masih tetap membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku makin berani, tanganku bergerak ke atas menyusup dasternya. Kuusap celana dalamnya. Nafasnya mulai terdengar meningkat “volume”nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diletakkannya buku itu sambil menghela nafas panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“To., kamu engga sabaran, ya ?” katanya sambil memegang tanganku di bawah sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan saya Tante, saya.. saya ..engga kuat lagi Tante, saya ingin lagi, Tante” Kataku terputus-putus menahan birahi yang mendesak. Kelaminku juga mendesak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih sore, To” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolonglah., Tante, saya membayangkan terus setiap ..hari” kataku setengah memohon. Aku yakin Tantepun sebenarnya telah terangsang, terlihat dari nafasnya dan aku merasakan basah di celananya. Aku sudah sampai pada titik yang tak mungkin surut kembali. Situasi sekeliling aman. Jadi, apa lagi selain berlanjut ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mohon, Tante” kini aku betul-betul memohon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditariknya tanganku dari paha, lalu dituntun ke dadanya. Permohonanku diterima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuremas buah dada itu yang hanya ditutupi selembar kain daster. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeeeeeehhh” desahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari lalu, waktu aku pertama kali meniduri Tante (memang baru pertama kali aku berhubungan sex), aku belum sempat menikmati buah dada ini. Waktu itu kami sudah sama-sama terangsang sehabis aku memijatnya. Aku baru sempat meremasnya, itupun dibalik kutang. Lalu ketika kutangnya sudah terbuka, Tante sudah keburu menuntun kelaminku memasukinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaranglah kesempatan untuk menikmati dada itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka kancing dasternya, satu, dua, tiga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dada itu mengagumkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putih, besar, menonjol, bulat, bergerak maju mundur seirama nafasnya, putingnya kecil agak panjang tegak lurus ke depan berwarna merah jambu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlutut di depannya, kusingkirkan daster itu, kucium belahan dadanya yang seperti parit kecil di antara dua bukit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halusnya buah itu dapat kurasakan di kedua belah pipiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutku bergerak ke kiri, ke dada bagian atas, terus turun, kutelusuri permukaan bukit halus itu dengan bibir dan lidahku. Sementara tangan kananku mengusapi buah kirinya. Luar biasa, kulit itu haluuus sekali! Tangannya mengusap-usap belakang kepalaku. Penelusuranku berakhir di puncaknya. Kumasukkan putting itu kemulutku, kukemot. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaaaaaahhh” lenguhnya pelan sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya menekan kepalaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukemot lagi, kuhisap, kupermainkan dengan lidahku, putting itu mengeras. Puting satunya lagi juga mengeras, terasa di antara telunjuk dan ibujari tangan kananku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kesamaan gerak antara mulut dan tangan kananku. Kalau mulutku mengulum puting, jari-jariku memilin puting sebelahnya. Bila bibir dan lidahku merambahi seluruh permukaan buah yang sangat halus itu, telapak tanganku merambah pula. Seluruh permukaan dada itu demikian halus, sehingga ada sedikit yang tak halus di sebelah puting agak ke bawah menarik perhatianku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulepaskan muluku dari dadanya, ingin memeriksa. Di sebelah puting dada kiri Tante ada bercak merah. Kuperhatikan dan kuraba. Seperti bekas gigitan. Oh. Aku ingat tadi siang waktu makan. Ini pasti “hasil kerja” Oom Ton di kamar yang terkunci tadi.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun ingin. Betapa enaknya menggigit buah kenyal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dada kanan bagianku. Kucium puting itu kembali, geser sedikit, aku mulai menggigit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Tante mendorong kepalaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan, To. Kamu..mikir, dong” katanya sambil terengah-engah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, bodohnya aku. Kalau kugigit tentu nanti berbekas, jelas pemilik sahnya, Oom Ton, akan curiga! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan saya Tante, habis gemas sih.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yahhh.engga apa-apa. Kamu harus ingat, ini rahasia kita saja” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipegangnya dadanya sendiri lalu disodorkannya ke mulutku. Gantian, sekarang dada kiri dengan mulutku, yang kanan dengan tangan kiriku…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya untuk pindah ke kamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit berdiri. Tante masih tergolek duduk. Kancing tengah dasternya sudah semuanya terlepas, menyibak kesamping, tinggal celana dalamnya saja. Dada itu rasanya makin besar saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutarik kedua tangan Tante, tapi ia melepaskannya. Dibukanya gesperku, lalu kancing celanaku, dan ditariknya resleting dan celana dalamku. Penisku yang tegang itu keluar dengan gagahnya persis di depan mukanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uuuuuuuuuhhhh” Tante melenguh pelan memegang kelaminku, dielusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok besar sekali sih To, punyamu ini” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuraih badannya, kubimbing ia ke kamarku sambil masih memegang senjataku, tertatih-tatih kami berdua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukunci pintu kamarku, kurebahkan Tante perlahan di dipanku, kulucuti pakaianku, dengan bertelanjang bulat kudekati Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perlahan kupelorotkan celana merah jambu itu. Kembali aku bertemu dengan rambut halus hitam mengkilat itu. Ada cairan bening di sana. Kutindih tubuhnya lalu kakinya menjepit tubuhku. Kamipun berciuman, saling menggigit lidah. Lalu akupun tak tahan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit. Kubuka kakinya lebar. Lubang sempit itu terbuka sedikit, merah. Sekarang aku tak perlu dituntun lagi. Aku sudah tahu. Kutempelkan kepala penisku ke lubang sempit itu, lalu kudorong hati-hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaaaaaaaaahhhhh, To, sedaaaaaap” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepalanya sudah masuk. Nikmaaaaaaaaaat! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku heran, lubang sesempit itu bisa “menelan” kepala penis besarku. Kenapa kupikirkan ? Yang penting enak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil memegangi kedua belah dadanya, aku mendorong lagi. Enak-enak geli atau geli-geli enak. Entah mana yang benar. Kudorong lagi, Aaah lagi, enak lagi, geli lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi kudorong, sampai habis, sampai mentok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Idiiiiiiiiiiiiih, Toooo, enak sekali” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaman, sudah didalam seluruhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinggul Tante mulai berputar. Aku tahu tugasku, menarik dan mendorong. Mulut Tante mengeluarkan bunyi-bunyian setiap aku mendorong. Melenguh, mendesah, kadang menjerit kecil, atau kata-kata yang tak bermakna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian tiga hari lalu berulang. Baru beberapa kali “tusuk” aku sudah merasakan geli luar biasa. Nampaknya aku tak mampu menahan lagi. Ah, kenapa begini ? Aku tak bisa tahan lama. Aku cemas jangan-jangan Tante nanti kecewa lagi. Tapi bagaimana lagi, aku sudah hampir tiba di puncak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku coba berhenti bergerak sambil menahan agar jangan sampai keluar dulu, persis kalau aku menahan kencing. Tapi begitu aku diam, pantat Tante langsung berputar. Seluruh bagian tubuh yang di dalam sana memeras-meras kelaminku. Oh, aku tak akan berhasil menahan diri. Langsung saja aku bergerak lagi, makin cepat malah. Ocehan Tantepun makin ngawur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi cepat, makin cepat dan semakin cepat, lalu ……. badanku bergetar hebat, mengejang, berulang, memuntahkan, mengejang lagi, muntah lagi… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante berhenti berputar, lalu menjepit kakiku, menerima pelepasanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya aku mengeluarkan banyak sekali &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu akupun ambruk di atas tubuh Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selesai. Selesai menggetar, selesai mengejang, selesai melepas, selesai semuanya. Tanteku selesai terpaksa. Aku yakin ia kecewa lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante, gimana Tante, saya engga bisa menahan lagi …” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm, To” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan lagi saya, Tante. Saya gagal” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, To” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya hanya memuaskan diri sendiri” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante bilang sudahlah, kamu lumayan tadi” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lumayan gimana Tante ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada kemajuan dibanding yang lalu. Tante merasa enak, tadi” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante bohong! Tante cuma menghibur saya” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, To. Memang Tante merasa belum “tuntas”, tapi kocokanmu tadi bisa Tante nikmati”. Aku agak tenteram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini karena kamu belum biasa, To. Tante yakin, lama-lama kamu akan mampu. Barangmu kerasnya luar biasa” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana caranya supaya saya bisa lama, Tante ?’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti kamu akan tahu sendiri” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ajarin saya ya, Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante tak menjawab. Akupun berdiam diri. Lama kami berdua membisu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante melihat jam, pukul empat sore, lalu bangkit mencari-cari pakaiannya yang berserakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante mandi dulu, ya ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membantunya berpakaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merapikan karet celana dalamnya, mengkaitkan kutangnya, mengancingkan dasternya. Ada sesuatu yang lain kurasakan. Aku merasa demikian “mesra” membantunya berpakaian. Aku serasa membantu isteriku! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, barusan aku merasa meniduri isteriku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupeluk Tante erat sekali, agak lama. Lalu kucium pipinya dalam-dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa, To ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tarto sayang Tante” kataku tiba-tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipandangnya mataku lurus-lurus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu To” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga tahu Tante, pokoknya saya sayang sama Tante. Tante jangan kapok, ya ? Tarto ingin kita terus begini” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, itu maksudmu. Asal kamu bisa jaga rahasia” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa, Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Juga harus hati-hati” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya,Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kusadari, penisku bangun lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, mandi sana” Tante ke luar kamarku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku nonton TV sendirian. Tante ada di kamarnya, tertutup. Aku kesepian. Aku mengharapkan Tante akan ke luar dari kamar menemaniku di sini. Kemudian aku mendekatinya, lalu ciuman, raba-raba, dan …diakhiri dengan hubungan suami-isteri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heran aku, baru tadi sore aku dipuaskan oleh Tante di kamarku, malam ini aku ingin lagi! Aku ingin kenikmatan itu lagi. Aku tetap menunggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 9 malam. Tante belum juga muncul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 9.30, tidak juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarilah Tante, aku merindukanmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini adalah malam pertama Oom tak ada di rumah. Ayolah Tante, ini kesempatan yang tak boleh dilewatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kuketuk saja pintunya, lalu aku masuk ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah jangan. Itu kurang ajar, namanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh indah itu sendirian di kamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah dada putih itu tak ada yang mengelusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelamin berambut halus itu tak ada yang memasukinya malam ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa engkau tidak ke luar ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali Tante memang tidak membutuhkannya. Paling tidak malam ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kalau ia butuh tentunya akan mendekatiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 10, belum ada tanda-tanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku putuskan, malam ini memang Tante tak mau diganggu. Biar sajalah. Toh besok siang, sore, atau malam masih ada kesempatan. Oom Ton menginap di Bandung dua malam. Yah, besok sajalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku ingin malam ini! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin malam ini kelaminku masuk dan kemudian mengeluarkan cairan dengan nikmat! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku mengeluarkan penisku yang sudah tegang itu. Kata Tante punyaku ini besar. Entah benar-benar besar, aku tak tahu. Sebab aku belum pernah lihat punya orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak ada Oom Ton, aku jadi makin berani menggoda Tanteku. Seperti waktu sarapan tadi. Aku mengelus-elus bahu dan lengan atasnya yang terbuka di meja makan. Bahkan mencium pipinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati, To” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Tante, Kan saya lihat-lihat keadaan dulu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mar ada di belakang” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tarto sayang Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku udah ada yang punya, To” katanya sambil mencubit pahaku. Aku senang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Pokoknya saya sayang” Jangan-jangan aku jatuh cinta benar-benar sama Tanteku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semalam Tante ke mana. Saya tunggu-tunggu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Tante tahu, kamu nonton TV. Kamu masuk kamar jam 10 ‘kan ? Masa’ mau terus-terusan”. Aku lega, Tante tak tahu perbuatanku semalam yang menyelinap ke kamar Mbak Mar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya dong. Mumpung ada kesempatan. Sekarang juga saya mau” kataku nakal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gila, kamu To. Awas jangan sampai mengganggu sekolahmu!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Habis Tante betul-betul menggemaskan” Aku ngaceng lagi! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah ah, berangkat sana, nanti telat” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi nanti lagi ya Tante, janji dulu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat dulu nanti” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak mengganggu sekolah, seharian aku ingat Tante terus. Membayangkan apa yang akan kuperbuat nanti bersama Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kelas aku jadi sering melamun, membayangkan waktu aku menyelusuri seluruh permukaan dada Tante dengan mulut dan lidahku. Membayangkan bagaimana kelaminku secara perlahan memasukinya… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bel tanda pulang berbunyi. Aku bersorak. Ingat ke rumah, ingat malam ini Tante menjadi milikku. Akan kureguk semua kenikmatan dari tubuh Tante. Pokoknya nanti akan kunikmati seluruhnya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, sampai puas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang aku bisa puas, tapi bagaimana dengan Tante ? Dua kali aku berhubungan kelamin dengan Tante, dua-duanya aku bisa mengeluarkan spermaku ke dalam lubang kelamin Tante, sampai puncak, sampai puas. Tapi Tante tidak. Aku jadi cemas, jangan-jangan nanti aku juga begitu. Tapi aku ingat, yang kedua kemarin tante bilang aku ada kemajuan. Hal ini sedikit menghiburku. Mudah-mudahan yang ketiga nanti dengan bertambahnya pengalamanku, ada kemajuan lagi. Aku agak tenang sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah sepi-sepi saja. Tak ada siapapun, juga Tante. Aku makan siang sendirian. Tante mungkin ada di kamar, pintu kamarnya tertutup. Kuselesaikan makan siangku dengan cepat, lalu duduk saja di meja makan, berharap Tante akan keluar dari kamarnya. Setengah jam berlalu, masih sendiri. Aku ke ruang keluarga nonton TV. Duduk di sofa lalu ingat, kemarin di sini aku menikmati buah dada Tante dengan tuntas. Diam-diam punyaku mulai tegak, padahal hanya membayangkan yang kemarin. Ditambah lagi acara TV menyajikan fashion show di Sydney, Australia. Peragawati cantik-cantik yang berlenggok di catwalk itu umumnya tak memakai kutang. Kalau model bajunya berdada rendah, belahan dadanya jelas. Kalau bahannya tipis, putingnya menonjol. Apalagi peragawati yang punya dada besar, buahnya berguncang waktu ia melenggang. Aku tambah tegang, makin pusing karena terangsang. Oh. Tante sayang, kemanakah engkau. Aku membutuhkanmu sekarang! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba pintu kamar Tante terbuka. Aku menoleh. Kepala Tante nongol memberi isyarat padaku dengan mengangguk-angguk. Nasibku memang beruntung. Jelas ini isyarat ajakan masuk. Tapi masak di kamar itu, kamar pribadi Oom dan Tante. Aku ragu, bengong saja belum bereaksi atas isyaratnya. Sekali lagi Tante mengangguk, kali ini sambil mengedipkan kedua matanya. Dengan pasti aku melangkah menuju kamarnya. Kepala Tante lenyap. Aku masuk langsung menutup pintu kamarnya dan mengunci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ranjang besar itu Tante terlentang. Mengenakan baju tidur tipis, sehingga samar-samar celana dalam dan kutangnya terlihat. Matanya sayu memandangku, berkaca-kaca. Kutang itu bergerak naik-turun menandakan nafas Tante sudah memburu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahan melihat pemandangan yang menggairahkan ini, segera saja aku menghampirinya. Tapi… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu dulu. Buka dulu dong, pakaianmu” perintahnya. Okey, tanpa dimintapun aku akan membuka. Sementara aku membuka pakaian sampai telanjang bulat, Tante memelorotkan celana dalamnya dengan posisi masih terlentang. Kini di balik baju tidur tipis itu nampak rambut-rambut halus yang menggemaskan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat aku bergerak, ada lagi ‘ulah’ Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditariknya gaun tidur tipis itu perlahan, memperlihatkan paha bulat itu. Ditarik lagi keatas sampai pusarnya nongol. Kelamin berambut halus dan perutnya terbuka terhidang di depanku. Luar biasa. Tante menyajikan ’strip tease show’ di depanku! Ada-ada saja Tante ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ’senjata’ yang tegak keras aku menghampiri tubuh indah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucium rambut-rambut halus itu sebentar. Gemasnya aku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaaaaaahhhh” teriak Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpindah ke atas, kulumat bibirnya sambil meremas sebelah dadanya. Kutang itu perlu disingkirkan dulu seharusnya, tapi aku tak sempat. Tanganku sebelah lagi bergerak ke bawah. Eh, Tante sudah basah! Benjolan dan pintu itu licin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hhhhhhhhmmmmmmmm..” Tante tak mampu melenguh karena bibirnya aku kunci dengan bibirku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disingkirkannya tanganku yang sedang asyik di bawah, dipegangnya kelaminku, lalu diarahkannya ke ‘pintu’. Rupanya Tante ingin memulai sekarang. Mungkin sama dengan aku, sudah sama-sama terangsang lebih dulu sebelum bergumul. Aku terrangsang oleh bayanganku dan peragawati tadi, Tante terangsang entah oleh apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai ‘masuk’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduhh! Pelan-pelan, To!” Tante mengaduh, memang masukku tadi agak kasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Tante, habis engga tahan sih..”kataku tersengal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamipun saling menggenjot. Lucu kelihatannya kali ini. Tante masih mengenakan gaun tidur dan kutangnya, kelamin kami sudah saling pagut… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, seperti kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ‘keluar’ lebih dulu, sementara Tante belum terpuaskan benar. Kentara dari pinggulnya yang masih mencoba menggoyang sambil kakinya menjepit pinggangku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali aku kecewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kelaminku sudah bergesekan dengan kelamin Tante, disamping rasa nikmat, juga rasa geli luar biasa. Jika sudah geli begitu, aku tak sanggup lagi menahan untuk jangan sampai ke puncak dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali aku gagal memuaskan Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali aku berusaha menetralkan suasana yang tak enak ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuelus buah dada yang putingnya masih tegang itu dengan penuh perasaan, lalu kucium perlahan. Tante mengusap kepalaku. Kucium pipinya dengan mesra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya..engga..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udahlah..Tante tahu. Kamu engga usah merasa apa-apa. Tante maklum kok. Kamu tadi lumayan, sudah ada kemajuan” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Tante kan belum …” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga usah kamu pikirin. Tante mengerti” katanya menentramkan sambil mengelus-elus dadaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya engga bisa bertahan lama, Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah lumayan, kok. Tante tadi juga merasa nikmat. Kamu udah mulai pintar mengocok tadi” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bisa merasakan Tante tadi belum puas” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, memang wanita membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding laki-laki. Tapi kamu tadi ada kemajuan dibanding kemarin” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak adil rasanya. Saya merasakan kenikmatan luar biasa, sedangkan Tante belum” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, To. Tak perlu kamu pikirkan. Tante mengerti” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Tante” Kupeluk tubuhnya erat. Erat sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diciumnya pipiku, lalu merebahkan kepalanya di dadaku. Aku mengelus rambutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tubuhmu atletis sekali. Dadamu bidang” katanya sambil tangannya menelusuri dadaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Tante. Dulu saya kerja di kebun. Saya juga sering olahraga” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba tangan Tante ke bawah menggenggam punyaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelaminmu besar sekali” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, masa Tante. Saya kira biasa-biasa saja” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apalagi kalau lagi tegang”. Kulirik punyaku, sudah agak surut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tubuh Tante luar biasa” balasku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau lagi tegang keras dan panas” komentarnya lagi masih tentang penisku, mengabaikan pujianku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buah dada Tante indah sekali” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, masa. Dibanding punya siapa” pancingnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa saja” Aku pura-pura terpancing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti kamu sering lihat buah dada, ya” Kubalikkan badannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besar, bulat, kenyal, putih, licin, halus lagi” kataku sambil melihat dekat-dekat buah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buah dada siapa yang kamu lihat” tanyanya sambil menggoyang-goyang kelaminku yang masih berada digenggamannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cuma baru ini” jawabku sambil mulai merabai permukaan dadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jujur aja, To. Dada siapa yang pernah kamu lihat” katanya lagi. Tante penasaran rupanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh mati Tante. Cuma punya Tante yang pernah saya lihat” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang bener, To” tangannya tidak menggenggam lagi, tapi mengelus kelaminku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok tahu bagus ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya hanya lihat punya teman-teman sekolah. Itupun dari luar” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pernah kamu pegang ?” Tangannya masih mengelus, aku mulai terangsang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ih, engga lah, Tante. Bisa gempar, dong” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, tahunya punya Tante bagus, dari mana ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya, dari luar, punya Tante paling besar” Ujung jariku mempermainkan putingnya. Putting itu mulai mengeras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa setiap buah dada ujungnya begini ?’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini gimana” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Panjang, mungil, tapi keras” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin. Punyamu mulai keras” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seperti disadarkan. Memang aku sudah terangsang akibat percakapan tentang dada dan elusan Tante pada kelaminku. Aku mau lagi. Kenapa tidak ? Mumpung masih ada kesempatan. Oom Ton paling cepat besok siang pulangnya. Segera saja kukulum putting yang sejak tadi kupermainkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeeeehhhhhmmmmmmm..” Tante melenguh panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku ke bawah mencari-cari di antara ‘rambut-rambut’. Basah di sana. Kugosok yang basah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uuhmmmm….Aaahhhhhhh..Uuhhmmmmm” desahnya agak keras, mengikuti irama gosokanku. Kelaminku diremas-remas. Enak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“To… Hhheeeehhhggh..sedap, To..Hhheeeeeghh” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante makin ribut, aku khawatir kalau sampai terdengar dari luar kamar. Ah, tak ada orang ini. Aku makin giat menggosoki tonjolan kecil di bawah sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante makin ribut, menceracau tak karuan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosok lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriak dia lagi. Akhirnya… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah, To.ampun..Ayo To, sekarang To, sekarang…!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit. Kelaminku yang sudah keras kupegang pangkalnya, kuarahkan. Tante membuka kakinya lebar-lebar. Demikian lebarnya sampai kedua lututnya ke atas, menyuguhkan kelaminnya yang membasah, tepat di depan kelaminku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudorong perlahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oooohhh, To..sedapnya….” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tenggelam separoh. Kudorong lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduuuuhhhh, mamaaaa, nikmatnya…” teriaknya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudorong lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah masuk seluruhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurebahkan tubuhku menindih tubuhnya. Tanganku ke belakang punggungnya. Kudekap erat tubuhnya, lalu aku mulai menggenjot. Sedaaaaaaaapp. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertumpu pada kedua lututku, aku menarik dan mendorong pinggulku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmaaaaaaaaaattt. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kata apa saja yang keluar dari mulut Tante aku tak peduli. Terus saja menggenjot, naik-turun, keluar-masuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nikmati benar gesekan kelaminku pada dinding vagina Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang selagi punyaku didalam, Tante “mengikat” pahaku dengan kakinya sambil memutar pantatnya. Kurasakan sentuhan seluruh relung kelaminnya pada kelaminku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa sedapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“To…hhehh.kamu…hhehh..kok..hhehh..”Tante mencoba bicara disela-sela nafasnya yang memburu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keenaapaa . hheehh.. Taanntee…hhehh” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu….kok…lama…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru aku menyadari, sudah puluhan kali kelaminku kugenjot keluar- masuk-putar, tapi aku tak merasakan geli seperti biasanya. Yang kurasakan hanya nikmat. Rasa geli yang tak bisa kutahan yang kemudian membuat aku ke ‘puncak’, kali ini tak kurasakan! Heran! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga …tahu.. Tante..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“To, Oh my God..heeeehhhhhh” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak…Tante…?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wooow….luar biasa…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genjot dan genjot lagi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu..masih…lama..To..?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih…Tante.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang aku belum merasakan “geli menuju puncak” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diam. dulu,.. To” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghentikan genjotanku. Posisiku masih “di dalam”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Tante memeluk erat punggungku, sementara kakinya mengikat pahaku. Lalu tubuhnya bergerak miring hendak merobohkan tubuhku. Aku bertahan, tak tahu maksudnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gantian, To…Tante di atas.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru aku tahu maksud gerakan Tante ini. Kuikuti gerakannya, tapi.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan.sampai…lepasss” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya gerakan robohku terlalu cepat, sehingga kelaminku sedikit tercabut. Untung Tante cepat mengimbangi gerakanku, hingga punyaku “masuk lagi”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kami sudah sempurna berbalik posisi. Tante yang menindihku. Hanya sebentar. Tante lalu perlahan bangkit mendudukiku. Kelamin kami tak terlepas. Tante mulai bergerak. Aneh, gerakannya maju-mundur! Rasanya lain pula, tapi sama sedapnya! Dengan posisi begini gesekannya terasa lain. Kadang diputar, seperti diperas. Kadang Tante “jongkok”, pantatnya naik-turun, sedap juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaahhhh..kamu..nakal” teriaknya ketika dia berjongkok membenamkan kelaminku, aku mengangkat pantatku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua tanganku diraih, dituntun ke dadanya. Kuremas dada yang tambah licin kena keringat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sudah berapa lama akhirnya Tante capek juga. Dia rebahkan tubuhnya. Kupeluk. Kumiringkan, aku ingin di atas lagi. Tante menurut. Dengan hati-hati kami mengubah posisi, agar jangan terlepas. Aku berhasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu…udah..pintar..”pujinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan posisi di atas aku jadi bebas menggenjot. Lagi-lagi Tante teriak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus..To.., Tante…hampir…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus. Tusukanku makin menggila. Teriakannya makin keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa geli datang, dimulai dari ujung penis, terus menjalar ke seluruh tubuh. Makin geli. Makin cepat aku menarik-tusuk. Kesemutan…mengambang..melayang..dan……. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh….” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seeeerrr, denyut-denyut, seeerrr, bergetar, serrrrr, berguncang..seer. Entah sudah berapa kali seerr, yang jelas setiap kali keluar aku merasakan kenikmatan yang tak bisa kugambarkan dengan kata-kata. Begitu nikmat. Aku sampai lupa memperhatikan tingkah Tante. Badannya telah bergeser ke atas karena ku”dorong” dengan tusukanku. Bantalnya bukan lagi di kepala, tapi di punggung. Sedangkan kepala terkulai, mata melihat ke atas, bibir terkatub rapat seluruh tubuh gemetaran. Teriakannya ? Tak perlu kuceritakan. Agak lama juga aku dan Tante bergetaran begini, merasakan puncaknya kenikmatan hubungan kelamin……. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, hanya nafas kami berdua yang terdengar, seolah berebut mengisap oksigen untuk mengembalikan enerji yang keluar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu barangsur pelan, makin beraturan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante masih “terkapar” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lunglai di atas tubuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini keempat kalinya aku bersetubuh dengan Tante. Yang terakhir inilah kurasakan sangat berbeda dibanding tiga kali yang terdahulu. Lebih nikmat, lebih memuncak, lebih lama, lebih banyak aku mengeluarkan “air”ku, lebih bergetar, pokoknya …..susah diceritakan. Pengalaman baru tentang rasa nikmat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lagi, mudah-mudahan pengamatanku tak salah, Tante begitu menggelepar, mengerang, teriak, berbeda dengan sebelumnya, Tante kali ini kelihatan “selesai”. Semoga begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooh..To., kamu hebat” Diciumnya pipiku dengan gemasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apanya yang hebat, Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu betul-betul lelaki” tambahnya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang dari dulu saya laki-laki. Ini buktinya” Kusodorkan kelaminku, menusuk perutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laki-laki yang jantan” diremasnya penisku dengan gemas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Auu” teriakku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“To…luar biasa..” Tak putus-putusnya ia memujiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak engga tadi, Tante ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wow. bukan main. Sangat!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupeluk tubuhnya. Aku merasa bahagia sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante sayang..” Aku berbisik semesra mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak kaget Tante memandangku, lalu tersenyum. Manis sekali! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa ‘yang ?” Wuih, mesra banget. Tante memanggilku ‘yang’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sayang Tante” Kucium bibirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hhmmmmmmm” lenguhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau lama, enak sekali ya Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok kamu tadi bisa lama” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga tahu, Tante. Mungkin karena tadi ronde kedua” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau mungkin karena kamu udah mulai pandai” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang pandai gurunya” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huuuu” cibirnya sambil mencubit kontolku. Aku senang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guruku yang cantik” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicubitnya hidungku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan berpengalaman” godaku lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaah, udahlah, To” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami diam lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“To.” panggilnya tiba-tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.sayang” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan tinggalin Tante, Ya” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo, engga dong. Masa Tante yang jelita begini mau ditinggalin” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante serius, To” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya juga serius, Tante. Saya membutuhkan Tante. Saya ingin begini setiap hari, Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya butuh kamu” Nah ini baru pernyataan. Ini pernyataan baru. Tante membutuhkanku ? Bukankan ia punya suami ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oom Ton gimana Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba wajah Tante berubah, agak sedih kulihat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante….ah engga. Pokoknya kita harus hati-hati, To. Ingat pesanku ‘kan ? Tante juga senang kita bisa begini terus. Tapi hati-hati, ya ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasti, Tante. Saya akan hati-hati. Tapi Tante mau kan, tiap hari” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti kamu bosan” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sudah bilang, Tarto sayang Tante. Tarto butuh Tante. Tarto ingin menikmati setiap hari. Tadi Tante bilang membutuhkan Tarto. Maksudnya gimana Tante ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya.sama seperti kamu, Tante juga ingin setiap hari” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klop ‘kan ? Keinginan yang sama, saling membutuhkan, saling memuaskan, dan….saling menyayangi. Apakah ini yang dinamakan cinta ? Ya, apakah kami saling mencintai ? Aku memang tak ingin kehilangan Tante, tapi Tante sendiri bagaimana ? Apakah ia membutuhkanku karena mencintai keponakannya ini ? Atau karena aku baru saja memuaskannya ? Bagaimana dengan suaminya ? Jangan-jangan ia tak mendapatkan kepuasan dari Oom Ton ? Aku ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan terakhir ini, tapi mana berani aku menanyakan langsung kepada Tante. Ah, itu tak penting. Yang penting, aku sekarang punya kekasih yang luar biasa, yang bisa membuatku melayang-layang di puncak kenikmatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah benar aku malam ini. Bayangkan, malam ini dua kali aku “bertempur”. Terutama yang terakhir tadi, permainan lama yang betul-betul menguras tenagaku. Aku sekarang ingin istirahat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih agak sempoyongan aku bangkit mengumpulkan pakaianku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau ke mana To ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ingin tidur, Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah tidur sini aja, temanin Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya senang sekali Tante, tapi besok Oom ‘kan pulang ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paling cepat besok siang” Aku memperhatikan Tante yang dengan malas bangkit. Tubuh wanita ini memang luar biasa. Aku benar-benar beruntung mendapatkannya. Masih telanjang bulat Tante berjalan menuju kamar mandi. Tak lepas mataku menatapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, To” Tante merasa aku tatap begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante memang indah” kataku sambil bergantian menatap dada dan ‘rambut’ bawahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu memang nakal. Sudahlah, bersih-bersih dulu baru kita tidur” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kamar tidur Tante yang luas ini ada kamar mandi yang luas pula. Ada dua wastafel cermin lebar, bath-tube, dan tempat untuk mengguyur (douce) yang berpintu kaca agak buram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bath-tube kami saling membersihkan, Tante menyabun tubuhku sementara aku mengguyur tubuhnya, lalu gantian. Ah, mesra sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu berdua kami tidur berpelukan dibawah selimut yang hangat, tanpa pakaian. Tante yang punya ide begini. Enak juga. Jam dinding menunjuk waktu 11.32. Dua ronde permainan makan waktu hampir 3 jam. Pantas saja aku lelah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tergagap aku terbangun. Dimana aku in ? Tante masih ada di pelukanku. Kulihat sekeliling, ah aku tidur di kamar pribadi Oom Ton dan Tante Yani! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rasa enak di bawah sana. Ooh, Tante sedang asyik mengelus-elus penisku yang tegang. Setiap bangun pagi, tanpa dieluspun penisku memang tegang. Elusan ini yang membuat aku terbangun. Kulihat jam dinding, pukul 05.17. Ah , sudah pagi, aku harus siap-siap. Tapi Tante ini.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante memandangku, tersenyum, seperti biasa : manis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Punyamu udah keras, To” Buah dada itu menyembul karena terpepet dadaku. Aku terangsang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung saja aku raih buah indah itu. Putingnya sudah keras. Kami berpagutan. Aku ingin tahu kesiapan Tante pagi ini, tanganku ke bawah sana. Sudah basah rupanya. Mengingat waktu, aku ingin segera mulai. Tantepun paham. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali aku melakukan ‘pertempuran’ panjang melawan Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya jalan ke puncak masih lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mempercepat “pompaan”ku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus melumat bibir Tante, mencegah “kicauan”nya yang makin keras, khawatir terdengar Mar yang sangat mungkin sudah bangun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganti posisi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percepat lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubah posisi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku makin yakin seperti yang Tante katakan, bahwa aku lelaki tulen, jantan, hebat…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi yang melelahkan sekaligus menyegarkan……! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante memberikan bukti, bukan hanya janji. Kami bersetubuh hampir tiap hari, kecuali kalau Tante senam. Waktu yang dipilihnya adalah siang hari, waktu saya baru pulang sekolah, di kamarku. Ini demi keamanan. Siang hari adalah saat yang paling aman. Saat Si Mar sedang sibuk bekerja di belakang, Si Luki bermain dengan pengasuhnya di rumah sebelah, dan saat Oom Ton belum pulang kantor. Siang hari memberikan Tante cukup waktu untuk membersihkan diri, menghilangkan “bekas”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jauh dari bosan, seperti yang dikhawatirkan Tante. Karena aku memang sangat menikmati hubungan ini. Faktor lain yang membuat aku tak bosan adalah kreativitas Tante. Seperti yang kukemukakan di awal tulisan ini, ada saja ide Tante untuk membuat kejutan untukku setiap berhubungan kelamin. Entah itu posisi berhubungan, atau acara “pembukaan”, tambahan ronde, dan lain-lain yang membuat aku merasa “lain”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah sekali waktu ketika aku pulang sekolah, ia sudah siap di dipanku memakai selimutku sebatas dada dan tak memakai apa-apa lagi di balik selimut itu. Kejutan yang membuatku “terbakar”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain kali lagi ia memintaku “masuk” dari belakang. Bertumpu pada lututnya ia ‘nungging’, aku bermain sambil memegangi pantatnya yang bahenol itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat yang lain lagi, kami ‘bertempur’ di atas meja belajarku. Ia duduk di pinggiran meja membuka kaki, aku ‘masuk’ sambil tetap berdiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga di kursi belajarku. Aku duduk di kursi yang dirapatkan ke dinding, ia duduk di atas pahaku berhadapan. Dengan posisi begini ia bebas “memilih” posisi tusukan kelaminku di vaginanya. Posisi atau gaya apapun, yang jelas membuat kami berdua menuju puncak bersamaan atau hampir berbarengan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejutan yang susah kulupakan serta merupakan pengalaman baru bagiku adalah seperti yang akan kuceritakan di bawah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sudah-sudah, pulang sekolah setelah ganti baju, aku langsung menemui Tante meminta “jatah” bersetubuh. Aku sebut jatah karena kalau malam hari Tante bukan milikku lagi, tapi jatah suaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu ruang tengah sepi, Tante mungkin ada di kamarnya, kulihat pintunya sedikit terbuka. Aku ingin masuk ke kamarnya, kali ini aku ingin main di kamarnya, karena sejak “semalam 3 ronde” itu aku tak pernah lagi making love di kamar itu, selalu di kamarku. Kuperiksa keadaan sekeliling dulu. Aman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk kamarnya. Tante mengenakan kimono sedang mengikat rambutnya. Kukunci pintu, kupeluk Tante dari belakang, menggerayangi. Tak ada apa-apa lagi di balik kimono itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hhmmmmm..sebentar ya ‘yang, Tante mau mandi dulu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga usah mandi juga Tante tetap wangi” kataku terus menjelajahi tubuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entar biar segar. Sabar dulu ya..” Aku menghentikan aksiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ikut mandi Tante” kataku bercanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayolah, kita mandi bareng” Tak kusangka Tante menganggapnya serius. Ayo, kalau begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung bertelanjang, menuntun Tante memasuku kamar mandi. Tante membuka kimononya, bertelanjang bulat juga, masuk ke ruang douce. Tak bosan-bosannya aku memandangi tubuh indah ini, padahal hampir tiap siang aku menggumulinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, To” ajaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita main di sini Tante ?” nakalku timbul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hush, sekarang kita mandi dulu, kapan-kapan bolehlah” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku yang bersabun menggosoki dadanya. Di bagian putting sengaja kutekan-tekan. Tante juga menggosok dadaku dengan sabun. Lalu perutnya, dan ke bawah lagi. Tangan Tante juga ke bawah. Diusapnya dengan sabun ‘rambut’ bawahku, kemudian dipegangnya batang kelaminku, digosok juga. Karuan saja batang itu membesar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiiiiii, bangunnya cepet bener” Aku menikmati gosokannya. Tante benar-benar teliti, semua bagian dari alat vitalku itu dibersihkan dengan sabun lalu diguyur. Enak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ikut-ikutan. Seluruh bagian kelaminnya aku bersihkan. Kalau aku lagi menggosok “pintu” kelaminnya, kulihat mata Tante merem-melek keenakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai mengeringkan badan aku langsung menubruk Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heee, jangan disini To, ingat dong” Oh ya. Siang begini terkadang si Luki suka masuk ke kamar, tentu diikuti si Tinah. Berbahaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpakaian, hanya pakaian luar saja, pakaian dalam aku bawa, menyingkat waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiiiii, lucu.” kata Tante mengomentari tonjolan di celanaku. Tantepun hanya memakai daster, tanpa pakaian dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk kamarku duluan, langsung berbugil. Sejurus kemudian Tante menyusul, juga langsung bertelanjang bulat. Kami langsung bersatu, saling raba dan saling pagut. Kali ini mungkin tak ada kejutan yang dibuat Tante. Atau ya itu tadi, mandi dulu sebelum main. Betul juga kata Tante, lebih segar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meringkik kegelian ketika Tante menciumi pusarku. Ini mungkin kejutannya, tak biasanya Tante begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Tante terus ke bawah menciumi ‘rambut’ku. Lebih kaget lagi, tangannya menggenggam kelaminku dan mulai menciumi barang yang sudah mengeras itu! Bukan main! Geli-geli nikmat. Bahkan.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaaaaaahhhh” aku mengerang ketika kepala penisku dimasukkan ke mulutnya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa nikmatnya. Ini rupanya mengapa Tante begitu teliti membersihkan kelaminku waktu mandi tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante seolah tak mendengar panggilanku, terus saja asyik melahap barangku. Tante sanggup memasukkan barang itu hingga separohnya. Sewaktu di dalam, jelas kurasakan lidah Tante ikut bermain menggelitiki penisku. Woooow sedapnya tak terkira .! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ini pengalaman baru bagiku. Nikmatnya terasa lain. Entah apa yang dirasakan oleh Tante. Kok mau-maunya ia melakukan ini. Aku sih keenakan. Aku perhatikan bagaimana ia sibuk mengeluarkan-memasukkan penisku, kepalanya naik-turun berirama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaahhhhhhh…hhmmmmmmmm…ssssshhhhhhhh..sed ap, .. Tante., …Tante..pintar .sekali…” celotehku menahan nikmat. Bagaimana nanti kalau aku tak mampu menahan diri ? Masa aku menyemprotkan spermaku ke mulut Tante ? Ah, bagaimana nanti saja, yang penting sekarang….sedaaaaaaaaaap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Tante melepas “makanan”nya, disapunya barangku dengan kain dasternya yang tergeletak di dipan. Aku merasa kehilangan sesuatu. Dikeringkan. Lalu…dikulum lagi…! Nikmaaaaat.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilepaskannya lagi, barangkali mau dilap lagi. Ternyata tidak, badannya digeser sehingga kaki Tante berpindah ke arah kepalaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“To, .. ayo cium, To..”katanya terengah. Sejenak aku bengong tak mengerti permintaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu cium ini…” katanya kemudian sambil menunjuk ke selangkangannya. Okey, Tante, toh aku sudah sering mencium ‘rambut-rambut’ halusmu itu. Aku mulai mencium. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke bawah lagi, dong To..” Ke bawah ? berarti disitunya ? Hal baru, kenapa tidak ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucium tonjolan kecil yang sudah keras itu. Asin rasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaaaaaahhhhhhhh, sedap To, terus…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini lidahku yang menyapu-nyapu pintu dan tonjolan tadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaaaahhh. yaaaaaa…begitu enak…” katanya sambil mulutnya menyergap lagi batang kelaminku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cairan yang asin rasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kemudian hari aku baru tahu bahwa yang sedang aku dan Tante lakukan sekarang ini namanya “posisi 69″ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengulum ini Tante pintar sekali, banyak variasinya. Keluar-masuk, kadang menyedot-nyedot, bermain lidah, sesekali menggigit (aku langsung teriak). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun diajarinya bermain. Menggelitik ‘lubang’ dengan lidahku, menggigit kelentitnya (pelan, tentu saja), menyapu bibirku ke “bibir”nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asyik juga bermain seperti ini. Masing-masing sibuk, masing-masing merasakan nikmatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sudah berapa lama kami bermain begini. Untung saja aku berhasil menahan diri untuk tidak keluar. Aku sekarang memiliki ketrampilan baru untuk mengontrol diri, mengatur diri kapan saatnya ‘keluar’. Kalau tidak, masa aku menyiram mulut Tante dengan maniku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, To….sekarang.To….” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memutar tubuhku, sementara Tante rebah terlentang membuka kakinya, siap menerima tusukanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk dengan gemas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante menerima dengan antusias. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kesekian kalinya kami saling menggenjot. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama menuju puncak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbarengan menggelepar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah itu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama-sama lemas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama-sama puas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, betapa bahagianya aku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan lahir dan batin terpenuhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang apa lagi ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang kurang pada diri Tante. Cantik, putih, tubuh bagus, permainan di tempat tidur luar biasa, dan kreatif. Kreativitas Tante tercermin dari cara bersetubuh. Ada saja yang dilakukannya yang membuatku merasa bersetubuh dengan orang baru. Selalu ada hal baru dalam setiap permainannya. Sejak Tante memperkenalkan “posisi 69″, aku selalu minta dikulum penisku sebagai acara pembukaan. Tante juga amat menikmati permainan lidahku di vaginannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa sepulang sekolah aku mendekati Tante untuk melaksanakan ‘tugas’ rutin, bersetubuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah membuka resleting celanaku, mengeluarkan penisku yang tegang di dekat Tante yang sedang duduk di tepi ranjang, masih berpakaian lengkap, di kamar Tante yang sudah kukunci. Yah, semacam pemberitahuan bahwa aku sudah siap. Tapi tante menyambut dengan dingin, tak seperti biasanya. Ia hanya mengelus-elus. Ketika dengan kurang ajar aku mendekatkan kelaminku ke mulutnya, ia hanya mengecup lembut kepalanya, tidak dikulum seperti biasanya, paling-paling hanya menggenggam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante engga bisa sekarang, To” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Tante ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante lagi …itu..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagi apa, Tante ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagi mens.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mens ? Apa itu Tante ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu engga tahu ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bener, Tante. Saya sungguh engga tahu” Memang aku tidak tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini, setiap bulan wanita yang sudah dewasa mengalami masa menstruasi. Wanita yang normal pasti mengalami” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Tante memberiku kuliah tentang menstruasi itu. Bahkan ditunjukkannya kepadaku celana dalamnya yang berbalut itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, besok saja ya, Tante” pertanyaan bodoh memang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga bisa To. Masa mens biasanya sekitar seminggu. Tapi kalau Tante sekitar 4 - 5 hari.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, menunggu 4 - 5 hari, mana tahan ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Tante, saya ingin …” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga, To. Sabar aja ya, yang…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh, pusing juga aku, keinginan sudah sampai ke kepala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau begini saja Tante..” Kataku sambil menempelkan penisku ke bibir Tante, minta dikulum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga bisa juga, To. Itu namanya kamu egois. Kamu bisa puas, tapi kalau Tante terangsang, gimana ?” Benar juga kata Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan saya, Tante. Saya sungguh-sungguh belum tahu” kataku sambil memeluknya dengan mesra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga apa-apa, To. Tante maklum” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimasukkannya penisku, celana dalamku dibetulkan letaknya, lalu ditutupnya resleting celanaku. Mesra sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awas, ya. Jangan cari sasaran lain” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucium kedua belah pipi Tante, dengan mesra juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga dong, Tante. Emangnya apaan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata ada yang belum aku ketahui tentang wanita &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang masalahku, mana bisa aku menunggu 4 - 5 hari tanpa bersetubuh, setelah hampir tiap hari menikmati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang sekolah agak kaget aku mendapati Tante duduk di sofa, membaca. Kucium pipinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga senam, ‘yang ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga, lagi banyak-banyaknya” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apanya yang banyak ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kamu. Ya mens-nya” Aku mengerti. Tapi berarti hilang juga kesempatanku siang ini menyatroni mBak Mar. Paling tidak aku harus menunggu 2 hari lagi, jadwal senam Tante berikutnya, atau menunggu sampai Tante “bersih”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, terkantuk-kantuk aku menunggu Oom Ton dan Tante masuk kamar. Pukul 10.15 mereka masih asyik menonton TV. Aku masuk kamar duluan, gelisah. Setengah jam berikutnya kudengar TV dimatikan, lampu tengah juga, lalu kudengar suara pintu ditutup dan dikunci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja aku datang ke sekolah lebih pagi. Hari in ada ulangan Fisika dan aku merasa belum siap. Di rumah aku tak bisa konsentrasi belajar, ingatanku ke Tante melulu. Apalagi sekarang udah beberapa hari aku tak bersetubuh, pusing aku, mana bisa belajar di rumah. Pagi ini kesempatan terakhirku untuk belajar Fisika menghadapi ulangan nanti. Belum banyak kawan yang datang, cuma ada Tono, Edi dan Rika yang lagi ngrumpi. Dito belum nongol. Aku ambil bangku paling belakang, mojok, lalu mencoba berkonsentrasi. Lumayanlah dalam setengah jam aku bisa memecahkan soal-soal yang kuperkirakan akan keluar nanti. Juga beberapa rumus sempat “masuk’ ke otakku, sampai seseorang datang menghampiriku dengan senyuman yang amat manis. Yuli memang manis, apalagi kalau senyum. Masih ingat dengan Yuli, pembaca ? Yuli teman sekelasku yang kugambarkan badannya biasa-biasa saja, dadanya menonjol wajar dan wajahnya manis. Akhir-akhir ini kami makin akrab, sebatas dalam pelajaran lho! Sering saling meminjam buku catatan, diskusi soal-soal PR, atau cuma ngomongin guru-guru. Makin dekat kurasakan Yuli makin menarik, dadanya makin menonjol aja. Aku sudah berada di pelukan Tante sih, jadi aku kurang memperhatikan Yuli. Entah ini hanya ge-er saja, kulihat Yuli begitu ceria kalau berdekatan denganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rajin bener. belajar Fisika ya..?” tegurnya sambil duduk di sebelah kananku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah engga. Justru karena aku males, baru sempet belajar sekarang” sahutku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pinjam catatan Matematiknya dong Tar” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Matematik ? Kan entar ulangan Fisika” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iyyaa. Tapi kemarin gua engga sempet nyatet jawaban soal kemarin” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ulurkan buku Matematik, sambil memgang tangannya. Yuli membiarkan tanganku meremas tangannya, meskipun kemudian dia tarik tangannya, without any words. Tanda “penerimaan”. Tangannya halus bener .. Lalu dia dengan serius memelototi catatanku itu. Anak ini memang serius banget kalau belajar. Mataku tak lepas memperhatikannya. Dia mungkin tahu aku melihatnya, tapi pura-pura tidak tahu. Ah .. Ini dia. Di sela-sela kancing bajunya, aku sempat “mencuri” keindahan sebelah buah yang tumbuh di dadanya. Hanya sedikit sih, tapi cukup membuatku “berdiri”. Apalagi daging itu terlihat sedikit naik-turun seirama tarikan nafasnya. Ah seandainya ..khayalanku melayang tinggi. Kuperiksa keadaan sekeliling. Masih sepi, memang masih pagi sih. Hanya ada 2 kawan yang tadi, lagi asyik menulis. Sekaranglah waktunya! Toh 2 teman tadi menghadap ke depan kelas, tak akan melihat bila aku “menggarap” Yuli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saja tangan kananku merangkul bahu Yuli. Tak ada reaksi. Aksi kuteruskan dengan memegang dagu dan menariknya. Mata Yuli sedikit membelalak, agak kaget mungkin, tapi tak ada tanda-tanda penolakan. Ah. bibir merah membasah yang menggairahkan. Kucium bibirnya. Dan … Yuli membalas ganas ciumanku..! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku mulai membuka kancing baju putih itu, lalu empat jariku menyusup ke balik BH-nya. Halus, padat, dan lumayan besar. Aku meremas. Yuli melenguh. Jariku mencari-cari putingnya. Mengeras. Tangannya kepangkuanku. Meremas juga. Sambil masih berciuman, aku melirik dua temanku tadi, mereka masih tak acuh sibuk sendiri. Aman! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibirku menelusuri lehernya yang licin, terus kebawah. Kancing bajunya sudah terbuka semuanya. Kulepas baju seragamnya, lalu kudorong Yuli hingga rebah di bangku sekolah! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menindihnya hingga tubuh kami “lenyap” dari pandangan teman-teman tadi kalau mereka menengok ke belakang. Kuciumi habis-habisan kedua bukit perawan itu. Aku yakin bukit kembar ini belum tersentuh oleh “pendaki” manapun. Keras, dan padat. Aku tak sanggup menahan lagi. Walaupun pakaianku masih lengkap nempel di badan, tapi meriamku sudah nongol tegak dari rits celana, siap. Kusingkap rok abu-abu itu jauh-jauh ke atas. Kupelorotkan celana dalam krem-nya… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amboi … bulu-bulu halus, merata di seluruh permukaan kewanitaanya.. Luar biasa.. Masa aku kerjain di sini, di kelas ? Biar saja. Kalau nanti ketangkap basah gimana ? Peduli amat. Kalau sudah begini, mana bisa “delay”, apalagi “cancel”. Lagi pula Yuli sudah merintih-rintih sambil membuka pahanya agak lebar. We got the point no return! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai sekarang ? Ya, tunggu apa lagi. BH-nya masih nempel. Biar saja, tak ada waktu lagi. Kutempatkan penisku ke “tempat yang layak”. Menyapu-nyapu sebentar di seputar pintu-basahnya, lalu mulai menusuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uuuuhhhhhh ..” Yuli melenguh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentok. Padahal baru “kepala”ku yang tenggelam. Tusuk lagi dengan menambah tekanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaahhhhh .pelan ..pelan ..sakiiit…” Desahnya pelan dan terbata-bata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buset! Susah bener. Vagina yang satu ini sempit benar. Apa betul, Yuli masih perawan .? Mungkin juga. Sebab biasanya kalau sama Tante Yani tusukan begini sudah mampu mencapai “dasar”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tusuk lagi lebih kuat, bahkan sekuat tenagaku. Dan ….. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh! ngelamun aja!”kudengar suara agak membentak. Suara Yuli! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersadar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali ke alam nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali dari lamunan nakal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunan bersetubuh dengan gadis yang duduk di sebelahku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis yang baru saja mengagetanku! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah.sialan. Kenapa aku begini ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara mengintip sedikit buah Yuli, aku jadi melayang.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya aku kurang beruntung. Tante ada di rumah mengajakku ngobrol. Hanya ngobrol. Sayang sekali tubuh molek ini belum bisa “dipakai”. Sembulan dada bagian atas Tante dan sedikit belahannya cukup membuatku kepingin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante…” panggilku dengan suara serak” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pengin, Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu itu, engga sabaran, engga pernah puas” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan begitu, Tante. Saya puas, puas sekali. Cuma ketagihan, habis enak sih. Udah biasa setiap hari…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar, dong” katanya sambil menggenggam selangkanganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, udah keras..” katanya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Tante. Saya siap setiap saat” kataku meniru iklan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar…….! Dua hari lagi” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lama bener..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok siangnya lagi, ada kejutan baru untukku. Tidak bersetubuh sih, tapi menyenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante sedang duduk di sofa menyulam. Begitu datang aku langsung menyingkirkan kain sulamannya, lalu kucium pipi dan kemudian bibirnya. Aku langsung tahu bahwa dibalik gaun merah jambu, warna kesukaannya, Tante tak memakai BH. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mandi dulu sana, To” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah bisa, Tante ?” tanyaku cerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ih, kesitu aja pikiranmu. Belum, belum bersih” jawabnya sambil menuntun tanganku ke bawah perutnya. Masih ada pembalut di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, gimana dong Tante” kuremas dadanya yang tak berkutang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya kamu mandi dulu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mandi dan mengganti baju dengan penuh harap, barangkali ada kreativitas baru dari Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar kamar. Ini dia kejutannya. Tante masih duduk di situ, hanya kancing gaunnya telah dibuka sampai perut, mempertontonkan sepasang buah dada yang mengagumkan. Luar biasa. Berani benar Tante ini, bertelanjang dada di ruang tengah. Jelas belum bisa bersetubuh, tapi kelakuan Tante ini menandakan ada permainan apa lagi nih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung saja kuserbu buah dada itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeeeehhhhmmmmmm” Dengan gemasnya aku mengacak-acak buah indah itu dengan mulut dan tanganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum puas aku bermain dengan dada, Tante mendorongku sampai aku berdiri di depannya. Lalu.Tante membuka kancing jeans-ku! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante… Si Mar nanti…..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga ada, lagi pergi…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibukanya resleting celanaku, diturunkannya celana dalamku, lalu dikeluarkannya penisku yang langsung tegang, digenggam pangkalnya, terus diciumi ‘kepala’-nya, lalu masuk mulutnya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ooooohhh, nikmat sekali permainan baru ini. Suasana baru. Bayangkan. Di ruang tengah, berdua masih berpakaian, aku hanya mengeluarkan kelaminku, Tante mengulumnya dengan bertelanjang dada! Oh, indahnya dunia ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooohhhhhhhhh, Tante, …sedaaaaappp.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Tante bergerak maju-mundur, sangat perlahan. Terasa sekali bibirnya menjepit dan bergerak menelusuri permukaan penisku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante..Tante…enaaaaaaaak, Tante..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante terus saja. Tanganku dituntun ke buah dadanya. Aku sampai lupa diri tak berbuat apa-apa pada Tante. Habis sedap sekali sih! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua tanganku meremasi sepasang buah kenyal itu. Tante terus bekerja. Geli, Tante…! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, geli. Aku hampir ke puncak. Entah mengapa kali ini aku cepat mendaki. Mungkin karena pintarnya bibir dan lidah Tante merayapi permukaan kulit kelaminku, atau karena suasana yang aneh ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mampu menahan lebih lama lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante rupanya tahu kalau aku hampir sampai, ia mempercepat gerakannya. Bagaimana kalau keluar, aku tak tega kalau sampai menumpahi mulut Tante dengan spermaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera..ya..segera sampai…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilepasnya kulumannya, tangannya yang memegang sapu tangan secepat kilat menutupi kelaminku dan digenggam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaaaaaaaahhhhhh” sambil berteriak aku muncrat. Sedaaaaaaap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante meremas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncrat lagi, enak, meremas lagi, muncrat, nikmat, remas, sedap, muncrat, remas…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa detik aku terbang, kakiku goyah, lalu mendarat ditubuh Tante. Kucium mulutnya. Masih ada muncratan lagi, tertampung di saputangan. Ada lagi, makin sedikit….. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat aku masih menubruk Tante, ia masih menggenggam dengan saputangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Tante…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak, To ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedaaaaaaap, Tante. Tapi lebih nikmat ke sini…” jawabku sambil memegang benda yang masih berpembalut itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih pusing ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hilang, Tante. Lepas sudah…” Keteganganku memang lepas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante sendiri, gimana dong, Tante ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga apa-apa. Ini ‘kan cuma membantu kamu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupeluk lagi Tante lebih erat. Aku makin sayang saja sama Tanteku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Tante. Tarto makin sayang sama Tante” kataku jujur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, cuci dulu sana. Ih, banyaknya….” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, habis sudah tiga hari engga keluar.”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak peristiwa ‘penguluman di ruang tengah’ kemarin itu aku jadi makin berani ‘kurang ajar’ kepada Tante. Seperti siang ini. Waktu Tante sedang duduk membaca di ruang tengah, aku mendekatinya dari belakang dengan kelaminku sudah kukeluarkan, terjulur kutempelkan di pipi Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He, ngawur kamu.!” Tante kaget. Ditariknya punyaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aauuu” aku teriak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masukkin, engga aman!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Tante, saya tahu. Cuma bercanda” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari berikutnya Tante membalas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu aku sedang makan siang sendiri, Tante mendekatiku, sangat dekat sehingga perutnya hanya berjarak beberapa senti dari pipiku. Kucium bawah perutnya. Lalu Tante meraih tanganku, dimasukkan ke balik gaunnya, langsung vaginanya terpegang. Tak ada celana dalam di balik gaun Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah bersih, Tante ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuangkat gaun itu sehingga ‘rambut’ yang menggemaskan itu nampak. Aku langsung tegang, berarti siang ini bisa. Aku langsung berdiri meninggalkan makanku, memeluknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu dulu” kata Tante sambil mendorongku terduduk kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kali ini Oommu dulu, ya..” Katanya sambil meninggalkanku masuk ke kamarnya. Kurang ajar! Oom Ton ada di kamar. Seharusnya aku tahu, mobilnya ada di garasi. Tante masih sempat melihatku sambil tersenyum, sebelum ia mengunci kamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku makin tegang ketika setengah jam kemudian lamat-lamat mendengar suara erangan Tante dari kamar.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk kamar, tak tahan di situ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante sudah selesai mens-nya, seharusnya siang ini ia milikku. Tapi Oom Ton merebutnya. Merebut ? Memang Oom Ton pemilik sah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku gagal mencoba berkonsentrasi membaca Fisika, besok ulangan. Bayangan Tante disetubuhi suaminya yang muncul. Ah, sialan.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mencoba menyadari posisiku, aku jadi agak tenang. Aku ‘kan hanya kemenakannya yang dibantu, lahir dan batin, kenapa musti sewot ? Kelaminku mulai surut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu tak lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Tante masuk, langsung mengunci pintu kamarku. Disodorkan buah dadanya ke mulutku. Buah itu masih berkeringat, juga wajahnya. Tak peduli. Aku serbu dada itu, masih duduk di kursi belajarku. Kelaminku langsung membesar lagi. Tante dengan tergopoh-gopoh membuka resleting celanaku, mengeluarkan isinya yang sudah keras menjulang. Ia melangkah naik ke pahaku. Mengarahkan kelaminku ke vaginanya, dan….blessss aku langsung masuk…! Gila! Tanpa pemanasan dulu Tante langsung main. Di kursi lagi. Untung aku cepat siap. Jadilah kami ‘berkudaan’ di kursi. Tante semangat sekali nampaknya. Dengan posisi berpangku berhadapan ia di atas, Tante leluasa mengeksplorasi penisku. Aku lebih pasif. Hanya kadang-kadang saja menusuk, soalnya berat, harus mengangkat tubuhnya dengan pinggulku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edan! Setengah jam yang lalu aku mendengar Tante mengerang di kamarnya bersama Oom Ton, sekarang ia berkudaan denganku, sementara suaminya (mungkin) sedang pulas di kamar sebelah! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan ia tak ada puasnya. Atau jangan-jangan ia belum puas dengan suaminya lantas melanjutkan di sini ? Hanya Tante yang tahu. Betapa trampilnya ia menggenjot. Vaginanya begitu menjepit dan mengurut penisku, berulang-ulang. Begitu rupa ia menstimulasi kelaminku, membuat aku cepat naik. Geli sekali. Makin cepat dia, makin geli aku. Tiba-tiba tangannya mencekram kepalaku kuat sekali. Tubuhnya bergetar hebat, mengejang. Di dalam sana berdenyut-denyut. Bahuku digigitnya. Getaran tubuhnya makin hebat, lalu mendadak berhenti menggenjot. Mengerang. Tante sedang melayang di puncak.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun hampir sampai. Aku sekarang yang menggenjot. Tante teriak. Vaginanya menjepitku teratur menandakan Tante telah orgasme. Aku tak peduli, sebab aku belum, cuma hampir sampai, terus menggenjot. Tante masih mencekeram erat, secara pasif mengikuti gerakan tusukanku yang naik-turun, lalu…akupun mengejang, melepas. Heran, Tante mengerang lagi, seharusnya aku yang teriak. Tante ikut menikmati ejakulasiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejurus kemudian kami diam, masih berpelukan, Tante belum mencabut. Hanya nafas kami berdua yang masih berkejaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante hebat…” aku membuka percakapan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apanya yang hebat, justru kamu yang hebat. Tante tadi ‘kan duluan” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kita hampir bersamaan kok tadi” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi apa maksudmu hebat” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante bisa dua kali berturutan” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooh itu, engga juga sih..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi saya mendengar, waktu Tante sama Oom” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, masa.?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Tante mengerang, saya jadi ngiri.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kan kamu dapat juga” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah makanya Tante bisa dua kali” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu juga bisa dua kali, waktu malam itu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, tapi ‘kan ada jarak waktu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya Tante tadi cuma sekali” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang benar, Tante. Barusan Tante ‘kan sampai puncak..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Cuma itu. Sama kamu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi sama Oom..” aku mulai menyelidik tentan hubungan Oom dan Tanteku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante diam saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok diam, Tante” aku benar-benar ingin tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini kan masalah Tante dengan Oom-mu, rahasia dong” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Please, Tante, cerita dong. Tante kan isteri ku juga” buah dadanya kucium, putingnya masih keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu engga usah tahu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayolah, Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante diam lagi agak lama. Lalu…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama Oommu Tante belum sampai …..” Kaget juga aku. Jadi, tak berhasil orgasme dengan suaminya lalu melanjutkan denganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah masa, Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah kenyataannya, To. Oom-mu engga bisa memuaskan Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin inilah sebabnya, Tante tiap siang tak menolak aku setubuhi, bahkan menikmati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pantesan……” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pantesan apa ?” tanya Tante &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi Tante langsung masuk, engga pemanasan dulu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante tadi senewen, To. Ada rasa menggantung, ada yang harus dituntaskan” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untung saya tadi udah siap” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sory ya To…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga apa-apa, Tante. Saya tadi juga puas. Cuma lebih nikmat kalau pemanasan dulu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu harus mulai terbiasa begini, To. Seperti yang Tante bilang dulu, Tante butuh kamu. Jangan kaget kalau tiba-tiba Tante pengin. Tante harus mencapai orgasme. Kalau tidak Tante bisa gila..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya siap, Tante, Betul. Kapanpun Tante butuh saya, silakan saja Tante. Saya juga menikmatinya, Tante. Tanpa pemanasanpun saya engga apa-apa. Tadi saya bilang begitu, itu hanya akan lebih nikmat kalau dengan pemanasan. Kalau tidakpun engga apa-apa” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukurlah, To. Pemanasan gimana yang kamu inginkan, To ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti inilah Tante” jawabku sambil menciumi dadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kalau kita sempat. Kalau kaya tadi, gimana ?” tanyanya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kan saya siap, Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya sih. Maksud Tante supaya kamu lebih nikmat, kamu perlu pemanasan” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang biasanya kita lakukan sudah dengan pemanasan ‘kan. Cuma tadi saja, yang tidak” jawabku sekenanya. Pertanyaan Tante sulit kujawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu kamu denger Tante sama Oom tadi, kamu gimana” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya terangsang, Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okey, Tante ada ide buat pemanasan kamu, To. Tapi ide gila, mungkin” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silakan, Tante. Saya senang sekali. Tante kreatif, saya menikmatinya” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Jangan kaget, ya. Kamu tahu kamar si Luki ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahu Tante” kamar Luki bersebelahan dengan kamar Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Disitu kan ada pintu yang tembus ke kamar Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya engga perhatikan, Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kunci pintu itu Tante cabut, kamu bisa lihat ke kamar Tante dari lubangnya….kamu ngerti apa yang Tante maksud ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum, Tante” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lubang kunci itu lurus ke tempat tidur..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amboi. Berarti, kalau aku mengintip lewat lubang itu, aku bisa lihat kejadian tempat tidur Tante. Hubungannya dengan pemanasan, berarti….hebat, ide yang hebat. Kucium bibir Tante dengan gemas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ide brilian! Setuju banget tante!” kataku gembira. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ntar dulu, setuju apa ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan mengintip Tante sama Oom, sebagai pemanasan” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu cerdas. Menurut kamu ini gila, engga” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga! Saya mau Tante. Kita coba nanti malam ya.?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semangat banget” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengalaman baru” Aku sangat ingin melihat bagaimana Tante melayani Oom, bagaimana permainan Oom Ton! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante diam lagi. Hanya sekejap, lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“To, Tante ingin main sama kamu di tempat terbuka…” kaget lagi aku. Tempat terbuka ? Aneh. Ini sih hebat banget. Aku ingat kemarin, Tante mengulumiku di ruang tengah. Nikmat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ide Tante memang hebat-hebat. Saya suka Tante. Tapi aman engga ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu masalahnya” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita cari kesempatan, Tante. Pasti nikmat deh” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante pelan-pelan bangkit, melepas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeeeeeeeeehhhhhhhhh” lenguhnya mengiringi pencabutan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pintu kamarku Tante nengok kanan-kiri sebelum keluar. Aku ke kamar mandi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai dari kamar mandi aku lihat kamar Luki, kosong. Luki sedang dibawa pengasuhnya keluar. Pelan-pelan aku masuk, hati-hati pintunya kukunci. Ini dia pintu penghubung tadi. Aku mengintip. Tak melihat apa-apa, kuncinya masih menggantung. Aku kecewa. Kuncinya hanya bisa dicabut dari arah kamar Tante. Ia harus membantuku. Aku mencari Tante, lagi di kamarnya. Lebih baik aku makan dulu sambil menunggu Tante keluar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, Tante keluar, segar sekali nampaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante, cabut dulu kuncinya, saya mau coba” bisikku. Tante tersenyum, masuk lagi ke kamarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari lubang kunci di kamar Luki aku bisa melihat dengan jelas dari arah kaki, Oom sedang tidur pulas, hanya bercelana tidur. Kubayangkan, dari arah bawah ini aku akan bisa lihat kelamin mereka berdua, baik posisi ‘biasa’, Tante di bawah, atau Tante di atas. Kecuali kalau mereka memutar posisi dengan kakinya ke arah bantal, aku hanya bisa melihat kepala mereka, paling-paling dada Tante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu sekitar pukul 10, aku sudah berada dalam kamar Luki yang sudah pulas. Dari lubang kunci aku lihat mereka sedang membaca. Hanya sekali-sekali mereka bicara. Oom Ton mengenakan pakaian tidur lengkap, Tante memakai daster. Aku menyadari sebenarnya berbahaya aku disini. Bisa saja tiba-tiba Oom membuka pintu ini untuk melihat anaknya. Jadi setiap Oom bangkit, aku harus siap-siap. Kalau Tante sih, aku engga perlu bereaksi. Tegang juga aku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ternyata Tante juga berpakaian ‘lengkap’. Sekarang aku bisa dengan jelas melihat celana dalam merah jambu itu, karena Tante mengangkat sebelah kakinya. Kecil kemungkinannya mereka akan main malam ini. Setengah jam aku capek menunggu, Oom mematikan lampu baca, lalu tidur. Kamar itu walaupun hanya diterangi lampu tidur, tapi cukup jelas aku bisa melihat tubuh mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kecewa aku kembali ke kamar dan tidur…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok siangnya, ketika kami baru saja melaksanakan ‘tugas’ nikmat dan masih terlentang berdua tanpa busana, kutanyakan pada Tante tentang semalam aku tak jadi menyaksikan ‘pertunjukan’ Tante dan Oom main. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaa.itulah To, Oom-mu memang jarang meminta, paling dua kali atau bahkan cuma sekali seminggu. Makanya Tante butuh ini” jawabnya sambil mencekal kelaminku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa engga Tante yang minta” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Tante ‘kan melayani Oom-mu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada salahnya Tante yang mulai” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, memang. Tapi, sering Tante malah kecewa. Oom-mu kan hobinya kerja, jadi mungkin capek. Lebih baik Oom-mu yang mulai, itu artinya dia betul-betul butuh” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang, memiliki badan sebagus ini tak optimal dimanfaatkan” kataku sambil mengelus buah dadanya. Tak bosan-bosannya aku pada buah kembar yang indah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang sudah optimal” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Dan sayalah yang beruntung” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante juga beruntung punya kamu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamipun berpelukan erat. Kalau sudah begini, aku bisa lupa semuanya. Lupa pada Yuli, Rika, atau mBak Mar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berguling, jadi menindihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahaku mendesak di antara pahanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penisku mencari-cari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan….aku masuk lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heeeeh!’ Tante teriak kaget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendorong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeeeeeeehhhhhh” lenguhnya. Sekarang ia tak kaget lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menarik dan mendorong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menikmati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ingat bahwa ia tanteku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante lupa bahwa aku kemenakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan lupa bahwa kami berdua manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu ‘gila’nya kami bermain, kami lebih mirip hewan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hewan yang sedang menikmati reproduksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reproduksi bukan untuk mendapatkan keturunan, cuma untuk kenikmatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan..kenikmatan kami dapatkan secara bersamaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gila! Sesiang ini kami telah dua kali bersetubuh! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang edan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Edan kamu, To…” komentar sesudahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Supaya optimal, Tante..” komentarku juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan bagian dalam vaginanya berdenyut-denyut meremas penisku. Permainan yang melelahkan. Aku jadi lemas, penisku jadi pegal. Pegal-pegal nikmat ….!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3725440842778217774-2003944478989445959?l=arsip-cerita-dewasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/feeds/2003944478989445959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3725440842778217774&amp;postID=2003944478989445959' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/2003944478989445959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/2003944478989445959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/2008/10/tante-yani.html' title='Tante Yani'/><author><name>love hurt</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3725440842778217774.post-2392789871647297425</id><published>2008-10-03T22:38:00.001-07:00</published><updated>2008-10-03T22:38:16.278-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='selangkangan gadis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memek merah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memek janda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='selangkangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memek ibu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memek ibu kos'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memek gadis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kelentit'/><title type='text'>Kisah Indah Pengalamanku</title><content type='html'>Satu saat tepatnya bulan Agustus 2001, aku pindah kerja ke kota Mlg.&lt;br /&gt;Sesampai di stasiun kereta api jam 8 pagi aku langsung naik becak dan&lt;br /&gt;melintas jalan K yang cukup terkenal lalu meminta kepada tukang becak&lt;br /&gt;untuk segera diantar ke hotel yang mempunyai cukup fasilitas. Aku&lt;br /&gt;menurunkan tas koperku di depan hotel R. Setelah cukup istirahat aku&lt;br /&gt;berniat ingin sarapan, karena semalam di kereta api aku tidak makan.&lt;br /&gt;Namun ketika keluar dan akan mengunci pintu kamar, aku terkejut melihat&lt;br /&gt;beberapa wanita memakai pakaian swimsuit melintas dibelakangku. "Ada apa&lt;br /&gt;gerangan?", dalam hati aku bertanya.&lt;br /&gt;Rasa ingin tahuku begitu besar, sehingga membuat perutku rasanya menjadi&lt;br /&gt;kenyang. Aku coba mengikuti para wanita tersebut dari belakang dan..,&lt;br /&gt;wowww.., betapa bahenolnya pantat mereka. Sesaat aku berhenti dan..,&lt;br /&gt;ternyata mereka adalah pengujung biasa yang hanya ingin latihan fitness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat aku memperhatikan mereka, dan ketika itu juga terdengar&lt;br /&gt;suara wanita menggoda menyapaku "Mau fitness juga Mas?", aku mencoba&lt;br /&gt;berbalik badan.., ya ampun!, seorang wanita memakai swimsuit warna pink&lt;br /&gt;dengan body yang aduhai dan mempunyai rambut lurus terurai hingga pundak&lt;br /&gt;menghampiriku sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah senyumnya begitu menggoda pikirku dalam hati", hingga aku sejenak&lt;br /&gt;terdiam bagai patung tapi biji mataku berjalan dari atas ke bawah&lt;br /&gt;memperhatikan wanita tersebut yang mempunyai kaki begitu panjang dan&lt;br /&gt;indah. "Ohh.., tidak!, hanya lihat-lihat saja", jawabku.&lt;br /&gt;"Mas.., dari mana?", wanita tersebut kembali bertanya.&lt;br /&gt;"Malang.., saya sedang tugas ke sini, dan kebetulan saya menginap di&lt;br /&gt;hotel ini, anda sendiri sedang apa disini?" aku memberanikan diri balik&lt;br /&gt;bertanya.&lt;br /&gt;"Sebenarnya aku ke sini mau fitness, tapi sudah full.., jadi aku&lt;br /&gt;mengubah rencana ingin berenang saja, kebetulan kolam renangnya&lt;br /&gt;bersebelahan dengan ruangan fitness".&lt;br /&gt;Kesunyian memecahkan pembicaraan kami sejenak.., dan "Oh, ya.., Sony&lt;br /&gt;namaku.., kamu siapa?", aku mencoba berkenalan.&lt;br /&gt;"Namaku Juliet.., aku orang Jakarta, aku kuliah di sini, aku sering ke&lt;br /&gt;hotel ini hanya untuk fitness dan berenang" jawab Juliet.&lt;br /&gt;"Kalau begitu kita sama-sama saja ke kolam renang", aku coba mengajak.&lt;br /&gt;"Emang Mas Sony mau berenang juga ya..", tanya Juliet. Aku terkejut&lt;br /&gt;sambil menelan ludah.., gawat! aku kan nggak bisa berenang yachh.., ",&lt;br /&gt;pikirku dalam hati.&lt;br /&gt;"Oh, tidak.., tidak! kamu saja yang berenang, aku pesan makanan dan&lt;br /&gt;minuman, kebetulan aku belum sarapan", jawabku sambil memanggil pelayan.&lt;br /&gt;"Oke dech kalau begitu.., Juliet sekalian minta minuman berenergi boleh&lt;br /&gt;nggak..?".&lt;br /&gt;Langsung aku jawab, "Boleh-boleh.., mau berapa botol?", dan byuurr&lt;br /&gt;Juliet menjatuhkan badannya yang sexy itu ke kolam", aku pesan satu&lt;br /&gt;botol saja yach..", jawab Juliet manja dari dalam kolam.&lt;br /&gt;Setelah 30 menit Juliet baru beranjak dari kolam renang dan langsung&lt;br /&gt;glek.., glek.., glek.., satu botol kecil minuman berenergi langsung&lt;br /&gt;kering diteguk Vina. "Pantas Vina mempunyai body begitu aduhai, dan&lt;br /&gt;pasti mempunyai gairah seks yang tinggi", aku mengira-ngira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Sony, berapa lama di sini?", tanya Juliet sambil mengusap-usap&lt;br /&gt;rambutnya dan menjatuhkan pantatnya di kursi malas di sampingku.&lt;br /&gt;"Enggak lama kok, hanya 2 hari" jawabku berbohong, padahal aku harus 1&lt;br /&gt;bulan menetap di kota Y, karena tugas yang akan aku lakukan cukup berat.&lt;br /&gt;Angin sepoi-sepoi mengusap pembicaraan kami berdua, rasanya kami sudah&lt;br /&gt;cukup akrab meskipun perkenalan kami baru berlangsung beberapa jam dan&lt;br /&gt;tak terasa waktu menunjukan pukul 10 pagi.&lt;br /&gt;"Kamu mandi dan ganti pakaian di kamarku saja", aku memberanikan diri&lt;br /&gt;memberi tawaran pada Juliet yang sejak tadi melonjorkan badannya dengan&lt;br /&gt;tangan ke atas sehingga dengan bebas bulu ketiaknya menari-nari tertiup&lt;br /&gt;angin.&lt;br /&gt;"Boleh dech..", jawab Juliet singkat. Sampai di kamar, timbul rasa&lt;br /&gt;birahiku karena tergoda bentuk tubuh Juliet yang menggigit seluruh&lt;br /&gt;persendianku.&lt;br /&gt;"Mas Son.., nanti malam Jul boleh ke sini nggak?, karena sekarang aku&lt;br /&gt;mau kuliah dulu, Mas juga kan mau tugas dulu kan..?", tanya Juliet&lt;br /&gt;ketika keluar dari kamar mandi dengan pakaian sudah rapi. Pertanyaan&lt;br /&gt;Juliet itu sekaligus mengundang ribuan setan mempengaruhi pikiranku&lt;br /&gt;mencari akal untuk merayu Juliet agar dapat aku setubuhi.&lt;br /&gt;"Boleh Jul.., datang saja", jawabku sambil memegang pundak Juliet yang&lt;br /&gt;mempunyai umur 23 tahun tinggi badan 167 cm. Juliet diam saja saat aku&lt;br /&gt;pegang pundaknya, malah dia menatapku tajam. Aku tak berdaya akan&lt;br /&gt;tatapan matanya yang begitu indah. Suasana hening.., dan perlahan aku&lt;br /&gt;goyangkan kepalaku untuk mencoba menyentuh bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan Mas.., aku sudah pakai lipstik, nanti berantakan lagi" jawab&lt;br /&gt;Juliet menolak dengan halus. Aku jadi penasaran, tapi aku yakin dari&lt;br /&gt;tatapan matanya tersembunyi ada kesan frustasi dalam diri Juliet, tapi&lt;br /&gt;aku tidak mau mencoba berusaha tau ada apa sebenarnya yang terjadi&lt;br /&gt;tehadap diri Juliet. Karena pikiranku sudah kacau termakan keindahan&lt;br /&gt;lekuk tubuh Juliet yang begitu menggoda.&lt;br /&gt;"Ting tong.., ting tong.., ting tong..", tepat pukul 7 malam suara bell&lt;br /&gt;kamar berbunyi 3 kali, aku segera menghampiri pintu dan saat kubuka..,&lt;br /&gt;wuuaahh kulihat Juliet berdiri manis dengan mengenakan gaun tipis&lt;br /&gt;panjang warna biru muda dengan tali kecil di pundak hingga terlihat&lt;br /&gt;anggun. Terlihat bercak dua bulatan BH di dadanya dan celana dalam&lt;br /&gt;mungil yang tembus pandang tersorot lampu utama saat aku nyalakan.&lt;br /&gt;"Mau mengajak jalan ke mana yach..? Kalau ke disco tidak mungkin, pasti&lt;br /&gt;makan malam, sebab Juliet mengenakan pakaian resmi untuk pesta", dalam&lt;br /&gt;hati aku bertanya-tanya.&lt;br /&gt;"Masuk Jul.., aku masih pakai handuk dan mau ganti pakaian dulu, aku&lt;br /&gt;baru selesai mandi", jawabku sambil menarik tangan Juliet yang mulus&lt;br /&gt;putih bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bleekk!" pintu kamar kututup dan.., terkejut aku tiba-tiba jemari&lt;br /&gt;lentik nan lembut memegang jemariku yang kasar yang setiap hari memegang&lt;br /&gt;obeng dan solder ketika aku mengunci pintu. Aku berbalik badan dan&lt;br /&gt;sambil berdiri langsung aku belai rambut Juliet yang halus lurus&lt;br /&gt;terurai.., aku teruskan belaianku ke wajah Juliet yang berbentuk oval&lt;br /&gt;dan terlihat ada rasa penyesalan bercampur keputus-asaan juga keinginan&lt;br /&gt;untuk melakukan persetubuhan yang paling melekat.., kulanjutkan&lt;br /&gt;belaianku menyusuri pundak.., "Ohh Mas..", jawab Juliet lirih sambil&lt;br /&gt;memejamkan matanya isyarat meminta untuk dicium. Aku tatap bibirnya&lt;br /&gt;tidak berwarna merah muda lagi saat Juliet pakai di siang hari tadi,&lt;br /&gt;mungkin ini menandakan aku boleh menciumnya. Aku dekap Juliet dengan&lt;br /&gt;mesra seperti layaknya seorang istri di malam pertama. Dengan lembut aku&lt;br /&gt;hunjamkan ciuman dengan deras ke bibir Juliet yang tipis menggoda. Tak&lt;br /&gt;disangka.., Juliet membalas dengan menjulurkan lidahnya kedalam mulutku&lt;br /&gt;dan memainkannya dengan lihai. Aku segera membelai dan menciumi tengkuk&lt;br /&gt;leher panjang Juliet sampai pundak dan.., ting..!, aku lepas tali&lt;br /&gt;gaunnya, hingga gaun terusan sampai kaki itu terjatuh ke lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini hanya BH ukuran 36C tanpa tali ke pundak yang ada di hadapanku siap&lt;br /&gt;aku mangsa. "Ahh.., ouuhh.., Mass.., beri Jul kepuasan.." terdengar&lt;br /&gt;suara Juliet meminta dengan pasrah yang saat itu juga terdengar degupan&lt;br /&gt;jantung Juliet yang berdetak keras dengan nafas terengah-engah apalagi&lt;br /&gt;disaat aku mencoba membuka BH-nya yang yang tipis berwarna putih.&lt;br /&gt;Woowww.., indah sekali buah dada Juliet yang menonjol ke depan dengan&lt;br /&gt;puting kecil dan dikelilingi aurora yang kecil pula dan penuh kehangatan&lt;br /&gt;itu.&lt;br /&gt;"oouuhh.., Mass.., isap.., isap dong Mass Sonn.." pinta Juliet memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung melahap dua buah gunung kembar itu dengan hisapan dan&lt;br /&gt;jilatan yang liar sehingga membangunkan kemaluanku yang bersembunyi di&lt;br /&gt;balik handuk, sepertinya kemaluankupun sudah tidak sabar menggedor-gedor&lt;br /&gt;dan menjatuhkan handuk hingga aku kini telanjang bulat. Aku semakin&lt;br /&gt;gencar melancarkan serangan ke seluruh tubuh Juliet yang wangi khas&lt;br /&gt;parfum true love, aku meremas buah dada kiri Juliet dan menjilati buah&lt;br /&gt;dada kanan Juliet sambil memeluk dan mengelus-eluskan tanganku di&lt;br /&gt;punggung Juliet sampai ke pantat. Juliet mendengus keenakan dan membuang&lt;br /&gt;kepalanya ke belakang dengan otomatis dadanya membusung ke depan dan&lt;br /&gt;makin tampak pula keindahan buah dadanya yang menonjol membesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus Mass.., ouugghh.., yang keras isapnya Mass..", Juliet memaksa.&lt;br /&gt;Perlahan aku pelorotkan CD Juliet yang tipis berwarna putih dan berbunga&lt;br /&gt;di tengahnya hingga dengkul dan tanpa dikomando aku telah benamkan&lt;br /&gt;kepalaku di hadapan liang kewanitaan Juliet yang tersembunyi dibalik&lt;br /&gt;bulu-bulu halus yang lebat tak terkira. Ohh.., honey.., please go on..,&lt;br /&gt;ouuhh.., sepertinya Juliet kurang bebas, akhirnya dia pelorotkan sendiri&lt;br /&gt;CD-nya sampai kini dia benar-benar bugil tanpa sehelai benangpun&lt;br /&gt;menempel di tubuh indahnya itu. Sambil berdiri Juliet membuka kakinya&lt;br /&gt;lebar-lebar untuk menyerahkan lubang kenikmatannya yang menganga agar&lt;br /&gt;segera dijilat.&lt;br /&gt;"Ssstt.., sluupp.., eehhmm.., ohh.. Juliet betapa sempitnya memekmu",&lt;br /&gt;pikirku yang terus membungkuk dan menjilati clitoris Juliet yang&lt;br /&gt;nangkring di pintu gua yang penuh misterius namun penuh kenikmatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ougghh.., oouuhh.., eehhmm.." Juliet mendesah dan.., sseerr.., cairan&lt;br /&gt;mani membanjiri liang kewanitaan yang membuatku semakin mudah&lt;br /&gt;meluncurkan kemaluanku untuk menembus liang kewanitaan Juliet.&lt;br /&gt;Kebangkitan birahi Juliet makin membara dan mulai memutar-mutarkan&lt;br /&gt;pantatnya yang gempal dan bulat seirama dengan jilatan lidahku yang&lt;br /&gt;lincah menari-nari di sekitara clitoris dengan sekali-sekali memasukan&lt;br /&gt;lidahku ke dalam gua yang gelap gulita. Juliet menggelinjang keenakan.&lt;br /&gt;Aku begitu merasakan kenikmatan begitupun Juliet yang menarik-narik&lt;br /&gt;rambutku dengan ganas.., bagai seorang wanita yang sudah lama haus&lt;br /&gt;menantikan kenikmatan yang tiada tara itu. "Oohh.., honey masukin cepat&lt;br /&gt;kemaluannya", pinta Juliet tak sabar sambil menjatuhkan kedua tangannya&lt;br /&gt;ke sofa dan menjulurkan pantatnya ke belakang dengan kaki mengangkang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Juliet dalam posisi berdiri menungging kebelakang siap menerima&lt;br /&gt;kemaluanku dari belakang. Sleebb.., kemaluanku menembus lorong gelap&lt;br /&gt;menuju singgasananya dengan perlahan.&lt;br /&gt;"Oouuhh.., nikmat sekali Maass.., terus perlahan Maass.., acchhkk..,&lt;br /&gt;jangan berhenti Maass.." Juliet memohon lirih, diputar-putarkan&lt;br /&gt;pantatnya dari kiri ke kanan dan sebaliknya, sehingga rasa geli&lt;br /&gt;menyelimuti kemaluanku yang keluar masuk di liang senggama Juliet yang&lt;br /&gt;sempit tapi lembut. Aku semakin mengganas tatkala aku dengar desahan&lt;br /&gt;Juliet yang tiada hentinya. "Oouugghh.., acchhkk.., yang cepat.., yang&lt;br /&gt;keras.., Mass.., Mass.., oouugghh.., Maass..!". Seerr.., terasa basah&lt;br /&gt;mengguyur kemaluanku yang masih berdiri tegak itu. Sehingga terdengar&lt;br /&gt;bunyi clep.., clep.., liang surga Juliet mulai becek, Juliet&lt;br /&gt;mengeluarkan kemaluanku dan.., slupp.., sluupp.., sstt.., Juliet&lt;br /&gt;langsung melahap kemaluanku dan mengisap dengan rakusnya, sesekali dia&lt;br /&gt;julurkan lidahnya untuk menjilati dua buah biji kemaluanku hingga lubang&lt;br /&gt;anus yang membuatku mengelinjang kegelian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas memainkan kemaluanku, sepertinya Juliet meminta kembali&lt;br /&gt;untuk diserang dan dia menarikku ke kamar mandi hingga ke bath tab&lt;br /&gt;dengan memegang kemaluanku. Aku seperti kerbau dungu yang mau menuruti&lt;br /&gt;perintah tuannya, namun jika kerbau yang ditarik hidungnya, tapi aku&lt;br /&gt;yang ditarik kemaluanku yang sedang menegang. Juliet membuka kran air&lt;br /&gt;dingin tanpa air panasnya, jadi terasa dingin sekali tatkala kami berdua&lt;br /&gt;menjatuhkan diri kedalam bath tab tersebut.., namun tidak mengecilkan&lt;br /&gt;semangat kemaluankku yang masih terus menjulang tegang. Juliet menutup&lt;br /&gt;air kran setelah bath tab terisi sedikit sekedar membasahi alas bath&lt;br /&gt;tab. Juliet kembali menjilati kemaluanku.., selangkanganku. Aku tidak&lt;br /&gt;mau kalah, akhirnya aku bangkit dan aku tidur kembali membalikkan&lt;br /&gt;tubuhku sehingga kepalaku kini berada tepat di depan liang kewanitaan&lt;br /&gt;Juliet yang telah dari tadi menganga minta dijilat. Dalam keadaan posisi&lt;br /&gt;69, Juliet berada di bawah dengan kaki merenggang diangkat ke sisi-sisi&lt;br /&gt;bath tab, Juliet mengangkat pantatnya sambil digoyang-goyang dengan&lt;br /&gt;dengan cepat karena semakin geli oleh jilatan lidahku yang menusuk-nusuk&lt;br /&gt;hingga dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oouuhh.., Maass.., masukin dong sayang.., Jul sudah nggak tahan&lt;br /&gt;nich..", Juliet mengeluh minta dimasukin.&lt;br /&gt;Akhirnya kami merubah posisi, giliran Juliet yang berada di atas, sedang&lt;br /&gt;aku di bawah. Dengan posisi berjongkok Juliet langsung menangkap&lt;br /&gt;kemaluanku dan menuntunnya masuk kedalam lubangnya yang sudah basah&lt;br /&gt;dengan campuran mani dan air kran juga air ludahku. Sleebb.., sleebb..,&lt;br /&gt;perlahan Juliet menaik-turunkan tubuhnya sambil memegang dadaku yang&lt;br /&gt;plontos tanpa bulu sedikitpun. Aku lihat mata Juliet merem-melek&lt;br /&gt;keenakan sambil mengigit-gigitkan bibirnya yang mungil itu dengan&lt;br /&gt;sesekali mendesah. "Aahh.., acchh.., oouucchh.., Mass.., nikmat sekali,&lt;br /&gt;kamu hebat mass.., bisa bikin aku puas.., oouuhh! acchh..! uuhh.., baru&lt;br /&gt;kali ini aku merasakan kepuasan.., oouugghh..!", Juliet mengerang&lt;br /&gt;merasakan kenikmatan yang tiada tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juliet semakin mempercepat gerakannya dan terdengar suara bleb..,&lt;br /&gt;bleb.., yang begitu keras antara pantat Juliet yang besar dengan pahaku,&lt;br /&gt;berpadu dengan suara teriakan Juliet yang meminta ampun merasakan ngilu&lt;br /&gt;atas gesekan kemaluanku dengan liang kewanitaan Juliet.&lt;br /&gt;"Mass Sonn.., Jul mau keluar lagi.., kita keluarin sama-sama yach&lt;br /&gt;say..?", pinta Juliet lagi memelas dengan suara sedikit gemetaran&lt;br /&gt;menahan rasa nikmat yang segunung.&lt;br /&gt;"Ouugghh.., honey.., aku mau keluar.., ayo sayang.., lebih cepat, lebih&lt;br /&gt;cepat lagi sayang.., ouugghh..!", aku mendengus. "oouuhh..,.&lt;br /&gt;aacckkhh..!!", Juliet berteriak keras sambil menggaruk dadaku kuat-kuat&lt;br /&gt;merasakan kenikmatan dunia yang hebat itu. Cret.., cret.., cret..,&lt;br /&gt;cret.., cairan maniku membasahi lubang kenikmatan Juliet dan terasa&lt;br /&gt;becek sekali, tapi rasa itu menghilang dengan secara mendadak kemaluanku&lt;br /&gt;yang masih mendarat di lubang kemaluan Juliet dipijit dengan keras oleh&lt;br /&gt;liang senggama Juliet yang kembang kempis.&lt;br /&gt;"Terima kasih ya Mas Son.., sudah memberi kepuasan kepada Juliet" ucapan&lt;br /&gt;Juliet membisik di telingaku dan Juliet langsung terkulai lemas di atas&lt;br /&gt;tubuhku dan tanpa sadar dia terbaring lelap dengan keadaan telanjang&lt;br /&gt;bulat, indah dan mulus sekali tubuhnya walau sudah 3 kali orgasme, bau&lt;br /&gt;aroma True Love-nyapun tetap melekat di tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku peluk tubuhnya dengan mesra dan akupun mulai tertidur, sebelumnya&lt;br /&gt;aku buka penyumbat air bath tab supaya airnya mengalir keluar dan tidak&lt;br /&gt;menggenang di dalam bath tub.&lt;br /&gt;"Kalau airnya nggak dibuang bisa masuk angin aku.., apalagi dalam&lt;br /&gt;keadaan capek begini", pikirku dalam hati.&lt;br /&gt;Kamipun tertidur lelap sampai pagi di dalam bath tab. Ternyata Juliet&lt;br /&gt;wanita yang kawin diusia muda dan melanjutkan kuliah di kota "Mlg", tapi&lt;br /&gt;tidak pernah mendapatkan kepuasan seks dari suaminya, karena kemaluan&lt;br /&gt;suaminya impoten.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3725440842778217774-2392789871647297425?l=arsip-cerita-dewasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/feeds/2392789871647297425/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3725440842778217774&amp;postID=2392789871647297425' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/2392789871647297425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/2392789871647297425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/2008/10/kisah-indah-pengalamanku.html' title='Kisah Indah Pengalamanku'/><author><name>love hurt</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3725440842778217774.post-7524912839199629217</id><published>2008-08-15T01:32:00.001-07:00</published><updated>2008-08-15T01:32:39.532-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memek pembantu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita seks pembantu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita jorok pembantu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto pembantu telanjang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ngentot pembantu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto pembantu diperkosa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto pelacur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pembantu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembantu telanjang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto pembantu bugil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembantu bugil'/><title type='text'>Pembantuku yang baru</title><content type='html'>Aku adalah seorang ayah dari 2 orang anak lelaki yang berusia 9 dan 4 tahun. Isteriku bekerja sebagai Direktur di suatu prusahaan swasta. Kehidupan rumah tanggaku harmonis dan bahagia, kehidupan seks-ku dengan isteriku tidak ada hambatan sama sekali. Kami memiliki seorang pembantu, Sumiah namanya, berumur kurang lebih 23 tahun, belum kawin dan masih lugu karena kami dapatkan langsung dari desanya di Jawa Timur. Wajahnya biasa saja, tidak cantik juga tidak jelek, kulitnya bersih dan putih terawat, badannya kecil, tinggi kira-kira 155 cm, tidak gemuk tapi sangat ideal dengan postur tubuhnya, buah dadanya juga tidak besar, hanya sebesar nasi di Kentucky Fried Chicken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini terjadi pada tahun 1999, berawal ketika aku pulang kantor kurang lebih pukul 14:00, jauh lebih cepat dari biasanya yang pukul 19:00. Anakku biasanya pulang dengan ibunya pukul 18:30, dari rumah neneknya. Seperti biasanya, aku langsung mengganti celanaku dengan sarung kegemaranku yang tipis tapi adem, tanpa celana dalam. Pada saat aku keluar kamar, nampak Sumiah sedang menyiapkan minuman untukku, segelas besar es teh manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat dia akan memberikan padaku, tiba-tiba dia tersandung karpet di depan sofa di mana aku duduk sambil membaca koran, gelas terlempar ke tempatku, dan dia terjerembab tepat di pangkuanku, kepalanya membentur keras kemaluanku yang hanya bersarung tipis. Spontan aku meringis kesakitan dengan badan yang sudah basah kuyup tersiram es teh manis, dia bangun membersihkan gelas yang jatuh sambil memohon maaf yang tidak henti-hentinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula aku akan marah, namun melihat wajahnya yang lugu aku jadi kasihan, sambil aku memegangi kemaluanku aku berkata, “Sudahlah nggak pa-pa, cuman iniku jadi pegel”, sambil menunjuk kemaluanku.&lt;br /&gt;“Sum harus gimana Pak?” tanyanya lugu.&lt;br /&gt;Aku berdiri sambil berganti kaos oblong, menyahut sambil iseng, “Ini musti diurut nih!”&lt;br /&gt;“Ya, Pak nanti saya urut, tapi Sum bersihin ini dulu Pak!” jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung masuk kamar, perasaanku saat itu kaget bercampur senang, karena mendengar jawaban pembantuku yang tidak disangka-sangka. Tidak lama kemudian dia mengetuk pintu, “Pak, Mana Pak yang harus Sum urut..” Aku langsung rebah dan membuka sarung tipisku, dengan kemaluanku yang masih lemas menggelantung. Sum menghampiri pinggir tempat tidur dan duduk.&lt;br /&gt;“Pake, rhemason apa balsem Pak?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Jangan.. pake tangan aja, ntar bisa panas!” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia meraih batang kemaluanku perlahan-lahan, sekonyong-konyong kemaluanku bergerak tegang, ketika dia menggenggamnya.&lt;br /&gt;“Pak, kok jadi besar?” tanyanya kaget.&lt;br /&gt;“Wah itu bengkaknya mesti cepet-cepet diurut. Kasih ludahmu aja biar nggak seret”, kataku sedikit tegang.&lt;br /&gt;Dengan tenang wajahnya mendekati kemaluanku, diludahinya ujung kemaluanku.&lt;br /&gt;“Ah.. kurang banyak”, bisikku bernafsu.&lt;br /&gt;Kemudian kuangkat pantatku, sampai ujung kemaluanku menyentuh bibirnya, “Dimasukin aja ke mulutmu, biar nggak cape ngurut, dan cepet keluar yang bikin bengkak!” perintahku seenaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan dia memasukkan kemaluanku, kepalanya kutuntun naik turun, awalnya kemaluanku kena giginya terus, tapi lama-lama mungkin dia terbiasa dengan irama dan tusukanku. Aku merasa nikmat sekali. “Akh.. uh.. uh.. hah..” Kulumannya semakin nikmat, ketika aku mau keluar aku bilang kepadanya, “Sum nanti kalau aku keluar, jangan dimuntahin ya, telan aja, sebab itu obat buat kesehatan, bagus sekali buat kamu”, bisikku. “Hepp.. ehm.. HPp”, jawabnya sambil melirikku dan terus mengulum naik turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kumuncratkan semua air maniku. “Akh.. akh.. akh.. Sum.. Sum.. enakhh..” Pada saat aku menyemprotkan air maniku, dia diam tidak bergerak, wajahnya meringis merasakan cairan asing membasahi kerongkongannya, hanya aku saja yang membimbing kepalanya agar tetap tidak melepas kulumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku lemas baru dia melepaskan kulumannya, “Udah Pak?, apa masih sakit Pak?” tanyanya lugu, dengan wajah yang memelas, bibirnya yang basah memerah, dan sedikit berkeringat. Aku tertegun memandang Sum yang begitu menggairahkan saat itu, aku duduk menghampirinya, “Sum kamu capek ya, apa kamu mau tahu kalau kamu diurut juga kamu bisa seger kayak Bapak sekarang!”&lt;br /&gt;“Nggak Pak, saya nggak capek, apa bener sih Pak kalo diurut kayak tadi, bisa bikin seger? tanyanya semakin penasaran. Aku hanya menjawab dengan anggukan dan sambil meraih pundaknya kucium keningnya, lalu turun ke bibirnya yang basah dan merah, dia tidak meronta juga tidak membalas. Aku merasakan keringat dinginnya mulai keluar, ketika aku mulai membuka kancing bajunya satu persatu, sama sekali dia tidak berontak hingga tinggal celana dalam dan Bh-nya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia berkata, “Pak, Sum malu Pak, nanti kalo Ibu dateng gimana Pak?” tanyanya takut.&lt;br /&gt;“Lho Ibu kan baru nanti jam enam, sekarang baru jam tiga, jadi kita masih bisa bikin seger badan”, jawabku penuh nafsu. Lalu semua kubuka tanpa penutup, begitu juga aku, kemaluanku sudah mulai berdiri lagi. Dia kurebahkan di tepi tempat tidur, lalu aku berjongkok di depan dengkulnya yang masih tertutup rapat, “Buka pelan-pelan ya, nggak pa-pa kok, aku cuma mau urut punya kamu”, kataku meyakinkan, lalu dia mulai membuka pangkal pahanya, putih, bersih dan sangat sedikit bulunya yang mengitari liang kewanitaannya, cenderung botak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ketidaksabaranku, aku langsung menjilat bibir luar kewanitaannya, tanpa ampun aku jilat, sesekali aku sodokkan lidahku ke dalam, “Akh.. Pak geli.. akh.. akuhhfh..” Klitorisnya basah mengkilat, berwarna merah jambu. Aku hisap, hanya kira-kira 5 menit kulumat liang kewanitaannya, lalu dia berteriak sambil menggeliat dan menjepit kepalaku dengan pahanya serta matanya terpejam. “Akh.. akh.. uahh..” teriakan panjang disertai mengalirnya cairan dari dalam liang kewanitaannya yang langsung kujilati sampai bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana Sum, enak?” tanyaku nakal. Dia mengangguk sambil menggigit bibir, matanya basah kutahu dia masih takut. “Nah sekarang, kalau kamu sudah ngerti enak, kita coba lagi ya, kamu nggak usah takut!”. Kuhampiri bibirnya, kulumat bibirnya, dia mulai memberikan reaksi, kuraba buah dadanya yang kecil, lalu kuhisap-hisap puting susunya, dia menggelinjang, lama kucumbui dia, hingga dia merasa rileks dan mulai memberikan reaksi untuk membalas cumbuanku, kemaluanku sudah tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kuraba liang kewanitaannya yang ternyata sudah berlendir dan basah, kesempatan ini tidak kusia-siakan, kutancapkan kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya, dia berteriak kecil, “Aauu.. sakit Pak!”. Lalu dengan perlahan kutusukkan lagi, sempit memang, “Akhh.. uuf sakit Pak..”. Melihat wajahnya yang hanya meringis dengan bibir basah, kuteruskan tusukanku sambil berkata, “Ini nggak akan lama sakitnya, nanti lebih enak dari yang tadi, sakitnya jangan dirasain..” tanpa menunggu reaksinya kutancapkan kemaluanku, meskipun dia meronta kesakitan, pada saat kemaluanku terbenam di dalam liang surganya kulihat matanya berair (mungkin menangis) tapi aku sudah tidak memikirkannya lagi, aku mulai mengayunkan semua nafsuku untuk si Sum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sekitar 7 menit dia tidak memberikan reaksi, namun setelah itu aku merasakan denyutan di dalam liang kewanitaannya, kehangatan cairan liang kewanitaannya dan erangan kecil dari bibirnya. Aku tahu dia akan mencapai klimaks, ketika dia mulai menggoyangkan pantatnya, seolah membantu kemaluanku memompa tubuhnya. Tak lama kemudian, tangannya merangkul erat leherku, kakinya menjepit pinggangku, pantatnya naik turun, matanya terpejam, bibirnya digigit sambil mengerang, “Pak.. Pak terus.. Pak.. Sum.. Summ..Sum.. daapet enaakhh Pak.. ahh..” mendengar erangan seperti itu aku makin bernafsu, kupompa dia lebih cepat dan.. “Sum.. akh.. akh.. akh..” kusemprotkan semua maniku dalam liang kewanitaannya, sambil kupandangi wajahnya yang lemas. Aku lemas, dia pun lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sum aku nikmat sekali, habis ini kamu mandi ya, terus beresin tempat tidur ini ya!”, suruhku di tengah kenikmatan yang kurasakan.&lt;br /&gt;“Ya Pak”, jawabnya singkat sambil mengenakan pakaiannya kembali.&lt;br /&gt;Ketika dia mau keluar kamar untuk mandi dia berbalik dan bertanya, “Pak.. kalo pulang siang kayak gini telpon dulu ya Pak, biar Sum bisa mandi dulu, terus bisa ngurutin Bapak lagi”, lalu ngeloyor keluar kamar, aku masih tertegun dengan omongannya barusan, sambil menoleh ke sprei yang terdapat bercak darah perawan Sum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Sum masih bekerja di rumahku, setiap 2 hari menjelang menstruasi (datang bulannya sangat teratur), aku pulang lebih awal untuk berhubungan dengan pembantuku, namun hampir setiap hari di pagi hari kurang lebih pukul 5, kemaluanku selalu dikulumnya saat dia mencuci di ruang cuci, pada saat itu isteriku dan anak-anakku belum bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3725440842778217774-7524912839199629217?l=arsip-cerita-dewasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/feeds/7524912839199629217/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3725440842778217774&amp;postID=7524912839199629217' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/7524912839199629217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/7524912839199629217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/2008/08/pembantuku-yang-baru.html' title='Pembantuku yang baru'/><author><name>love hurt</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3725440842778217774.post-8156709304216993365</id><published>2008-08-15T01:30:00.001-07:00</published><updated>2008-08-15T01:30:01.042-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='certa memek'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pacaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita daun muda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita seks daun muda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita penis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto memek'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita kekasih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah daun muda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita kontol'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita romantis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita nikah'/><title type='text'>Pak GuruKu</title><content type='html'>Sebut saja namaku Etty (bukan yang sebenarnya), waktu itu aku masih sekolah di sebuah SMA swasta. Penampilanku bisa dibilang lumayan, kulit yang putih kekuningan, bentuk tubuh yang langsing tetapi padat berisi, kaki yang langsing dari paha sampai tungkai, bibir yang cukup sensual, rambut hitam lebat terurai dan wajah yang oval. Payudara dan pantatkupun mempunyai bentuk yang bisa dibilang lumayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bergaul aku cukup ramah sehingga tidak mengherankan bila di sekolah aku mempunyai banyak teman baik anak-anak kelas II sendiri atau kelas I, aku sendiri waktu itu masih kelas II. Laki-laki dan perempuan semua senang bergaul denganku. Di kelaspun aku termasuk salah satu murid yang mempunyai kepandaian cukup baik, ranking 6 dari 10 murid terbaik saat kenaikan dari kelas I ke kelas II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kepandaianku bergaul dan pandai berteman tidak jarang pula para guru senang padaku dalam arti kata bisa diajak berdiskusi soal pelajaran dan pengetahuan umum yang lain. Salah satu guru yang aku sukai adalah bapak guru bahasa Inggris, orangnya ganteng dengan bekas cukuran brewok yang aduhai di sekeliling wajahnya, cukup tinggi (agak lebih tinggi sedikit dari pada aku) dan ramping tetapi cukup kekar. Dia memang masih bujangan dan yang aku dengar-dengar usianya baru 27 tahun, termasuk masih bujangan yang sangat ting-ting untuk ukuran zaman sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari setelah selesai pelajaran olah raga (volley ball merupakan favoritku) aku duduk-duduk istirahat di kantin bersama teman-temanku yang lain, termasuk cowok-cowoknya, sembari minum es sirup dan makan makanan kecil. Kita yang cewek-cewek masih menggunakan pakaian olah raga yaitu baju kaos dan celana pendek. Memang di situ cewek-ceweknya terlihat seksi karena kelihatan pahanya termasuk pahaku yang cukup indah dan putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba muncul bapak guru bahasa Inggris tersebut, sebut saja namanya Freddy (bukan sebenarnya) dan kita semua bilang, “Selamat pagi Paa..aak”, dan dia membalas sembari tersenyum.&lt;br /&gt;“Ya, pagi semua. Wah, kalian capek ya, habis main volley”.&lt;br /&gt;Aku menjawab, “Iya nih Pak, lagi kepanasan. Selesai ngajar, ya Pak”. “Iya, nanti jam setengah dua belas saya ngajar lagi, sekarang mau ngaso dulu”.&lt;br /&gt;Aku dan teman-teman mengajak, “Di sini aja Pak, kita ngobrol-ngobrol”, dia setuju.&lt;br /&gt;“OK, boleh-boleh aja kalau kalian tidak keberatan”!&lt;br /&gt;Aku dan teman-teman bilang, “Tidak, Pak.”, lalu aku menimpali lagi, “Sekali-sekali, donk, Pak kita dijajanin”, lalu teman-teman yang lain, “Naa..aa, betuu..uul. Setujuu..”.&lt;br /&gt;Ketika Pak Freddy mengambil posisi untuk duduk langsung aku mendekat karena memang aku senang akan kegantengannya dan kontan teman-teman ngatain aku.&lt;br /&gt;“Alaa.., Etty, langsung deh, deket-deket, jangan mau Pak”.&lt;br /&gt;Pak Freddy menjawab, “Ah! Ya, ndak apa-apa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sengaja aku menggoda sedikit pandangannya dengan menaikkan salah satu kakiku seolah akan membetulkan sepatu olah ragaku dan karena masih menggunakan celana pendek, jelas terlihat keindahan pahaku. Tampak Pak Freddy tersenyum dan aku berpura-pura minta maaf.&lt;br /&gt;“Sorry, ya Pak”.&lt;br /&gt;Dia menjawab, “That’s OK”. Di dalam hati aku tertawa karena sudah bisa mempengaruhi pandangan Pak Freddy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu hari Minggu aku berniat pergi ke rumah Pak Freddy dan pamit kepada Mama dan Papa untuk main ke rumah teman dan pulang agak sore dengan alasan mau mengerjakan PR bersama-sama. Secara kebetulan pula Mama dan papaku mengizinkan begitu saja. Hari ini memang hari yang paling bersejarah dalam hidupku. Ketika tiba di rumah Pak Freddy, dia baru selesai mandi dan kaget melihat kedatanganku.&lt;br /&gt;“Eeeh, kamu Et. Tumben, ada apa, kok datang sendirian?”.&lt;br /&gt;Aku menjawab, “Ah, nggak iseng aja. Sekedar mau tahu aja rumah bapak”.&lt;br /&gt;Lalu dia mengajak masuk ke dalam, “Ooo, begitu. Ayolah masuk. Maaf rumah saya kecil begini. Tunggu, ya, saya pakÃ© baju dulu”. Memang tampak Pak Freddy hanya mengenakan handuk saja. Tak lama kemudian dia keluar dan bertanya sekali lagi tentang keperluanku. Aku sekedar menjelaskan, “Cuma mau tanya pelajaran, Pak. Kok sepi banget Pak, rumahnya”.&lt;br /&gt;Dia tersenyum, “Saya kost di sini. Sendirian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kita berdua diskusi soal bahasa Inggris sampai tiba waktu makan siang dan Pak Freddy tanya, “Udah laper, Et?”.&lt;br /&gt;Aku jawab, “Lumayan, Pak”.&lt;br /&gt;Lalu dia berdiri dari duduknya, “Kamu tunggu sebentar ya, di rumah. Saya mau ke warung di ujung jalan situ. Mau beli nasi goreng. Kamu mau kan?”.&lt;br /&gt;Langsung kujawab, “Ok-ok aja, Pak.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu Pak Freddy pergi, aku di rumahnya sendirian dan aku jalan-jalan sampai ke ruang makan dan dapurnya. Karena bujangan, dapurnya hanya terisi seadanya saja. Tetapi tanpa disengaja aku melihat kamar Pak Freddy pintunya terbuka dan aku masuk saja ke dalam. Kulihat koleksi bacaan berbahasa Inggris di rak dan meja tulisnya, dari mulai majalah sampai buku, hampir semuanya dari luar negeri dan ternyata ada majalah porno dari luar negeri dan langsung kubuka-buka. Aduh! Gambar-gambarnya bukan main. Cowok dan cewek yang sedang bersetubuh dengan berbagai posisi dan entah kenapa yang paling menarik bagiku adalah gambar di mana cowok dengan asyiknya menjilati vagina cewek dan cewek sedang mengisap penis cowok yang besar, panjang dan kekar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak disangka-sangka suara Pak Freddy tiba-tiba terdengar di belakangku, “Lho!! Ngapain di situ, Et. Ayo kita makan, nanti keburu dingin nasinya”.&lt;br /&gt;Astaga! Betapa kagetnya aku sembari menoleh ke arahnya tetapi tampak wajahnya biasa-biasa saja. Majalah segera kulemparkan ke atas tempat tidurnya dan aku segera keluar dengan berkata tergagap-gagap, “Ti..ti..tidak, eh, eng..ggak ngapa-ngapain, kok, Pak. Maa..aa..aaf, ya, Pak”.&lt;br /&gt;Pak Freddy hanya tersenyum saja, “Ya. Udah tidak apa-apa. Kamar saya berantakan. tidak baik untuk dilihat-lihat. Kita makan aja, yuk”.&lt;br /&gt;Syukurlah Pak Freddy tidak marah dan membentak, hatiku serasa tenang kembali tetapi rasa malu belum bisa hilang dengan segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat makan aku bertanya, “Koleksi bacaannya banyak banget Pak. Emang sempat dibaca semua, ya Pak?”.&lt;br /&gt;Dia menjawab sambil memasukan sesendok penuh nasi goreng ke mulutnya, “Yaa..aah, belum semua. Lumayan buat iseng-iseng”.&lt;br /&gt;Lalu aku memancing, “Kok, tadi ada yang begituan”.&lt;br /&gt;Dia bertanya lagi, “Yang begituan yang mana”.&lt;br /&gt;Aku bertanya dengan agak malu dan tersenyum, “Emm.., Ya, yang begituan, tuh. Emm.., Majalah jorok”.&lt;br /&gt;Kemudian dia tertawa, “Oh, yang itu, toh. Itu dulu oleh-oleh dari teman saya waktu dia ke Eropa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai makan kita ke ruang depan lagi dan kebetulan sekali Pak Freddy menawarkan aku untuk melihat-lihat koleksi bacaannya.&lt;br /&gt;Lalu dia menawarkan diri, “Kalau kamu serius, kita ke kamar, yuk”.&lt;br /&gt;Akupun langsung beranjak ke sana. Aku segera ke kamarnya dan kuambil lagi majalah porno yang tergeletak di atas tempat tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tiba di dalam kamar, Pak Freddy bertanya lagi, “Betul kamu tidak malu?”, aku hanya menggelengkan kepala saja. Mulai saat itu juga Pak Freddy dengan santai membuka celana jeans-nya dan terlihat olehku sesuatu yang besar di dalamnya, kemudian dia menindihkan dadanya dan terus semakin kuat sehingga menyentuh vaginaku. Aku ingin merintih tetapi kutahan.&lt;br /&gt;Pak Freddy bertanya lagi, “Sakit, Et”. Aku hanya menggeleng, entah kenapa sejak itu aku mulai pasrah dan mulutkupun terkunci sama sekali. Semakin lama jilatan Pak Freddy semakin berani dan menggila. Rupanya dia sudah betul-betul terbius nafsu dan tidak ingat lagi akan kehormatannya sebagai Seorang Guru. Aku hanya bisa mendesah”, aa.., aahh, Hemm.., uu.., uuh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku lemas dan kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Pak Freddy pun naik dan bertanya.&lt;br /&gt;“Enak, Et?”&lt;br /&gt;“Lumayan, Pak”.&lt;br /&gt;Tanpa bertanya lagi langsung Pak Freddy mencium mulutku dengan ganasnya, begitupun aku melayaninya dengan nafsu sembari salah satu tanganku mengelus-elus penis yang perkasa itu. Terasa keras sekali dan rupanya sudah berdiri sempurna. Mulutnya mulai mengulum kedua puting payudaraku. Praktis kami berdua sudah tidak berbicara lagi, semuanya sudah mutlak terbius nafsu birahi yang buta. Pak Freddy berhenti merangsangku dan mengambil majalah porno yang masih tergeletak di atas tempat tidur dan bertanya kepadaku sembari salah satu tangannya menunjuk gambar cowok memasukkan penisnya ke dalam vagina seorang cewek yang tampak pasrah di bawahnya.&lt;br /&gt;“Boleh saya seperti ini, Et?”.&lt;br /&gt;Aku tidak menjawab dan hanya mengedipkan kedua mataku perlahan. Mungkin Pak Freddy menganggap aku setuju dan langsung dia mengangkangkan kedua kakiku lebar-lebar dan duduk di hadapan vaginaku. Tangan kirinya berusaha membuka belahan vaginaku yang rapat, sedangkan tangan kanannya menggenggam penisnya dan mengarahkan ke vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatan Pak Freddy agak susah untuk memasukan penisnya ke dalam vaginaku yang masih rapat, dan aku merasa agak kesakitan karena mungkin otot-otot sekitar vaginaku masih kaku. Pak Freddy memperingatkan, “Tahan sakitnya, ya, Et”. Aku tidak menjawab karena menahan terus rasa sakit dan, “Akhh.., bukan main perihnya ketika batang penis Pak Freddy sudah mulai masuk, aku hanya meringis tetapi Pak Freddy tampaknya sudah tak peduli lagi, ditekannya terus penisnya sampai masuk semua dan langsung dia menidurkan tubuhnya di atas tubuhku. Kedua payudaraku agak tertekan tetapi terasa nikmat dan cukup untuk mengimbangi rasa perih di vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama rasa perih berubah ke rasa nikmat sejalan dengan gerakan penis Pak Freddy mengocok vaginaku. Aku terengah-engah, “Hah, hah, hah,..”. Pelukan kedua tangan Pak Freddy semakin erat ke tubuhku dan spontan pula kedua tanganku memeluk dirinya dan mengelus-elus punggungnya. Semakin lama gerakan penis Pak Freddy semakin memberi rasa nikmat dan terasa di dalam vaginaku menggeliat-geliat dan berputar-putar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang rintihanku adalah rintihan kenikmatan. Pak Freddy kemudian agak mengangkatkan badannya dan tanganku ditelentangkan oleh kedua tangannya dan telapaknya mendekap kedua telapak tanganku dan menekan dengan keras ke atas kasur dan ouwww.., Pak Freddy semakin memperkuat dan mempercepat kocokan penisnya dan di wajahnya kulihat raut yang gemas. Semakin kuat dan terus semakin kuat sehingga tubuhku bergerinjal dan kepalaku menggeleng ke sana ke mari dan akhirnya Pak Freddy agak merintih bersamaan dengan rasa cairan hangat di dalam vaginaku. Rupanya air maninya sudah keluar dan segera dia mengeluarkan penisnya dan merebahkan tubuhnya di sebelahku dan tampak dia masih terengah-engah.&lt;br /&gt;Setelah semuanya tenang dia bertanya padaku, “Gimana, Et? Kamu tidak apa-apa? Maaf, ya”.&lt;br /&gt;Sembari tersenyum aku menjawab dengan lirih, “tidak apa-apa. Agak sakit Pak. Saya baru pertama ini”.&lt;br /&gt;Dia berkata lagi, “Sama, saya juga”.&lt;br /&gt;Kemudian aku agak tersenyum dan tertidur karena memang aku lelah, tetapi aku tidak tahu apakah Pak Freddy juga tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 17:00 aku dibangunkan oleh Pak Freddy dan rupanya sewaktu aku tidur dia menutupi sekujur tubuhku dengan selimut. Tampak olehku Pak Freddy hanya menggunakan handuk dan berkata, “Kita mandi, yuk. Kamu harus pulang kan?”.&lt;br /&gt;Badanku masih agak lemas ketika bangun dan dengan tetap dalam keadaan telanjang bulat aku masuk ke kamar mandi. Kemudian Pak Freddy masuk membawakan handuk khusus untukku. Di situlah kami berdua saling bergantian membersihkan tubuh dan akupun tak canggung lagi ketika Pak Freddy menyabuni vaginaku yang memang di sekitarnya ada sedikit bercak-bercak darah yang mungkin luka dari selaput daraku yang robek. Begitu juga aku, tidak merasa jijik lagi memegang-megang dan membersihkan penisnya yang perkasa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua selesai, Pak Freddy membuatkan aku teh manis panas secangkir. Terasa nikmat sekali dan terasa tubuhku menjadi segar kembali. Sekitar jam 17:45 aku pamit untuk pulang dan Pak Freddy memberi ciuman yang cukup mesra di bibirku. Ketika aku mengemudikan mobilku, terbayang bagaimana keadaan Papa dan Mama dan nama baik sekolah bila kejadian yang menurutku paling bersejarah tadi ketahuan. Tetapi aku cuek saja, kuanggap ini sebagai pengalaman saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak itulah, bila ada waktu luang aku bertandang ke rumah Pak Freddy untuk menikmati keperkasaannya dan aku bersyukur pula bahwa rahasia tersebut tak pernah sampai bocor. Sampai sekarangpun aku masih tetap menikmati genjotan Pak Freddy walaupun aku sudah menjadi mahasiswa, dan seolah-olah kami berdua sudah pacaran. Pernah Pak Freddy menawarkan padaku untuk mengawiniku bila aku sudah selesai kuliah nanti, tetapi aku belum pernah menjawab. Yang penting bagiku sekarang adalah menikmati dulu keganasan dan keperkasaan penis guru bahasa Inggrisku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3725440842778217774-8156709304216993365?l=arsip-cerita-dewasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/feeds/8156709304216993365/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3725440842778217774&amp;postID=8156709304216993365' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/8156709304216993365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/8156709304216993365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/2008/08/pak-guruku.html' title='Pak GuruKu'/><author><name>love hurt</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3725440842778217774.post-1258514212155188165</id><published>2008-08-15T01:17:00.001-07:00</published><updated>2008-08-15T01:17:46.455-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita janda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perek jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pacarku selingkuh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ngentot cewek abg'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pelacur jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pembantu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pacar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita dewasa janda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pelacur bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita sex'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abg bugil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto perek jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita seks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita babu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita memek'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perek bandung'/><title type='text'>Noreen</title><content type='html'>Noreen (bukan nama sebenarnya, tapi kerana ada mirip dengan pelakon Noreen Noor, kita panggil saja dia Noreen) berpaling dan mendapati bekas bapa mertuanya telah melondehkan kain sarongnya. Batang bekas bapa mertuanya yang hitam, panjang dan lebar itu semakin menegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noreen berdiri terpaku di tengah kebun yang terpencil itu. Mereka tersembunyi daripada sesiapa jua, tempat yang Noreen datang untuk berjauhan dari orang lain. Untuk berfikir tentang bekas suami yang pergi begitu saja selepas menceraikannya. Tanpa disangka-disangka bapa mertuanya ada di situ. Bapa mertuanya berjalan ke arahnya. Dengan setiap langkah Noreen lihat batang bapa mertuanya semakin menegak. Tetapi Noreen Noreen berdiri kaku di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noreen membiarkan bapa mertuanya itu memeluknya dan merebahkan badan ke tanah. Dia berasa semakin lemah apabila tangan bapa mertuanya menyelak skirtnya dan seterusnya meraba-meraba tempat membusut yang hanya ditutupi oleh seluar dalam kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekejap masa saja rabaan itu menyebabkan bahagian bawah seluar dalam itu menjadi lembab. Tidak puas dengan hanya meraba-meraba di luar, orang tua itu terus menanggalkan seluar dalam kecil itu. Tempat rahsianya tidak lagi dibaluti oleh seutas benang pun. Tangan bapa mertuanya masuk ke celah kangkang Noreen, sambil meraba dan membelai tempat yang membonjol di celah kangkangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat seketika Noreen takut juga akan dilihat orang. Namun di sini tiada orang lain. Hanya dia dan bapa mertuanya saja. Dia amat dahagakan seks. Dah lama dia tak dapat bersama lelaki yang dapat memuaskannya. Mungkin bapa mertuanya di kampung terpencil ini boleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aah..,” Noreen mengeluh bila merasakan jari orang tua itu mengentel klitorisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disedarinya bapa mertuanya itu mulai bergerak ke bawah. Bapa mertuanya mengangkangkan peha Noreen. Muka bapa mertuanya hanya beberapa inci daripada permukaan yang lembab itu. Noreen dapat merasakan kedua belah tangan bapa mertuanya memegang belah dalam pehanya supaya tidak tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooh.. Arrgh!” Noreen tersentak apabila mulut bapa mertuanya tiba-tiba mengucup bibir pukinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia dapat merasakan lidah orang tua itu seperti ular mencuri-mencuri masuk ke dalamnya. Nafas Noreen terasa sesak apabila lidah itu keluar masuk dengan rancak ke dalamnya. Sekali ke tepi dan sesekali ke bawah, kemudian ke kiri dan kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian orang tua itu menindih tubuh Noreen yang montok itu sehingga batang yang keras itu berada tepat di rekahan puki bekas menantunya. Dia bergerak ke depan sedikit sehingga tempat sulit mereka bersentuhan. Tangan Noreen ke bawah memegang batang pelir orang tua itu. Diusap-usap batang yang keras itu sebelum menyelitkan kepala tombol itu di celah bibir buritnya. Melihat pelawaan dari Noreen itu bapa mertuanya terus menekan batangnya masuk ke dalam puki Noreen. Lubang yang basah itu dengan amat mudah menerima batang tersebut walaupun agak besar juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aah..” Noreen mengerang apabila batang itu masuk sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menujah puki Noreen dengan batangnya orang tua itu juga tidak henti-henti menghisap puting tetek Noreen. Punggung Noreen bergerak rancak apabila pukinya kena main dengan begitu sekali oleh bapa mertuanya. Dia mengerang tak henti2. Lubangnya berdecik-berdecik berbunyi apabila orang tua itu dengan laju memasuk dan mengeluarkan batangnya. Punggung Noreen terangkat buat kali terakhir sambil dia merangkul tubuh bapa mertuanya. Dia sampai ke kemuncaknya apabila terasa bapa mertuanya mula memancut di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noreen terdampar keletihan. Peluh membasahi tubuhnya. Belum pernah dia kena main di tengah kebun begitu dan belum pernah dengan lelaki berumur 60 tahun. Masih hebat lagi orang tua itu rupanya. Mungkin dah lama dia tak dapat, apa lagi setelah kematian isterinya tahun empat bulan lalu. Tidak lama kemudian tanpa sebarang kata-kata, bapa mertuanya berlalu dari situ dan Noreen beredar pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu setelah makan malam, Noreen ke biliknya untuk tidur. Sudah hampir pukul 12 malam baru bapa mertuanya pulang, entah dari mana. Walaupun pada siang tadi Noreen telah membiarkan dirinya disetubuhi oleh bapa mertuanya, dia bukan berhasrat untuk mengulanginya lagi. Mungkin kalau dengan orang lain tak apa, tapi tak kanlah pula dengan bapa mertuanya sendiri. Mungkin tadi kerana nafsu seks yang sudah lama tidak dipuasi maka dia membiarkan dirinya disetubuhi. Tetapi sedikit sebanyak dia terasa menyesal sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noreen sudah nyenyak tidur apabila biliknya dimasuki bapa mertuanya. Orang tua itu perlahan-lahan menghampiri katilnya. Bilik itu hanya diterangi oleh lampu malap di tepi katil. Tapi ia sudah cukup terang untuk bapa mertuanya melihat tubuh Noreen yang hanya dibaluti baju tidur yang jarang dan singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua itu duduk di atas katil di tepi menantunya. Perasaan ghairahnya semakin membuak, apalagi melihat peha Noreen yang terkangkang sedikit. Noreen memang sudah kebiasaannya tidak memakai pakaian dalam bila dia tidur. Kurang selesa rasanya. Bulu-bulu hitam halus di sekeliling kemaluannya dapat dilihat samar-samar oleh bapa mertuanya. Tak sabar-sabar rasanya orang tua itu ingin menikmati sekali lagi tubuh yang cukup mengghairahkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodohnya anak aku meninggalkan perempuan yang secantik ini. Engkau tak mahu, untung aku boleh pakai sepuas2nya, fikir orang tua itu. Buat apa dibazir. Apalagi dia juga sedar bahawa menantunya yang belum mempunyai anak itu juga amat dahagakan seks. Dalam umur yang baru menjangkau 25 tahun tentu dia ingin dibelai sentiasa. Dia sendiri juga sama, setelah ketiadaan isterinya sudah beberapa tahun ini. Walau umurnya dah nak mencecah 60 tahun, namun masih lagi kuat tenaganya. Dan sejak berduaan saja dengan menantunya itu, semakin menjadi-menjadi pulak keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyentuh kedua buah dada yang membusut itu dan meramas-meramas lembut. Terdengar nafas Noreen turun naik semakin kencang sikit dan puting buah dadanya mula mengeras dan berkerut-kerut. Dia berhenti seketika untuk membuka butang baju tidur menantunya. Selesai membuka butang, dia terus saja menarik ke kiri dan kanan. Kemudian dia melucutkan kain yang dipakainya sendiri. Batangnya sudah terpacak keras. Mahu saja dia menindih tubuh menantunya, tapi dia sedar dia tidak harus gopoh. Dia harus mengghairahkan Noreen dulu supaya menantunya akan mengikut apa sahaja kehendaknya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia naik ke atas katil dan tidur mengiring di tepi menantunya yang masih nyenyak. Tangannya merayap semula ke dada Noreen. Seronok dia meramas-meramas kedua belah buah dada yang membusut itu. Sekali dia menggentel kedua-kedua puting yang menjadi keras semula. Sekali lagi nafas Noreen turun naik dengan cepat. Orang tua itu merapatkan tubuhnya ke tubuh Noreen. Digesel-Digesel batangnya pada peha Noreen sambil dia mencium buah dada menantunya. Apabila mulutnya terjumpa terus saja dia menghisap puting buah dada yang keras itu. Tangannya pula merayap ke celah kangkang Noreen. Dia menggosok-menggosok puki Noreen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mm..” Noreen mengerang sambil pehanya dengan sendiri terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa mertuanya mengusap-mengusap bulu-bulu halus yang menutupi kemaluan Noreen sebelum jarinya ke celah bibir yang sudah mulai lembab sedikit. Digosok-Digosok dan dikuis-kuisnya lembut sehingga di celah-celah bibir itu mulai basah. Mukanya meninggalkan dada Noreen. Dia mencium pipi Noreen sebelum mulut mereka bertemu. Mulut Noreen terbuka menerima lnoreennya. Jarinya mulai keluar masuk kemaluan Noreen. Kemudian dua jari masuk ke dalam kemaluan menantunya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uuhh..” tiba Noreen mendengus sambil membuka matanya. Terkejut seketika dia melihat muka bapa mertuanya hanya beberapa inci dari mukanya.&lt;br /&gt;“Huh..?”&lt;br /&gt;“Bapak stim..”&lt;br /&gt;“Kenapa tak kejutkan Noreen? Datang curi-curi pulak..”&lt;br /&gt;“Saja..”&lt;br /&gt;“Kalau datang mintak takut Noreen tak bagi?”&lt;br /&gt;“Heh heh.”&lt;br /&gt;“Kalau mintak takkan lah Noreen tak bagi. Kan Noreen bagi petang tadi..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum memandang bapa mertuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mm..” dia memandang ke bawah sambil tersenyum apabila terasa jari orang tua itu menggentel-gentel kelentitnya.&lt;br /&gt;“Kamu ni dah lama tak kena, ya?”&lt;br /&gt;“Kan petang tadi dah kena dengan bapak..”&lt;br /&gt;“Yalah, sebelum tu maksud aku.”&lt;br /&gt;“Kenapa bapak cakap begitu?”&lt;br /&gt;“Aku gentel sikit, kamu dah cukup basah..”&lt;br /&gt;“Memanglah dah lama tak dapat..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Noreen memegang batang bapa mertuanya yang asyik menyucuk-menyucuk pehanya. Dibelainya dengan lembut. Kemudian dilancapnya perlahan-perlahan sehingga orang tua itu pula yang mula mengerang. Noreen melepaskan seketika batang itu sebelum menolak bapa mertuanya supaya tidur melentang. Dia menindih badan orang tua itu tetapi dengan kepalanya ke bawah. Dipegangnya batang itu semula sebelum membongkokkan kepalanya. Noreen menjilat sekeliling kepala tombol itu sebelum dimasukkan ke dalam mulutnya. Kemudian dia menghisap perlahan-lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup stim orang tua itu dikerjakan Noreen dengan mulutnya sehingga dia terasa akan pancut dalam sedikit masa saja lagi. Dia pun tidak tahan sabar lagi. Terus diangkatnya punggung Noreen supaya naik ke atasnya. Kedua lutut Noreen berada di sebelah kiri dan kanan kepala bapa mertuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpampanglah kemaluan Noreen yang terbuka luas hanya beberapa jengka dari muka orang tua itu. Tak sabar-sabar lagi orang tua itu pun menyembamkan mukanya ke puki Noreen. LNoreennya terus saja masuk ke celah-celah bibir puki menantunya sambil tangannya meramas-meramas punggung Noreen yang lebar itu. Kemudian tangannya membuka punggung Noreen, meninggalkan burit Noreen seketika untuk naik ke atas sikit mencari lubang jubur menantunya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijilatnya tempat itu pula sehingga Noreen kegelian dibuatnya. Sedap ada, geli ada, jijik pun terasa. Tapi biarkan kalau itu yang orang tua itu suka. Lama mereka dalam posisi 69 itu sebelum Noreen bangun semula. Dia bertinggung di atas bapa mertuanya. Dipegangnya batang orang tua itu sebelum dia melabuhkan buritnya ke atas kepala tombol. Dengan amat mudah sekali batang itu masuk ke dalam lubangnya yang memang sudah cukup basah. Apabila batang itu tenggelam sepenuhnya, Noreen mengemut2kan kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aah..” orang tua itu mengerang.&lt;br /&gt;“Kenapa? Tak suka?”&lt;br /&gt;“Ada ke tak suka?” bapa mertuanya menjawab.&lt;br /&gt;“Puki kamu ni memang cukup sedap.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memegang punggung Noreen supaya tidak bergerak sebelum dia mencabut sedikit kemudian masuk semula. Dia selang seli melaju dan memperlahankan tujahan ke dalam Noreen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oohh..” Noreen pula mengerang.&lt;br /&gt;“Kamu? Tak suka?”&lt;br /&gt;“Memanglah batang bapak pun sedap. Kalau tidak tak kan mau Noreen bagi kat bapak,” dia berkata sambil menunduk dan mengucup mulut bapa mertuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil itu Noreen menggerak-gerakkan punggungnya seperti orang sedang menari gelek dan dalam sekejap masa saja burit Noreen mengembang sedikit dan dia terus sampai ke kemuncaknya. Orang tua itu terus mengocak puki Noreen sehingga menantunya mula ghairah semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noreen?”&lt;br /&gt;“Mm?” menantunya menjawab manja.&lt;br /&gt;“Kalau bapak mintak sesuatu, Noreen bagi tak?”&lt;br /&gt;“Hmm, apa dia?”&lt;br /&gt;“Boleh bapak pancut dalam mulut Noreen?”&lt;br /&gt;“Terserah kalau bapak mahu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu orang tua itu mula menojah puki Noreen dengan lebih laju lagi. Apabila Noreen terasa batang itu menjadi begitu tegang di dalamnya dia terus mencabut batang tu dari celah kangkangnya. Cepat-Cepat dia mengambil batang itu ke dalam mulutnya dan menghisap pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arrgh..” orang tua itu mengerang dan memegang kepala menantunya dan air maninya terpancut di dalam mulut Noreen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menantunya menghisap-menghisap hingga terkeluar semua air mani dan ditelannya. Apabila batang itu mulai lembik baru dilepaskan dari mulutnya. Kemudian Noreen menngucup batang yang telah begitu mendatangkan kepuasan kepadanya sedikit masa tadi. Seolah-olah susah nak dipercayai, batang yang sudah lembek itu telah berjaya membuak-buakkan nafsunya tadi. Mereka tertidur dalam keadaan bogel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerana keletihan mereka tidur hingga ke pagi. Bila orang tua itu terjaga Noreen tidur dengan membelakangi bapa mertuanya. Dalam keadaan itu punggungnya berada rapat di perut bapa mertuanya. Kalaupun tidak kerana itu, memang dia sentiasa terjaga dengan batang yang keras. Selalunya kerana ingin ke bilik air. Dia bangun untuk membuang air kecil. Selesai saja dia masuk semula ke dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noreen masih tidur dalam posisi yang sama. Orang tua itu mengintai ke bawah. Jelas sekali dapat dilihat bibir kemaluan Noreen. Batangnya mengeras sekali lagi. Dia membongkok dan mengucup bibir puki menantunya seketika. Lembab dan masin sedikit. Cukup menaikkan nafsunya. Dia baring semula dan memeluk Noreen dari belakang. Dia menggerak-gerakkan punggungnya sedikit sehingga kepala tombol pelirnya berada di pintu masuk ke kemaluan Noreen. Jarinya menguakkan bibir puki Noreen sebelum diselitnya kepala tombol pelirnya di celah-celah bibir puki menantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi itu memang membuat lubang Noreen ketat sedikit dan agak sukar untuk dimasuki sepenuhnya. Dengan hanya kepala tombol saja di dalam orang tua itu menggerakkan punggungnya. Tangan kanannya memegang punggung Noreen sambil dia berbuat begitu. Lama kelamaan lubang itu jadi basah dan licin sedikit. Orang tua itu pun terus menekan batangnya ke dalam sepenuhnya. Kemudian baru dia bergerak-bergerak mengocak puki Noreen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mm..” terdengar Noreen mengerang.&lt;br /&gt;“Sedap..?” orang tua itu membisik di telinga Noreen.&lt;br /&gt;“Mm..” terdengar bunyi dari mulut Noreen.&lt;br /&gt;“Nak bapak teruskan?”&lt;br /&gt;“Mm.. Sedapnya Bapak..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua itu bangun. Dia mengangkat peha kanan Noreen supaya menantunya tidur melentang. Kemudian sekali lagi dia menekan batangnya ke dalam puki Noreen yang sudah basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo.. Oo..” Noreen merengek apabila terasa kemuncaknya semakin dekat.&lt;br /&gt;“Laju lagi Bapak,” dia memberi arahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa mertuanya menuruti saja kehendak Noreen. Dia memperlajukan tujahan batangnya ke dalam burit Noreen sehingga tubuh menantunya tiba-tiba kejang dan dia terus sampai ke puncak kenikmatannya. Tak semena-mena orang tua itu mencabut batangnya walaupun dia belum pancut. Kepala dia turun ke bawah. Sekali lagi dia menjilat puki Noreen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menantunya menggeliat keseronokan sambil disua-suakan celah kangkangnya kepada orang tua itu. Orang tua itu menghisap kelentitnya seketika sebelum merayap ke atas dan menindih tubuh menantunya. Noreen mencari-mencari batang yang keras itu dengan tangannya. Apabila terjumpa terus dibawanya ke pukinya sekali lagi. Dia mahu merasakan batang itu di dalamnya. Sambil meletakkan hujung pelir bapa mertuanya di pintu kemaluannya, dia mengangkat punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aa.. Hh,” dia mengerang apabila batang itu tenggelam sepenuhnya ke dalam buritnya. Punggungnya bergerak ke kiri dan kanan yang menyebabkan batang itu keluar masuk dari dalamnya.&lt;br /&gt;“Sedapnya Pak..” dia membisik di telinga bapa mertuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua itu merangkul tubuh Noreen sambil punggungnya bergerak laju ke depan dan belakang. Batangnya semakin rancak keluar masuk dari puki menantunya yang sudah cukup basah itu. Tidak lama kemudian dia menekan jauh ke dalam sambil melepaskan pancutan demi pancutan ke dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai sarapan mereka ke kebun. Noreen menolong bapa mertuanya di kebun dengan tekun. Hampir tengah hari mereka kembali semula ke rumah. Noreen menyediakan masakan tengah hari. Setelah makan, orang tua itu ke bilik mandi. Selesai mandi, dia menyalin pakaian dan berehat di atas sofa di ruang tamu. Setelah selesai mandi dan mengenakan baju-T serta kain sarong, Noreen datang membawa minuman kepada bapa mertuanya. Sambil duduk di samping bapa mertuanya dan menikmati minuman kopi, Noreen mempelawa untuk mengurut tubuh orang tua yang nampak keletihan itu. Orang tua itu setuju sahaja, tetapi mengajak Noreen ke dalam bilik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berbaring di atas katil dan Noreen mula mengurut. Mula-Mula di bahu dan belakang, diikuti dengan betis dan peha pula. Kemudian Noreen menyuruh bapa mertuanya mengalih kedudukan supaya dia boleh mengurut bahagian depan pula. Apabila orang tua itu mengalih posisi, ternampak sesuatu menongkat kain sarongnya. Dia tersengeh. Noreen pura-pura buat tak nampak sambil dia mengurut. Tiba-tiba orang tua itu menyentuh buah dada Noreen. Dibiarkannya sahaja. Orang tua itu meramas-meramas kedua tetek Noreen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu nak mengurut ke nak apa tu..?” Noreen berkata sambil ketawa.&lt;br /&gt;“Tengah urut le ni..” orang tua itu tersengeh.&lt;br /&gt;“Nak Noreen urut kat sini juga?” perempuan muda itu menyentuh tempat yang menongkat kain sarong bapa mertuanya.&lt;br /&gt;“Urut situ pun bagus juga..” kata orang tua itu.&lt;br /&gt;“Tapi biar aku urut kau dulu. Nak?”&lt;br /&gt;“Mm..” jawab Noreen manja.&lt;br /&gt;“Kalau nak, Noreen baringlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disuruh dua kali, Noreen pun merebahkan badannya ke katil. Bapa mertuanya menyuruhnya meniarap. Noreen mengikut perintah lagi. Orang tua itu bangun dan duduk di atas punggung Noreen sambil tangannya mula memicit bahu menantunya. Kemudian tangannya ke bawah pula, ke pinggang dan seterusnya ke betis dan peha. Bila bahagian dalam pehanya diurut, Noreen menggeliat keenakan. Memang dia sudah mula terangsang. Dari tadi pun, ketika dia memicit tubuh bekas bapa mertuanya kehangatan telah merebak ke seluruh tubuhnya. Apalagi bila melihat batang orang tua itu menongkat kain sarungnya, tanda bahawa bekas bapa mertuanya sekali mahu memain pukinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapa rasa Noreen buka semua pakaian. Lagi senang bapa urut..”&lt;br /&gt;“Ya ke?” kata Noreen sambil menoleh ke belakang, melihat bekas bapa mertuanya tersengeh saja.&lt;br /&gt;“Bapa bukakanlah untuk Noreen..” dia menyuruh manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disuruh dua kali orang tua itu melondehkan kain sarung dan membuka baju Noreen. Bekas menantunay itu memang tidak memakai pakaian dalam jadi terdedahlah tubuhnya yang putih melepak untuk ditatap dengan geram oleh orang tua itu. Bekas bapa mertuanya itu terus melucutkan kain sarung yang dipakainya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak bapa urut dengan lidah ke dengan ini?” katanya sambil mengisyaratkan batangnya keras menunjuk langit.&lt;br /&gt;“Suka hati Bapak lah..” jawab Noreen sambil ketawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua itu kembali duduk di atas buntut Noreen. Batangnya diletakkan di rekahan punggung Noreen sambil dia menggerak-menggerak punggungnya ke depan dan belakang. Noreen menggeliat kegelian. Dapat dirasakan celah kangkangnya mulai basah sedikit. Orang tua itu menindih belakang Noreen dengan tubuhnya. Dikuakkan rambut Noreen untuk mencari belakan tengok Noreen. Dicium dan dijilatnya hingga ke telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mm..” Noreen mendengus apabila cuping telinganya dijilat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak disangkanya orang tua itu begitu mahir sekali memainkan peranan untuk memuncakkan keberahiannya. Kalau seminggu dulu dia hanya menyayangi orang tua itu sebagai bekas mertuanya, tetapi kini perasaan sayang yang timbul sudah berbeza. Sayangnya kini sebagai seorang kekasih, apalagi kekasih yang cukup mahir dan hebat di ranjang sekalipun sudah lebih dua kali ganda umurnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau bekas bapa mertuanya tidak sekacak bekas suaminya dulu, namun itu tidak dikisahkan sangat oleh Noreen. Ternyata orang tua itu lebih hebat dari anak lelakinya sendiri dalam cara memuaskan perempuan. Dan itu yang lebih penting untuk Noreen kini. Dalam dua hari ini dia merasa lebih puas digomoli daripada setahun lebih hidup bersama suaminya dulu yang kurang mahir memberikan kepuasan seks kepadanya. Dan si tua yang pernah bergelar mertua ini ternyata tahu di mana terletak segala kunci eros di seluruh pelosok tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinggul Noreen mula terangkat-terangkat menerima geselan batang yang besar dan keras di celahan punggungnya yang masih padat dan gebu itu. Pehanya terbuka sehingga tubuh orang tua itu berada di celah kangkangnya. Bahagian depan kemaluannya ditekan-ditekan pada tilam di bawah perutnya. Namun itu untuk meredakan sedikit kegatalan yang semakin menjadi-menjadi di celah kangkangnya. Orang tua itu menggerakan tubuhnya ke bawah sedikit sehingga kepala tombolnya sesekali tersentuh dengan bibir kemaluan Noreen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa kebasahan di celah bibir itu di hujung pelirnya. Dia tahu bekas menanntunya kini sudah betul-betul berada di bawah taklukannya. Dia tersenyum puas kerana berjaya memperoleh perempuan muda dan cantik ini bukan dengan kekayaan atau ketampanannya, tapi dengan batangnya yang keras dan besar itu. Dia yakin Noreen sanggup mengabdikan diri kepadanya selagi dia masih berupaya memuaskan. Dia sendiri juga sanggup melakukuan segalanya supaya Noreen akan tetap tinggal serumah dengannya. Memang dia mengidamkan tubuh Noreen yang menggiurkan itu sejak pertama kali dia menatap wajah Noreen. Oleh itu dia berhasrat memuaskan segala hajatnya walaupun sampai seribu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja dia ulit-ulitkan kepala tombolnya kelopak kemaluan bekas menantunya itu, namun tidak juga dimasukkan. Setiap kali kepala tombol itu tersentuh pintu farajnya setiap kali pula dia menanti dengan debaran untuk merasakan sekali lagi benda yang telah berkali-berkali membuatnya orgasme. Namun dia kehampaan apabila setiap kali pula hujung pelir itu merenggangkan diri darinya. Dia sememangnya kepingin sangat merasakan lubangnya diterobos dengan ganas oleh batang yang keras itu. Namun bekas bapa mertuanya itu begitu sadis sekali, membuatnya tertunggu-tunggu. Dia mmenghembus nafas kehampaan sekali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepatlah, Pak!” Noreen merayu.&lt;br /&gt;“Cepat apa?”&lt;br /&gt;“Masukkanlah cepat..”&lt;br /&gt;“Mm..? Sayang nak apa sebenarnya ni?”&lt;br /&gt;“Noreen nak batang Bapak lah..” Noreen merenggek seperti anak kecil mahukan susu.&lt;br /&gt;“Ya ke? Nak sangat-sangat?”&lt;br /&gt;“Mm.. Nak sangat-sangat..”&lt;br /&gt;“Nak dekat mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Noreen sedar bahawa orang tua itu sebenarnya mahu mendengar dia mengucapkan kata-kata lucah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noreen mahu bapak.. Kongkek puki Noreen yang sudah basah ni, Pak..” dia sekali lagi merasakan hujung pelir bekas bapa mertuanya di rekahan.&lt;br /&gt;“Puki Noreen dah tak tahan lagi kalau tak dapat rasa batang Bapak itu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kata-kata yang sebegitu lucah dari mulut bekas menantunya membuat makin terlonjak nafsu seksnya. Hatinya terasa sedikit megah bahawa perempuan semuda dan secantik Noreen sekarang sudah ketagih dengan batangnya yang besar itu. Dia mengambil bantal untuk mengalas bahagian bawah perut Noreen. Dalam keadaan begitu Noreen tertonggeng sedikit dan mahkota di celah kangkangnya terbuka untuk digunakan sepuas-puasnya. Orang tua itu sekali lagi mengacukan hujung pelirnya ke belahan yang dipagarai bulu-bulu halus di celah kangkang Noreen. Tangannya ke kemaluan Noreen dan dengan menggunakan kedua ibu jarinya dia merenggangkan bibir yang dibasahi lendir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang, tolong masukkan batang Bapak..” dia memberi arahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menoleh tangan Noreen dengan cepat saja ke belakang mencari-mencari batang itu. Apabila ketemu terus saja ditariknya dan diselitkan di celahan buritnya yang sudah siap direkahkan oleh orang tua itu. Hanya selepas orang tua itu menekan kepala tombol itu ke dalam baru Noreen melepaskannya. Tangannya kemudian kehadapan untuk membantalkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedapnya, Pak..” dia merenggek lagi sambil punggungnya bergerak ke kiri dan ke kanan perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tiba-tiba.. Phhaapp..! Orang tua itu merejam batangnya ke dalam dengan puki Noreen dengan pantas hingga tenggelam sepenuhnya dan perutnya menghempap punggung Noreen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ADUH.. Oh mak..” janda muda itu berteriak kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun memang dia sudah bersedia namun kemasukan batang yang besar itu ke dalamnya dengan tiba-tiba bukan saja membuat dia terkejut tetapi terasa senak sebentar. Liang farajnya terasa nyilu namun dia merasakan satu kelainan pula. Walau berbeza caranya tetap enak juga dirasakannya. Selalunya dia akan merasa batang dimasukan sedikit, dicabut dan dimasukkan lagi sedikit demi sedikit ke dalam sebelum vaginanya dia dienjot dengan laju. Orang tua itu menggembangkan batangnya sampai Noreen terasa lubang kemaluannya dipenuhi sepenuhnya sampai ke pintu rahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noreen terasa pinggulnya dicengkam sebelum diikuti dengan batang itu ditarik keluar semula perlahan-perlahan sehingga kepalanya saja berada di dalam. Kemudian sekali lagi rejaman cepat ke dalamnya. Kali ini Noreen sudah bersedia. Kedua tangannya ke belakang untuk merenggangkan lagi lubang cipapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh.., Pak..!” Noreen mengerang.&lt;br /&gt;“Sayang suka main macam ni?”&lt;br /&gt;“Sedap, Pak. Kuat lagi Pak, Noreen dah nak sampai ni.” dan dua rejaman lagi kemaluannya sudah menggembang dan dia sudah orgasme.&lt;br /&gt;“Ohh.. Aarrgghh..!” Noreen meraung, diikuti dengan ledakan umpama bom air dii celah kangkangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas itu bekas bapa mertuanya saja menarik dan menekan dengan laju sehingga sekali lagi Noreen menggerang-menggerang dibuatnya. Janda muda itu membalas tindakan itu dengan mengemut-emutkan liang farajnya. Biar dia rasa pulak, fikirnya. Kini giliran orang tua itu pula mendengus apabila merasakan liang vagina Noreen seperti mengurut-mengurut batangnya. Semakin dia melajukan permainannya, semakin galak pula dia merasakan batangnya dikemut. Akhirnya dia sendiri juga tidak dapat bertahan lagi untuk kali terakhir dia terjunam ke dalam lubang nikmat itu. Buat sejenak dia menahan nafas dan diikuti dengan pancutan jauh ke dalam rahim Noreen. Dia merangkul kemas pinggang Noreen sehingga ke pancutan terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arrgghh..!” dia mendengus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehangatan pancutan itu juga dengan sendirinya membuat Noreen sekali lagi sampai ke kemuncaknya walaupun tidak sehebat kali pertama tadi. Orang tua itu bongkok mencium pipi bekas menantunya yang dibahasi keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak ya kalau kita boleh begini selalu?” dia berbisik di telinga Noreen.&lt;br /&gt;“Kenapa tidak boleh?” Noreen menjawab.&lt;br /&gt;“Terserah. Kamu boleh tinggal selama-lamanya di sini.” Dia tersenyum memikirkan kepuasan yang bakal dinikmati bersama Noreen pada hari-hari mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar matahari sudah terbenam dan petang bertukar menjadi malam. Perlahan-Perlahan batangnya yang sudah sederhana keras tercabut dari celah kangkang bekas menantunya dan dia tertiarap di samping Noreen keletihan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3725440842778217774-1258514212155188165?l=arsip-cerita-dewasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/feeds/1258514212155188165/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3725440842778217774&amp;postID=1258514212155188165' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/1258514212155188165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/1258514212155188165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/2008/08/noreen.html' title='Noreen'/><author><name>love hurt</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3725440842778217774.post-6688671628608884300</id><published>2008-08-15T01:11:00.001-07:00</published><updated>2008-08-15T01:11:15.067-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita perek'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita jorok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita bogel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto perek'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto gadis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita seksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita lucah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cewek cantik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ngentot janda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cewek abg'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto telanjang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita dewasa janda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita tentang janda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita sex'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita porn'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita seks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='janda diperkosa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto bugil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto bispak'/><title type='text'>Profesi dan Kehormatan</title><content type='html'>Aku tersentak bangun saat kudengar jam wekerku berdering dengan nyaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uhh.. Jam berapa ini..!” gumamku pelan sambil berusaha membuka mataku, aku masih malas dan ingin kembali tidur, tapi tiba tiba aku teringat bahwa hari ini aku harus buru-buru berkemas dan berangkat, kalau tidak, aku akan ketinggalan pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku akan pergi ke luar kota, bank swasta tempatku bekerja menugaskanku untuk mengikuti beberapa program pendidikan di kantor cabang salah satu kota di daerah Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku Melinda tapi teman-teman biasa memanggilku Linda. Aku dilahirkan dari keluarga yang serba berkecukupan dan aku hanya mempunyai satu saudara kandung laki-laki, praktis semua permintaan dan kebutuhanku selalu dipenuhi oleh kedua orang tuaku. Aku benar benar sangat di manja oleh mereka. Ayahku berasal dari negeri Belanda, sedangkan ibuku berasal dari Menado, aku bersyukur karena seperti gadis peranakan pada umumnya, aku pun tumbuh menjadi gadis yang berwajah cukup cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini usiaku 24 tahun, wajahku cantik dan kulitku putih mulus, rambutku lurus dan panjang sampai di bawah bahu, tubuhku pun termasuk tinggi dan langsing dipadu dengan ukuran buah dada yang termasuk besar untuk ukuran gadis seusiaku, ditambah lagi, aku sangat rajin merawat tubuhku sendiri supaya penampilanku dapat terus terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah.. Aku belum sempat potong rambut nih..” gumamku sambil terus mematut diri di depan cermin sambil mengenakan pakaianku. Hari ini aku memakai setelan rok coklat tua dan kemeja putih berkerah, lalu aku padukan dengan blazer coklat muda. Aku merasa tampil makin cantik dengan pakaian kesayanganku ini, membuat aku tambah percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, aku telah sampai di kota tempatku akan bekerja. Aku langsung menuju kantor cabangku karena aku harus segera melapor dan menyelesaikan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di depan kantor suasananya terlihat sangat sepi, di lobby kantor hanya terlihat dua orang satpam yang sedang bertugas, mereka mengatakan bahwa seluruh karyawan sedang ada pelatihan di gedung sebelah. Dan mereka juga berkata bahwa aku sudah ditunggu oleh Pak Bobby di ruangannya di lantai dua, Pak Bobby adalah pimpinan kantor cabang di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat siang..! Kamu Melinda kan..?” sambut Pak Bobby ramah sambil mempersilakan aku duduk.&lt;br /&gt;“Iya Pak.. Tapi saya biasa di panggil Linda..” jawabku sopan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Bobby kemudian mengajukan beberapa pertanyaan kepadaku, sambil sesekali menanyakan keadaan para pegawai di kantor pusat. Cukup lama juga aku berbicara dengan Pak Bobby, hampir lima belas menit, padahal sebenarnya, aku harus ke gedung sebelah untuk mengikuti diklat, tapi Pak Bobby terus saja menahanku dengan mengajakku berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku sedikit risih dengan cara Pak Bobby memandangku, mulutnya memang mengajukan pertanyaan kepadaku, tapi matanya terus memandangi tubuhku, tatapannya seperti hendak menelanjangiku. Dia memperhatikanku mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala, sesekali pandangannya tertumpu di sekitar paha dan buah dadaku. Aku agak menyesal karena hari ini aku mengenakan rok yang agak pendek, sehingga pahaku yang putih jadi sulit untuk kusembunyikan. Dasar mata keranjang, sungutku dalam hati. Baru tak berapa lama kemudian pembicaraan kami pun selesai dan Pak Bobby beranjak ke arah pintu mempersilakanku untuk mengikuti diklat di gedung sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Pak.. Saya permisi dulu..” jawabku sambil beranjak ke arah pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku langsung lega karena dari tadi aku sudah sangat risih dengan pandangan mata Pak Bobby yang seperti hendak menelanku bulat bulat. Pak Bobby membukakan pintu untukku, aku pun berterima kasih sambil berjalan melewati pintu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku kaget bukan kepalang saat tiba tiba rambutku dijambak dan ditarik oleh Pak Bobby, sehingga aku kembali tertarik masuk ke ruangan itu, lalu Pak Bobby mendorongku dengan keras sehingga aku jatuh terjerembab di atas sofa tempat tadi aku duduk dan berbicara dengan Pak Bobby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang Bapak lakukan..?? Mau apa Bapak..?” jeritku setengah bergetar sambil memegangi kepalaku yang sakit akibat rambutku dijambak seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Bobby tidak menjawab, dia malah mendekatiku setelah sebelumnya menutup pintu ruangannya. Sedetik kemudian dia telah menyergap, mendekap dan menggumuliku, nafasnya mendengus menghembus di sekitar wajahku saat Pak Bobby berusaha menciumi bibirku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan.. Jangann..! Lepasskan.. Ssaya..!” jeritku sambil memalingkan wajahku menghindari terkaman mulutnya.&lt;br /&gt;“Diam..!!” bentaknya mengancam sambil mempererat pelukannya pada tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus meronta sambil memukulkan kedua tanganku ke atas pundaknya, berusaha melepaskan diri dari dekapannya, tapi Pak Bobby terus menghimpitku dengan erat, nafasku sampai tersengal sengal karena terdesak oleh tubuhnya. Bahkan sekarang Pak Bobby telah mengangkat tubuhku, dia menggendongku sambil tetap mendekap pinggangku, lalu dia menjatuhkan dirinya dan tubuhku di atas sofa dengan posisi aku ada di bagian bawah, sehingga kini tubuhku tertindih oleh tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus menjerit dan meronta, berusaha keluar dari dekapannya, lalu pada satu kesempatan aku berhasil menendang perutnya dengan lututku hingga membuat tubuhnya terjajar ke belakang. Dia terhenyak sambil memegangi perutnya, kupergunakan kesempatan itu untuk berlari ke arah pintu. Aku hampir sampai di pintu keluar saat tubuhku kembali tertarik ke belakang, rupanya Pak Bobby berhasil menggapai blazerku dan menariknya hingga terlepas dari tubuhku, sesaat kemudian aku sudah berada di dalam dekapannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bajingann..! Lepaskan saya..!” jeritku sambil memakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenagaku sudah mulai habis dan suaraku pun sudah mulai parau, Pak Bobby masih terus memelukku dari belakang sambil mulutnya berusaha menciumi leher dan tengkukku, sementara tangannya menelikung kedua tanganku, membuat tanganku terhimpit dan tidak dapat bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangann..! Biadab.. Lepaskan sayaa..!” aku kembali menjerit parau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mataku sudah meleleh membasahi pipiku, saat tangan Pak Bobby membetot keras kemeja putihku, membuat seluruh kancingnya terlepas dan berjatuhan di atas lantai. Sekarang tubuh bagian atasku menjadi setengah terbuka, mata Pak Bobby semakin melotot melihat buah dadaku yang masih terlindung di balik bra hitamku, setelah itu, dia menarik kemeja yang masih menempel di bahuku, dan terus menariknya sampai menuruni lenganku, sampai akhirnya Pak Bobby menggerakkan tangannya, melemparkan kemeja putihku yang telah terlepas dari tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lepasskann..!!” jeritku saat satu tangannya mulai bergerak meremasi sebelah payudaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku mengelinjang hebat menahan ngilu di buah dadaku, tapi dia tidak berhenti, tangannya malah semakin keras meremas buah dadaku. Seluruh tubuhku bergetar keras saat Pak Bobby menyusupkan tangannya ke balik bra hitamku dan mulai kembali meremas payudaraku dengan kasar, sambil sesekali menjepit dan mempermainkan puting buah dadaku dengan jarinya, sementara mulutnya terus menjilati leherku dengan buas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Bobby sudah akan menarik lepas bra yang kukenakan, saat pada saat yang bersamaan pintu depan ruangannya terbuka, dan muncul seorang laki laki dengan wajah yang tampak kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa nih Pak Bobby..?” serunya, sambil memandangi tubuhku.&lt;br /&gt;“Lepaskan saya.. Pak..! Tolong saya..! Pak Bobby akan memperkosa saya..!” jeritku memohon pertolongan dari orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku sedikit lega saat laki-laki itu muncul, aku berharap dia akan menolongku. Tapi perkiraanku ternyata salah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah Pak.. Ada barang baru lagi nih. Cantik juga..!” seru laki-laki itu sambil berjalan mendekati kami, aku langsung lemas mendengar kata-katanya, ternyata laki laki ini sama bejatnya dengan Pak Bobby.&lt;br /&gt;“Ada pesta kecil..! Cepat Han.!! Lu pegangi dia..! Cewek ini binal banget” jawab Pak Bobby sambil tetap mendekap tubuhku yang masih terus berusaha meronta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedetik kemudian laki-laki itu sudah berada di depanku, tangannya langsung menggapai dan merengkuh pinggangku merapatkan tubuhnya dengan tubuhku, aku benar-benar tidak dapat bergerak, terhimpit oleh laki-laki itu dan Pak Bobby yang berada di belakangku, lalu tangannya bergerak ke arah bra-ku, dan dengan sekali sentak, dia berhasil merenggut bra itu dari tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak.. Tidak..! Jangan lakukan..!!” jeritku panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangisku meledak, aku begitu ketakutan dan putus asa hingga seluruh bulu kudukku merinding, dan aku semakin gemetar ketakutan saat laki-laki yang ternyata bernama Burhan itu melangkah ke belakang, sedikit menjauhiku, dia diam sambil memandangi buah dadaku yang telah terbuka, pandangannya seperti hendak melahap habis payudaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sempurna..! Besar dan padat..” gumamnya sambil terus memandangi kedua buah dadaku yang menggantung bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu dia kembali beranjak mendekatiku, mendongakkan kepalaku dan melumat bibirku, sementara tangannya langsung mencengkeram buah dadaku dan meremasnya dengan kasar. Suara tangisanku langsung terhenti saat mulutnya menciumi bibirku, kurasakan lidahnya menjulur di dalam mulutku, berusaha menggapai lidahku. Aku tercekat saat tangannya bergerak ke arah selangkanganku, menyusup ke balik rokku, aku langsung tersentak kaget saat tangannya merengkuh vaginaku. Kukumpulkan sisa-sisa tenagaku lalu dengan sekuat tenaga kudorong tubuh Pak Burhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak.! Tidak..! Lepaskan saya.. Bajingan kalian..!” aku menjerit sambil menendang-nendangkan kakiku berusaha menjauhkan laki-laki itu dari tubuhku.&lt;br /&gt;“Ouh.. Ssakit..!!” keluhku saat Pak Bobby yang berada di belakangku kembali mendekapku dengan lebih erat. Kutengadahkan kepalaku, kutatap wajah Pak Bobby, aku memohon supaya dia melepaskanku.&lt;br /&gt;“Tolonngg.. Hentikann Pak..!! Saya.. Mohon.. Lepaskan saya..” ucapku mengharap belas kasihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaanku saat itu sudah benar-benar berantakan, tubuh bagian atasku sudah benar-benar telanjang, membuat kedua payudaraku terlihat menggantung dan tidak lagi tertutup oleh apapun. Aku sangat takut, mereka akan lebih bernafsu lagi melihat keadaan tubuhku yang sudah setengah telanjang ini, apalagi saat ini tubuhku sedang ditelikung oleh Pak Bobby dari belakang hingga posisi itu membuat dadaku jadi terdorong ke depan dan otomatis buah dadaku pun ikut membusung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Pak Bobby tiba tiba mengendorkan dekapannya pada tubuhku dan akhirnya dia melepaskanku. Aku hampir tidak percaya bahwa Pak Bobby mau melepaskanku, padahal saat itu aku sudah sangat putus asa, aku sadar aku hampir tidak mungkin lolos dari desakan kedua laki-laki tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, aku langsung berlari secepatnya ke arah pintu, tapi lagi-lagi aku kalah cepat, Pak Burhan sudah menghadang di depanku dan langsung menghunjamkan pukulannya ke arah perutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arghh..!! Sshh.. Ouhh..” aku mengeluh kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupegangi perutku, seketika itu juga, aku langsung jatuh terduduk, nafasku tersengal-sengal menahan sakit yang tak terkira. Belum hilang rasa sakitku, mereka berdua langsung menyerbu ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pegangi tangannya Han..!!” seru Pak Bobby sambil mendorong tubuhku sehingga aku jatuh terjengkang di atas lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu juga Pak Burhan sudah berada di atas kepalaku dan mencengkeram kedua tanganku, sementara Pak Bobby berada di bawah tubuhku, mendekap kedua kakiku yang berusaha menendangnya. Dia sudah seperti kemasukan setan, melepasi sepatu hak tinggiku, merobek stockingku dan mencabik cabik rok yang kukenakan dan akhirnya dia merenggut dengan paksa celana dalamku, melolosinya dari kedua kakiku dan melemparkannya ke lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lepasskann..! Lepasskan..! Tolongg.. Jangan perkosa sayaa..!” jeritanku makin keras di sela-sela keputusasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah tidak sanggup lagi menahan mereka yang sepertinya semakin bernafsu untuk memperkosaku, air mataku makin deras mengalir membasahi kedua pipiku, kupejamkan mataku, bulu kudukku langsung bergidik, aku tidak sanggup membayangkan kalau hari ini aku akan diperkosa oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangann.. Ahh.. Tolongg..!” aku menjerit histeris saat Pak Bobby melepaskan pegangannya pada kedua kakiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berdiri sambil melepaskan pakaiannya sendiri dengan sangat terburu-buru. Aku sadar, laki-laki ini sebentar lagi akan menggagahiku. Seketika itu juga kurapatkan kedua kakiku dan kutarik ke atas hingga menutupi sebagian dadaku, sementara kedua tanganku masih tetap di dekap erat oleh Pak Burhan. Tiba tiba Pak Bobby berjongkok, dia langsung menarik kedua kakiku, merenggangkannya dan kemudian memposisikan tubuhnya di antara kedua pangkal pahaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangann..!!” keluhku lemah dan putus asa, sambil bertahan untuk tetap merapatkan kedua kakiku, tapi tenaga Pak Bobby jauh lebih kuat di bandingkan dengan tenagaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terhenyak saat Pak Bobby mulai menindihku, membuatku jadi sesak dan sulit untuk bernafas, buah dadaku tertekan oleh dadanya, sementara perutnya menempel di atas perutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arghh..!! Jangann..! Sakiitt..!!” rintihku sambil berusaha menggeser pinggulku ke kiri dan ke kanan, saat kurasakan kemaluannya bergesekan dengan bibir kemaluanku.&lt;br /&gt;“Sakiitt..!” aku kembali mengerang saat kepala penisnya mulai masuk ke dalam liang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu, tangan Pak Bobby bergerak, menjambak rambutku dan menariknya sehingga kepalaku terdongak, kemudian Pak Bobby dengan kasar melumat bibirku sambil terus menekankan tubuhnya ke arah selangkanganku. Kurasakan kesakitan yang luar biasa di dalam liang vaginaku saat batang penisnya terus melesak masuk menghunjam ke dalam lubang kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahh..! Jangann..! Sakiitt..!” aku kembali menjerit dengan keras saat batang penisnya menembus dan merobek selaput daraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku melenting ke atas menahan sakit yang amat sangat. Kuangkat kakiku dan kutendang-tendangkan, aku berusaha menutup kedua kakiku, tapi tetap saja batang penis itu terbenam di dalam vaginaku. Aku sungguh tersiksa dengan kesakitan yang mendera vaginaku. Kuhempaskan wajahku ke kiri dan ke kanan, membuat sebagian wajahku tertutup oleh rambutku sendiri, mataku membeliak dan seluruh tubuhku mengejang hebat. Kukatupkan mulutku, gigiku bergemeretak menahan sakit dan ngilu, nafasku seperti tercekat di tenggorokan dan tanpa sadar kucengkeram keras tangan Pak Burhan yang sedang memegang kedua tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih terus merintih dan menangis, aku terus berusaha menendang-nendangkan kedua kakiku saat Pak Bobby menarik batang penisnya sampai tinggal kepala penisnya saja yang berada di dalam liang vaginaku, lalu menghunjamkannya kembali ke dalam liang rahimku. Pak Bobby sudah benar-benar kesetanan, dia tidak peduli melihatku yang begitu kesakitan, dia terus bergerak dengan keras di dalam tubuhku, memompaku dengan kasar hingga membuat tubuhku ikut terguncang turun naik mengikuti gerakan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahh.. Sshh.. Lepaskann..!” jeritanku melemah saat kurasakan gerakannya makin cepat dan kasar di dalam liang kemaluanku, membuat tubuhku makin terguncang dengan keras, buah dadaku pun ikut mengeletar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Pak Bobby mendaratkan mulutnya di buah dadaku, menciumi dan mengulum puting payudaraku, sesekali dia menggigit puting buah dadaku dengan giginya, membuat aku kembali terpekik dan melenguh kesakitan. Kemudian mulutnya bergerak menjilati belahan dadaku dan kembali melumat bibirku, aku hanya bisa diam dan pasrah saat lidahnya masuk dan menari-nari di dalam mulutku, sepertinya dia sangat puas karena telah berhasil menggagahi dan merenggut keperawananku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan dia menghentikan gerakannya memompa tubuhku, melesakkan kemaluannya di dalam liang vaginaku dan menahannya di sana sambil tetap memelukku dengan erat. Setelah itu dia menurunkan mulutnya ke sekitar leher dan pundakku, menjilatinya dan kemudian menyedot leherku dengan keras, membuat aku melenguh kesakitan. Cukup lama Pak Bobby menahan penisnya di dalam liang kemaluanku, dan aku dapat merasakan kemaluannya berdenyut dengan keras, denyutannya menggetarkan seluruh dinding liang vaginaku, lalu dia kembali bergerak memompa diriku, memperkosaku pelan pelan, lalu cepat dan kasar, begitu berulang ulang. Sepertinya Pak Bobby sangat menikmati pemerkosaannya terhadap diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meringis sambil tetap memejamkan kedua mataku, setiap gerakan dan hunjaman penisnya terasa sangat menyiksa dan menyakiti seluruh tubuhku, sampai akhirnya kurasakan mulutnya makin keras menyedot leherku dan mulai menggigitnya, aku menjerit kesakitan, tapi tangannya malah menjambak dan meremas rambutku. Tubuhnya makin rapat menyatu dengan tubuhku, dadanya makin keras menghimpit buah dadaku, membuatku makin sulit bernafas, lalu dia mengatupkan kedua kakiku dan menahannya dengan kakinya sambil terus memompa tubuhku, kemaluannya bergerak makin cepat di dalam vaginaku, kemudian dia merengkuh tubuhku dengan kuat sampai benar-benar menyatu dengan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar Pak Bobby akan berejakulasi di dalam tubuhku, mendadak aku jadi begitu panik dan ketakutan, aku tidak mau hamil karena pemerkosaan ini, pikiranku jadi begitu kalut saat kurasakan batang kemaluannya makin berdenyut-denyut tak terkendali di dalam liang rahimku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangann..! Jangan.. Di dalam..! Lepasskan..!!” jeritku histeris saat Pak Bobby menghentakkan penisnya beberapa kali sebelum akhirnya dia membenamkanya di dalam liang kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh tubuhnya menegang dan dia mendengus keras, bersamaan dengan itu aku meraskan cairan hangat menyemprot dan membasahi liang rahimku, Pak Bobby telah orgasme, menyemburkan sperma demi sperma ke dalam vaginaku, membuat dinding vaginaku yang lecet makin terasa perih. Aku meraung keras, tangisanku kembali meledak, kutahan nafasku dan kukejangkan seluruh otot-otot perutku, berusaha mendorong cairan spermanya agar keluar dari liang vaginaku, sampai akhirnya aku menyerah. Bersamaan dengan itu tubuh Pak Bobby jatuh terbaring lemas di atas tubuhku setelah seluruh cairan spermanya mengisi dan membanjiri liang rahimku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku menatap kosong dan hampa, menerawang langit-langit ruangan tersebut. Air mataku masih mengalir, pikiranku kacau, aku tidak tahu lagi apa yang harus kuperbuat setelah kejadian ini, kesucianku telah terenggut, kedua bajingan ini telah merenggut kegadisan dan masa depanku, tapi yang lebih menakutkanku, bagaimana jika nanti aku hamil..! Aku kembali terisak meratapi penderitaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya penderitaanku belum berakhir. Pak Bobby bergerak bangun, melepaskan himpitannya dari tubuhku, aku kembali merintih, menahan perih saat batang kemaluannya tertarik keluar dari liang kemaluanku. Kuangkat kepalaku, kulihat ada bercak darah bercampur dengan cairan putih di sekitar pangkal pahaku. Aku menangis, pandanganku nanar, kutatap Pak Bobby yang sedang berjalan menjauhiku dengan pandangan penuh dendam dan amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh tubuhku terasa sangat lemah, kucoba untuk bangun, tapi Pak Burhan sudah berada di sampingku, dia menggerakan tangannya, menggulingkan tubuhku dan mulai menggumuli tubuhku yang menelungkup, aku diam tak bergerak saat Pak Burhan menciumi seluruh punggungku, sesaat kemudian dia bergerak ke arah belakang tubuhku, merengkuh pinggangku dan menariknya ke belakang. Aku terhenyak, tubuhku terseret ke belakang, lalu Pak Burhan mengangkat pinggulku ke atas, membuat posisiku jadi setengah merangkak, kutopang tubuhku dengan kedua tangan dan lututku, kepalaku menunduk lemas, rambut panjangku tergerai menutupi seluruh wajahku, kepanikan kembali melandaku saat kurasakan batang penisnya menempel dan bergesekan dengan bibir vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Linda..! Kamu memang benar-benar cantik dan seksi..” gumam Pak Burhan sambil tangannya meremasi pantatku, sementara batang penisnya terus menggesek-gesek di bibir vaginaku.&lt;br /&gt;“Ahh.! Sakiitt..! Sudahh.. Sudah..! Hentikann..!! jeritku menahan sakit saat kemaluannya mulai melesak masuk ke dalam liang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuangkat punggung dan kedua lututku, menghindari hunjaman batang penisnya, tapi Pak Burhan terus menahan tubuhku, memaksaku untuk tetap membungkuk. Seluruh otot di punggungku menegang, tanganku mengepal keras, aku benar-benar tak kuasa menahan perih saat penisnya terus melesak masuk, menggesek dinding vaginaku yang masih luka dan lecet akibat pemerkosaan pertama tadi, kugigit bibirku sendiri saat Pak Burhan mulai bergerak memompa tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lepasskan..! Sudah..! Hentikaann..!!” jeritku putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafasku kembali tersengal sengal, tapi Pak Burhan terus memompaku dengan kasar sambil tangannya meremasi pantatku, sesekali tangannya merengkuh pinggulku, menahan tubuhku yang berusaha merangkak menjauhi tubuhnya, seluruh tubuhku kembali terguncang, terombang ambing oleh gerakannya yang sedang memompaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba kurasakan wajahku terangkat, kubuka mataku dan kulihat Pak Bobby berjongkok di depanku, meraih daguku dan mengangkatnya, Pak Bobby tersenyum menatapku dengan wajah penuh kemenangan, menatap buah dadaku yang menggantung dan menggeletar, meremasnya dengan kasar, lalu Pak Bobby mendekatkan wajahnya, menyibakkan rambutku yang tergerai, sesaat kemudian, mulutnya kembali melumat bibirku, mataku terpejam, air mataku kembali meleleh saat mulutnya dengan rakus menciumi bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahh..!!” aku terpekik pelan saat Pak Burhan menyentakkan tubuhnya dan menekanku dengan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang penisnya terasa berdenyut keras di dalam lubang kemaluanku, lalu kurasakan cairan hangat kembali menyembur di dalam liang rahimku, aku menyerah, aku sudah tidak punya kekuatan lagi untuk melawan, kubiarkan saja Pak Burhan menyemburkan dan mengisi liang kemaluanku dengan cairan spermanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Periihh..!!” rintihku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak burhan masih sempat menghunjamkan kemaluannya beberapa kali lagi ke dalam liang vaginaku, menghabiskan sisa sisa ejakulasinya di dalam liang rahimku sebelum akhirnya dia menariknya keluar melewati bibir vaginaku yang semakin terasa perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedetik kemudian satu kepalan tangan mendarat di wajahku. Aku terlempar ke samping, pandanganku berkunang kunang, lalu gelap. Aku jatuh pingsan. Saat siuman aku temukan foto-foto telanjangku berserakan di samping tubuhku dengan sebuah pesan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pastikan..! Hanya Kita Bertiga yang Tahu..!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu juga aku kembali pulang ke Jakarta dengan membawa penderitaan yang amat berat, sesuatu yang paling berharga telah hilang dari diriku dirampas oleh kebiadaban mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3725440842778217774-6688671628608884300?l=arsip-cerita-dewasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/feeds/6688671628608884300/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3725440842778217774&amp;postID=6688671628608884300' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/6688671628608884300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/6688671628608884300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/2008/08/profesi-dan-kehormatan.html' title='Profesi dan Kehormatan'/><author><name>love hurt</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3725440842778217774.post-8085602407526312228</id><published>2008-08-15T01:07:00.001-07:00</published><updated>2008-08-15T01:07:35.667-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ngentot abg'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ngentot abg smu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ngentot cewek smu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cewek jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ngentot cewek abg'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abg smu jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cewek bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita nikmat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita abg smu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ngentot smu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita dewasa abg'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abg smu'/><title type='text'>Nikmatnya ABG SMU Lainnya</title><content type='html'>Masih ingat saya pembaca?, ya, saya Andi yang pernah mengirimkan cerita ‘Nikmatnya ABG SMU’ dan ‘Rental Internet Favoritku’ di 17Tahun.com ini. Saya mohon maaf kepada pembaca yang sebelumnya banyak mengirim email pada saya menanyakan tentang alamat email dan nomor HP wanita dalam cerita saya yang lalu, tidak bisa saya berikan karena mereka meminta dirahasiakan identitas pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus bagi cewek-cewek yang akan saya temani pesiar ke pulau Lombok, harap mengirimkan foto supaya saya tidak bingung mencari dan bisa menjemput anda di pelabuhan Lembar atau bandara Selaparang, atau terminal Mandalika Sweta. Tidak perlu malu dengan diri Anda, cantik atau jelek atau langsing atau gendut itu relatif, sebisa mungkin saya akan mengantar anda pesiar keliling pulau Lombok. Sesudahnya saya ucapkan terima kasih kepada pengasuh/redaksi website 17Tahun.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan November 2004 saya mendapat kiriman email dari beberapa cewek yang membaca cerita saya, yang salah satunya dari Amelia. Amelia ternyata sekota dengan saya di pulau Lombok, usianya baru 18 tahun, pelajar Sekolah Menengah Umum yang terkenal di kota saya. Amelia atau panggilannya Lia, gadis berkulit putih, tinggi 187 cm, berat 52 kg dan ukuran payudaranya saya perkirakan 34B, betul-betul anak SMU yang baru berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal perkenalan saya dengan Lia, kami janji bertemu di rental internet favorit saya dekat mall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hallo.. Om yang namanya Andi?” tanya seorang gadis SMU pada saya.&lt;br /&gt;“Iya.. Amelia ya?” tanya saya kembali padanya sambil memperhatikan wajahnya yang manis, rambut hitam lurus sebahu dan masih memakai seragam SMU-nya.&lt;br /&gt;“Lagi ngapain Om?” tanyanya sambil duduk di kursi sebelah saya.&lt;br /&gt;“Liat email yang masuk nich, panggil aja Andi ya” pintaku.&lt;br /&gt;“Ya, panggil juga saya dengan Lia” jawabnya sambil mepet melihat ke arah monitor komputer.&lt;br /&gt;“Okey, Lia bolos sekolah ya, jangan keserinngan bolos loh” nasehatku.&lt;br /&gt;“Enggak kok, wong nggak ada guru, lagi ada rapat tuch”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wangi juga bau parfumnya, mana rok abu-abunya span lagi, si boy jadi bangkit nich. Wah, kalo bisa making love sama Lia, asyik juga.. Huh dasar lagi mumet nich otak, maunya si boy saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndi, Lia boleh tanya nggak?”&lt;br /&gt;“Boleh aja, andi itu orangnya terbuka kok en’ fair, mau nanya apa?”&lt;br /&gt;“Kalo tamu ceweknya Andi ngajak jalan-jalan, bayar nggak?”&lt;br /&gt;“Oh itu, ya terserah ceweknya, pokoknya keliling Lombok ditanggung senang dech”&lt;br /&gt;“Masalah hotel, akomodasi dan lain-lain ditanggung tamu, gitu”&lt;br /&gt;“Kalo making love gimana?” tanya Lia antusias.&lt;br /&gt;“Kalo making love sich, terserah tamunya, kalo suka sama Andi, ayo aja”&lt;br /&gt;“Biasanya Andi selama ini dibayar berapa sich?”&lt;br /&gt;“Ya, kira-kira lima ratus ribu sampai satu jutaan”&lt;br /&gt;“Itu berapa hari?”&lt;br /&gt;“Terserah tamunya aja mau berapa hari, okey, puas?”&lt;br /&gt;“Mmh..” guman Lia seperti ingin menanyakan sesuatu tapi ragu-ragu.&lt;br /&gt;“Kalo Lia udah pernah dicium belum atau udah pernah making love?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Ih, si Om nanyanya gitu”&lt;br /&gt;“Ah, nggak usah malu sama Andi, ceritain aja”&lt;br /&gt;“Belum sich Ndi, cuma kalo nonton BF sering”&lt;br /&gt;“Jangan ditonton aja, praktek dong sama pacar” tantang saya sambil menepuk pundaknya.&lt;br /&gt;“Pacarnya Lia itu agak aneh kok”&lt;br /&gt;“Gimana kalo praktek sama Andi, ditanggung senang dan tidak bakalan hamil”&lt;br /&gt;“Hush, jangan aneh-aneh Ndi, Lia udah punya pacar lho”&lt;br /&gt;“Nggak aneh kok, kalo praktek pacar-pacaran” rayu saya, sepertinnya ada peluang nich. Saya harus merayunya supaya Lia tidak ragu-ragu lagi.&lt;br /&gt;“Iya sich, tapi..” jawabnya ragu-ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai membalas email yang masuk, saya berencana mengajak Lia ke pantai Senggigi, siapa tahu ada kesempatan, ya nggak pembaca. Ternyata Lia itu tinggal bersama ibunya yang masih berusia 47 tahun dan suaminya tugas keluar pulau selama beberapa bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau nggak ke pantai jalan-jalan, tadi Lia naik apa?”&lt;br /&gt;“Naik mobil, pake mobil Lia aja” ajaknya bersemangat sambil menggandeng tangan saya seperti Om dan keponakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata mobilnya memakai kaca rayban gelap dan ber-AC lagi, jadi siang itu kami meluncur ke pantai senggigi dan sebelumnya kami membeli beberapa camilan dan saya juga membeli kondom, biasa.. he.. he..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lia menjalankan mobil dengan santai, tapi saya jadi tegang terutama si boy dan bukan mobilnya yang jalan santai yang membuat saya tegang, rok abu-abunya itu lho. Sudah span, pas duduk dalam mobil otomatis bertambah pendek saja hingga memperlihatkan setengah bagian pahanya yang putih mulus dan masih kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, Ndi kok bengong, ngelamun jorok ya?”&lt;br /&gt;“Eh.. Eh.. Nggak juga” jawab saya tergagap-gagap.&lt;br /&gt;“Terus kenapa liatin pahanya Lia terus”&lt;br /&gt;“Badanmu itu bagus kok, rajin fitnes ya?”&lt;br /&gt;“Pasti, supaya badan Lia tetap fit dan seksi. Gimana, seksi nggak?” tanyanya tersenyum.&lt;br /&gt;“Seksi bo! Eh Lia parkir aja yang di pojok tuch” tunjukku pada sebuah pojokan, agak menjauh dari jalan raya dan terlindungi oleh pepohonan, asyik nih siapa tahu bisa indehoy.&lt;br /&gt;“Bagus juga tuch tempatnya” jawab Lia setuju sambil memarkirkan mobilnya hingga pas dengan lebatnya pepohonan, yang kalau dari jalan raya tidak kelihatan dan juga tempatnya sepi, jauh dari pemukiman dan lalu lalang orang, paling-paling orang yang berjalan di pantai, itupun agak samar-samar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan pembaca tidak bingung membayangkan ilustrasi tempat yang saya ceritakan. Setelah Lia parkir, kami saling curhat tentang masalah pribadi Lia yang belum pernah making love dan ibunya yang sering kesepian ditinggal suaminya pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngomongnya nggak enak ya kalo kita berjauhan begini”&lt;br /&gt;“Maksud Andi..”&lt;br /&gt;“Lia duduk aja dekat Andi”&lt;br /&gt;“Tapi kursi itu kan cuma satu”&lt;br /&gt;“Ayo dong Lia, duduk sini kupangku” rayu saya sambil menarik tangan kanannya.&lt;br /&gt;“Malu ah, dilihat orang” jawabnya ragu-ragu sambil melihat ke arah pantai.&lt;br /&gt;“Berarti kalau nggak ada orang nggak malu dong” ujarku sambil menarik tangannya agar mendekat pada saya.&lt;br /&gt;“Ya.. Nggak gitu” jawabnya ragu-ragu.&lt;br /&gt;“Saya udah jinak kok apalagi si boy ini paling jinak” goda saya lagi sambil menunjuk kontol saya yang sudah agak menggembung.&lt;br /&gt;“Ih jorok ih” jawabnya tertawa pelan.&lt;br /&gt;“Mau nggak?”&lt;br /&gt;“Emm.. Bagaimana ya”&lt;br /&gt;“Mau dech..” dan akhirnya dengan paksaan sedikit dan si Lia yang ragu-ragu untuk duduk, saya berhasil menariknya bahkan Lia duduk dengan sedikit ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pangku Lia sambil melihat kembali ke arah pantai. Posisi Lia yang saya pangku menyamping hingga kalau melihat ke pantai agak menoleh sedikit. Posisi itu sungguh enak dan kelihatan si Lia juga menikmatinya, kelihatan dari tangan kanannya yang melingkar pada bahu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, Andi mau nanya hal pribadi, boleh nggak?”&lt;br /&gt;“Boleh aja, Lia itu orangnya terbuka kok” jawabnya sambil menggeser pantatnya supaya tidak terlalu merosot. Wah si boy saya jadi berdiri gara-gara si Lia memperbaiki posisi duduknya hingga pantatnya yang semok semakin mepet sama si boy. Coba pembaca bayangkan seperti posisi saya saat ditemani cewek SMU berumur 18 tahun yang bongsor dan seksi, pasti si boy mau berontak keluar, so pasti coy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lia pernah nggak making love?”&lt;br /&gt;“Mmh.. Gimana ya” jawab Lia ragu-ragu sambil menggigit jari kelingking tangan kirinya.&lt;br /&gt;“Ceritain dong..” bujuk saya sambil mengelus pahanya yang masih terbungkus rok abu-abunya yang mini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lumayanlah sebagai permulaan pemanasan, ini kesempatan kalau Lia mau making love sama saya dan kalau tidak mau paling ditolak atau ditampar atau ditinggalkan, tapi dari perasaan saya sih, sepertinya mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pernah sih sama pacar, tapi itu dulu sebelum putus”&lt;br /&gt;“Kok putus, kenapa emangnya?” tanyaku sambil tangan kiri saya memegang pinggangnya yang langsing.&lt;br /&gt;“Sebetulnya Lia sayang sama dia, kalau cuma making love sich tidak apa-apa”&lt;br /&gt;“Yang penting pake kondom supaya aman”&lt;br /&gt;“Terus apa masalahnya?”&lt;br /&gt;“Ya itu, making lovenya agak aneh, masak Lia diikat dulu”&lt;br /&gt;“Wah, itu sich namanya ada kelainan namanya, harusnya dengan lembut”&lt;br /&gt;“Oh ya, Andi kalau making love sama tamunya secara lembut ya”&lt;br /&gt;“Tentu saja, maka banyak cewek yang senang dengan cara yang romantis dan lembut”&lt;br /&gt;“Asyik dong”&lt;br /&gt;“Mau nyobain nggak?” tantang saya sambil mengelus tangan kirinya yang ternyata sangat halus.&lt;br /&gt;“Wuhh.. Maunya tuch” jawab Lia mencibirkan bibirnya yang seksi.&lt;br /&gt;“Pegang aja boleh nggak ya?” tanya saya mengiba dan tangan kanan saya mulai mengelus-ngelus pahanya yang masih terbungkus seragam sekolahnya dengan lembut.&lt;br /&gt;“Emh.. Gimana ya.. Dikit aja ya” jawab Lia mengejutkan saya yang tadinya cuma bercanda, eh tidak tahunya dapat durian runtuh.&lt;br /&gt;“Lia, mau bagian mana dulu?” goda saya sambil mengelus punggungnya yang halus.&lt;br /&gt;“Ih genit ah..” candanya manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya naikkan tangan kanan saya mencoba menjamah payudara kirinya yang masih terbungkus seragam sekolahnya dan kelihatannya tidak ada penolakan dari Lia. Dengan perlahan lehernya saya cium perlahan dan jamahan tangan saya berubah menjadi remasan supaya membangkitkan gairahnya. Ternyata Lia adalah tipe cewek yang libidonya cepat naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Geli.. Ndi..” rintihnya pelan, tangan kirinya membantu tangan kanan saya untuk lebih aktif meremas payudara kiri dan kanannya secara bergantian. Lehernya yang putih saya cium dan jilat semakin cepat.&lt;br /&gt;“Sst.. pe.. lan.. Ndi..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa menit, tiba-tiba Lia menurunkan tangan saya dan tangannya dengan terampil melepas tiga kancing atas bajunya serta mengarahkan tangan saya masuk ke dalam baju seragam SMU-nya dan tangan kirinya mengusap pipi saya. Tangan kananku yang sudah separuh masuk baju seragamnya langsung masuk juga dalam BH-nya yang ternyata berwarna putih polos. Gundukan payudaranya ternyata sudah keras dan tanpa menunggu aba-aba saya remas payudaranya dengan perlahan, kadang-kadang saya pelintir puting susunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndi.. Sst.. Mmh.. Yang ki.. ri.. sst..” rintihnya pelan takut kedengaran.&lt;br /&gt;“Lia, boleh nggak saya ci..” belum sempat habis pertanyaan saya, Lia sudah mencium saya dengan lembut yang kemudian saya balas ciumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama lidah saya mencari lidah Lia dan kami pun berciuman dengan mesra, bahkan saling menjilat bibir masing-masing. Sambil berciuman, kancing baju atas seragam Lia yang tersisa itu pun langsung saya lepas hingga tampaklah payudaranya dengan jelas. Kembali saya cium payudaranya. Selama beberapa menit berciuman, kuluman dan hisapan pada putingnya membikin Lia bertambah merintih dan mendesis, untung saja pada saat itu masih sepi dan bukan hari libur atau hari minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmh.. gan.. ti.. sst.. kiri.. sstt..” rintih Lia memberi aba-aba sambil tangan meraih kepala saya dan menggeser serta menekan pada payudaranya.&lt;br /&gt;“Ter.. Us.. Sst.. Ndi..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kanan saya yang sedang berada di pusarnya turun merayap masuk ke dalam rok abu-abunya dan mengelus vaginanya yang masih terbungkus CD searah jarum jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sst.. Terus.. Ndi” rintih Lia yang ikut membantu menyingkapkan rok abu-abu SMU-nya ke atas hingga pantatnya yang putih menyentuh paha saya yang masih terbungkus celana jins.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat, saya masukkan tangan kanan ke dalam CD putihnya yang ternyata ditumbuhi bulu halus yang terawat rapi dan saya usap beberapa menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sst.. Ndi.. Ge.. Li.. Mmh..” gumam Lia pelan sambil matanya menatap setengah sayu. Gerakan jari tangan saya keluar masukkan ke dalam vaginanya yang mulai basah.&lt;br /&gt;“Mmh.. Sst.. Enak.. Ndi.. Te.. Rus.. Agak cepe.. tan.. Sst”&lt;br /&gt;“Sst.. Ya.. Nah.. Sst.. Gitu” rintih Lia yang kelihatan mulai terangsang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kiri saya yang tadinya hanya mengusap-usap pinggangnya jadi aktif mengusap payudara kirinya dan saya percepat permainan tangan pada vaginanya dan tiba-tiba saja Lia menjepit tangan saya dan disusul keluarnya cairan putih, berarti Lia telah orgasme yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmh.. Nikmat juga ya rasanya Ndi” gumam Lia sambil memandangku sayu.&lt;br /&gt;“Mau nggak ngerasain si boy?” bujuk saya melihat Lia yang sedang terangsang berat.&lt;br /&gt;“Mmh..” gumannya pelan, agak ragu Lia menjawab tapi akhirnya Lia pindah ke belakang mobil, wah tambah asyik nich.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga berpindah ke belakang mobil sambil melepas celana jins serta CD saya hingga bagian bawah saya bugil dan atasnya masih memakai kaos, untuk berjaga-jaga siapa tahu ada orang lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndi.. Pelan aja” guman Lia pelan sambil melepas CD putihnya hingga Lia sekarang bagian bawah atasnya juga bugil cuma memakai baju seragam SMU-nya tanpa BH.&lt;br /&gt;“Ya, Sayang, kupakai kondom dulu ya supaya aman” jawab saya sambil mengambil posisi duduk menghadap ke depan dan mengarahkan Lia dalam posisi saya pangku serta menghadap saya. Pantatnya yang semok saya pegang dengan kedua tangan dan memberi arahan pada Lia.&lt;br /&gt;“Pegangin si boy, ya tangan kanan” pinta saya pada Lia yang memegang kontolku dan mengarahkan ke vaginanya yang masih sempit.&lt;br /&gt;“Nanti Lia dorong ke bawah ya, kalau udah pas kontolnya”&lt;br /&gt;“Aduh.. Sakit..” rintih Lia karena kontol saya meleset pada bibir vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali saya arahkan kontol pada lubang vaginanya, pada usaha keempat, bless akhirnya masuk kepala dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sst.. Pe.. Lan.. Ndi..” Rintih Lia sambil memegang tangan kiri saya dengan tangan kanannya dan mengigit bibir bawahnya dengan pelan.&lt;br /&gt;“Pertamanya sakit kok, tapi agak lama juga enak” rayu saya sambil mendorong pinggulnya ke bawah hingga lama kelamaan, bless..&lt;br /&gt;“Akhh..” jerit Lia lirih karena kontol saya semuanya masuk dalam vaginanya.&lt;br /&gt;“Gimana rasanya?”&lt;br /&gt;“Sakit sich, tapi.. Geli..” gumam Lia mencium saya dengan lembut. Dengan perlahan saya sodok vaginanya naik turun hingga Lia mendesis lirih.&lt;br /&gt;“Sst.. Agak.. ee.. tengah.. sst..” rintih Lia lirih sambil menggoyangkan pinggulnya hingga sodokan dan goyangan itu menimbulkan bunyi clop.. clop.. clop.., begitu kira-kira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama sodokan saya percepat disertai dengan goyangan Lia yang makin liar hingga tangan saya kewalahan menahan posisi vaginanya agar pas pada kontol saya yang keluar masuk makin cepat. Bahkan payudaranya bergoyang-goyang ke atas ke bawah, kadang membentur muka saya, sungguh nikmat sekali pembaca sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barengan ya keluarnya ya.. Mmh..” perintah saya pada Lia karena sepertinya lahar putih saya sudah sampai puncaknya, jadi saya berusaha bertahan beberapa menit lagi.&lt;br /&gt;“Mmhm.. Sst.. Ya.. Ndi..”&lt;br /&gt;“Ce.. Petan.. Sst.. Ndi..” rintih Lia sambil memeluk dan menjepit saya dengan keras. Rupanya Lia sudah mencapai puncaknya dengan goyangannya yang makin keras.&lt;br /&gt;“Ssrtss.. Seka.. Rang.. Sst.. Akhkk..” jerit Lia karena keluarnya cairan putih itu yang berbarengan dengan bobolnya pertahanan saya, secara bersaman kami saling memeluk menikmati sensasi yang luar biasa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kami masih berpelukan disertai tetesan keringat membasahi badan padahal mobil masih menjalankan AC-nya hampir full.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana rasanya, puas nggak” tanya saya sambil mencium bibirnya yang indah itu.&lt;br /&gt;“Ternyata enak juga making love sama Om Andi”&lt;br /&gt;“Lain sama pacarnya Lia, agak kasar sich” celotehnya sambil melepaskan pelukan saya dan memakai kembali CD dan BH-nya yang berwarna putih itu, setelah Lia kembali memakai seragam sekolahnya dan tentu saya juga, jam telah menunjukkan pukul 11.45 siang.&lt;br /&gt;“Sebagai tanda terima kasih, gimana kalau Om Andi kutraktir”&lt;br /&gt;“Boleh saja, sekarang kita kemana?” tanya saya melihat Lia menjalankan mobilnya menuju kota.&lt;br /&gt;“Pulang dong” jawabnya manja.&lt;br /&gt;“Lho, terus saya ngapain”&lt;br /&gt;“Nanti kukenalin sama mamanya Lia dan adiknya Lia, mau nggak Om?”&lt;br /&gt;“Okey..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Lia tinggal di perumahan mewah, pantas bawanya mobil. Tampak seorang wanita yang anggun dan cantik berusia kurang lebih 47 tahun sedang membaca sebuah majalah. Tapi yang menarik perhatian saya, baju longdress yang dikenakannya dengan belahan atas yang rendah hingga memperlihatkan payudaranya yang berwarna putih itu, mungkin lebih besar daripada punya Lia, tingginya kira-kira 163 cm/50 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat siang Bu” sapa saya sopan.&lt;br /&gt;“Selamat siang Pak” jawabnya ramah sambil bersalaman dengan saya.&lt;br /&gt;“Ini Ma, guru privat matematika Lia yang baru, rencananya sich abis makan siang kita belajar”&lt;br /&gt;“Oh ini to, yang namanya Pak Andi yang sering diceritain Lia”&lt;br /&gt;“E.. Eh.. Ya..” jawab saya tergagap-gagap karena begitu lihainya Lia memperkenalkan saya sebagai guru privatnya, pelajaran matematika lagi, aduh.. gawat padahal saya tidak bisa apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berbicara dengan ibunya mengenai les dan biaya tetek bengek lainnya, disepakati bahwa les privat cuma bisa saya lakukan dua minggu, itu pun harinya selang seling. Siang itu saya makan bersama Lia setelah ditinggal ibunya pergi keluar dan baru pulang sore hari. Lia sudah berganti pakaian dengan celana pendek dan kaos ketat khas ABG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gila kamu Lia, nanti kalau ketahuan ibumu gimana?”&lt;br /&gt;“Tenang aja Om, mama itu jarang kok nyampurin urusan Lia”&lt;br /&gt;“Oh, gitu”&lt;br /&gt;“Katanya Om mau ngajarin Lia” goda Lia penuh arti sambil mengerling nakal. Ini baru namanya surga dunia, setelah puas makan kami mengobrol sambil menonton film DVD yang dibawa Lia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua minggu itu sebelum Lia akhirnya pindah ke Jakarta, kami sering making love tanpa sepengetahuan mamanya, pokoknya hampir tiap bertemu dengan berbagai posisi, yang sering di mobil, kamar tidur, kamar mandi, bahkan di suatu acara ulang tahun mamanya, saya diundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana Ndi, ramai nggak ulang tahun mama saya?”&lt;br /&gt;“Wah, ramai sekali, pasti papamu pejabat ya?”&lt;br /&gt;“Ah enggak kok, Papa itu pengusaha”&lt;br /&gt;“Oh gitu” jawab saya sambil memperhatikan Lia yang malam itu memakai gaun yang sungguh indah, apalagi belahan atas gaunnya sungguh rendah hingga memperlihatkan payudaranya yang putih itu, mungkin tidak pake BH, gaunnya yang berwarna hijau cuma sebatas di atas lutut. Bahkan kalau Lia duduk dan saya perhatikan gaun bawahnya, mungkin dengan sengaja Lia membuka gaun bawahnya hingga memperlihatkan CD-nya yang berwarna merah muda itu. Wow, sungguh membuat si boy berontak, tapi saya pura-pura cool saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndi, Lia lagi pengin nich, gimana?” tanya Lia tiba-tiba sambil mendekat pada saya.&lt;br /&gt;“Kita cari ruangan yuk” ajak saya yang kebetulan tadi melihat ruangan dekat taman sedang kosong.&lt;br /&gt;“Lho kok ke sini, apa tidak ke kamar?” tanya Lia heran.&lt;br /&gt;“Bosan ah di kamar, cari variasi lain, mau nggak?”&lt;br /&gt;“Ayo, cepetan waktunya mepet nich” gandeng Lia terburu-buru.&lt;br /&gt;“Lia, kamu malam ini can..” belum sempat saya berkata romantis sudah dipotong Lia dengan ciumannya yang melumat bibir saya dengan ganas, kami pun berciuman dengan alot sambil tangan saya masuk ke belahan gaunnya dan meremas payudaranya dengan gemas.&lt;br /&gt;“Mmh..” gumam Lia karena bibirnya sudah menyatu dengan bibir saya sambil tangannya membuka resleting celana panjang saya dan meremas-remas kontol saya yang sudah berdiri sejak tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kami saling melakukan ciuman dan remasan hingga akhirnya Lia mendorong saya perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Ndi, buka celanamu” perintah Lia sambil melepas CD saya dan Lia mengambil posisi berjongkok untuk menghisap kontolku dengan sedotan yang agak keras.&lt;br /&gt;“Pe.. Lan.. Aja..” pinta saya pada Lia karena kerasnya hisapan Lia hingga semua kontol saya masuk pada mulutnya. Beberapa menit telah berlalu dan saya sungguh tidak tahan dengan posisi tersebut.&lt;br /&gt;“Gantian dong..” pinta saya pada Lia sambil saya berjongkok dan membuka CD merah mudanya serta menghisap vaginanya dan mencari biji kacangnya, menghisap dan menjilat sampai dalam vaginanya hingga semakin banyak cairan yang keluar dan Lia semakin merintih-rintih dalam posisi berdiri.&lt;br /&gt;“Sst.. Isep.. Yang keras.. Ndi.. Sst..”&lt;br /&gt;“Udah Ndi.. Sst.. Ayo..” rintihan dan celotehan Lia meminta saya untuk memasukkan si boy ke dalam vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sekarang berdiri tapi Lia menghadap ke tembok, saya singkap gaunnya dari belakang, dengan dibantu Lia saya berusaha menyodokkan kontol saya dari belakang pantatnya. Akhirnya masuk semua kontol saya dalam vaginanya, sodokan demi sodokan dengan cepat membuat Lia merintih meminta saya segera mengakhiri permainan itu, beberapa puluh menit kemudian..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sst.. Ayo.. Ndi.. Sst.. Keluarin..”&lt;br /&gt;“Lia udah pegel nich sst..” rintih Lia lirih karena kami jarang melakukannya dalam posisi berdiri.&lt;br /&gt;“Sst.. Aduh.. Akhkk..” Dan akhirnya croott.. croot.. Keluarlah lahar putih itu bersamaan dengan jeritan Lia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah malam terakhir kami sebelum Amelia dan mamanya pindah ke Jakarta mengikuti tugas papanya yang saya dengar dipromosikan jadi general manager di sana. Selamat jalan Lia, sampai ketemu lagi lain waktu, dan kalau kamu membaca cerita ini, jangan lupa ya kasih komentarmu bagian mana yang kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para cewek atau ibu-ibu yang ingin jalan-jalan ke pulau Lombok bisa menghubungi saya lewat email, dijamin pasti puas, bahkan bisa curhat. Khusus untuk cewek-cewek yang tinggal di pulau Lombok bisa langsung berkenalan dengan saya. Saya biasa merental internet di belakang mall Cilinaya sekitar hari Senin pagi jam 08.45 atau sore jam 17.30, biasa duduk di pojok nomor 9 atau nomor 2. Yang bernama Andi dan bisa membuka email pribadiku, itu pasti Andi asli, kalau tidak bisa berarti bukan Andi yang asli alias penipu. Hati-hati terhadap terhadap penipuan, seperti iklan di TV ya.. He.. He.. He..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3725440842778217774-8085602407526312228?l=arsip-cerita-dewasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/feeds/8085602407526312228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3725440842778217774&amp;postID=8085602407526312228' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/8085602407526312228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/8085602407526312228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/2008/08/nikmatnya-abg-smu-lainnya.html' title='Nikmatnya ABG SMU Lainnya'/><author><name>love hurt</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3725440842778217774.post-3040968916978376957</id><published>2008-08-15T00:56:00.001-07:00</published><updated>2008-08-15T00:56:17.257-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita jorok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita seru 17 tahun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abg bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah ewasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gadis bandung bugil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gadis bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita saru 17 tahun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita sahabat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita porno'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita hot'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita gadis'/><title type='text'>Sahabatku Levana</title><content type='html'>Nama saya Kartika, usia 25 tahun dengan tinggi 168 cm, berat 53 kg, asli orang Bandung, kulit putih bersih. Ukuran payudara saya yang 34C termasuk lumayan besar untuk gadis seusia saya. Pekerjaan saya adalah sebagai manager operasional di sebuah perusahaan terkenal di daerah saya. Saya ingin mengeluarkan gelisah hati yang saya pendam selama ini, mudah-mudahan saya bisa berbagi dengan pembaca sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya di kantor mempunyai sahabat yang namanya Levana, sering saya panggil Ana. Orangya supel, dan mudah bergaul, tingginya 172 cm/53 kg, dengan kulit putih mulus, maklum orang Menado asli, 34B ukuran payudaranya. Saya mempunyai kelainan ini sejak masih gadis pada saat tinggal bersama kakak saya, Mbak Erni namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan-kapan saya ceritakan sejarah lesbian saya, tapi saya juga suka cowok lho sama seperti gadis-gadis lain. Hanya saja hampir tujuh puluh persen saya menyenangi cewek, saya tidak mengerti mengapa saya begini, mungkin suatu saat saya bisa sembuh total ya?! Saya sering jalan bersama Ana kalau ada undangan karena saya belum ada pasangan, banyak sih cowok yang naksir, cuma saya masih enggan saja untuk berpacaran. Saya ingat betul awalnya yaitu pada saat bulan Agustus 2004, sehabis pulang kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ka, sini sebentar” panggil Ana pada saya sambil mendekatkan Mercynya.&lt;br /&gt;“Ada apa Na?” tanya saya heran pada Ana.&lt;br /&gt;“Boleh nggak minta tolong?”&lt;br /&gt;“Tolong apa?”&lt;br /&gt;“Itu lho, rumah saya khan sedang direnovasi..”&lt;br /&gt;“Terus?”&lt;br /&gt;“Mmh, boleh numpang nginep nggak di rumahmu?” tanya Ana ragu-ragu.&lt;br /&gt;“Alaa, gitu saja nanya, boleh dong, sekarang?”&lt;br /&gt;“Iya, boleh khan?” tanya Ana sekali lagi meyakinkan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;“Udah, nggak usah banyak omong, ayo jalan” perintah saya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;“Okey, trim’s ya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setelah Ana mengambil baju sekedarnya, kami berdua meluncur ke rumah saya yang memang agak jauh dari kantor. Rumah saya mempunyai empat kamar, satu kamar untuk tamu dan kamar saya di tengah, saya tinggal sendiri karena orang tua saya tinggal di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Na, ini kamarmu ya” kata saya sambil menunjukkan sebuah kamar padanya di ujung depan.&lt;br /&gt;“Trim’s ya” jawabnya sambil masuk melihat-lihat kamar.&lt;br /&gt;“Kutinggal dulu”&lt;br /&gt;“Ya..” jawabnya sambil lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian menuju kamar untuk mandi dan berganti baju, soalnya gerah sejak tadi. Sedang asyik-asyiknya saya memilih BH, tiba-tiba Ana masuk ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh.. Maaf ka, lagi pake baju ya?” katanya kaget melihatku masih memakai celana dalam berwarna merah dan belum mengenakan BH sama sekali.&lt;br /&gt;“Oh Ana, masuk Na, nggak apa-apa kok” jawab saya sambil tersenyum melihatnya yang masih memandangi payudara saya yang termasuk besar dan montok.&lt;br /&gt;“Wah, badanmu seksi juga ya?” ujarnya.&lt;br /&gt;“Tentu saja, habis saya rajin senam sich”&lt;br /&gt;“Oh ya, ada film bagus nich, nonton yuk” ajak Ana sambil menggandeng saya untuk menonton TV di ruang tengah.&lt;br /&gt;“Bentar Na, kuganti baju dulu ya” jawabku sambil memakai BH dan kaos longgar serta celana pendek.&lt;br /&gt;“Kutunggu ya..”&lt;br /&gt;“Ya”. Kemudian Levana sudah duduk di depan TV sambil makan camilan, sedang saya masih sibuk membereskan baju yang berserakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Ana mengenakan daster kuning hingga kelihatan kulit lengannya yang putih mulus, kadang-kadang karena duduk kami yang mepet, Ana dengan tak sengaja menyenggol payudara saya hingga perasaan saya jadi bertambah aneh. Mungkin karena acara TV yang membosankan, saya jadi tak tertarik lagi, saya lebih tertarik memperhatikan Ana saja. Ternyata Ana yang memakai daster itu, sudah tidak memakai BH lagi hingga tonjolan payudaranya kelihatan mencuat ke atas, mungkin karena kami sama-sama perempuan, jadi Ana tidak malu-malu lagi, bahkan kadang-kadang kakinya dinaikkan ke meja hingga bawahan dasternya jadi tersingkap dan memperlihatkan celana dalamnya yang berwarna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan saya jadi lain hingga saya memutuskan untuk ke kamar dan berganti baju dengan daster tanpa memakai BH dan celana dalam juga, supaya bertambah nyaman kalau berdekatan dengan Levana. Sungguh Levana itu gadis yang cantik seperti artis mandarin. Saya kembali ke ruang tamu dan membawa kaset DVD untuk saya tonton bersama Ana, siapa tahu saja Levana tertarik dengan filmnya dan ingin mmh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Na, ganti ama DVD ya?”&lt;br /&gt;“Film apaan tuch?”&lt;br /&gt;“Ini, film romantis dari Jepang, pengin liat nggak?”&lt;br /&gt;“Ya, bolehlah, abis acaranya nggak ada yang menarik sich”&lt;br /&gt;“Okey, duduk dekat sini” pinta saya pada Ana untuk duduk di sofa agar nyaman menonton film itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya sich, itu film triple X dari jepang mengenai seorang gadis yang mencintai guru wanitanya lalu mereka bersetubuh dan bercinta dengan gaya yang romantis dengan berbagai macam gaya. Volume TV dan AC saya perbesar hingga Ana mendekat dan mepet dengan saya. Untung rumah sudah sepi karena pembantu sudah pulang semua dan lagi rumah saya besar, jadi volume suara TV yang besar itu tidak kedengaran lagi dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Film BF ya?” tanya Ana tanpa menoleh pada saya.&lt;br /&gt;“Tapi bagus lho, untuk pelajaran sex”&lt;br /&gt;“Bagus, sich bagus, tapi saya jadi pengin nich” gumam Ana tak jelas karena napasnya yang makin berat dan diselingi suara orang bercinta dari TV yang makin kencang.&lt;br /&gt;“Gimana kalau kupegang payudaramu” usulku.&lt;br /&gt;“Hush, ngaco kamu Tika, kita ini sama-sama cewek tau” jawabnya sambil monyong, namun itu justru menambah gairah saya semakin tinggi.&lt;br /&gt;“Daripada kamu megang sendiri, hayoo” jawab saya tak mau kalah sambil meraba payudaranya.&lt;br /&gt;“Jangan, Tika.. Jangan..” teriaknya keras karena kaget payudaranya saya pegang. Namun teriakannya tak membuat saya jera, bahkan telinganya yang sensitif saya cium dengan lembut.&lt;br /&gt;“Kurang ajar kamu, sst..” tolaknya lemah dengan mendesis.&lt;br /&gt;“Mmh..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergumulan saya dengan Ana berlangsung seru, hingga beberapa menit Levana masih memberontak, tetapi karena gairahnya sudah naik dan ditambah lagi dengan ciuman dan remasan saya pada daerah sensitifnya, akhirnya Ana menyerah juga. Bahkan dengan sigap membalas mencium bibir saya dengan ganas sambil meraba vagina saya yang sudah mulai basah sejak tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sst.. Mmh.. Tunggu..” potong saya menghentikan ciuman dan serangannya Ana.&lt;br /&gt;“Hahh, ada apa Ka?”&lt;br /&gt;“Buka dastermu..” pinta saya untuknya agar membuka daster, sementara saya juga telah membuka dasterku sendiri hingga bugil.&lt;br /&gt;“Wah, susumu besar juga ya?” kata Levana kagum melihat payudara saya yang sudah tegak, sambil juga melepaskan dasternya, bahkan celana dalamnya pun ikut dilepaskan juga hingga kami menjadi sama-sama bugil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kami pun kembali saling berciuman di sofa tanpa mempedulikan film jepang itu. Saya mengambil inisiatif untuk memulai mencium payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sst.. Sst..”&lt;br /&gt;“Mmh.. gantian..” rintih Ana karena tidak dapat menahan ciuman dan jilatan lidah saya pada payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya pun berganti posisi dengan Ana yang menjilat payudara saya dengan semangat hingga vagina saya juga ikut dibelai, bahkan jari-jarinya yang lentik keluar masuk ke dalam lubang vagina saya dengan cepat hingga saya mengalami orgasme yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmh.. Enak.. Na, cepetan.. Sst..” rintih saya karena tak tahan lagi dengan permainan Ana yang begitu hebat, bahkan Ana sekarang menjilat vagina saya dengan liar hingga beberapa menit, saya semakin mendorong vagina saya ke arah mulutnya yang sedang menghisap bagian dalam.&lt;br /&gt;“Sstss.. pinggirnya.. ssts.. Ya.. yang i.. tu..” rintih saya terpatah-patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Levana menghentikan permainannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa Na?”&lt;br /&gt;“Kita coba yang seperti di film, mau khan?” usulnya.&lt;br /&gt;“Boleh saja..” jawab saya senang karena memang senang dengan gaya enam sembilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya enam sembilan itu maksudnya saya yang berada di posisi atas menghadap Levana yang berada di posisi bawah dengan saling menjilat vagina masing-masing, bahkan saking enaknya hingga kepala saya terjepit oleh Levana yang rupanya juga telah mengalami orgasme yang pertama. Kami melakukan pergumulan itu di sofa hingga dua jam dan rupanya Levana pun puas atas permainan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahh, lega rasanya..”&lt;br /&gt;“Gimana, enak nggak?”&lt;br /&gt;“Enak juga ya”&lt;br /&gt;“Mau lagi nggak?”&lt;br /&gt;“Mau dong kalau caranya gitu” jawab Ana manja sambil mencium bibir saya gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu saya dan Levana menghabiskan permainan yang seru itu di kamar, bahkan Ana tak henti-hentinya meremas payudara saya dengan gemas, kadang-kadang saya puaskan Levana dengan alat kelamin pria plastik, tentu saja alatnya yang bisa bergetar hingga itu menambah nikmat percintaan saya dengan Ana. Beberapa ronde kami lalui hingga pagi, juga di kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokannya, seperti biasa saya sudah bersiap ke kantor dengan Levana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Na, udah siap belum?”&lt;br /&gt;“Udah boss, ayo” gandeng Ana mesra sambil mencium bibir saya lembut.&lt;br /&gt;“Hush, nanti dilihat orang lho”&lt;br /&gt;“Iya ya..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sejak itu, saya dan Levana sering bercinta di rumahnya atau rumah saya, bahkan pernah beberapa kali kami bercinta di dalam mobil. Pada saat hari libur, Levana mengajak saya dan beberapa temannya ikut berdarmawisata ke pulau Bali dan Lombok. Salah satu di antaranya bernama Fifiani yang orang Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tika, kamu ikut tour besok nggak?” tanya Levana.&lt;br /&gt;“Tentu dong, yang ke Bali dan Lombok khan?” jawabku.&lt;br /&gt;“Iya dong, eh.. kenalin nich, teman saya” ujar Levana memperkenalkan temannya.&lt;br /&gt;“Fifiani” katanya memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;“Kartika Sari” jawab saya sambil menjabat tangannya yang kuning langsat itu.&lt;br /&gt;“Ayo Na, sampai besok ya” jawab Levana menggandeng Fifiani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, saya dengan beberapa teman kantor jadi berwisata ke pulau Bali dan Lombok, juga ada Fifiani dan Levana. Dari obrolan kami, saya ketahui bahwa Fifiani itu umurnya baru 23 tahun, 172 cm/53 cm, dengan payudara 34C, orangnya cukup ramah dan sopan. Levana pernah bercerita pada saya bahwa Fifiani adalah seorang lesbian sejati, sudah pernah beberapa kali pacaran, namun kandas di jalan hingga hatinya hancur lebur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ana, sini bentar Na” panggil saya pada Ana.&lt;br /&gt;“Ada apa Tik”&lt;br /&gt;“Tukeran duduk ya, Fifiani di sini dan tas ini di tempatmu, gimana?” usulku.&lt;br /&gt;“Enak saja, kapan lagi kesempatan gini datang”&lt;br /&gt;“Please dong, khan kamu udah lama kenal ama Fifiani”&lt;br /&gt;“Iya dech, cuman aku boleh liat dong di sebelah..” canda Ana sambil mencolek payudara saya dengan gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dalam bis itu, saya yang mulanya duduk di belakang dengan tas besar entah siapa yang punya, dapat kesempatan duduk dengan Fifiani yang cantik. Levana tak ketinggalan duduk di sebelah dengan tas besar yang sudah saya pindahkan. Fifiani dalam perjalanan itu memakai rok jins hitam dengan kaos merah mudanya, sungguh serasi dengan bentuk tubuhnya yang proporsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Fifiani atau yang biasa saya panggil dengan Fifi senang curhat dengan saya, bahkan beberapa kali matanya mengarah pada payudara dan bawah rok jins biru saya yang agak naik ke atas, mungkin celana dalam saya yang berwarna putih polos kelihatan, tapi saya cuek saja. Bahkan saya sengaja beberapa kali menyingkap rok saya hingga paha saya yang putih kelihatan dengan jelas hingga Fifi salah tingkah memperhatikan rok saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami sudah melewati kota Probolinggo, saya lihat teman-teman sudah pada tidur karena kelelahan, sementara Levana memperhatikan saya sambil mengedipkan matanya beberapa kali. Di bis wisata itu yang duduk di belakang cuma saya, Levana, seorang teman lain dan beberapa barang bawaan yang menumpuk, sementara yang lain duduk di depan, tentu saja ada yang berpasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Fifi rupanya sudah tertidur pulas dengan kepalanya bersandar pada bahu kanan saya hingga perasaan saya jadi tak enak karena napasnya yang harum dan lembut tercium oleh saya, di samping itu posisi duduknya yang sungguh membuat dada saya berdebar-debar karena kakinya menopang pada paha saya. Dengan perlahan saya menyelimutinya hingga kami berdua tertutup oleh selimut hingga cuma tinggal kepala saja yang kelihatan. Tangan kanan Fifi saya pegang dan saya di tempatkan payudara saya. tiba-tiba Fifi membuka matanya dan menatap saya tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh.. Eh.. Fi.. Belum tidur ya?” tanya saya tergagap-gagap karena kaget melihatnya bangun tiba-tiba.&lt;br /&gt;“Iya Mbak, belum ngantuk nich” jawabnya tersenyum ramah dan tidak melepaskan tangannya dari payudara saya, padahal saya sudah horny.&lt;br /&gt;“Jangan panggil Mbak dong, panggil Tika saja ya”&lt;br /&gt;“Iya dech, Tika udah punya pacar belum?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Belum, emangnya kenapa?”&lt;br /&gt;“Masak, cewek secantik kamu belum punya pacar!”&lt;br /&gt;“Emang belum, kamu sendiri?”&lt;br /&gt;“Udah pernah sich, cuma sering putus, lebih suka sahabatan ama cewek”&lt;br /&gt;“Oh gitu ya..”&lt;br /&gt;“Ka, boleh nggak Fifi peluk?” pintanya.&lt;br /&gt;“Boleh saja, terserah Fifi dech” gumam saya pelan karena Fifi dengan pelan meremas payudara saya dengan gemas, bahkan sudah masuk dalam BH saya dan meremasnya dengan lembut.&lt;br /&gt;“Sstss.. Fi..” desisku.&lt;br /&gt;“Gimana Ka?” tanya Fifi yang berusaha membuka BH saya.&lt;br /&gt;“Enak Fi.. Sstss.. Saya boleh..” belum sempat Fifi menjawab, tangan saya sudah masuk ke dalam roknya dan membelai vaginanya yang masih memakai celana dalam.&lt;br /&gt;“Sst.. Ka.. Ayo dong..” ajak Fifi menuntun tangan saya untuk masuk lebih dalam dan menyentuh vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya dan Fifi saling meremas payudara dan menyentuh vagina hingga Fifi duluan orgasme karena tak tahan dengan jari-jari saya yang keluar masuk vaginanya dengan cepat. Levana yang dari tadi memperhatikan saya, juga ikut-ikutan merogoh payudaranya sendiri. Belum sempat saya orgasme, bis itu sampai Denpasar, dan kami memesan kamar masing-masing untuk esok paginya kami lanjutkan dengan pesiar keliling pulau Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana nich Fi, saya khan belum..”&lt;br /&gt;“Tenang saja Ka, gimana kalau kita tidur berdua?” jawab Fifi santai karena tahu bahwa saya belum puas.&lt;br /&gt;“Iya dech”&lt;br /&gt;“Saya boleh ikut nggak, boleh ya..” rengek Levana tiba-tiba mendekati kami.&lt;br /&gt;“Boleh saja, gimana Fi, Ana boleh ikut nggak!?” tanya saya pada Fifi.&lt;br /&gt;“Okey, pasti tambah asyik ya” jawabnya sambil mengedipkan mata pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah saya memesan kamar bertiga dan setelah kami diberi pengarahan dari pemandu wisata agar bangun jam 08.00, maka saya langsung masuk kamar. Setibanya di kamar dan menaruh tas, saya peluk Fifi dan menghimpitnya ke tembok hingga payudara saya yang montok menempel ketat pada payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah nggak sabar nich yee..” goda Ana sambil memeluk saya juga dari belakang dan langsung mencium leher saya dengan ganas.&lt;br /&gt;“Fi.. Kamu..”&lt;br /&gt;“Udah ka, ayo kita terusin yang tadi” jawab Fifi sambil melumat bibir saya dengan ganas.&lt;br /&gt;“Mmh..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fifi yang mencium saya dengan ganas itu juga tak kalah gesitnya mencoba kembali membuka BH saya yang akhirnya terlepas juga ke bawah, tangannya dengan terampil kembali meremas-remas payudara saya, di samping itu Ana berusaha melepas rok jins dan celana dalam saya hingga saya yang pertama-tama bugil duluan. Entah siapa yang memulai duluan, tahu-tahu saya sudah berada di tempat tidur dengan payudara saya yang dijilati Fifi dengan lincah, bahkan Ana pun juga sudah bugil dan sekarang sedang menjilati vagina saya dengan lahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sst.. Uuh.. Mmh..” rintih saya keras karena tak tahan diperlakukan oleh dua orang wanita cantik yang menjilati bagian sensitif saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian saya pun tak tahan dan mengalami orgasme yang pertama. Fifi juga minta ganti posisi di bawah untuk kami kerjai yang saya bagi tugas dengan Ana, saya bagian menjilat vaginanya dan Ana bagian payudara dan bibirnya. Beberapa menit permainan itu kami lanjutkan dengan cara saling berganti posisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ka.. Sstss.. Geli.. Ahh.. Ssts”&lt;br /&gt;“Ssts.. Mmh.. Jilat yang itu.. Ya..” rintih Fifi yang sedang berjongkok karena vaginanya dijilat oleh Ana.&lt;br /&gt;“Sstss.. Go.. Yang.. Na.. Sstss..” desis saya meminta Ana yang vaginanya sedang saya gesek-gesekkan dengan vagina saya untuk menggoyang pinggulnya lebih keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan demi permainan kami lewati hingga akhirnya saya meminta Fifi memasang penis plastik yang bisa bergetar itu pada vaginanya. Bentuknya seperti celana dalam yang di tengahnya ada penis plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sstss.. Pelan.. Fi.. Argh..” jerit saya karena Fifi memasukkan penis buatan itu terlalu cepat pada vagina saya.&lt;br /&gt;“Mmh.. Gimana Ka, enak..?”&lt;br /&gt;“Ssts.. Ya, ayo..” perintah saya setelah Fifi memasukkan penis plastik itu dan mendorongnya keluar masuk hingga saya merasa nikmat dan menjepit penis plastik itu dengan keras hingga dinding vagina saya berdenyut-denyut.&lt;br /&gt;“Sstt.. Ayo.. Fi.. Lebih cepat lagi..” pintaku.&lt;br /&gt;“Sstss.. Mmh.. Sstss.. Argkk..” jerit saya melengking karena cepatnya Fifi memasukkan penis plastik itu hingga saya orgasme berulang-ulang yang ditambah lagi rangsangan pada payudara saya yang dijilat dan dikulum oleh Levana sambil tangannya tak henti-hentinya juga meremas payudara Fifi. Vagina saya mengeluarkan lendir berwarna putih, sungguh banyak sekali.&lt;br /&gt;“Lega rasanya, nikmat juga pake penis buatan..”&lt;br /&gt;“Enak nggak rasanya Ka?” tanya Levana pada saya dengan mimik heran.&lt;br /&gt;“Lho, kamu belum pernah toh An?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Belum tuch, biasanya sich cuma ama cewek saja”&lt;br /&gt;“Nikmat kok rasanya, saya sering pake kalau lagi nggak ada pasangan” jawab Fifi sambil membersihkan penis plastik itu untuk kami gunakan lagi.&lt;br /&gt;“Gimana An, kamu coba dech, sini biar kucobain buat kamu..” bujukku pada Levana yang kelihatan masih ingin mencoba penis buatan ini selain gaya enam sembilan favorit Levana dan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami bertiga menguras habis energi untuk bercinta hingga ke kamar mandi, bahkan dengan senangnya saya bisa memandikan Fifi yang paling muda di antara kami bertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pelan-pelan ya masukinnya” pinta Levana cemas.&lt;br /&gt;“Tenang saja, nggak sakit kok” kata saya meyakinkan Levana yang melihat saya sudah memasang kan celana dalam berpenis itu di kemaluan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permukaan penis plastik itu ada bintik-bintiknya yang tidak beraturan dan saya juga tidak begitu mengerti apa manfaatnya, mungkin saja untuk menambah rasa nikmat jika bersentuhan dengan dinding vagina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sst.. Mmh.. Sstss.. Aduh..” jerit Ana pelan karena penis itu terpeleset keluar bibir vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya seluruh penis plastik itu masuk ke dalam vagina Ana yang masih sempit itu, mungkin Levana masih perawan karena beberapa saat kemudian sedikit keluar darah. Memang selama saya bersahabat dengan Levana, Ana jarang bergaul dengan teman pria, kebanyakan teman wanita seperti saya dan yang lainnya. Sedangkan Fifi pergaulannya luas termasuk dengan pria hingga vagina Fifi sudah agak melebar dibandingkan dengan vagina saya dan Levana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Na, kamu masih perawan ya?” tanya saya serius pada Levana.&lt;br /&gt;“Eh.. Iya.. Berarti kamu yang pertama melakukannya, Sayang” jawabnya mesra sambil mencium saya dengan lembut.&lt;br /&gt;“Mmh..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berusaha maju mundur mengikuti aksi seperti yang di film BF, para pria memajumundurkan penisnya ke dalam vagina si wanita. Sambil memasukkan penis buatan, saya meremas-remas payudara Ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sstss.. Ter.. Us.. Sstss..”&lt;br /&gt;“Sst.. Fi.. Ayo..” ajak Ana sambil mengajak Fifi untuk berciuman dengan saya.&lt;br /&gt;“Sstss.. Sstss.. Mmh..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berciuman dengan Fifi, saya memasukkan penis plastik itu keluar masuk dengan irama yang teratur hingga pantat Levana bergoyang pelan. Rupanya Ana menikmati permainan penis plastik itu hingga meminta saya agar cepat menaikkan tempo keluar masuknya penis plastik itu dalam vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo fi, isap puting saya”&lt;br /&gt;“Iya, Ka..”&lt;br /&gt;“Sstss.. Mmh..” rintih saya agak keras karena Fifi bukan saja mengisap puting saya, bahkan menggigit puting saya dengan gemas hingga saya merasa nikmat dan mendorong penis plastik itu semakin cepat saja.&lt;br /&gt;“Sstss.. Sstss.. Sstss.. Bagi.. An.. Sstss.. Itu..” desis Ana mengarahkan saya untuk menyodokkan penis itu pada bagian lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan dengan Ana membutuhkan waktu yang lama karena ia menahan irama birahinya hingga pinggul saya pegal-pegal, kemudian setelah saya lelah, saya menyuruh Fifi untuk ganti menindih Levana dengan penis plastik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fi, gantian ya, saya capek nich”&lt;br /&gt;“Ya, ayo sini” jawab Fifi sambil memasang penis itu dan langsung memasukkannya dalam vagina Levana dan mereka pun bermain dengan bernafsu hingga Fifi melahap bibir Ana dengan ganas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun menyelipkan tangan di antara payudara mereka dan meremas-remasnya supaya Ana cepat orgasme. Dan akhirnya Levana melepaskan ciuman Fifi dan memintanya agar lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sstss.. Sstss.. Sstss.. Ayo.. Fi.. Cepetan..”&lt;br /&gt;“Saya.. Sstss.. Mau.. Keluar.. Sstss..” rintih Levana hingga Fifi semakin mendorong dengan cepat penis plastik itu hingga Ana bergerak-gerak liar dan menjepit Fifi dengan kuat.&lt;br /&gt;“Sstss.. Arghh..” jerit Levana melengking karena cairan putihnya akhirnya keluar juga untuk terakhir kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jam empat pagi baru kami tidur bersama, tentu saja dengan keadaan bugil dan kepuasan yang tiada tara. Dan kembali tour kami lanjutkan untuk wisata ke pantai Sanur dan pantai Kuta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih pada Bapak Hartono atas tournya, juga sahabatku Fifi dan Levana atas pengalamannya bersama saya, kasih komentar ya atas cerita saya ini, kalau ada yang kurang, konfirmasikan saja ke email saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca cowok dan cewek bisa curhat atau kenalan pada saya melalui email saya atau memberikan tanggapannya mengenai kelainan saya ini, asalkan disertai foto, terutama bagi cewek-cewek baik yang seksi maupun tidak seksi hi.. hi.. hi.., pasti kubalas dengan foto bugil saya, eh maksud saya foto seksi saya dan kalau ada yang mengajak jalan bersama, saya ingin ikut dong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tanpa foto, maaf saja, saya tidak bisa membalas surat Anda. Dan buat sohib saya Fifi, Vita, Samantha, Aulia, Febri, dan Levana, salam sayang selalu dan kangen, jangan lupa ya baca cerita saya ini dan kapan nih kita mandi bareng lagi, pasti asyik deh. Sekarang saya lagi fitness untuk mengencangkan payudara lho.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3725440842778217774-3040968916978376957?l=arsip-cerita-dewasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/feeds/3040968916978376957/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3725440842778217774&amp;postID=3040968916978376957' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/3040968916978376957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/3040968916978376957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/2008/08/sahabatku-levana.html' title='Sahabatku Levana'/><author><name>love hurt</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3725440842778217774.post-4153568806957226433</id><published>2008-08-15T00:53:00.001-07:00</published><updated>2008-08-15T00:53:17.235-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pelacur abg'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita lonte'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita psk'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psk telanjang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abg bugil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psk bugil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita wts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pelacur'/><title type='text'>Terjebak Permainan</title><content type='html'>Namaku Nina, saat ini aku sedang kuliah semester akhir di salah satu perguruan tinggi swasta di kota Bandung. Saat kejadian itu menimpaku, aku sedang duduk di semester dua. Sebenarnya seluruh keluargaku tinggal di kota Jakarta, dan mereka agak keberatan jika aku harus kuliah di luar kota, tapi saat itu aku sudah bertekad untuk belajar hidup mandiri hingga akhirnya mereka mengijinkan aku untuk melanjutkan studi di kota tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bandung aku tinggal di sebuah kos putri yang letaknya tidak begitu jauh dari kampusku. Aku tinggal bersama seorang temanku yang aku kenal di kampus. Namanya Lenny, dia gadis berdarah Sunda asli. Padahal dia bisa saja tinggal di rumahnya yang juga berada di kota Bandung, tapi menurutnya dia ingin lebih bisa berkonsentrasi dengan kuliahnya, jadi dia memutuskan untuk tinggal di kos bersamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lenny adalah gadis yang sangat pintar dan juga sopan, begitu sopannya sampai-sampai dia tidak pernah mengenakan pakaian yang seksi atau sedikit terbuka saat bepergian atau berangkat kuliah, padahal menurutku wajah Lenny sangat cantik, rambutnya panjang dan hitam dengan kulit tubuh yang putih mulus, layaknya gadis gadis Sunda pada umumnya, sementara postur tubuhnya juga sangat bagus dan proporsional, pinggangnya ramping didukung oleh kedua belah kakinya yang jenjang, apalagi Lenny juga memiliki payudara yang besar, mungkin dua kali lebih besar daripada buah dadaku. Pokoknya, jika saja Lenny mau berdandan dan sedikit mengubah penampilannya, dia bisa menjadi salah satu gadis tercantik di tempat kuliahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memenuhi kebutuhanku agar tidak terlalu mengandalkan uang kiriman dari orang tuaku, aku memutuskan untuk kuliah sambil bekerja paruh waktu di salah satu club billiard yang cukup besar dan eksklusif di kota Bandung. Aku bekerja menjadi salah seorang penjaga meja, sekaligus merangkap pramusaji di club tersebut, kadang kadang aku merasa sangat lelah dan letih, apalagi jika aku harus terpaksa pulang larut malam dari tempat kerja. Tapi tidak apalah, yang penting aku bisa mempunyai cukup uang dan dapat memenuhi kebutuhanku sendiri tanpa harus mengandalkan kiriman uang dari orang tuaku, lagipula aku sudah bertekad untuk belajar hidup mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, hari itu aku sedang bingung, karena besok adalah hari terakhir waktu pembayaran uang semester, padahal kiriman dari orang tua belum juga sampai ke rekeningku, dan saat gajianku masih seminggu lagi, sementara uang tabunganku sudah habis untuk keperluan dan biaya hidupku sehari-hari hingga sore itu aku benar benar pusing memikirkannya. Akhirnya, kuberanikan diri untuk meminjam uang ke club tempat aku bekerja, tapi perusahaan tidak dapat mengabulkan permohonanku dengan alasan saat itu tidak ada dana yang tersedia karena seluruh uang yang ada sudah disetorkan ke pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, dengan perasaan sedih dan bingung, aku berkemas untuk pulang kembali ke kosku. Saat itu jam kerjaku memang telah selesai. Aku berjalan lunglai dari ruangan karyawan, bingung memikirkan nasibku besok, saat kulihat Lenny sudah menungguku di ruang tunggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana Nin? Dapat pinjaman uangnya?” tanya Lenny.&lt;br /&gt;“Nggak bisa Len.. Nggak apa-apa deh, besok gua minta keringanan aja dari kampus” ujarku dengan nada lemas.&lt;br /&gt;“Elu sendiri, dari mana.? Tumben mampir ke sini?” tambahku sambil melihat ke arah jam tanganku, saat itu sudah hampir jam sepuluh malam, tidak biasanya Lenny berani keluar malam-malam, pikirku heran.&lt;br /&gt;“Gua abis dari mall di depan, ngecek ATM, siapa tahu kiriman gua udah sampai, buat nalangin bayaran elu, tapi ternyata belum sampai..” ujar Lenny dengan nada menyesal.&lt;br /&gt;“Thanks banget untuk usaha lu Len.” ujarku sambil mengajaknya pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua berjalan melewati ruangan billiard. Saat itu di sana masih ada empat orang tamu yang sedang bermain ditemani oleh manajerku, mereka adalah teman-teman dari pemilik club tersebut, jadi walaupun club tersebut sudah tutup, mereka tetap dapat bebas bermain. Aku sempat berpamitan dengan mereka sebelum aku kembali berjalan menuju pintu keluar saat tiba-tiba salah seorang dari mereka memanggilku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nin.., Temenin kita main dong..!” serunya.&lt;br /&gt;“Kita taruhan. Berani nggak?” tambah temannya sambil melambaikan tangannya ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun sejenak sambil menatap bengong ke arah mereka. Rupanya mereka sedang berjudi, dan mereka mengajakku untuk bergabung. Wah, boleh juga nih. Siapa tahu menang.., pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Taruhannya apa? Saya lagi tidak bawa uang banyak..!” seruku, sementara kulihat Pak Dicky manajerku, berjalan menghampiriku.&lt;br /&gt;“Gampang.., kalau kamu bisa menang, satu game kami bayar lima ratus ribu, tapi kalau kamu kalah, nggak perlu bayar, kamu cuma harus buka baju aja, kita main sepuluh game.. Setuju?” seru salah seorang dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkesiap mendengar tantangannya, kulirik Lenny yang saat itu sudah berada di depan pintu keluar, dia tampak menggelengkan kepalanya, sambil memberi tanda kepadaku, agar aku cepat-cepat meninggalkan club tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Brengsek! Nggak mau..!” ujarku sambil membalikkan tubuhku. Bisa-bisa aku telanjang kalau dalam sepuluh game itu aku kalah terus, pikirku dengan sebal. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti saat tangan manajerku menahan pundakku.&lt;br /&gt;“Terima aja Nin, kamu kan lagi butuh uang, lagipula mereka nggak begitu jago kok..!” ujar manajerku berusaha membujuk.&lt;br /&gt;“Tapi Pak..!” jawabku dengan nada bingung, sebenarnya aku mulai tertarik untuk memenuhi tantangan mereka, dengan harapan aku bisa memenangkan seluruh game, lagipula aku benar benar membutuhkan uang tersebut.&lt;br /&gt;“Sudahlah.! Kalau kamu bersedia nanti saya kasih tambahan uang, lagipula nggak enak menolak tamu-tamu bos..” ujarnya sambil terus membujukku.&lt;br /&gt;“Oke.. Tapi kalau saya kalah terus gimana?” tanyaku kepada mereka.&lt;br /&gt;“Tenang aja, kamu hanya lepas baju aja kok! Kami janji nggak akan berbuat macam macam..!” seru orang yang berada paling dekat denganku.&lt;br /&gt;“Baik.. Tapi janji.. Tidak akan macam macam!” jawabku memastikan perkataan mereka, sementara Lenny langsung berjalan menghampiriku.&lt;br /&gt;“Lu udah gila apa Nin..! Gua ngga setuju!” serunya dengan nada marah.&lt;br /&gt;“Tenang aja Len, elu duduk aja di sana, nungguin gua..! Oke?” ujarku sambil menunjuk ke arah sofa yang berada di pojok ruangan.&lt;br /&gt;“Tapi Nin?” ujar Lenny dengan wajah ketakutan.&lt;br /&gt;“Udah, nggak apa-apa, elu nggak perlu takut..” sanggahku sambil tersenyum menenangkan hatinya, akhirnya Lenny pun berjalan dan duduk di sofa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lima game berjalan, aku menang dua kali dan kalah tiga kali, membuat aku harus menanggalkan jaket, blouse dan celana panjang yang kukenakan hingga saat itu hanya tersisa bra dan celana dalam saja yang masih melekat di tubuhku. Jangan sampai kalah lagi, ujarku dalam hati, dua kali lagi aku kalah, maka aku akan benar-benar bugil. Pikiranku mulai panik, sementara di pojok ruangan, Lenny sudah tampak mulai resah melihat keadaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi naas. Udara dingin dari AC di ruangan tersebut membuat aku sulit untuk berkonsentrasi sehingga aku kembali kalah pada game keenam, membuat mereka langsung bersorak riuh, memintaku untuk segera menanggalkan bra yang kukenakan. Aku sudah hampir menangis saat itu, tapi mereka terus memaksaku, maka dengan perasaan berat dan malu, akhirnya kulepaskan juga bra yang melekat di tubuhku, membuat buah dadaku langsung mencuat dan terbuka di hadapan mata mereka yang tampak melotot saat memandang tubuh telanjangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah.. Sudah, kita berhenti saja, saya menyerah!” seruku memelas sambil berusaha menutupi tubuh bagian atasku, saat itu aku sudah merasa sangat malu dan tidak lagi berminat untuk meneruskan taruhan itu.&lt;br /&gt;“Nggak bisa..! Perjanjiannya kan sampai kamu telanjang, baru permainannya selesai..!” protes lawan mainku, akhirnya aku hanya bisa menuruti kemauannya.&lt;br /&gt;“Buka.. Buka..!” sorak mereka saat pada game berikutnya aku kembali kalah dan harus melepas celana dalamku.&lt;br /&gt;“Sudah.. Kita batalkan saja taruhannya..!” jeritku sambil meraih pakaianku dan berlari menjauhi mereka, tapi salah seorang dari mereka dengan sigap menubrukku dari belakang, membuatku terhempas di atas meja billiard dengan posisi menelungkup dan laki-laki itu menindihku dari atas.&lt;br /&gt;“Lepaskan..!” teriakku kaget sambil meronta dengan sekuat tenaga, tapi laki laki itu terus menindihku dengan kuat, membuat aku benar benar tidak bisa bergerak sama sekali, akhirnya aku terkulai lemah tak berdaya sambil terus menangis.&lt;br /&gt;“Pak dicky..! Tolong saya Pak..!” jeritku sambil menyapukan pandangan mencari manajerku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa terkejutnya aku saat kulihat Pak Dicky sedang mendekap tubuh Lenny sambil tangannya berusaha melucuti pakaian yang melekat di tubuhnya dibantu oleh tiga orang temannya. Bersamaan dengan itu kurasakan sesuatu mendesak masuk ke dalam liang kemaluanku. Rupanya saat itu laki-laki yang berada di atas tubuhku, sudah akan memperkosaku. Dia menyelipkan batang penisnya dari sela-sela celana dalam yang kukenakan dan terus menekannya dengan keras, membuat batang kemaluannya makin terhunjam masuk melewati bibir vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan.. Ouh..!!” jeritku sambil berusaha menahan pahanya dengan kedua tanganku, tapi batang kemaluannya terus melesak masuk, sehingga akhirnya benar-benar terbenam seluruhnya di dalam liang vaginaku.&lt;br /&gt;“Jangan keluar di dalam, Pak..!” gumamku pelan sambil menahan tubuhku yang berguncang saat laki-laki itu mulai memompaku.&lt;br /&gt;“Oke.. Uh.. Ssh.. Kamu cantik Nina..!” ceracau laki laki itu saat mulai bergerak di dalam tubuhku.&lt;br /&gt;“Ouh.. Hh..!” desahku lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memejamkan mataku, merasakan getaran yang mulai menjalari seluruh tubuhku, saat pemerkosaku menghentakkan tubuhnya dengan makin cepat, membuat aku mulai terangsang saat itu, dan tanpa sadar aku pun ikut menggerakkan pinggulku, berusaha mengimbangi gerakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang sudah sering melakukan hubungan badan dengan pacarku sejak aku masih duduk di bangku SMU, malah kegadisanku telah terenggut oleh pacarku saat aku masih di kelas satu SMA, dan sejak saat itu kami rutin melakukan aktifitas seks, sampai akhirnya aku pergi melanjutkan studi di Bandung, dan sekarang aku kembali merasakan kenikmatan itu setelah selama satu tahun aku tidak pernah lagi bersetubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ouh.. Shh. Ah.” desahku sambil terus menggoyangkan pinggulku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di pojok ruangan, kulihat Lenny sedang berjuang dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari keempat orang yang sedang menggumulinya. Saat itu keadaan Lenny benar benar sudah sangat berantakan, kemeja lengan panjang yang di kenakannya sudah terbuka lebar dan hampir lepas dari tubuhnya, sementara bra yang dikenakannya sudah tampak setengah terbuka hingga membuat satu payudaranya menyembul keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan.. Jangan.. Lepaskan.. Tolong..!” jeritnya keras sambil berusaha meronta dan melawan dengan gigih saat seseorang dari mereka mulai mengangkat rok panjang yang dikenakan oleh Lenny.&lt;br /&gt;“Jangan..! Toloong..!” jerit Lenny makin keras sambil menendang-nendangkan kedua belah kakinya saat mereka mulai menggerayangi tubuh bagian bawahnya dengan buas.&lt;br /&gt;“Hentikann..! Hentikan.!” teriak Lenny putus asa sambil menangis sejadi-jadinya sementara tangannya berusaha menggapai ke arah bawah, mencoba menahan tangan-tangan yang sedang melolosi celana dalamnya, tapi gerakannya tertahan oleh tangan Pak Dicky yang saat itu terus mendekap tubuh Lenny dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajerku itu terus memaksanya untuk tetap berada di dalam pangkuannya, sambil sesekali meremas dan mempermainkan puting buah dada Lenny. Beberapa saat kemudian, dua orang dari mereka mengangkat tubuh Lenny sambil merenggangkan kedua belah kakinya, sementara Pak Dicky tetap mendekap tubuh Lenny sambil mulai mengarahkan batang kemaluannya ke sela-sela bibir kemaluan temanku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu keadaan Lenny sungguh sangat mengenaskan, pakaian bagian atasnya sudah terbuka dengan lebar, sementara roknya pun telah tersingkap sampai sebatas perutnya, dan aku dapat melihat jelas, saat tubuh Lenny tampak menggeliat hebat ketika kedua orang yang mengangkat tubuhnya itu mulai menurunkannya dengan perlahan, membuat batang kemaluan Pak Dicky melesak masuk ke dalam liang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ough..! Jangaan..!” jerit Lenny parau sambil meringis kesakitan ketika vaginanya mulai dijejali oleh kemaluan Pak Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan, kulihat batang kemaluan itu terus melesak masuk sampai akhirnya lenyap dan terbenam seluruhnya di dalam liang rahim Lenny, saat itu tubuh Lenny benar-benar telah menyatu dengan tubuh Pak Dicky. Dan Lenny tampak mengerang kesakitan sambil menggeliatkan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arghh.. Sakitt.., perihh, lepaskan itu dari tubuhku..!” jerit Lenny dengan nafas yang tersengal-sengal, dia masih berusaha meronta, ketika Pak Dicky mulai bergerak di dalam tubuhnya, membuat Lenny makin menjerit-jerit kesakitan, sampai akhirnya tubuhnya terkulai lemas tak sadarkan diri di dalam dekapan Pak Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Dicky masih terus memompa tubuh Lenny yang pingsan itu dengan kasar, begitu kasarnya hingga membuat tubuh temanku itu ikut berguncang dengan hebat. Buah dadanya yang besar tampak menggeletar dan terlempar kesana kemari saat tubuhnya bergerak naik turun, sementara saat itu aku pun masih terus digarap oleh laki-laki yang sedang memperkosaku, sampai akhirnya tubuhku menegang dengan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh..!” aku mendesah keras saat telah mencapai orgasme, seluruh sumsum di tulangku serasa ditarik keluar ketika aku benar-benar telah mencapai puncak kenikmatan, tapi tiba-tiba aku menjadi panik luar biasa saat kurasakan penis laki-laki itu berdenyut keras di dalam liang rahimku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan.. Jangan di dalam..! Lepaskan.. Bajingan..!” jeritku putus asa saat kurasakan cairan hangat membanjiri rongga kemaluanku. Laki-laki itu telah menyemburkan cairan spermanya di dalam liang rahimku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian posisinya sudah digantikan oleh temannya, dan aku kembali diperkosa. Sementara di pojok ruangan, Lenny pun masih terus digarap oleh mereka, kulihat darah keperawanannya meleleh keluar dari sela-sela bibir vaginanya, bercampur dengan cairan sperma, saat seorang dari mereka mulai kembali melesakkan liang vagina Lenny dengan batang penisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, Aku dan Lenny menjadi piala bergilir, tubuh kami berdua dikerjai dan diperkosa habis-habisan oleh mereka. Siksaan itu baru berakhir saat waktu sudah menunjukkan jam empat subuh. Kulihat di depanku tertumpuk sejumlah uang pecahan seratus ribu. Kuraih uang tersebut sambil berusaha bangkit dan mengenakan seluruh pakaianku, setelah itu aku berjalan mendekati tubuh Lenny yang masih meringkuk di sudut ruangan. Saat itu dia sudah siuman dari pingsannya, dia mengerang kesakitan sambil menangis meratapi kegadisannya yang telah terenggut paksa pada malam itu. Kurangkul tubuhnya dan membantunya berjalan pulang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sepuluh tahun yang lalu aku hanyalah anak laki-laki biasa yang senang bermain bola di lapangan yang becek sisa hujan semalam atau berlari-larian mengejar layangan putus sampai ke kebun orang dan dimarahi sang pemilik kebun. Tapi kemudian..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, mandi dulu baru makan!” teriak ibuku dari dapur.&lt;br /&gt;“Ntar ah, lapar nih, Bu!” balasku juga berteriak.&lt;br /&gt;“Kamu sih, main dari mulai pulang sekolah, baru pulang sore-sore begini.” Ibuku mengomel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis mau bagaimana lagi aku suka sekali bermain layangan, apalagi sekarang sedang musimnya, jadi banyak sekali layang-layang yang berterbangan di atas langit sana mengajakku bermain kejar-kejaran dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ntar Mas Agus mau ke sini lho!” ucap ibuku.&lt;br /&gt;“Iya, udah tahu!” balasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Agus, pamanku, adalah anak dari kakak perempuan ayahku yang tinggal di sebuah kota di Jawa Tengah yang terkenal dengan candi Borobudurnya, dan di situ pulalah Mas Agus bekerja sebagai seorang tentara berpangkat sersan dua. Tapi walaupun tempat tinggal kami berjauhan, keluarga kami dan paman sudah sangat dekat. Dua atau tiga minggu sekali Mas Agus datang berkunjung ke rumah kami di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila paman datang aku pasti merasa sangat senang. Mengapa? Karena paman sangat baik, ia selalu mengajakku pergi berbelanja ke supermarket, dia membelikan banyak sekali barang yang kuminta. Ia sangat suka dengan anak kecil. Selain itu Mas Agus belum menikah padahal umurnya sudah hampir kepala tiga. Ia bilang pada ayahku bahwa ia belum siap untuk berumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Indra sini, ada Mas Agus.” panggil ibuku dari ruang tamu.&lt;br /&gt;“Bentar Bu, lagi mandi.” teriakku dari dalam kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupercepat mandiku, kubilas seluruh busa-busa sabun yang menempel di badan hingga bersih, kemudian kuambil handuk dan kukeringkan di tubuhku. Lalu aku bergegas masuk kamar. Saat pintu kamar kubuka, ternyata Mas Agus sudah ada di dalam kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah mandinya?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Udah, seger banget Mas!” jawabku.&lt;br /&gt;“Sini dibajuin sama Mas Agus.”&lt;br /&gt;“Lepasin dulu handuknya, Ndra!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulepaskan handuk dari tubuhku. Paman menatapku dengan pandangan aneh, lurus dan tajam ke arahku, tepatnya tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Agus! Mas Agus!” kupanggil namanya beberapa kali. Dan seperti bangun dari mimpinya, dengan sedikit terhentak Mas Agus tersadar kembali.&lt;br /&gt;“Oh, mm, kamu ambil bajunya terus bawa ke sini, biar Mas agus yang pakein.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupilih salah satu t-shirt di dalam lemari, juga kaus dalam, CD, dan celana pendeknya, dan kemudian memberikannya pada Mas Agus. Mas Agus menerimanya dan meletakkan semuanya di atas kasur. Kemudian ia meraih bedak powder di atas meja di samping ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas itu mah bedaknya ade. Aku kan udah gede udah nggak pake bedak lagi” ucapku saat itu juga.&lt;br /&gt;“Ah, nggak apa-apa kok biar wangi.” jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Agus mulai menaburkan bedak dan menggosokkannya dengan rata ke seluruh tubuhku, termasuk pantatku, dan.. penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Badan kamu bagus, udah besar mau jadi apa? Mau nggak jadi tentara?” tanya pamanku masih sambil menggosok-gosokan bedak di tubuhku.&lt;br /&gt;“Nggak tau ah, gimana entar aja.” jawabku sambil agak ketawa, habis geli banget diraba-raba sama Mas Agus.&lt;br /&gt;“Sebentar yah!” Mas Agus beranjak dari ranjang menuju pintu kamar kemudian menguncinya.&lt;br /&gt;“Kalo kamu jadi tentara nanti badan kamu bakal kebentuk seperti paman. Nih Mas Agus tunjukin badan Mas Agus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paman mulai membuka pakaiannya helai demi helai. Diawali dengan kemeja biru langitnya, lalu kaus singletnya. Wah, badan Mas Agus memang bagus banget, dadanya keren, walaupun tidak begitu besar tapi berisi. Perutnya, wah kalau sekarang nih orang bilang six-packs. Lalu Mas Agus mulai membuka celana panjangnya. Di dalamnya terlihat CD-nya yang berwarna putih. Kemudian ia lanjutkan helai terakhir dan, wah.. besar sekali, di sekelilingnya juga ada hamparan bulu-bulu halus yang rapi terpotong pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sini coba kamu pegang badan Mas Agus.” pintanya.&lt;br /&gt;“Nah, kalau kamu mau jadi tentara kamu harus banyak olahraga dari sekarang, jadi badan kamu akan terbentuk seperti badan Mas Agus.” Dijelaskannya bagaimana ia bisa memiliki tubuh yang dibanggakannya sambil menuntun tanganku di sekitar dada dan perutnya.&lt;br /&gt;“Ini kamu juga bakal ikut besar.” ucapnya sambil memegang penisku.&lt;br /&gt;“Indra! Turun dulu!” Mas Agus spontan melepaskan tangannya dari penisku dan kembali memakai pakaian yang tadi dilepasnya saat mendengar teriakan Ibuku dari bawah.&lt;br /&gt;“Iya!” teriakku sambil memakai pakaian yang dari tadi menunggu untuk kukenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat malam sambil menonton televisi di ruang keluarga, paman menghampiri dan menaikkanku dalam pangkuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok nggak belajar?” tanyanya memulai percakapan.&lt;br /&gt;“Nggak ada PR” jawabku singkat.&lt;br /&gt;“Belajar kan nggak harus pas ada PR.” ucapnya menasehati. Aku diam saja, tak membalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam pangkuan Mas Agus, waktu berlalu tanpa berkata sampai mataku akhirnya terpejam kelelahan, terlelap dalam pangkuannya. Tapi dalam hening malam itu, aku terusik oleh sesuatu. Tapi apa? Aku merasa ada seseorang yang meraba-raba tubuhku. Aku merasa begitu geli. Tapi kemudian rabaan-rabaan itu berhenti. Aku ingin membuka mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit demi sedikit mataku terbuka. Dimana ini? Oh ini kan kamar tamu, pasti tadi Mas Agus menggotongku ke kamarnya karena aku ketiduran. Bola mataku bergerak ke arah kanan dan kulihat samar Mas Agus berdiri di samping ranjang sedang membuka helai demi helai pakaiannya. Setelah semua pakaiannya tanggal dari tubuhnya kemudian ia mengambil sesuatu di dalam tas ransel yang dibawanya. Kemudian paman duduk di ranjang, tepat di sampingku. Segera aku kembali memejamkan mataku, berpura-pura tidur. Tapi kemudian..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Indra.. Indra..!” terdengar paman berbisik di telingaku, membangunkanku. Kubuka mataku pelan-pelan.&lt;br /&gt;“A-apa?” tanyaku berdebar-debar.&lt;br /&gt;“Mas Agus pegal-pegal nih, kamu pijitin sebentar yah!” pintanya.&lt;br /&gt;“Kamu nggak kepanasan? Sini Mas Agus bukain bajunya.” Tanpa mendengar jawabanku, paman langsung melucuti pakaianku satu persatu sampai telanjang sama sepertinya. Kemudian paman merebahkan tubuhnya, tengkurap di ranjang.&lt;br /&gt;“Kamu pijitin Mas Agus, yah! Kamu duduk di punggung Mas Agus aja biar gampang.” ucapnya. Kuturuti sarannya dan lalu kemudian mulai menggerak-gerakkan jariku di pundaknya.&lt;br /&gt;“Iya di situ Ndra, duh enak banget!” ucapnya puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya Mas Agus enak, nah aku, orang lagi mengantuk malah disuruh mijit. Tak pelak hampir tiap menitnya aku menguap karena mengantuk. Tapi kemudian..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pantat Mas Agus juga pegel nih, pijit yah!” pintanya lagi.&lt;br /&gt;“Iya.” jawabku singkat. Aku bergeser mundur hingga kudapat posisi terbaik untuk memijat. Dan kembalilah jari-jariku bekerja. Memijat pantatnya yang padat berisi.&lt;br /&gt;“Kok nggak kerasa yah, digigit aja deh!” pintanya.&lt;br /&gt;“Digigit?” tanyaku spontan.&lt;br /&gt;“Iya digigit, tapi jangan keras-keras!” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sejenak aku terdiam. Apa? Aku harus memijat pantat Mas Agus dengan gigiku. Pantat yang berwarna lebih terang dari bagian tubuhnya yang lain itu, dengan mulutku. Namun kemudian aku tersadar kembali oleh suara Mas Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo dong Ndra!” pintanya.&lt;br /&gt;“I-iya.” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka mulutku agak lebar, mendekatkan wajahku sampai akhirnya mendarat di permukaannya. Dan selanjutnya semua berjalan sesuai instruksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sambil dijilat Ndra biar licin!”&lt;br /&gt;“Ah..”&lt;br /&gt;“Disedot juga dong!”&lt;br /&gt;“Nah.. Iya gitu!”&lt;br /&gt;“Terus.. Terus Ndra..” ucapnya. Beberapa saat kemudian aku terhentak ketika secara tiba-tiba Mas Agus membalikkan tubuhnya.&lt;br /&gt;“Sekarang yang ini!” katanya sambil menunjuk penisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku ingin ini segera berakhir, tanpa banyak bertanya langsung saja kulakukan perintahnya. Dan instruksi-instruksi itu pun berlanjut. Aku dapat merasakan penis itu semakin lama semakin membesar. Warnanya pun yang tadinya putih kini memerah. Sampai akhirnya mulutku hanya dapat dimasuki bagian kepalanya saja. Sementara aku yang semakin mengantuk, mendengar suara desahan-desahan Mas Agus yang kian menderu. Hingga saat dimana kurasakan penisnya menyodok-nyodok masuk ke mulutku dan membanjiri isinya dengan cairan sperma Mas Agus yang hangat. Kemudian Mas Agus menarikku ke dalam dekapannya. Memelukku erat, mencium bibirku sampai lidahnya masuk dan merebut sebagian sperma yang tadi ia berikan padaku. Lalu diciuminya leherku, dielusnya tubuhku, sementara aku telah terlelap dan membisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun kemudian, lima tahun sebelum hari ini Mas Agus yang sudah empat tahun tak pernah lagi berkunjung karena ditugaskan di luar kota, sore itu di hari Sabtu yang agak kelabu ia datang dengan seragam lengkapnya. Tapi kali ini ia datang tidak sendirian, ia datang bersama seorang wanita yang ia akui sebagai istrinya yang baru dinikahinya sekitar satu tahun yang lalu. Aku yang saat itu masih baru mengerti bahwa kejadian di malam dulu itu bukanlah hanya pijat-memijat biasa, merasa tidak percaya. Mungkinkah Mas Agus tidak seperti yang kupikirkan selama ini. Tapi.. aku.. aku telah telanjur ’sakit’..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuambil kursi itu dari tempatnya semula. Kemudian kuletakkan tepat di depan pintu. Pintu kamar dimana Mas Agus dan istrinya tidur. Sengaja aku tak tidur sampai lewat tengah malam begini hanya untuk membuktikan sesuatu. Kulihat dari celah udara yang sempit itu dan, kulihat Mas Agus di sana tepat sedang menindih tubuh istrinya. Mas agus menggerak-gerakkan penisnya keluar masuk vagina istrinya sambil tangannya mengelus-elus kedua buah dada istrinya. Sementara bibirnya sedang menggerayangi bagian leher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Mas Agus terlihat sangat menikmatinya, terlihat dari erangan-erangannya. Tapi tak lama kemudian semua berakhir, Mas Agus sudah berada di puncak dan melepaskan semua spermanya masuk ke dalam vagina istrinya. Kuletakkan kembali kursi kembali ke tempatnya. Lalu aku beranjak ke ruang keluarga dan menyalakan TV. Sendiri dalam temaram hanya ada cahaya televisi aku berniat untuk begadang sampai pagi dan mencoba untuk melupakan apa yang baru saja terjadi. Karena jawaban dari pertanyaanku sepertinya sudah terjawab langsung di mataku. Mungkin memang aku yang beranggapan salah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok belum tidur?” Tiba-tiba saja kudengar suara Mas Agus di sampingku mengagetkanku. Tapi aku diam tidak bisa menjawab. Mas Agus yang datang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek itu membuatku menjadi gagu.&lt;br /&gt;“Tolong pijitin Mas Agus, dong!” Tiba-tiba kalimat itu terdengar lagi setelah sekian lama. Tapi aku tetap diam.&lt;br /&gt;“Ayo dong, sebentar aja kok!” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pelan-pelan mulai kuangkat tanganku ke atas pundaknya, lalu menyentuhnya. Tapi kemudian aku teringat akan kejadian yang baru saja kulihat. Kali ini dengan cepat kuangkat kembali tanganku dari pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Agus, maaf Indra ngantuk, mau tidur.” ucapku sambil berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokkan malamnya aku terbangun karena tak kuasa menahan rasa untuk buang air kecil. Lalu dengan sedikit berlari, aku bergegas ke kamar mandi. Kubuka pintunya dan kuperosotkan celana dengan cepat lalu CD dan, ahh.. lega sekali, seperti melepaskan beban. Setelah tetes terakhir kusiram penis dan lubang WC dengan air. Saat aku balikkan badan, kulihat Mas Agus sudah barada tepat di depan pintu. Langsung kutarik naik CD dan celanaku cepat lalu beranjak pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru sampai di depan pintu kamarku ketika kurasa tangan itu menahanku dari belakang. Lalu membalikkan tubuhku. Aku tertunduk bisu. Lalu tiba-tiba ia mengangkat tubuhku, menggendongku masuk ke dalam kamarku. Setelah mengunci pintu, diturunkannya aku di tepi ranjang. Kemudian ia mengangkat wajahku yang tertunduk dan mendaratkan bibirnya tepat di bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciuman itu begitu lembut, perlahan tapi dapat kurasakan getarannya. Tanpa sadar tubuhku terjatuh di atas ranjang sambil terus berciuman. Lidah kami saling bertemu. Kemudian ia melepaskan pakaianku sambil menikmati ciumanku di bibirnya. Lalu ia mulai menjelajah daerah leherku, dijilatnya leher dan telingaku sampai memerah. Lalu ia bangkit dan membuka T-shirt yang dipakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bajunya terlepas kuambil inisiatif untuk membuka sendiri celana yang dikenakannya juga CD-nya. Dan terlihat jelas kini apa yang sudah empat tahun tak pernah lagi kulihat. Tubuh itu masih tampak kekar. Sebuah penis berukuran besar yang teracung berwarna kemerahan dan di sekitarnya nampak bulu-bulu halus kini terpampang di depanku. Kujilati penis itu dengan lidahku dari buahnya sampai kepala penisnya. Lalu kulahap masuk ke dalam mulutku. Kugerakkan keluar masuk sambil kumainkan lidahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh.. terus ‘Ndra!” ucapnya lembut. Kemudian ia memintaku berhenti dan melepaskan celana dan CD-ku.&lt;br /&gt;“Ternyata kamu udah besar, yah!” ucapnya sambil tersenyum. Lalu dikulumnya penisku sampai memerah.&lt;br /&gt;“Sekarang kamu masukin punya kamu ke sini, yah!” ucapnya sambil bergaya doggy style dan menunjuk lubang analnya. Kumasukkan penisku perlahan, pertama terasa sulit, tapi kemudian..&lt;br /&gt;“Ah.. Ah.. Ah! Mas Aku mau keluar, nih!” ucapku dalam gairah. Mas Agus kemudian bangkit dan mengulum penisku hingga..&lt;br /&gt;“Ah..!” erangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spermaku masuk ke dalam mulutnya terus ke tenggorokannya. Tidak berhenti sampai di situ, kemudian ia baringkan tubuh lemasku di atas tubuhnya sehingga pantatku tepat berada di atas penisnya. Kemudian ia masukkan penisnya ke dalam lubangku dengan tangannya. Nikmat sekali. Sampai akhirnya Mas Agus bangkit menyemburkan semuanya di atas wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lelah dan kantuk, dengan mata sedikit terbuka kulihat Mas Agus berpakaian dan pergi meninggalkan kamarku, meninggalkan aku dalam dasar jurang yang gelap sampai hari ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Share This &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted in Pemerkosaan | No Comments »&lt;br /&gt;Sahabatku Levana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jul 17th, 2008 by &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama saya Kartika, usia 25 tahun dengan tinggi 168 cm, berat 53 kg, asli orang Bandung, kulit putih bersih. Ukuran payudara saya yang 34C termasuk lumayan besar untuk gadis seusia saya. Pekerjaan saya adalah sebagai manager operasional di sebuah perusahaan terkenal di daerah saya. Saya ingin mengeluarkan gelisah hati yang saya pendam selama ini, mudah-mudahan saya bisa berbagi dengan pembaca sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya di kantor mempunyai sahabat yang namanya Levana, sering saya panggil Ana. Orangya supel, dan mudah bergaul, tingginya 172 cm/53 kg, dengan kulit putih mulus, maklum orang Menado asli, 34B ukuran payudaranya. Saya mempunyai kelainan ini sejak masih gadis pada saat tinggal bersama kakak saya, Mbak Erni namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan-kapan saya ceritakan sejarah lesbian saya, tapi saya juga suka cowok lho sama seperti gadis-gadis lain. Hanya saja hampir tujuh puluh persen saya menyenangi cewek, saya tidak mengerti mengapa saya begini, mungkin suatu saat saya bisa sembuh total ya?! Saya sering jalan bersama Ana kalau ada undangan karena saya belum ada pasangan, banyak sih cowok yang naksir, cuma saya masih enggan saja untuk berpacaran. Saya ingat betul awalnya yaitu pada saat bulan Agustus 2004, sehabis pulang kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ka, sini sebentar” panggil Ana pada saya sambil mendekatkan Mercynya.&lt;br /&gt;“Ada apa Na?” tanya saya heran pada Ana.&lt;br /&gt;“Boleh nggak minta tolong?”&lt;br /&gt;“Tolong apa?”&lt;br /&gt;“Itu lho, rumah saya khan sedang direnovasi..”&lt;br /&gt;“Terus?”&lt;br /&gt;“Mmh, boleh numpang nginep nggak di rumahmu?” tanya Ana ragu-ragu.&lt;br /&gt;“Alaa, gitu saja nanya, boleh dong, sekarang?”&lt;br /&gt;“Iya, boleh khan?” tanya Ana sekali lagi meyakinkan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;“Udah, nggak usah banyak omong, ayo jalan” perintah saya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;“Okey, trim’s ya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setelah Ana mengambil baju sekedarnya, kami berdua meluncur ke rumah saya yang memang agak jauh dari kantor. Rumah saya mempunyai empat kamar, satu kamar untuk tamu dan kamar saya di tengah, saya tinggal sendiri karena orang tua saya tinggal di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Na, ini kamarmu ya” kata saya sambil menunjukkan sebuah kamar padanya di ujung depan.&lt;br /&gt;“Trim’s ya” jawabnya sambil masuk melihat-lihat kamar.&lt;br /&gt;“Kutinggal dulu”&lt;br /&gt;“Ya..” jawabnya sambil lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian menuju kamar untuk mandi dan berganti baju, soalnya gerah sejak tadi. Sedang asyik-asyiknya saya memilih BH, tiba-tiba Ana masuk ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh.. Maaf ka, lagi pake baju ya?” katanya kaget melihatku masih memakai celana dalam berwarna merah dan belum mengenakan BH sama sekali.&lt;br /&gt;“Oh Ana, masuk Na, nggak apa-apa kok” jawab saya sambil tersenyum melihatnya yang masih memandangi payudara saya yang termasuk besar dan montok.&lt;br /&gt;“Wah, badanmu seksi juga ya?” ujarnya.&lt;br /&gt;“Tentu saja, habis saya rajin senam sich”&lt;br /&gt;“Oh ya, ada film bagus nich, nonton yuk” ajak Ana sambil menggandeng saya untuk menonton TV di ruang tengah.&lt;br /&gt;“Bentar Na, kuganti baju dulu ya” jawabku sambil memakai BH dan kaos longgar serta celana pendek.&lt;br /&gt;“Kutunggu ya..”&lt;br /&gt;“Ya”. Kemudian Levana sudah duduk di depan TV sambil makan camilan, sedang saya masih sibuk membereskan baju yang berserakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Ana mengenakan daster kuning hingga kelihatan kulit lengannya yang putih mulus, kadang-kadang karena duduk kami yang mepet, Ana dengan tak sengaja menyenggol payudara saya hingga perasaan saya jadi bertambah aneh. Mungkin karena acara TV yang membosankan, saya jadi tak tertarik lagi, saya lebih tertarik memperhatikan Ana saja. Ternyata Ana yang memakai daster itu, sudah tidak memakai BH lagi hingga tonjolan payudaranya kelihatan mencuat ke atas, mungkin karena kami sama-sama perempuan, jadi Ana tidak malu-malu lagi, bahkan kadang-kadang kakinya dinaikkan ke meja hingga bawahan dasternya jadi tersingkap dan memperlihatkan celana dalamnya yang berwarna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan saya jadi lain hingga saya memutuskan untuk ke kamar dan berganti baju dengan daster tanpa memakai BH dan celana dalam juga, supaya bertambah nyaman kalau berdekatan dengan Levana. Sungguh Levana itu gadis yang cantik seperti artis mandarin. Saya kembali ke ruang tamu dan membawa kaset DVD untuk saya tonton bersama Ana, siapa tahu saja Levana tertarik dengan filmnya dan ingin mmh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Na, ganti ama DVD ya?”&lt;br /&gt;“Film apaan tuch?”&lt;br /&gt;“Ini, film romantis dari Jepang, pengin liat nggak?”&lt;br /&gt;“Ya, bolehlah, abis acaranya nggak ada yang menarik sich”&lt;br /&gt;“Okey, duduk dekat sini” pinta saya pada Ana untuk duduk di sofa agar nyaman menonton film itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya sich, itu film triple X dari jepang mengenai seorang gadis yang mencintai guru wanitanya lalu mereka bersetubuh dan bercinta dengan gaya yang romantis dengan berbagai macam gaya. Volume TV dan AC saya perbesar hingga Ana mendekat dan mepet dengan saya. Untung rumah sudah sepi karena pembantu sudah pulang semua dan lagi rumah saya besar, jadi volume suara TV yang besar itu tidak kedengaran lagi dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Film BF ya?” tanya Ana tanpa menoleh pada saya.&lt;br /&gt;“Tapi bagus lho, untuk pelajaran sex”&lt;br /&gt;“Bagus, sich bagus, tapi saya jadi pengin nich” gumam Ana tak jelas karena napasnya yang makin berat dan diselingi suara orang bercinta dari TV yang makin kencang.&lt;br /&gt;“Gimana kalau kupegang payudaramu” usulku.&lt;br /&gt;“Hush, ngaco kamu Tika, kita ini sama-sama cewek tau” jawabnya sambil monyong, namun itu justru menambah gairah saya semakin tinggi.&lt;br /&gt;“Daripada kamu megang sendiri, hayoo” jawab saya tak mau kalah sambil meraba payudaranya.&lt;br /&gt;“Jangan, Tika.. Jangan..” teriaknya keras karena kaget payudaranya saya pegang. Namun teriakannya tak membuat saya jera, bahkan telinganya yang sensitif saya cium dengan lembut.&lt;br /&gt;“Kurang ajar kamu, sst..” tolaknya lemah dengan mendesis.&lt;br /&gt;“Mmh..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergumulan saya dengan Ana berlangsung seru, hingga beberapa menit Levana masih memberontak, tetapi karena gairahnya sudah naik dan ditambah lagi dengan ciuman dan remasan saya pada daerah sensitifnya, akhirnya Ana menyerah juga. Bahkan dengan sigap membalas mencium bibir saya dengan ganas sambil meraba vagina saya yang sudah mulai basah sejak tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sst.. Mmh.. Tunggu..” potong saya menghentikan ciuman dan serangannya Ana.&lt;br /&gt;“Hahh, ada apa Ka?”&lt;br /&gt;“Buka dastermu..” pinta saya untuknya agar membuka daster, sementara saya juga telah membuka dasterku sendiri hingga bugil.&lt;br /&gt;“Wah, susumu besar juga ya?” kata Levana kagum melihat payudara saya yang sudah tegak, sambil juga melepaskan dasternya, bahkan celana dalamnya pun ikut dilepaskan juga hingga kami menjadi sama-sama bugil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kami pun kembali saling berciuman di sofa tanpa mempedulikan film jepang itu. Saya mengambil inisiatif untuk memulai mencium payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sst.. Sst..”&lt;br /&gt;“Mmh.. gantian..” rintih Ana karena tidak dapat menahan ciuman dan jilatan lidah saya pada payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya pun berganti posisi dengan Ana yang menjilat payudara saya dengan semangat hingga vagina saya juga ikut dibelai, bahkan jari-jarinya yang lentik keluar masuk ke dalam lubang vagina saya dengan cepat hingga saya mengalami orgasme yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmh.. Enak.. Na, cepetan.. Sst..” rintih saya karena tak tahan lagi dengan permainan Ana yang begitu hebat, bahkan Ana sekarang menjilat vagina saya dengan liar hingga beberapa menit, saya semakin mendorong vagina saya ke arah mulutnya yang sedang menghisap bagian dalam.&lt;br /&gt;“Sstss.. pinggirnya.. ssts.. Ya.. yang i.. tu..” rintih saya terpatah-patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Levana menghentikan permainannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa Na?”&lt;br /&gt;“Kita coba yang seperti di film, mau khan?” usulnya.&lt;br /&gt;“Boleh saja..” jawab saya senang karena memang senang dengan gaya enam sembilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya enam sembilan itu maksudnya saya yang berada di posisi atas menghadap Levana yang berada di posisi bawah dengan saling menjilat vagina masing-masing, bahkan saking enaknya hingga kepala saya terjepit oleh Levana yang rupanya juga telah mengalami orgasme yang pertama. Kami melakukan pergumulan itu di sofa hingga dua jam dan rupanya Levana pun puas atas permainan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahh, lega rasanya..”&lt;br /&gt;“Gimana, enak nggak?”&lt;br /&gt;“Enak juga ya”&lt;br /&gt;“Mau lagi nggak?”&lt;br /&gt;“Mau dong kalau caranya gitu” jawab Ana manja sambil mencium bibir saya gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu saya dan Levana menghabiskan permainan yang seru itu di kamar, bahkan Ana tak henti-hentinya meremas payudara saya dengan gemas, kadang-kadang saya puaskan Levana dengan alat kelamin pria plastik, tentu saja alatnya yang bisa bergetar hingga itu menambah nikmat percintaan saya dengan Ana. Beberapa ronde kami lalui hingga pagi, juga di kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokannya, seperti biasa saya sudah bersiap ke kantor dengan Levana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Na, udah siap belum?”&lt;br /&gt;“Udah boss, ayo” gandeng Ana mesra sambil mencium bibir saya lembut.&lt;br /&gt;“Hush, nanti dilihat orang lho”&lt;br /&gt;“Iya ya..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sejak itu, saya dan Levana sering bercinta di rumahnya atau rumah saya, bahkan pernah beberapa kali kami bercinta di dalam mobil. Pada saat hari libur, Levana mengajak saya dan beberapa temannya ikut berdarmawisata ke pulau Bali dan Lombok. Salah satu di antaranya bernama Fifiani yang orang Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tika, kamu ikut tour besok nggak?” tanya Levana.&lt;br /&gt;“Tentu dong, yang ke Bali dan Lombok khan?” jawabku.&lt;br /&gt;“Iya dong, eh.. kenalin nich, teman saya” ujar Levana memperkenalkan temannya.&lt;br /&gt;“Fifiani” katanya memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;“Kartika Sari” jawab saya sambil menjabat tangannya yang kuning langsat itu.&lt;br /&gt;“Ayo Na, sampai besok ya” jawab Levana menggandeng Fifiani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, saya dengan beberapa teman kantor jadi berwisata ke pulau Bali dan Lombok, juga ada Fifiani dan Levana. Dari obrolan kami, saya ketahui bahwa Fifiani itu umurnya baru 23 tahun, 172 cm/53 cm, dengan payudara 34C, orangnya cukup ramah dan sopan. Levana pernah bercerita pada saya bahwa Fifiani adalah seorang lesbian sejati, sudah pernah beberapa kali pacaran, namun kandas di jalan hingga hatinya hancur lebur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ana, sini bentar Na” panggil saya pada Ana.&lt;br /&gt;“Ada apa Tik”&lt;br /&gt;“Tukeran duduk ya, Fifiani di sini dan tas ini di tempatmu, gimana?” usulku.&lt;br /&gt;“Enak saja, kapan lagi kesempatan gini datang”&lt;br /&gt;“Please dong, khan kamu udah lama kenal ama Fifiani”&lt;br /&gt;“Iya dech, cuman aku boleh liat dong di sebelah..” canda Ana sambil mencolek payudara saya dengan gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dalam bis itu, saya yang mulanya duduk di belakang dengan tas besar entah siapa yang punya, dapat kesempatan duduk dengan Fifiani yang cantik. Levana tak ketinggalan duduk di sebelah dengan tas besar yang sudah saya pindahkan. Fifiani dalam perjalanan itu memakai rok jins hitam dengan kaos merah mudanya, sungguh serasi dengan bentuk tubuhnya yang proporsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Fifiani atau yang biasa saya panggil dengan Fifi senang curhat dengan saya, bahkan beberapa kali matanya mengarah pada payudara dan bawah rok jins biru saya yang agak naik ke atas, mungkin celana dalam saya yang berwarna putih polos kelihatan, tapi saya cuek saja. Bahkan saya sengaja beberapa kali menyingkap rok saya hingga paha saya yang putih kelihatan dengan jelas hingga Fifi salah tingkah memperhatikan rok saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami sudah melewati kota Probolinggo, saya lihat teman-teman sudah pada tidur karena kelelahan, sementara Levana memperhatikan saya sambil mengedipkan matanya beberapa kali. Di bis wisata itu yang duduk di belakang cuma saya, Levana, seorang teman lain dan beberapa barang bawaan yang menumpuk, sementara yang lain duduk di depan, tentu saja ada yang berpasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Fifi rupanya sudah tertidur pulas dengan kepalanya bersandar pada bahu kanan saya hingga perasaan saya jadi tak enak karena napasnya yang harum dan lembut tercium oleh saya, di samping itu posisi duduknya yang sungguh membuat dada saya berdebar-debar karena kakinya menopang pada paha saya. Dengan perlahan saya menyelimutinya hingga kami berdua tertutup oleh selimut hingga cuma tinggal kepala saja yang kelihatan. Tangan kanan Fifi saya pegang dan saya di tempatkan payudara saya. tiba-tiba Fifi membuka matanya dan menatap saya tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh.. Eh.. Fi.. Belum tidur ya?” tanya saya tergagap-gagap karena kaget melihatnya bangun tiba-tiba.&lt;br /&gt;“Iya Mbak, belum ngantuk nich” jawabnya tersenyum ramah dan tidak melepaskan tangannya dari payudara saya, padahal saya sudah horny.&lt;br /&gt;“Jangan panggil Mbak dong, panggil Tika saja ya”&lt;br /&gt;“Iya dech, Tika udah punya pacar belum?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Belum, emangnya kenapa?”&lt;br /&gt;“Masak, cewek secantik kamu belum punya pacar!”&lt;br /&gt;“Emang belum, kamu sendiri?”&lt;br /&gt;“Udah pernah sich, cuma sering putus, lebih suka sahabatan ama cewek”&lt;br /&gt;“Oh gitu ya..”&lt;br /&gt;“Ka, boleh nggak Fifi peluk?” pintanya.&lt;br /&gt;“Boleh saja, terserah Fifi dech” gumam saya pelan karena Fifi dengan pelan meremas payudara saya dengan gemas, bahkan sudah masuk dalam BH saya dan meremasnya dengan lembut.&lt;br /&gt;“Sstss.. Fi..” desisku.&lt;br /&gt;“Gimana Ka?” tanya Fifi yang berusaha membuka BH saya.&lt;br /&gt;“Enak Fi.. Sstss.. Saya boleh..” belum sempat Fifi menjawab, tangan saya sudah masuk ke dalam roknya dan membelai vaginanya yang masih memakai celana dalam.&lt;br /&gt;“Sst.. Ka.. Ayo dong..” ajak Fifi menuntun tangan saya untuk masuk lebih dalam dan menyentuh vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya dan Fifi saling meremas payudara dan menyentuh vagina hingga Fifi duluan orgasme karena tak tahan dengan jari-jari saya yang keluar masuk vaginanya dengan cepat. Levana yang dari tadi memperhatikan saya, juga ikut-ikutan merogoh payudaranya sendiri. Belum sempat saya orgasme, bis itu sampai Denpasar, dan kami memesan kamar masing-masing untuk esok paginya kami lanjutkan dengan pesiar keliling pulau Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana nich Fi, saya khan belum..”&lt;br /&gt;“Tenang saja Ka, gimana kalau kita tidur berdua?” jawab Fifi santai karena tahu bahwa saya belum puas.&lt;br /&gt;“Iya dech”&lt;br /&gt;“Saya boleh ikut nggak, boleh ya..” rengek Levana tiba-tiba mendekati kami.&lt;br /&gt;“Boleh saja, gimana Fi, Ana boleh ikut nggak!?” tanya saya pada Fifi.&lt;br /&gt;“Okey, pasti tambah asyik ya” jawabnya sambil mengedipkan mata pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah saya memesan kamar bertiga dan setelah kami diberi pengarahan dari pemandu wisata agar bangun jam 08.00, maka saya langsung masuk kamar. Setibanya di kamar dan menaruh tas, saya peluk Fifi dan menghimpitnya ke tembok hingga payudara saya yang montok menempel ketat pada payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah nggak sabar nich yee..” goda Ana sambil memeluk saya juga dari belakang dan langsung mencium leher saya dengan ganas.&lt;br /&gt;“Fi.. Kamu..”&lt;br /&gt;“Udah ka, ayo kita terusin yang tadi” jawab Fifi sambil melumat bibir saya dengan ganas.&lt;br /&gt;“Mmh..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fifi yang mencium saya dengan ganas itu juga tak kalah gesitnya mencoba kembali membuka BH saya yang akhirnya terlepas juga ke bawah, tangannya dengan terampil kembali meremas-remas payudara saya, di samping itu Ana berusaha melepas rok jins dan celana dalam saya hingga saya yang pertama-tama bugil duluan. Entah siapa yang memulai duluan, tahu-tahu saya sudah berada di tempat tidur dengan payudara saya yang dijilati Fifi dengan lincah, bahkan Ana pun juga sudah bugil dan sekarang sedang menjilati vagina saya dengan lahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sst.. Uuh.. Mmh..” rintih saya keras karena tak tahan diperlakukan oleh dua orang wanita cantik yang menjilati bagian sensitif saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian saya pun tak tahan dan mengalami orgasme yang pertama. Fifi juga minta ganti posisi di bawah untuk kami kerjai yang saya bagi tugas dengan Ana, saya bagian menjilat vaginanya dan Ana bagian payudara dan bibirnya. Beberapa menit permainan itu kami lanjutkan dengan cara saling berganti posisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ka.. Sstss.. Geli.. Ahh.. Ssts”&lt;br /&gt;“Ssts.. Mmh.. Jilat yang itu.. Ya..” rintih Fifi yang sedang berjongkok karena vaginanya dijilat oleh Ana.&lt;br /&gt;“Sstss.. Go.. Yang.. Na.. Sstss..” desis saya meminta Ana yang vaginanya sedang saya gesek-gesekkan dengan vagina saya untuk menggoyang pinggulnya lebih keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan demi permainan kami lewati hingga akhirnya saya meminta Fifi memasang penis plastik yang bisa bergetar itu pada vaginanya. Bentuknya seperti celana dalam yang di tengahnya ada penis plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sstss.. Pelan.. Fi.. Argh..” jerit saya karena Fifi memasukkan penis buatan itu terlalu cepat pada vagina saya.&lt;br /&gt;“Mmh.. Gimana Ka, enak..?”&lt;br /&gt;“Ssts.. Ya, ayo..” perintah saya setelah Fifi memasukkan penis plastik itu dan mendorongnya keluar masuk hingga saya merasa nikmat dan menjepit penis plastik itu dengan keras hingga dinding vagina saya berdenyut-denyut.&lt;br /&gt;“Sstt.. Ayo.. Fi.. Lebih cepat lagi..” pintaku.&lt;br /&gt;“Sstss.. Mmh.. Sstss.. Argkk..” jerit saya melengking karena cepatnya Fifi memasukkan penis plastik itu hingga saya orgasme berulang-ulang yang ditambah lagi rangsangan pada payudara saya yang dijilat dan dikulum oleh Levana sambil tangannya tak henti-hentinya juga meremas payudara Fifi. Vagina saya mengeluarkan lendir berwarna putih, sungguh banyak sekali.&lt;br /&gt;“Lega rasanya, nikmat juga pake penis buatan..”&lt;br /&gt;“Enak nggak rasanya Ka?” tanya Levana pada saya dengan mimik heran.&lt;br /&gt;“Lho, kamu belum pernah toh An?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Belum tuch, biasanya sich cuma ama cewek saja”&lt;br /&gt;“Nikmat kok rasanya, saya sering pake kalau lagi nggak ada pasangan” jawab Fifi sambil membersihkan penis plastik itu untuk kami gunakan lagi.&lt;br /&gt;“Gimana An, kamu coba dech, sini biar kucobain buat kamu..” bujukku pada Levana yang kelihatan masih ingin mencoba penis buatan ini selain gaya enam sembilan favorit Levana dan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami bertiga menguras habis energi untuk bercinta hingga ke kamar mandi, bahkan dengan senangnya saya bisa memandikan Fifi yang paling muda di antara kami bertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pelan-pelan ya masukinnya” pinta Levana cemas.&lt;br /&gt;“Tenang saja, nggak sakit kok” kata saya meyakinkan Levana yang melihat saya sudah memasang kan celana dalam berpenis itu di kemaluan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permukaan penis plastik itu ada bintik-bintiknya yang tidak beraturan dan saya juga tidak begitu mengerti apa manfaatnya, mungkin saja untuk menambah rasa nikmat jika bersentuhan dengan dinding vagina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sst.. Mmh.. Sstss.. Aduh..” jerit Ana pelan karena penis itu terpeleset keluar bibir vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya seluruh penis plastik itu masuk ke dalam vagina Ana yang masih sempit itu, mungkin Levana masih perawan karena beberapa saat kemudian sedikit keluar darah. Memang selama saya bersahabat dengan Levana, Ana jarang bergaul dengan teman pria, kebanyakan teman wanita seperti saya dan yang lainnya. Sedangkan Fifi pergaulannya luas termasuk dengan pria hingga vagina Fifi sudah agak melebar dibandingkan dengan vagina saya dan Levana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Na, kamu masih perawan ya?” tanya saya serius pada Levana.&lt;br /&gt;“Eh.. Iya.. Berarti kamu yang pertama melakukannya, Sayang” jawabnya mesra sambil mencium saya dengan lembut.&lt;br /&gt;“Mmh..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berusaha maju mundur mengikuti aksi seperti yang di film BF, para pria memajumundurkan penisnya ke dalam vagina si wanita. Sambil memasukkan penis buatan, saya meremas-remas payudara Ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sstss.. Ter.. Us.. Sstss..”&lt;br /&gt;“Sst.. Fi.. Ayo..” ajak Ana sambil mengajak Fifi untuk berciuman dengan saya.&lt;br /&gt;“Sstss.. Sstss.. Mmh..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berciuman dengan Fifi, saya memasukkan penis plastik itu keluar masuk dengan irama yang teratur hingga pantat Levana bergoyang pelan. Rupanya Ana menikmati permainan penis plastik itu hingga meminta saya agar cepat menaikkan tempo keluar masuknya penis plastik itu dalam vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo fi, isap puting saya”&lt;br /&gt;“Iya, Ka..”&lt;br /&gt;“Sstss.. Mmh..” rintih saya agak keras karena Fifi bukan saja mengisap puting saya, bahkan menggigit puting saya dengan gemas hingga saya merasa nikmat dan mendorong penis plastik itu semakin cepat saja.&lt;br /&gt;“Sstss.. Sstss.. Sstss.. Bagi.. An.. Sstss.. Itu..” desis Ana mengarahkan saya untuk menyodokkan penis itu pada bagian lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan dengan Ana membutuhkan waktu yang lama karena ia menahan irama birahinya hingga pinggul saya pegal-pegal, kemudian setelah saya lelah, saya menyuruh Fifi untuk ganti menindih Levana dengan penis plastik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fi, gantian ya, saya capek nich”&lt;br /&gt;“Ya, ayo sini” jawab Fifi sambil memasang penis itu dan langsung memasukkannya dalam vagina Levana dan mereka pun bermain dengan bernafsu hingga Fifi melahap bibir Ana dengan ganas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun menyelipkan tangan di antara payudara mereka dan meremas-remasnya supaya Ana cepat orgasme. Dan akhirnya Levana melepaskan ciuman Fifi dan memintanya agar lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sstss.. Sstss.. Sstss.. Ayo.. Fi.. Cepetan..”&lt;br /&gt;“Saya.. Sstss.. Mau.. Keluar.. Sstss..” rintih Levana hingga Fifi semakin mendorong dengan cepat penis plastik itu hingga Ana bergerak-gerak liar dan menjepit Fifi dengan kuat.&lt;br /&gt;“Sstss.. Arghh..” jerit Levana melengking karena cairan putihnya akhirnya keluar juga untuk terakhir kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jam empat pagi baru kami tidur bersama, tentu saja dengan keadaan bugil dan kepuasan yang tiada tara. Dan kembali tour kami lanjutkan untuk wisata ke pantai Sanur dan pantai Kuta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih pada Bapak Hartono atas tournya, juga sahabatku Fifi dan Levana atas pengalamannya bersama saya, kasih komentar ya atas cerita saya ini, kalau ada yang kurang, konfirmasikan saja ke email saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca cowok dan cewek bisa curhat atau kenalan pada saya melalui email saya atau memberikan tanggapannya mengenai kelainan saya ini, asalkan disertai foto, terutama bagi cewek-cewek baik yang seksi maupun tidak seksi hi.. hi.. hi.., pasti kubalas dengan foto bugil saya, eh maksud saya foto seksi saya dan kalau ada yang mengajak jalan bersama, saya ingin ikut dong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tanpa foto, maaf saja, saya tidak bisa membalas surat Anda. Dan buat sohib saya Fifi, Vita, Samantha, Aulia, Febri, dan Levana, salam sayang selalu dan kangen, jangan lupa ya baca cerita saya ini dan kapan nih kita mandi bareng lagi, pasti asyik deh. Sekarang saya lagi fitness untuk mengencangkan payudara lho.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3725440842778217774-4153568806957226433?l=arsip-cerita-dewasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/feeds/4153568806957226433/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3725440842778217774&amp;postID=4153568806957226433' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/4153568806957226433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/4153568806957226433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/2008/08/terjebak-permainan.html' title='Terjebak Permainan'/><author><name>love hurt</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3725440842778217774.post-980547453015576858</id><published>2008-08-12T22:37:00.001-07:00</published><updated>2008-08-12T22:37:38.231-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah bugil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembantu diperkosa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah telanjang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembantu bispak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pembantu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita babu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembantu telanjang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembantu bugil'/><title type='text'>Ngerjain Pembantu Kost</title><content type='html'>Hari terakhir ujian, rasanya suntuk banget dech,.. agak mendung memasuki tempat kost-kostan-ku,. Perlahan aku membuka pintu kamar-ku,.. baru aku mau memasuki kamar kost-ku,.. Mang Udin melintas,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Non,.. ” Geli banget liat dia cengengesan begitu,. Terlebih aku belum melakukan pembalasan pada Mang Udin,..&lt;br /&gt;” Apa Mang Ujang ?? ” Tanya-ku malas-malasan,..&lt;br /&gt;” Nama saya Udin Non, bukan Ujang,.. ” Protesnya,..&lt;br /&gt;” Ah sama aja,.. kan emang Ujang artinya pembantu kan ?? ” Jawab-ku&lt;br /&gt;” Yeah, si non, Ujang nama non,.. bukan artinya pembantu,.. ” Terangnya,..&lt;br /&gt;” Owh, gitu,.. terus kenapa Mang Udin,. ” Aku ingin cepat-cepat masuk, sebal melihat mukanya yang jelek itu,..&lt;br /&gt;” Gapapa non, kangen aja,.. ” Dia cengengesan, dia kira bagus kali ya,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah masuk dalam kamar,.. kukunci rapat-rapat biar Mang Ujang, eh Mang Udin gak masuk ke dalam lagi kayak kejadian waktu itu,.. tunggu aja Mang Udin, seminggu lagi ya,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, yang gak perlu aku certain gimana susahnya ujian aku, akhirnya seminggu kemudian, hari kamis waktu itu, temen-temen waktu SMU-ku datang ke tempat-ku,. Yang satu namanya Adel yang ini tipe cewek yang bener-bener cerewet, 100x lebih bawel daripada aku,chubby-chubby gitu tapi tetep seksi,.. rambutnya di cat coklat,.. yang satunya lagi nama Erlin, tapi kita biasa manggil dia Lili,.. sama cerewetnya sama aku, cantik dech orangnya dan rambutnya juga masih panjang seperti dulu, kesannya anggun..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku ?? Gak usah diceritain dech ya,. dah sering banget, tar jadi narsis galleri lagi, hohoho^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kebayang gak gimana rame-nya kamar kost aku, ada 3 orang cewek bawel yang udah sekitar 3 bulan-an gak ketemu,. Dan kayaknya gak kan menarik juga buat diceritain kan,.. masa u mau denger kita gosipin cowok-cowok, tar pada minder lagi,.. hehehe,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ampe akhirnya aku ngungkapin ide gila buat ngerjain Mang Udin itu,.. pertamannya Lili menolak ide gila itu,. Beda dengan Adel yang penasaran dengan penis impotent-nya Mang Udin,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Yakin Dell ?? ” tanya Lili,.. mukanya gak yakin gitu,..&lt;br /&gt;” Yakin lah, itung-itung bantuin temen hahaha,.. “&lt;br /&gt;” Mang punya rencana pa Dell ?? ” Tanya-ku penasaran,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adel pun membisik kami bertiga,..Mendengar idenya yang gila itu Aku dan Lili langsung tertawa,..&lt;br /&gt;” Tapi lu ya yang banyak godain,.. ” Lili masih tertawa menodong Adel,.&lt;br /&gt;” Iya dech beres,… ” Adel ikut tertawa-tawa,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Operasi Balas Dendam pun dimulai,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Mang Udin, tolong donk,.. ” Aku memanggil Mang Udin yang kebetulan lewat, padahal sebenarnya memang sengaja sudah kutunggu,..&lt;br /&gt;” Loh ada apa non, ” Iya buru-buru mendekat, pasti bukan karena dia pembantu yang rajin, tapi melihat ku yang hanya mengenakan handuk membebat tubuh-ku,..&lt;br /&gt;” Itu Mang Udin, Air dikamar Mandi mati,.. ” Rajuk-ku,..&lt;br /&gt;” Tar Mang Udin periksa diatas,.. ” Katanya, matanya itu udah kayak mau nerkam aja,..&lt;br /&gt;” Itu Mang Udin, Shower aku aja kali yang mati, soalnya di Wastafel nyala koq,.. “&lt;br /&gt;” OW, yawda Mang Udin masuk ya, periksa,.. ” Wajahnya itu seolah mengatakan, ” Nah gini donk, ini yang gue tunggu,.. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Mang Udin begitu terkejut setelah memasuki kamar-ku itu, Adel dan Lili berdiri disebelah kursi yang biasa kupakai untuk main komputer dan browsing DS,. Keduanya tersenyum manja menatap Mang Udin,..&lt;br /&gt;” Duduk sini donk Mang,.. ” Goda Adel,.Sementara aku menutup pintu kamar-ku&lt;br /&gt;” Keran,.. ” , ” Saya mau benerin keran,.. ” Kata Mang Udin, pura-pura… dasar bandot yang suka pura-pura,..&lt;br /&gt;” Tar aja, sini dulu duduk,.. “&lt;br /&gt;Mang udin seperti kebinggungan, menarik nafas sebelum kemudian melangkah ke arah kursi, dan duduk diatasnya,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mang Udin sekarang duduk di kursi, wajahnya tampak binggung namun juga ada guratan bahagia dalam senyumannya, bagaimana tidak, didepannya berdiri tiga orang gadis cantik yang notabenenya masih mahasiswi dengan hanya handuk yang membebat tubuh kami bertiga,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adel yang memang paling gila diantara kami langsung menggoda mang Udin,..&lt;br /&gt;” Mang Udin ya ?? ” goda Adel sambil duduk di paha Mang Udin,..&lt;br /&gt;Mimik Mang Udin tampak seperti orang yang serba salah, ia mengganguk sambil menjawab dengan gelagapan,..&lt;br /&gt;” I…I ya neng, neng siapa ya ?? ” Tanya-nya, tampaknya ia masih malu-malu kucing, padahal biasanya gak tau malu,..&lt;br /&gt;” Ah, Mang Udin, ini kan temen aku, kenalin donk,.. ” Goda-ku, sekaligus sebal melihat gaya-nya yang sok alim itu,..&lt;br /&gt;” Udin neng,.. ” Sambat Mang Udin, sambil menyalami Adel,..&lt;br /&gt;” Adel,.. ” Adel senyum menggoda,..tangannya melepas kancing-kancing baju Mang Udin,..&lt;br /&gt;” Mang udin Mang Udin, mang Udin suka ga diginiin ?? ” Goda Adel sambil membelaikan jemarinya di dada Mang Udin,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspersi kaget Mang Udin yang gak biasa, benar-benar membuat perut ku melilit menahan tawa, Adel memang benar-benar nekad mengoda Mang Udin seperti ini,..Lili yang sendari tadi tampak grogi langsung tertawa lepas, malah ikut-ikutan menggoda Mang Udin,..&lt;br /&gt;” Mang Udin badannya kuat ya,.. ” Bisik Lili tepat di depan telinga Mang Udin&lt;br /&gt;” Oh iya donk Dek,.. ” Jawabnya dengan logat Madura,.. sementara ia sedikit menarik wajahnya tak tahan merasakan hembusan nafas Lili di telinganya,..&lt;br /&gt;” Buka ya Mang Udin,.. ” Adel hanya pura-pura saja, sementara ia dan Lili sudah memelorotkan celana Mang Udin, hingga penisnya yang lemah itu menggantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adel dan Lili menahan tawa, sama seperti aku,.. Adel meraih tangan Mang Udin meminta Mang Udin melepaskan handuk-nya, iseng Mang Udin juga langsung melepaskan kaitan handuk Lili,..&lt;br /&gt;” Aduh si Mamang,.. ” Lili seperti kaget, melihat keusilan Mang Udin,..&lt;br /&gt;” Hehehehe,.. ” Mang Udin membalas dengan cengengesannya,..&lt;br /&gt;” Mang udin mau ?? ” Tanya Adel,..menunjuk penis Mang Udin yang masih terkulai lemah&lt;br /&gt;” Apa aja mau dech Neng,.. ” Mang Udin cengengesan&lt;br /&gt;Adel menunduk dan meraih penis itu dengan tangannya, lidahnya dijulurkan keluar, dan tubuh Mang Udin bergetar hebat saat lidah Adel menyentuh penisnya itu,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Duh Mang Udin, seneng ya ?? ” Ejek-ku,.&lt;br /&gt;” Iya donk Non, hehehe,.. ” Seperti yang kuduga, begitu aku mendekat Mang Udin langsung menarik handuk-ku,..&lt;br /&gt;” Biar telanjang semua,.. ” Katanya cengengesan,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum saja melihat tingkahnya, sambil tertawa dalam hati menunggu balas dendam-ku beberapa saat lagi,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mang udin mulai berani dan memagut bibir Lili, Lili sendiri awalnya ingin menolak namun tak jadi, ia membiarkan Mang Udin menciumnya sementara Adel lebih sibuk dengan usaha-nya dan memang paling bersemangat untuk membuktikan “Ketidak-perkasaan” mang Udin itu, ia menggunakan lidahnya memainkan penis Mang Udin, sesekali mengulumnya tanpa rasa jijik sedikit pun, memang yang satu ini agak-agak hyperseks,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengulum kepala penis Mang Udin yang nanggung antara keras dan gak itu,.. sementara tangannya sibuk mengocok batang kemaluannya,.. aku membantu Adel dengan memainkan buah zakar Mang Udin, dan aku memang selalu tertarik dengan bentuk puting mang Udin yang selalu mengacung, aku memainkan putingnya yang lucu itu dengan lidah-ku membelai dadanya hingga mulai basah sementara Mang Udin masih sibuk memagut Lili, yang terlihat fine-fine aja menerima ciuman Mang Udin yang benernya gak enak, dan asal-asalan, sementara juga tangan Mang Udin tak membiarkan sepasang buah dada Lili yang menggantung didekatnya itu,…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya memainkan buah dada Lili, meremas-remasnya perlahan hingga sedikit kasar, yang membuat Lili sesekali merintih,.. cukup lama juga kami berempat dalam keadaan itu, namun penis Mang Udin tak kunjung berdiri, malah bergetar-getar dan menumpahkan spermanya ke dada Adel,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Masih kuat Mang ?? ” Tanya Adel,..&lt;br /&gt;” Iya Mang Kalo gak kuat jangan dipaksa,.. ” Ejek-ku, dengan nada halus,..&lt;br /&gt;” Iya loh Mang nanti impoten,.. ” Kata Lili,&lt;br /&gt;” Aduh Neng-neng ini, tenang itu belum apa-apa,..”&lt;br /&gt;” Bener nich mang ?? ” Tanya Adel&lt;br /&gt;” Bener dech non,.. “&lt;br /&gt;” Yawda sini Mang ayo tiduran,.. ” Adel membimbing Mang Udin ke kasur-ku,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adel berdiri sebelum memberikan vaginanya itu tepat diwajah Mang Udin, Mang Udin dengan sigap menggerakan lidahnya membelai vagina Adel itu, lidahnya menyapu-nyapu, sementara aku menggangu Mang Udin dengan membelai-belai dada-nya dengan jemari-ku, sesekali aku menggunakan lidah-ku itu membelai puting-nya itu,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhnya bergetar-getar menerima rangsangan demikian rupa, namun ia juga hanya bisa mendesah-desah tertahan, dan sedang sibuk menggerakan lidahnya di vagina Adel, sesekali Adel mendesah-desah nikmat, memang aku tahu benar kalau itu salah satu keahlian Mang Udin, selain permainan tangannya,.. tapi ya hanya 2 itu yang bagus dari Mang Udin, yang lainnya sich gak, apalagi junior-nya yang gak bisa tegak,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Ehmmm, Mang Udin,.. ” Adel mendesah-desah, aku sedikit menahan tawa juga melihat ekspresi wajah teman-ku itu,..&lt;br /&gt;Sementara Lili mulai memainkan penis Mang Udin dengan tangannya, sepertinya ia sangat tertarik dengan penis Mang Udin yang memiliki kepala penis yang disunat, tapi pendek dan lembek seperti itu,.. ia tersenyum-senyum sendiri sambil memainkan penis itu dengan tangannya, sambil sesekali memainkan lidahnya di buah zakar penis itu,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Mang Udin enak gak ?? ” Tanya Lili,..&lt;br /&gt;” Enn-ennak Non,.. lagi,.. ” Jawab Mang Udin disela permainan Lidahnya untuk Adel..&lt;br /&gt;” Kalo gitu bikin keras donk,.. ” Lili senyum-senyum terhalang oleh tubuh Adel,.&lt;br /&gt;Mang Udin sepertinya pura-pura tak mendengar dan meneruskan permainan lidahnya itu,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara aku dan Lili sekarang sibuk merangsang penis Mang Udi, sesekali terlihat ingin mengeras namun tak lama kemudian kembali lembek dan terkulai, aku dan Lili hanya senyum-senyum sendiri, melihat lemasnya penis Mang Udin itu, sementara tangan kami berdua saling bergantian memainkan penis Mang Udin mulai dari batangnya hingga buah zakarnya itu,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penis itu tiba-tiba gemetaran, tak lama kemudian tubuh Mang Udin ikut-ikutan menjadi kaku, sementara penisnya mulai menumpahkan cairan kental, aku tertawa-tawa saja melihatnya, demikian juga dengan Lili,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Mang Udah keluar ya ?? ” Goda-ku,..&lt;br /&gt;” Belum Neng, itu sich cuma dikit aja,.. “&lt;br /&gt;” OH gitu,.. ” Jawab-ku pura-pura bodoh,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Mang Udin kuat ya,.. ” Adel pura-pura memuji,.. di sela desahannya,..&lt;br /&gt;” Iya donk neng, Udin,.. ” Katanya bangga,..&lt;br /&gt;” Adel mau nyobain ya ?? ” Kata Adel lagi, mimik wajah Mang Udin langsung berubah serius, seperti orang yang kebinggungan&lt;br /&gt;” Yawda,.. ” Katanya pasrah,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adel merangkak turun, ia menarik penis Mang Udin yang terkulai lemah itu, ia memandang Mang Udin dengan ragu-ragu,..&lt;br /&gt;” Ini bisa Mang ?? ” Tanya Adel,..&lt;br /&gt;” Tergantung rangsangannya,.. ” Ia mengelak,..&lt;br /&gt;Adel hanya tersenyum, dan menindih penis itu, dengan tangannya ia membimbing penis itu tepat di mulut vagina-nya, sementara perlahan ia mulai menggerakan tubuhnya membalur penis Mang Udin diantara tangannya dan mulut vaginanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti menarik gaya Adel itu andai penis Mang Udin bisa mengeras, aku dan Lili pun berpindah mencium Mang Udin, namun wajah mang Udin malah seperti orang yang sedang menahan rasa ngilu,..sementara tangan-ku, menarik tangan Mang Udin ke dada-ku, perlahan Mang Udin mulai meremas dada-ku itu, sambil membalas ciuman Lili, tangannya meremas payudara-ku, memainkan puting-ku, hingga aku sedikit mendesah menahan rasa yang diberikan oleh Mang Udin,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat reaksi-ku Mang Udin seperti diatas angin, tangannya mulai bergerak turun menuju belahan vagina-ku, merenggangkannya dan menyentuh daerah sensitife-ku itu dengan tangannya,.. merasakan belaian tangannya di titik itu sedikit membuat tubuh-ku merinding, namun aku tak mau ketinggalan mengerjai Mang Udin, aku pun menarik tangannya dari lubang kemaluan-ku itu, bis aku kan gampang banget naik-nya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyodorkan saja dada-ku kemulutnya, Mang Udin melepaskan ciumannya dari Lili, dan memainkan dada-ku itu dengan lidahnya, sentuhan lidahnya yang memainkan puting-ku membuat-ku merinding juga, terlebih sesekali gigitan pelannya itu,.. Namun bukan Mang Udin kalau cepat puas, seolah melupakan rasa sakit yang mimiknya masih terekam jelas diwajahnya itu, tak dapat dari aku, tangan Mang Udin bergerilya ke lubang kewanitaan Lili,.. Lili hanya diam saja, membiarkan tangan Mang Udin bermain disana,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Lili pun mulai berubah, wajahnya yang merona merah, sementara Mang Udin masih cukup dapat membagi konsentrasinya memainkan lidahnya di dada-ku dan tangannya di vagina Lili, sementara Adel makin asyik mengerjai Mang Udin meremas-remas kantung kemaluannya itu sambil terus memainkan penis Mang Udin diantara tangan dan bibir kemaluannya itu,. Membuat Mang Udin tak bertahan lama..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Mang Udin kembali bergetar-getar hebat, ia gemetaran tapi wajahnya seperti orang yang sedang menahan rasa sakit,..Penis Mang Udin kembali mengeluarkan cairan spermanya itu, ia merintih-rintih menahan sakit menghentikan gerakan tangannya di vagina-ku dan vagina Lili, ia seperti orang yang sedang begitu menahan rasa ngilu,.. sementara Adel pun langsung turun, melihat penis Mang Udin yang seperti mengkerut itu, wajah Adel tampak puas mengerjai Mang Udin seperti itu,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Wah jangan-jangan Mang Udin emang impotent nich,.. ” Aku menyambar kesempatan yang dibuat oleh Adel,..&lt;br /&gt;” Eh enak aja, ini kan belum keras aja,. ” Elak Mang Udin,&lt;br /&gt;” Tapi ini kan udah ampe keluar lagi Mang,.. ” Tanya Lili, seperti biasa dengan gaya-nya yang polos,..&lt;br /&gt;” Ya itu sich sial aja Non,.. ” Kata Mang Udin&lt;br /&gt;” Ah yang bener Mang,.. ” Adel mengunakan jarinya menekan-nekan penis Mang Udin yang lemah itu,..&lt;br /&gt;” Iya bener Non,.. ” Katanya menahan rasa sakit,..&lt;br /&gt;” Kalau gitu aku mainin lagi ya Mang,.. ” Ancam ku, menarik penis Mang Udin, seperti ingin mengocoknya,..&lt;br /&gt;” Ampun dech Non ampun,..Iya Mang Udin Impotent ” Kata Mang Udin tak tahan, kalang kabut, penisnya kian layu setelah terpaksa 3 kali memuntahkan spermanya terlebih dengan penisnya yang tak bisa keras itu, kata dia sich sedikit ngilu,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Nah, Mang Udin mulai sekarang jangan suka iseng-iseng bawa orang luar lagi ya,.. ” Kataku, sambil membelai wajahnya,..&lt;br /&gt;” Iya Non, gak lagi suer dech,.. “&lt;br /&gt;” Nah Mang Udin juga gak mungkin kan cerita keimpotenaan Mang Udin kesebar,.. ” Kata-ku lagi,..&lt;br /&gt;” Iya Non, Mang Udin negrti musti gimana, Janji,.. ” Wajahnya masih ditekuk&lt;br /&gt;” Ya kalau gitu Mang Udin mandi dulu sana,.hehehe.. ” Adel mentertawai penis Mang Udin yang sekarang benar-benar terkulai lemah tak berdaya,..&lt;br /&gt;” Gak dimandiin Non ?? ” Tanya Mang Udin masih tak tahu malu,..&lt;br /&gt;” Tar ya Mang, kalau udah bisa tegak anu-nya,.. ” Lili ikut-ikutan mentertawai Mang Udin yang akhirnya mau mengakui kalau dia Impoten,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan wajah yang Diteguk, Mang Udin keluar dari kamar-ku, dan kami bertiga pun tertawa lebar penuh dengan kepuasaan sehabis mengerjai Mang Udin,..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3725440842778217774-980547453015576858?l=arsip-cerita-dewasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/feeds/980547453015576858/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3725440842778217774&amp;postID=980547453015576858' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/980547453015576858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/980547453015576858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/2008/08/ngerjain-pembantu-kost.html' title='Ngerjain Pembantu Kost'/><author><name>love hurt</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3725440842778217774.post-6553356336221045595</id><published>2008-08-12T22:35:00.001-07:00</published><updated>2008-08-12T22:35:33.442-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto istri bugil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='istri selingkuh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita saru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='suami selingkuh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='istri telanjang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita seksual'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita istri selingkuh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita sensual'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita porno'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah dewasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='istri muda bugil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita memek'/><title type='text'>Membalas Selingkuh Suamiku</title><content type='html'>Sungguh aku amat bahagia sekali ketika Mas Dodo mengajakku pindah rumah yang baru dibelinya secara cicilan, namun amat bagus dan sesuai dengan seleraku.Apalagi dari pernikahanku yang memasuki tahun ke lima ini kami telah di beri seorang momongan anak perempuan yang cantik dan lucu sekali.Usianya baru menginjak tiga tahun.Sebelum ini kami menempati rumah kontrakan yang kami sewa secara tahunan. Namun merasa semakin besarnya dan untuk perkembangan pertumbuhan anak kami makanya Mas Dodo mengambil inisiatif untuk mengambilnya juga,meski dengan harga yang cukup mahal menurut aku.Padahal dulunya orangtuaku mengajakku untuk tinggal serumah dengan mereka.Namun karena inisiatif Mas Dodo yang ingin membentuk kelurga yang mandiri maka sebagai istri aku harus menurut kata suamiku. Kini kami sudah menempati rumah hasil jerih payah kami selama ini,yang meskipun cicilan namun bentuk dan luas bangunan rumah ini amat cukup untuk kami membesarkan anak-anak kelak.Selain memiliki halaman yang cukup dan garasi yang bisa menampung dua buah mobil kami. Dibelakang rumah juga ada pekarangan yang bisa kami gunakan untuk bersantai dan bermain sikecil.Mas Dodo amat tepat memilih lokasi yang masih cukup jauh dari hiruk pikuk kota juga telah memiliki berbagai fasilitas dan akses yang mudah ketempat kami bekerja. Sengaja hingga saat ini aku tidak mengambil pembantu atau baby sitter,karena aku ingin membesarkan anakku dengan kasih sayangku sendiri dan memberikan perhatian untuk pertumbuhan buah hati kami.Jika aku berangkat kerja,maka anakku aku titipkan kerumah ibu yang letaknya tidak jauh dari kantorku.Jadi jika istirahat kantor aku bisa melihat anakku.Ibukupun tidak keberatan jika anakku aku tinggal.Beliau amat suka dan sebagai hiburan baginya, karena adikku yang bungsu sering tidak dirumah dan sibuk kuliah.Kini setiap sore, aku selalu menjemput anakku di rumah ibu. Setiba dirumah aku pun beres-beres pekerjaan rumah juga masak seperlunya untuk sarapan kami sekeluarga.Syukurlah suamiku orangnya tidak neko-neko.Ia amat menikmati saja apa yang aku suguhkan di meja makan.Padahal aku tahu ia amat lapar jika pulang kantor malam hari.Aku selalu membuatkan masakan kesukaannya jika hari sabtu dimana kami bisa berkumpul lengkap karena libur kantor.Biasanya kami mengisinya dengan masak-masak,atau terkadang makan diluar atau berkunjung kerumah ibu.Dan biasanya ibu sudah menyiapakan makanan kesukaan kami.Selama ini aku rasakan hidupku amat bahagia memiliki seorang suami yang pengertian dan baik. Dengan rutinitas yang semakin padat juga karena kenaikan jabatan suamiku,maka akhirnya akupun minta mengundurkan diri dari pekerjaan karena buah hatiku amat membutuhkan perhatianku.Namun pimpinan tempat kerjaku malah meminta aku agar tetap bergabung dengan mereka dan aku di beri kelonggaran dengan kerja paruh waktu,aku diberi kebebasan bisa masuk kantor atau terkadang mereka memberikan aku perintah kerja dengan fasilitas online yang terhubung ke rumah aku.Mereka merasa amat membutuhkan tenagaku.Jadi kini aku seakan lega karena selain bisa terus eksis di pekerjaan aku juga bisa mengawasi perkembangan anakku. Namun kini kebahagiaan aku agak sedikit terganggu dengan adanya gangguan gangguan kecil di rumahku.Jika disaat aku akan keluar rumah dengan mobilku selalu melewati pos penjagaan yang di jaga seorang Satpam perumahan.Aku amat merasa tidak nyaman akan pandangannya yang aku rasa amat kurang ajar itu.Terkadang aku sempat memergoki pandangan matanya kea rah belahan blus kerjaku.Aku merasa risi di pandangi seperti itu.Aku juga merasa di telanjangi jika berpapasan dengannya.Sudah sering memang kejadian ini aku alami di pos rumahku ini.Pernah aku ingin bilang pada suamiku,namun aku masih menahannya agar dia tak merasa terganggu.Namun tiap kali aku lewat dan bertemu pandang dengannya dia selalu menatapku seperti menatap secara cabul.Akhirnya aku tak tahan,suatu malam aku bicarakan dengan suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pa…papa kenal dengan satpam yang item dan gendut itu pa?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Yang mana?” suamiku bertanya balik dan mengingat ingat.&lt;br /&gt;“itu tuh yang brewokan itu” kataku menerangkan&lt;br /&gt;“ooohhh…abang Saroji,ya itu namanya Abang Saroji” lalu suamiku bertanya “memangnya mama ada urusan apa dengan dia?” Lalu aku jawab, “dia koq jika melihat aku tuh seperti mau menelanku mentah mentah lo Pah?”&lt;br /&gt;Sambil tertawa suamiku bilang, “ah…dia orangnya baik koq..papa aja sering di tawari kopi,jika papa pulang malam.Mungkin dia gak tau kali,jika mama adalah istri papa” terang suamiku.&lt;br /&gt;“Tapi dia amat kurang ajar lo pah…dari pandangannya itu.” terangku lagi..&lt;br /&gt;Yah…mungkin dia jarang lihat orang cantik seperti mama ,,,,jadi dia tuh,,masih agak kaget,,jawab suamiku sambil membelai rambutku…Ah…papa..jawabku….agak manyun..&lt;br /&gt;Aku takut pah…jawabku lagi…ya,,,mungkin aja mama dia lihat agak lain dengan yang lain,,misalnya mama jarang senyum atau nyapa dia…jadi ya dia kayak itu…terang suamiku lagi.Aku diam mendengar keterangan suamiku.Memang ada benarnya juga kata kata suamiku itu.Selama ini aku jarang bertegur sapa dengan satpam itu.Apalagi mau senyum,,memang sih aku akui itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di blok rumahku memang baru ada dua rumah yang terisi, namun jarak rumahku dan rumah yang satu lagi agak jauh. Apalagi penghuninya jarang keluar rumah dan tampaknya rumah itu jarang di tempati pemiliknya yang seorang karyawan swasta di Jakarta,.mungkin rumah itu di ambilnya hanya untuk investasi saja. Aku jarang melihat penghuninya.Dan masih menurut suamiku,kita yang tinggal di tempat baru ini harus bisa agak sedikit ramah kepada masyarakat sekeliling sebab pemukiman ini baru saja selesai dan dibalik tembok pembatas perumahan ini ada perumahan penduduk setempat. Suamikupun berkata bahwa tenaga tenaga pembantu di blok blok lain kebanyakan dari penduduk di balik tembok itu termasuk satpamnya.Akupun akhirnya berusaha merubah sikapku selama ini kepada satpam itu. Suamiku juga pernah dapat informasi dari pihak pengembang,bahwa bang Saroji itu adalah jawara di kampung itu.Dan karena alasan keamanan makanya pihak pengembang merekrutnya jadi tenaga keamanan di kompleks ini. Jadi tidak heran jika diantara sekian banyak tenaga satpam di kompleks itu adalah anak buah bang Saroji….jelas suamiku.Makanya suamikupun berusaha berbaik baik dengannya sebab tidak ingin nantinya diganggu oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya, akupun kembali sibuk seperti biasanya keluar dan masuk kompleks jika ada keperluan. Kini aku sudah berusaha untuk menyapa dan berbaik baik dengan satpam itu. Memang dia juga sudah mulai tidak menakutkan aku lagi jika bertemu di pos. Namun yang aku masih risi adalah pandangan matanya yang seolah menembus busanaku ini yang membuatku kurang nyaman.padahal aku sudah berpakaian dengan benar dan menurut norma ketimuran.Akupun semakin merasa tak nyaman jika dia yang menjaga di pos itu. Kini aku semakin tersiksa karena,suamiku semakin sering dinas keluar kota karena jabatannya bertambah tinggi.Terkadang mas Dodo keluar kota untuk seminggu atau paling cepat tiga hari. Saat aku dirumah berdua dengan anakku seakan ada yang mengintai. Kadang jika tengah malam terdengar krasak-kusuk di pagar rumahku atau lemparan kerikil di atapnya.Aku sering melihat keluar rumah, namun aneh tak ada seorang yang terlihat.Apalagi aku takutnya karena rumah disebelahku masih banyak yang kosong.Ingin rasanya malam itu aku menelpon mas Dodo atau minta pertolongan polisi, namun tidak kulakukan karena takutnya nanti malah ditertawakan karena belum ada bukti bahwa aku mendapat terror. Maka, semua itu aku pendam saja di dada, aku hanya berasumsi positif saja,mungkin itu adalah bunyi musang atau tikus yang berjalan mencari makanan di malam hari. Akhirnya malam itu aku tetidur karena pikiranku mulai capai, untunglah anakku tidak terganggu oleh bunyi bunyian itu. Ia terlihat amat lelap tidurnya di kamar sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi pagi aku bangun dengan perasaan masih ngantuk yang amat sangat karena malam aku tertidur amat larut .Pagi itu suamiku nelpon mengabarkan bahwa ia mungkin pulang agak bergeser harinya,sebab banyak urusan yang belum kelar pada waktunya.Aku mengiyakan saja permintaan suamiku itu,tidak lupa ia juga menanyakan keadaan anak kami.Akupun kembali larut dengan rutinitasku seperti biasanya.Aku kembali mengantar anakku sebelum masuk kantor.Syukurlah di kantor pekerjaan ku tidak terlalu banyak.Aku hanya bertugas memeriksa hasil kerja staffku lalu aku bisa sedikit santai.Sore seperti biasaya aku pulang dan menjemput anakku kerumah ibu.Aku sempat istirahat sebentar di rumah ibu dan berbincang dengan beliau. Tak lama kemudian aku pun pulang kerumahku melalui jalan yang sore itu agak sedikit macet. Syukurlah sampai dirumah tidak terlalu malam ya kira-kira jam 19.00 wib.Aku pun membersihan tubuh anakku dan tubuhku yang terasa penat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian suamiku pulang dan membawa sedikit oleh-oleh untuk kami.Aku sangat bahagia karena kini kami berkumpul kembali seperti biasanya. Karena oleh2 yang dibawa suamiku tidak sanggup kami habiskan sendiri, ia menyarankan agar makanan itu di berikan saja pada Bang Roji. Aku sich setuju saja sebab tidak mungkin bagi kami akan menghabiskan makanan itu. Namun suamiku minta aku yang mengantarkannya ke Bang Roji yang sedang berjaga di posnya. Yah…hitung-hitung basa basi pikirku. Akupun keluar rumah dengan mengendarai sebuah sepeda santai menuju ke posnya. Syukurlah malam itu, ia yang sedang jaga.Dengan sapaan lembut aku sapa dia.&lt;br /&gt;“Bang Roji”lagi jaga ya..bang? tanyaku&lt;br /&gt;“Ooh,,,ibu Risa,,ada yang perlu saya bantu?” jawabnya basa basi.&lt;br /&gt;“Eehh…nggak koq Bang…ini…tadi Mas Dodo dari luar kota dan ia titip oleh-oleh ini” aku menyodorkan bungkusan itu padanya.&lt;br /&gt;“Aduh…koq ngerepotin toh bu” katanya.&lt;br /&gt;“Ah….nggak koq bang, ada lebih aja”jawabku.&lt;br /&gt;Ia pun menerima bungkusan yang kubawa itu walau dengan sedikit rasa sungkan. Aku lalu minta diri untuk pulang. Menjelang pulang ia tak henti hentinya berterima kasih padaku dan juga titip salam buat Mas Dodo.Dalam hati aku tersentuh juga,rupanya dia juga baik tak seperti dugaanku selama ini. Dia sempat menawariku kopi di posnya sebagai basa basinya padaku. Namun dengan alasan bahwa suamiku menunggu dirumah aku pun menolaknya dengan halus dan pamit pulang. Aku lega sekali malam itu. Ternyata dia sungguh baik.,tidak terlihat sedikitpun kebenciannya padaku juga mata nakalnya yang sering melahap tubuhku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku pun bilang pada suami tentang salam yang dititipi Bang Roji padaku.Suamikupun lalu bilang, berarti aku salah sangka selama ini, mungkin saja tindakanku yang kurang berkenan pada dia selama ini.&lt;br /&gt;“Nah..kan apa kata Papa” kata suamiku, “semua itu tergantung kitanya Ma. Dia baik koq kalau menurut Papa”.&lt;br /&gt;Habis berkata aku melihat suamiku senyum-senyum sambil menjiti bibirnya sendiri. Nah aku tahu, jika sudah begitu,dia pasti ada maunya. Aku lihat anakku sudah tidur dikamarnya. Dengan sedikit kode mesra dari suamiku, aku pun masuk kamar dan merebahkan tubuh di ranjang peraduan kami. Ia lalu ikut masuk dan menutup pintu kamar.Tidak lama memang kami sudah dalam keadaan sama sama polos.Malam itu kami ingin menuntaskan kerinduan yang mulai jarang kami dapatkan,karena kesibukan aku juga mas Dodo. Beda sekali jika dibanding saat saat tahun pertama kami menikah dulu. Kinipun paling sering kami melakukannya seminggu sekali.Itupun jika tidak terlalu capai.Terkadang aku yang siap untuk berhubungan namun suamiku tak siap.Terkadang dia sudah siap namun aku yang lagi capai atau datang bulan.Dan malam ini kami ingin melakukannya lagi.Dengan cara bertahap dia belai dan ciumi setiap inci kulit tubuhku yang putih ini,tanpa terlewat seincipun.Dahagaku malam ini ingin aku tuntaskan bersama mas Dodo suamiku.Kini kami sudah siap siap untuk melakukan penetrasi.Baru saja suamiku akan memasuki aku,tiba tiba kami dikejutkan oleh bunyi kresek-kresek di jendela kamar kami.Langsung saja kami menghentikan aktifitas itu.Bergegas aku menutupi ketelanjanganku dengan selimut, suamiku bergegas membenahi celana dalamnya juga mengenakan baju. Ia bergegas melihat kearah jendela dan membuka jendela ingin melihat apa yang terjadi diluaran.Aku juga berusaha mengenakan kembali kimono tidurku.Dan menuju jendela tempat suamiku berada.Namun kami tidak melihat adanya aktifitas diluar itu. Semua sunyi senyap, padahal tadi kami tahu ada orang yang sedang mengintip kami. Juga di bawah jendela,ada jejak rumput yang terinjak. Dengan sedikit emosi,suamiku lalu keluar rumah dan akan melaporkan ke pos jaga satpam.Dia lalu keluar rumah di malam yang gelap itu menuju pos satpam. Aku di suruh tinggal dirumah saja agar bisa menjaga anak kami.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian suamiku pulang dan bilang,ia sudah lapor pada satpam dan dijanjikan akan selalu melakukan patroli. Maklum malam itu yang jaga hanya bang Roji kata suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kejadian itu,aku semakin yakin bahwa pengintip itu memang ada.Mungkin selama ini kami selalu diintip jika akan berhubungan suami istri.Apalagi jejak rumput yang ada di pekarangan rumah kami menandakan ada seseorang yang memang iseng.Pikiran aku langsung saja tertuju pada bang Roji pelakunya.Sebab mana mungkin bisa malam itu,orang lain masuk blok rumah kami sedangkan sekeliling ditembok,namun saat di laporkan suamiku bang Roji beralasan bahwa mungkin saja ada orang dari kampung di balik tembok itu.Lagian ia berjanji akan mencari orang yang menganggu itu.Berbagai pertanyaan kembali berada di kepalaku tentang keterlibatan bang Roji malam malam selama ini.Apalagi di blok aku tinggal hanya kami yang selalu ada di rumah.Beberapa lama kemudian memang tak ada gangguan lagi meski saat suamiku berada di rumah terkadang keluar kota.Aku kini sudah merasa aman dan tak ada lagi yang aku kuatirkan.Begitu juga,dengan Satpam yang bernama Saroji itu,ia terlihat sudah mulai akrab dengan aku dan keluargaku, dia sering menyapa dengan ramah. Melihat aku yang agak kerepotan mengasuh anakku dan mengantar ke rumah ibu,suamiku menyarankan untuk mencari baby sitter. Pernah suamiku ngobrol dengan bang Saroji saat berhenti di pos jaganya. Dalam omong-omong itu, bang Roji menganjurkan agar anak kami di asuh istrinya saja jika kami pergi kerja.Saat itu aku kurang respek terhadap anjuran suamiku,sebab aku masih belum bias menerima orang seperti keluarga bang Saroji itu.Namun lama kelamaan aku semakin kerepotan juga.Lalu aku minta agar istri bang Roji yang bernama mpok Esih agar mau menjaga anakku di rumahku.Apalagi dia juga bisa bantu aku nyuci pakaian kami.Dan kini mpok Esih sudah bekerja di rumahku meski hanya setengah hari.Terkadang anakku di bawanya ke rumahnya di balik tembok kompleks ini. Kini aku sudah merasa agak tenang dan tak kerepotan lagi.Apalagi suamiku sering berada di luar kota.Bagiku mengenai gaji mpok Esih tidaklah masalah,yang penting aku merasa nyaman meninggalkan anakku padanya.Begitu juga Mpok Esih tidaklah terlalu cerewet orangnya.Ia cenderung amat penurut.Dia tampaknya amat takut dan patuh pada suaminya Bang Roji.Dan selama ini aku lihat dia amat senang kerja setengah hari di rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari disaat aku libur kerja,aku sempat nanya nanya padanya.Rupanya dia adalah istri tua bang Roji.Aku heran juga,kenapa orang seperti bang Roji bisa punya istri dua.Apakah tidak repot menafkahi kedua istrinya.Lalu Mpok Esih,bilang bahwa ia memang amat kesulitan dalam keuangan,dimana anaknya yang dua orang itu harus sekolah, dan gaji suaminya yang harus di bagi dua kepada istrinya itu. Akupun bertanya kenapa dia mau di madu.Dengan sedikit sedih dijawabnya bahwa sudah gak mungkin karena anak anaknya butuh bapak,apa jadinya nanti anak anaknya jika tak memiliki bapak yang akan menafkahinya.Apalagi Mpok Esih tidak memiliki keahlian yang bisa di andalkan untuk mencari nafkah.Lalu beliau becerita tentang asal mulanya dia terpikat pada Bang Roji yang dulunya adalah seorang preman kampung lalu menuntut ilmu dan jadi jawara.Padahal dulunya Esih sudah dilamar oleh anak juragan sapi asal kampung tetangga.Dan saat itu,dia malah terpikat oleh sosok Saroji yang jawara kampung itu.Dan jika di lihat dari sosok wajah dan perangainya ia tak ada apa apanya di banding anak juragan sapi itu.Apalagi anak juragan sapi itu sekarang sudah jadi orang yang kaya di kampungnya.Dengan sedikit sedih mpok Esih berbincang panjang lebar tentang latar belakang suaminya yang kelam itu.Begitu juga dengan istrinya yang sekarang.Bang Roji mendapatkan istri mudanya,disaat istri mudanya itu dulu kuliah kerja nyata di kampungnya.Istri muda bang Roji memang masih muda dan menurut mpok Esih masih seusiaku,.namanya Indri, dulunya dia kuliah di sebuah universitas swasta,dan melakukan kuliah kerja nyata di kampung itu.Nah bang Roji amat kepincut dengan gadis kota yang cantik itu.Entah bagaimana caranya kata Mpok Esih,Indri malah mau saja di kawini Bang Roji yang terpaut usia 20 tahun darinya itu.Kini bang Roji sudah berumur 49 tahun kata mpok Esih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut Mpok Esih dulunya sempat ribut ribut dengan orang tua Indri yang tidak setuju atas perkawinan Bang Roji dan anaknya itu.Namun karena saat itu Indri sudah keburu mengandung akhirnya mereka tidak dapat berbuat apa apa.Dan kini dari Istri keduanya bang Roji mendapatkan seorang anak yang berusia 10 tahun.Makanya sekarang bang Roji agak kerepotan memenuhi kebutuhan hidup kedua istri dan tiga orang anaknya itu.Kalau dulu dia cukup banyak uang,karena dari parkir dan kutipan pedagang kaki lima di pasar dia mendapatkan uang jago.Namun sekarang sudah tak bisa lagi karena sudah diambil alih pemerintah.Aku cukup terenyuh mendengarkan keterangan mpok Esih itu.Aku pun kini selalu memberinya uang agak berlebih agar dia bisa kubantu semampuku.Sebab aku merasa dia amat bisa di andalkan untuk membantu aku. Kini kehidupan akupun berlanjut seperti biasa,namun kini gangguan dimalam malam kembali mulai.Aku merasa ada sepasang mata yang sedang mengintipku saat tidur di kamarku. Namun aku tidak terlalu takut sebab,aku tahu itu hanyalah orang iseng dan tak bermoral. Selain itu atap rumahku sering di lempar kerikil.Aku pun tetap mengacuhkannya.Aku juga tidak melaporkannya pada suamiku.Dan kini aku kembali merasakan bahwa yang menganggu aku itu adalah orang yang sama yaitu Satpam Saroji.Aku heran kenapa dia masih saja melakukan hal yang demikian padahal aku sudah berbaik baik pada istrinya.Aku tidak mau terlalu memikirkannya,tidak adil rasanya jika aku ikut melibatkan istrinya yang sudah amat susah karena perbuatan Bang Saroji.Aku yakin saja itu perbuatan Satpam Saroji,sebab dibalik sikap baiknya itu tersimpan maksud yang aku tidak tahu.Aku merasakan juga dia sering mencuri curi pandang padaku di saat dia membuka portal gerbang blok rumahku.Dan sampai sekarang aku tidak punya bukti tentang perbuatannya itu.Aku hanya merasa dari bisikan naluri kewanitaanku saja,bahwa orang ini tidak baik itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku pun bersama suami pun kembali seperti biasanya.Suamiku pun pulang dari luar pulau dan kamipun melakukan refresing. Kamipun pulang ke rumah malamnya dan malam itu kami melakukan hak dan kewajiban sebagai suami istri lagi. Disaat kami berhubungan itu, aku merasakan ada yang mengintai kami, namun untunglah suamiku telah mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur yang cahayanya cukup temaram. Jadi orang diluar jika bisa ngintip ya tidak bisa menikmati seperti yang kami rasakan. Masih dalam keadaan bersenggama, suamiku membisikku,ma…ada yang ngintip, katanya.Rupanya bukan aku saja yang merasakan suamikupun tahu.&lt;br /&gt;“Pasti orang itu akan pusing deh” kata suamiku sambil memaju mundurkan kemaluannya di liangku.&lt;br /&gt;Kamipun lalau tersenyum berbarengan dengan datangnya orgasme kami yang bersamaan. Setelah berhubungan malam itu, kami menutupi tubuh telanjang kami dengan selimut dan tidur hingga paginya. Selama suamiku berada di sisiku aku, kami mulai mengacuhkan tindakan iseng orang yang melakukan pengintipan itu. Bahkan kini malah aku sepertinya sudah bisa melupakan semua itu meski dihati kecilku masih merasa kurang nyaman. Aku semakin yakin orang itu adalah bang Roji sebab dari caranya memandang aku aja sudah dapat kuterka, apalagi sering melirik bagian bagian sensitif di tubuhku jika ketemu. Didepan aku aja dia bersikap ramah dan sopan, dia seperti musang yang berbulu domba yang siap untuk memangsa jika lengah. Lagian kini aku punya teman bicara jika di rumah yaitu istri tuanya bang Saroji dan bisa mengorek keterangan tentang latar belakangnya secara detail. Memang pernah istrinya bilang bahwa bang Saroji itu memiliki suatu nafsu yang besar dan dia juga pernah melakukan hubungan seks dengan wanita lain selain istri-istrinya namun mpok Esih tak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya. Ia tidak berdaya jika bang Roji selalu mengancamnya untuk menceraikannya jika terlalu ikut campur. Aku yang mendengar penuturan mpok Esih itu semakin trenyuh melihat penderitaan dan tekanan bathin menjadi istri bang Roji yang tidak punya malu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku menjalani kehidupan secara normal dan amat bahagia bersama suami dan putri semata wayangku yang kini berusia tiga tahun ini.Memang aku rasakan kini kami sudah tidak lagi rutin melakukan kebersamaan di tempat tidur bersama suamiku.Aku maklum saja karena Mas Dodo sering keluar kota dan aku disibukan dengan berbagai tetek bengek pekerjaan kantor, juga rumah tangga yang membuatku seakan lupa akan hak dan kewajibanku. Kini kami hanya melakukan hubungan badan hanya dua kali sebulan kadang sekali saja. Memang kuakui terkadang dimalam malam tertentu aku amat membutuhkan belaian dan sentuhan seorang suami kepadaku. Namun aku memendamnya sebab suamiku bekerja keras dan membanting tulang untuk kami juga nantinya. Makanya aku sampai saat ini masih tetap menjalani malam-malam yang sepi tanpa suamiku.Hingga pada saat suamiku pulang,kami pun melakukan hubungan badan untuk melepas rindu kami berdua.Malam itu kami melakukannya beberapa kali hingga aku pun merasakan kepuasan yang amat membuatku lelah dan capai. Begitupun dengan suamiku, dia langsung tertidur dengan nyenyak sekali hingga ia tak menyadari adanya sebuah sms ke handponenya. Aku yang saat itu belum tertidur dan masih meresapi kenikmatan yang baru aku alami bersama suamiku meraih HP-nya. Aku tak sampai hati membangunkan suamiku. Iseng saja aku buka sms itu, dan….aku amat terperanjat dengan kata kata dalam pesan singkat itu.pesan itu dari seorang wanita yang dari kata katanya amat membuat bulu kudukku berdiri. Kalimat dalam sms itu mengatakan bahwa,dia wanita itu amat menikmati hubungan terlarang bersama suamiku selama ini,dan ingin mengulanginya lagi jika suamiku ke kotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaikan petir disiang hari yang menghantam kepalaku, aku kaget sekali membacanya. Tidak aku duga sama sekali jika selama ini suamiku telah menyeleweng dariku.Ia memiliki wanita lain di kota lain. Pantas saja selama ini ia tidak begitu acuh terhadapku dan seakan tidak membutuhkan diri aku dalam hubungan biologis.Aku memandang tubuh suamiku itu yang masih tertidur dengan nyenyaknya. Aku amat bersedih hati, disaat malam-malam aku menahan gejolak sebagai seorang wanita dan merindukan belaian suami, namun di tempat lain suamiku malah main gila dengan wanita lain, rasa marah bersiliweran di dadaku malam itu. Namun sebagai wanita dewasa dan berpendidikan, aku tidak akan melakukan hal yang bikin ribut dan pertengkaran. Paginya disaat sarapan, kulihat suamiku terlihat amat gembira seakan tak terjadi suatu apapun jua. Baru setelah sarapan pagi itu,aku minta waktu suamiku untuk membicarakan sms yang aku baca tadi malam. Pagi itu dengan menumpang mobil suamiku, aku pun menuju tempat yang kami anggap sebagai tempat yang bagus untuk membicarakannya. Tempat yang kami pilih merupakan sebuah taman kota yang aku rasa cukup privasi bagi kami berdua, sebelumnya aku telah menitipkan anakku ke mpok Esih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekakuan yang aku perlihatkan saat itu,membuat suamiku menjadi bingung.Ia menduga-duga apa yang akan aku bicarakan bersamanya saat itu.Apalagi,aku memilih tempat di taman kota ini untuk bicara empat mata padahal kata suamiku di rumah saja kan bisa. Aku lalu dengan perlahan bilang tentang sms tadi malam. Suamiku sempat bingung dan dengan kaget ia mencari Hpnya dan membuka sms di hpnya. Ia kaget sekali melihat ada sms dari wanita itu. Dengan muka merah dan menahan rasa malu yang amat sangat ia minta maaf dan mengakui bahwa ia telah melakukan kekhilafan di luar kota. Dengan memohon mohon ia minta agar aku mau memaafkannya. Ia pun berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku tentu saja tidak begitu saja percaya akan keterangannya itu. Aku hanya memikirkan nasip putri kami satu satunya. Apalagi dia akan kehilangan keutuhan keluarganya. Hatiku amat hancur mendengar pengakuan suamiku itu.Dengan berbagai alasan dia bilang bahwa ia juga merasa dijebak oleh rekan bisnisnya di daerah. Dengan memberinya sedikit ultimatum agar menjauhi perbuatannya itu, akhirnya dengan hati yang tidak karuan aku kembali menerima suamiku. Namun aku tidak sepenuhnya percaya padanya, ibarat gelas yang retak amat sulit rasanya untuk menerimanya kembali utuh.Perlu waktu untuk mengembalikan proses kembali sedia kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku kembali kepada kehidupanku. Aku tetap melayani suamiku seperti biasanya, namun jika sudah membayangkan saat dia bersetubuh denganku bayangan akan perbuatannya dengan wanita lain itu kembali muncul hingga membuatku hilang gairah dan padam. Kini aku hanya melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri kepada suami, ibarat kata hanya tubuhku saja yang dinikmatinya, bukan lagi hatiku. Aku seakan mati rasa, bayangan perselingkuhan suamiku membayangiku meski aku tidak melihatnya secara langsung. Keadaan rumah tanggaku semakin kacau semenjak kejadian suamiku itu. Suamiku pun tetap beraktifitas dan sering keluar kota Namun kini keadaan semakin gak karuan.Tampaknya wanita itu memang tidak memiliki rasa ,sebab pernah aku telpon dan bilang padanya bahwa suamiku telah memiliki keluarga juga anak.Tampak dia tidak peduli dengan keadaan kami.Aku tidak kuasa mengambil keputusan,dengan berbagai pertimbangan dan mengingat masa depan anakku kelak.Kini akupun sudah tak peduli lagi dengan suamiku.Yang jadi prioritas bagiku adalah bagaimana membesarkan anakku ini kelak, jika kemungkinan terburuk yaitu perceraian terjadi.Aku hanya saja sedih karena awalnya keluargaku amat bahagia dan saling sayang. Berbagai bayangan buruk berkecamuk di pikiranku.Apa nanti kata keluarga besarku jika aku bercerai dengan suamiku ini.Tentunya aku yang akan mereka salahkan karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jujur saja bagiku tidaklah sulit mencari pengganti mas Dodo, apalagi aku juga punya pekerjaan juga usia yang masih muda dan masih cukup mampu menarik hati lawan jenis. Berpikir demikian aku tak sampai hati jika nantinya anakku akan memiliki ayah tiri. Aku semakin sedih memikirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku masih tetap seperti biasanya pulang dan tidur dirumahku. Kini keadaan seperti api dalam sekam dan tak mudah di padamkan. Sampai saat ini aku masih melaksanakan kewajibanku sebagi istri kepada suamiku. Malam itu suamiku mencumbuiku,namun aku amat susah untuk mengikuti alunan gairah yang ia pancarkan. Tidak seperti dulunya aku merasakan kenikmatan di saat berduaan dengannya.Namun aku paksakan diriku menerima perlakuannya ini.Hingga aku mendengar kehebohan yang cukup membuat kami menghentikan aktifitas ranjang ini. Suara kehebohan itu berada dihalaman rumahku. Dengan mengenakan pakaian tidur kembali,aku dan suamiku buru buru keluar rumah. Di halaman sudah ada dua orang satpam yang menangkap basah seorang pemuda di dalam halaman rumahku. Rupanya malam itu rumahku akan disatroni maling,namun berhasil digagalkan satpam. Dan satpam yang menangkap basah maling itu kebetulan bang Roji. Dengan wajah babak belur si Maling itu digebukin hingga bonyok. Suamiku lalu mengikuti satpam yang membawa maling itu ke pos jaga. Rupanya maling itu adalah pemuda dari kampung sebelah dan selama ini penghuni kompleks sering kemalingan karena ulahnya. Malam itu juga malingnya di serahkan ke polisi. Aku sedikit lega, berarti yang mengintip dan melakukan terror di rumahku adalah maling itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun kini semakin akrab dengan Mpok Esih jika sebelum berangkat dia sudah ada di rumahku. Jika aku libur ke kantor kami sering ngobrol-ngobrol mengenai rumah tangga. Aku harus belajar banyak dari dia karena bagimanapun dia lebih tua dan lebih pengalaman dari aku. Begitu juga,kini aku tidak berprasangka lagi pada suami mpok Esih yaitu bang Roji. Bang Roji pun kini sering membantuku mengangkatin barang dari mobilku jika aku pulang dari mal membawa belanja keperluan sehari hari. Aku pun sering memberinya sekedar uang rokok kadang juga aku titipin ke mpok Esih karena bang Roji sering menolak pemberianku. Suatu hari Mpok Esih,bicara padaku bahwa,ia ingin meminjam uang untuk Dp membeli sepeda motor. Mpok Esih berjanji akan mengembalikannya dengan angsuran gajinya. Dengan niat untuk membantunya aku pinjami dia uang. Rupanya dia membeli motor dengan cara kredit karena setelah dinas bang Saroji bisa mengojek katanya. Masih menurut Mpok Esih suaminya agak malu jika langsung bicara padaku atau suamiku sebab keluargaku telah banyak membantunya. Karena hubungan baikku dan keluarga Mpok Esih terjalin aku agak bisa melupakan kemelut keluargaku. Aku kini sudah bisa menganggap mereka adalah saudaraku karena tidak jarang aku minta bantuan kepada mereka jika aku ada masalah yang tak bisa kuselesaikan, misalnya ada kabel yang putus atau kadang aliran pompa yang rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu malam saat suamiku sedang keluar kota, hujan turun dengan derasnya dan mobilku sempat menerobos genangan air itu. Beberapa saat menuju jalan kerumahku, mendadak mobilku mogok. Aku kelabakan dan bingung mau menghubungi siapa malam itu apalagi malam itu disekitar jalan itu hanya ada satu dua mobil yang lewat. Tiba tiba aku dapat ide dan aku lalu menelpon ke rumah karena ada mpok Esih. Untunglah dia masih di rumahku baru menidurkan anakku. Aku minta bantuannya agar memanggil suaminya untuk menjemputku tidak jauh dari kawasan perumahan ini.Mpok Esih menyanggupinya. Beberapa menit kemudian Bang Roji datang dengan sepeda motornya dengan mengenakan mantel hujan. Aku yang masih berdiam dalam mobil bilang,mobilku mogok kena air dan mungkin mesinnya terganggu. Lalu bang Roji berusaha membantuku dengan mendorong mobilku. Naas mobilku tak mau hidup padahal sudah didorongnya agak jauh. Lalu bang Roji bilang padaku agar mobilku di tumpangi saja dulu di warung dekat situ. Sedang aku diantar sampai rumah malam itu karena hujan amat deras. Malam itu terpaksa menumpang di bonceng bang Saroji dengan sepeda motornya hujan hujanan dan memakai mantel hujan yang agak besar hingga tubuhku bisa terhindar dari siraman air hujan.Mau tak mau aku duduk terpaksa seperti laki laki sebab mana mungkin bisa duduk nyamping pake mantel seperti itu.Aku tak mempedulikannya lagi yang penting malam itu aku harus sampai rumah,walaupun saat itu aku duduknya merapat ke punggung bang Roji.Aku yakin dia tak terlalu merasakan pergeseran antara dadaku dan punggungnya apalagi yang aku tahu ia serius memperhatikan jalanan yang masih tergenang air.Beberapa saat kemudian aku sampai di rumah dan dengan berlari aku masuk rumah.Busanaku saat itu basah sekali,aku langsung ke kamar mandi sementara mpok Esih yang masih berada di rumahku menemui suaminya dan memberikan handuk kecil untuk mengelap tubuh suaminya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu hubungan keluarga kami semakin erat, tidak jarang aku mengajak Mpok Esih dan bang Roji untuk jalan jalan ke luar kota, mereka juga membawa seorang anaknya yang sering bermain dengan anakku. Saat itu aku membawanya ke pantai Anyer yang cukup indah. Setiba di pantai itu,aku menyewa dua buah bungalow untik kami.Keluarga bang Roji dan aku bersama anakku.mereka amat senang sekali aku ajak,bagi mereka entah kapan bisa bertamasya ke pantai.Di bibir pantai itu aku perhatikan mereka amat bahagia sekali berlarian bertiga dengan anaknya. Namun anakku minta ikut juga dengan mereka.Dan dengan senang hati,anakku berlarian di pinggir pantai dengan mereka.Dari jauh aku perhatikan kegembiraan itu,dan jauh di lubuk hatiku ada rasa sedih ,sebab disaat saat libur ini seharusnya anakku mendapat perhatian dari ayah kandungnya. Namun kini ayahnya sibuk dan di hari libur itu tak ada memberi kabar. Aku tahu dia kembali jatuh kepelukan wanita itu. Hati kecilku berkata demikian. Syukurlah kini aku tak lagi mempedulikan suamiku itu, yang ada dalam hatiku adalah gimana membuat buah hatiku bahagia. Hingga hari kedua pun kami akhirnya pulang dengan terpancarnya rona bahagia di wajah keluarga Bang Roji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari demi hari berlalu, sebagai seorang wanita dewasa tak bisa ku pungkiri aku membutuhkan seorang laki laki di kehidupanku apalagi dimalam malam saat masa suburku ini. Aku seakan melupakan segala kesalahan suamiku. Aku ingin mereguk kenikmatan ragawi bersamanya. Disaat suamiku berada di rumah, aku sudah mempersiapkan diri untuk melaksanakan kewajibanku itu, namun heran kini malah saat bersama suami tiba-tiba saja gairahku yang sudah naik jadi hambar dan hilang. Aku berusaha untuk membangunkan kembali keinginanku itu namun tetap hilang tanpa bekas. Kini yang ada di dalam diriku adalah rasa benci yang amat sangat kepada suamiku dan tanpa aku duga juga, suamiku pun mulai berkata kasar padaku. Aku terperanjat dan amat kecewa, selama kami menikah belum pernah rasanya suamiku berkata kasar seperti itu. Kejadian ini semakin sering terjadi didalam kehidupan kamar kami. Kamipun lalu larut dengan kesibukan masing-masing dan seolah hidup dalam bara yang siap meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku amat kasihan pada buah hatiku,sebab kini ia seakan kehilangan sosok seorang ayah.Padahal dalam usianya saat ini,ia amat membutuhkannya.Tak heran kadang ia ingin ikut kerumah Mpok Esih untuk tidur di rumah mpok Esih.Apalagi di sana ada anak Mpok Esih yang sering mengajakknya main. Juga ia semakin akrab dengan Bang Roji. Ia terlihat dekat sekali dengan Bang Roji yang ia sebut dengan Pak De.Begitu juga Bang Roji juga senang dengan putriku itu. Sering Putriku di bawa jalan jalan dulu saat ia menjemput Mpok Esih. Kadang ia menangis jika Mpok Esih dan Bang Roji akan pulang. Maka terpaksalah mpok Esih merayunya dulu hingga tidur lalu baru pulang. Begitu juga putriku sering minta bang Roji untuk ,dating kerumah disiang hari.Ia amat terhibur dengan cara Bang Roji menghiburnya.Aku juga mengkhawatirkan itu.Sebab sosok ayah pada dirinya akan hilang.Aku tak ingin putriku kehilangan sosok ayahnya,bagaimanapun masalah sedang membelit kami.Hingga terjadilah peristiwa yang membuatku semakin kacau dan bingung. Putriku dengan kemanjaannya selalu minta di tidurkan oleh Pak De Roji. Aku tak bisa melarangnya sebab jika tak dituruti maka dia akan terus menangis malam harinya. Pernah aku tak mengabulkan permintaanya itu akibatnya aku yang malah kerepotan. Akhirnya aku membiarkan Bang Roji yang menidurkan putriku dikamarnya. Sedang Mpok Esih sudah pulang duluan sebab tugasnya hari itu sudah habis. Tidak jarang aku memanggilkan Bang Roji ke Pos jaganya untuk menidurkan putriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putriku juga sudah tak lagi terpengaruh jika ayahnya ada di rumah. Tampaknya ayahnya juga tak lagi memperhatikannya. Kini ia merasa lebih diperhatikan Bang Roji yang biasa di panggil Pak De Roji. Dan permintaan putriku itu sering membuatku pusing.Disaat suamiku ke luar kota, putriku minta bang Roji untuk bobo di kamarnya.Permintaannya membuatku heran. Dengan berbagai alasan aku bilang saja Pak De sedang kerja dan tak bisa menemaninya, tapi dia tetap tak percaya.dan malah malam hari itu aku terpaksa membawanya ke pos jaga sekedar membuktikan perkataanku. Barulah ia mau pulang setelah di bujuk Bang Roji. Kini Bang Roji jika tak bertugas maka ia pasti tidur di rumahku. Demi anakku permintaannyaitu aku penuhi saja. Untunglah istri Bang Roji mau mengerti akan tugas suaminya itu. Aku merasakan merasa asing jika di malam malam itu ada orang lain yang tidur dirumahku. Apapun alasannya itu adalah salah apalagi suamiku tak berada di rumah. Setiap malam hari aku selalu mengunci pintu kamarku, namun aku tetap kuatir akan terjadinya sesuatu di luar nalarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keakraban putriku dengan Bang Roji semakin mengkhawatirkanku. Putriku malah minta agar aku juga ikut menidurkannya di kamarnya dengan mengikut sertakan pak De Rojinya. Aku tentu terkaget kaget atas permintaannya.Dengan berbagai alasan aku bilang bahwa itu gak mungkin apalagi tempat tidurnya sempit, aku memberi alasan apa jadinya jika ayahnya tahu aku tidur di ranjang anakku bersama bang Roji. Putriku tetap dengan permintaanya.bagiku ini adalah dilemma, apa jadinya jika aku tidur seranjang dengan anak dan orang lain yang bukan apa apaku. Aku tahu,lama lama aku bisa saja terjebak kedalam jurang nista. Lalu aku bicara pada bang Roji,bahwa jika putriku sudah tidur ia akan keluar kamar atau keluar rumah,sebab aku tak enak dan tak wajar dilihat orang lain. Apalagi jika suamiku tahu kejadian ini. Bang Rojipun menyetujuinya.Setelah anakku tertidur ia pun lantas keluar kamar. Kadang ia langsung ke rumah istrinya,ya aku maklumi ia akan menggilir istri-istrinya.Terkadang aku yang keluar kamar jika anakku di tidurkan bang Roji dan setelah bang Roji keluar kamar barulah aku masuk. Namun lama kelamaan kejadian ini semakin biasa terjadi, tak jarang bang Roji langsung tidur di rumahku dan subuhnya baru ia pulang. Namun malam itu,aku amat lelah sekali,hingga aku tak sadar bahwa bang Roji juga tidur di kamar anakku dan dengan berdempet-dempet karena sempitnya. Tubuh kami hanya di batasi oleh tubuh putriku. Namun karena kelalaianku juga aku tak sadar kadang tanganku bersentuhan dengan tangannya di saat anakku posisinya mulai tak beraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu,aku tak sadar bahwa aku telah tidur seranjang dengan orang lain.Aku tak sadar entah kapan putriku pindah tidur arah bawah kasur yang cukup sempit itu.Kini di atas ranjang hanya aku dan bang Roji juga putriku dibagian kakiku.Aku seakan tak menyadari bahwa kaki bang Roji sudah menempel di betisku dan menggesek gesekan jari kakinya. Aku merasa geli yang amat sangat dan malah menyambutnya, namun aku terbangun dan langsung duduk. Aku lalu memandang bang Roji,sepertinya ia pura pura tidur. Tak lama kemudian ia bangun dan duduk di pinggiran ranjang. Dengan kaget aku baru mengetahui bahwa anakku sudah berada di lantai.Aku lalu membangunkannya dan mengendongnya ke atas ranjang. Dengan sedikit mimik ketus aku minta bang Roji keluar kamar.Ia lalu keluar kamar.Aku lalu mengunci pintu kamar dari dalam. Mataku tak mau tidur memikirkan kejadian tadi.Untunglah tadi aku terbangun jika tidak entah apa yang akan terjadi malam itu.Semalaman aku memikirkan kejadian tadi kemudian rasa takut mendera aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini hampir tiap dua malam sekali Bang Roji selalu ada di rumahku. Ia hanya tak dirumahku jika suamiku ada di rumah. Anehnya putriku tidak minta agar bang Roji tidur dirumah jika ayahnya ada. Aku pun semakin memperhatikan pakaianku jika ia berada di kamarku.Tidak jarang aku selalu memakai pakaian hingga dua lapis,berjaga jaga terhadap segala kemungkinan. Dan kini di atas ranjangku Bang Roji kembali menidurkan putriku. Setelah putriku tidur barulah dia keluar kamar dan rumah dan bertugas.Aku heran kini aku tak lagi menaruh rasa marah atau kuatir pada sosok Bang Roji. Padahal awalnya aku amat takut terhadap cara dia memandang tubuhku. Herannya lagi, kini aku malah semakin kagum kepadanya. Aku merasa dia tidak akan bertindak aneh-aneh padaku. Apalagi di kamar ini hanya ada aku dan dia juga putriku. Jika ia bajingan bisa saja aku di paksanya untuk melakukan hal yang lebih tercela lagi, namun tidak ia lakukan.Aku heran atas sikapku ini. Apakah ini sebagai perwujudan rasa kesepianku selama ini, aku tak tahu. Jujur saja di kantor aku sering diajak rekan rekan pria untuk makan malam atau kadang ngajak nonton. Namun aku tak menghiraukan ajakan mereka sebab aku tak mau menambah beban masalahku yang sudah rumit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan pernikahan aku dan Mas Dodo pun semakin tak karuan. Jangankan nafkah sebagai tanggung jawab suami pada istri, nafkah bathin saja dia sudah jarang dia beri. Mungkin ia telah terperdaya wanita simpanannya di daerah itu. Aku semakin di telantarkan. Aku semakin membencinya jika sudah berada dan tidur dikamar. Anaknya saja sudah jarang di gendong juga di sayang sayang apalagi aku. Aku kasihan putriku satu satunya ini. Ia kini hanya mencurahkan rasa memiliki ayah kepada Pak De Roji yang biasa membawanya jalan jalan. Putriku amat membutuhkan figur ayah dimana ia bisa berlindung dan di manja yang semuanya tidak didapatkannya dari ayah kandungnya. Aku amat kuatir dengan perkembangan putriku ini. Kekuatiranku amat beralasan sebab dia semakin mau mengikuti kemana Bang Roji pergi dan selalu nangis minta ikut hingga Mpok Esih pun kelabakan jika kemauannya tak dituruti. Putriku selalu baru mau diam jika digendong bang Roji beberapa saat. Pernah suatu hari aku akan ke rumah orangtuaku dan membawa putriku.Di gerbang pos jaga, bang Roji sedang tugas. Putriku nangis minta berhenti dan ingin di gendong beberapa saat oleh Bang Roji. Terpaksalah aku menuruti keingannya ini. Aku menghentikan mobil tak jauh dari pos jaga.Bang Roji keluar posnya dan berjalan menuju mobilku. Aku membuka pintu samping dan putriku langsung menghambur ke pelukan bang Roji. Tak lama memang lalu aku ambil putriku dari gendongan Bang Roji yang saat itu siap siap akan memberikannya ke pangkuanku.Disaat aku menyambut tubuh putriku itu secara tak sengaja tangan bang Roji bersentuhan dengan buah dadaku beberapa saat. Aku merasa sedikit jengah saat itu sehingga dengan buru buru aku tarik tubuh putriku dari pelukan bang Roji. Sempat ia minta maaf atas ketidak sengajaannya tadi. Aku hanya diam saja sambil berlalu dan terima kasih karena gendongannya pada putriku saat itu.Aku lalu masuk mobil dan berlalu .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan aku masih terbayang kejadian barusan. Aku merasa malu saat di sentuh tadi. Tangan kasar bang Roji seakan mampu merasakan kelembutan payudaraku. Syukurlah kejadian itu tak diketahui orang lain karena di samping mobilku yang parkir. Hari itu aku di rumah ibu tak lama karena akan berbelanja kebutuhan dapur ke mall dan lalu pulang kerumah. Sesampainya dirumah, aku diBantu bang Roji menurunkan dan membawa barang bawaanku dari bagasi mobil. Ini adalah kebiasaannya membantu aku, sedangkan Mpok Esih tak masuk hari ini karena ia pulang kekampungnya di Kuningan sana. Jadi terpaksa rumah aku kunci saja selama aku pergi. Sore itu Bang Roji baru selesai aplusan dengan rekannya dan seperti biasanya ia ada waktu untuk membawa putriku jalan jalan keluar komplek. Aku pun sibuk memasak makanan untuk malam dan esok di dapur. Aku agak senang karena putriku sudah dibawa bang Roji jalan jalan,sebab akhir-akhir ini ia agak rewel. Setelah selesai masak dan aku mandi dan bersih bersih rumah. Akhir minggu ini aku gak ada acara keluar. Namun akhir minggu ini suamiku masih di luar kota dan juga tak ada beritanya.Lalu tiba-tiba terdengar suara putriku dan Bang Roji memasuki rumahku. Mereka tertawa sambil membawa boneka kesukaan putriku. Setelah mengantar putriku kerumah, bang Roji minta diri sebab ia akan pulang dan mandi katanya.Namun Putriku tetap tak mau lepas dari gendongannya walau dengan berbagai alasan Bang Roji juga berusaha melepaskan putriku. Akhirnya dia malah nangis dan akupun minta Bang Roji untuk menuruti kemauannya saja.&lt;br /&gt;“Bang, mandi aja disini ya” kataku “kasihan Suci gak mau diam jika abang pergi”&lt;br /&gt;Akhirnya terpaksalah Bang Roji mandi di rumahku setelah aku sediakan handuk cadangan dan juga peralatan mandi yang selalu kusediakan. Malah Suci anakku minta bang Roji malam itu tidur di rumahku. Aku hanya diam saja tak bisa melarangnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu,Bang Rojipun menidurkan putriku dikamarnya. Setelah putriku tidur barulah dia ingin pulang sebentar untuk memberikan uang dapur pada istri mudanya. Aku sempat bilang padanya agar malamnya ia balik lagi sebab aku kuatir jika nanti putriku bangun ia akan menanyakannya dan jika tak ketemu maka ia akan nangis lagi kataku. Bang Roji akhirnya menyetujui permintaanku itu dan berjanji akan segera balik secepatnya. Beberapa jam kemudian cuaca berubah hujan deras diiringi angin yang amat kencang. Sempat jendelaku di hempas angin hingga aku tutup dan kunci dari dalam. Tak lama kemudian Bang Roji datang namun tidak dengan sepeda motornya. Ia sengaja memenuhi janjinya agar putriku tak rewel lagi. Dengan memakai mantel hujan ia buka pagarku yang memang tak di kunci. Lalu ia kuncikan dari dalam. Sampai di pintu depan ia buka mantel hujannya dan membunyikan bel rumahku. Aku tahu itu bang Roji lalu membuka pintu dan lalu memberinya handuk karena percikan hujan membuatnya tubuhnya basah. Aku mencarikan pakaian bekas suamiku yang tidak terpakai lagi untuk mengganti bajunya yang basah itu, lalu memberikan kepadanya.Di kamar mandi ia ganti bajunya dengan kaos yang kuberikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian ia keluar kamar mandi dengan mengenakan celana pendek yang telah ia sediakan. Bang Roji,bertanya padaku,bagaimana Suci putriku apa bangun tadinya, kujawab saja putriku sangat nyenyak tidurnya. Mungkin sudah capai saat dibawa keliling sore tadi jelasku. Dia membuka pintu kamar putriku dan seolah itu anak kandungnya ia ciumi pipi putriku dengan penuh kasih sayang. Aku terenyuh melihatnya, ayah kandungnya saja sudah tak pernah menciumi putrinya. Aku kagum dan salut akan perhatian Bang Roji pada putri semata wayangku ini padahal kami bukanlah siapa siapanya namun perhatiannya pada keluargaku membuatku semakin kagum dan menilainya amat baik. Malam itupun dia berjalan kearah ruang tengah untuk menonton acara televisi, sementara aku kedapur membuatkannya secangkir kopi juga membawakannya makanan kecil.Aku tak lupa menyilahkannya untuk duduk saja di sofa itu dan tak usah terlalu sungkan.Aku lalu menaruh kopi dan makanan itu di meja kecil dekat televisi.Sedang aku lalu mencari majalah yang akan aku baca di kamarku.Sebab aku ingin ke kamar,apalagi aku kurang merasa nyaman jika di ruang tengah ini bersama dia. Apalagi hari telah beranjak malam. Sambil berlalu aku minta jika mau tidur Bang Roji jangan lupa mematikan TV sebab aku akan masuk kamar. Dia menyanggupinya. Hawa dingin malam itu membuatku semakin menjadi ingin cepat-cepat masuk kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja aku masuk kamar dan ingin baca majalah, tiba-tiba lampu padam. Aku keluar kamar dan syukurlah lampu emergency langsung nyala. Begitu juga di kamar anakku,jadi dia tak akan terbangun karena lampu mati. Aku lihat Bang Roji,masih sibuk mematikan TV lalu mengecek kontak listrik yang berada di luar rumah, siapa tahu ada yang koslet katanya. Rupanya padamnya lampu karena ada gangguan angin dan dimatikan PLN sebab lampu jalan juga padam. Dia lantas masuk kedalam rumah.Aku pun bilang agar dia tidur dikamar putriku saja apalagi di kamar itu tersedia karpet tebal di lantai yang biasa untuk bermain putriku&lt;br /&gt;“Itu bisa dijadikin alas tidur Bang” kataku.&lt;br /&gt;Dia lalu masuk kamar putriku dan membentangkan karpet itu di lantai. Akupun membantunya mengambilkan karpet. Tanpa sadar aku terpeleset di dalam kamar putriku itu, kakiku terantuk kayu tempat tidur karena cahaya yang kurang terang. Aku meringis kesakitan, Bang Roji mendengar ringisan kesakitanku. Dia lalu berusaha memapah aku untuk duduk di pinggiran tempat tidur putriku. Lalu dia menanyakan letak balsam,aku lalu menunjuk ke arah kotak obat yang terletak di ruang makan dekat dinding lemari. Beberapa saat Bang Roji keluar mengambil balsam untuk kakiku ini.Aku masih meringis kesakitan di mata kakiku. Tak lama kemudian kembali kekamar dan berusaha memijiti mata kakiku yang terasa sakit. Dengan mengoleskan balsam ke tempat yang sakit dia juga memijitinya. Aku merasa nyaman dipijit olehnya. Itulah aku merasakan kulitku di sentuh laki laki lain. Lambat laun rasa sakit mulai berkurang dan terasa nyaman. Dengan intens ia terus memijiti telapak kakiku dan dengan sekali hentak aku terkejut karena sakit lalu rasa sakit itu mulai berkurang. Bang Roji memandangiku dari bawah.&lt;br /&gt;“Bagaimana rasanya Bu?” tanyanya.&lt;br /&gt;“agak enakkan bang” jawabku singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan kini pijitannya mulai naik kearah betisku, aat itu aku masih duduk di atas pinggiran ranjang putriku dan kulihat dia masih nyenyak tidurnya. Ia seakan tak terganggu oleh suara hujan yang masih deras dan angin kencang diluar rumah.Aku mulai merasakan geli di sekitar betisku. Gerakan pijatannya amat membuatku merasakan kehangatan tangan Bang Roji dan syukurlah saat itu aku mengenakan celana panjang piyamaku, jadi betisku yang putih ini masih terlindung dari pandangan matanya. Beberapa saat setelah merasakan enakkan aku pun turun ke lantai yang telah dialas dengan karpet tebal yang akan ditiduri Bang Roji.Aku bersandar di pinggiran kayu tempat tidur putriku.Aku amat berterima kasih pada Bang Roji atas bantuannya itu. Akupun sempat memujinya yang pintar mijat, dengan merendah ia bilang itu hanya kebetulan.Aku sempat kurang nyaman saat dia menyebut aku Bu,padahal dia lebih tua dariku.&lt;br /&gt;“Bang,,,jangan panggil aku Bu, panggil aja aku dik atau nama aja” kataku, “aku gak enak…apalagi abang lebih tua dariku”&lt;br /&gt;“Baiklah jika begitu dik Risa” jawabnya lagi, “O ya, dik Risa, koq mas Dodo jarang kelihatan sekarang ya?” tanyanya.&lt;br /&gt;Aku sempat terkejut dia menanyakan tentang suamiku. Lalu aku jawab saja bahwa suamiku kini ditempatkan di pulau luar jawa, jadi dia lebih banyak disana dari pada disini terangku.&lt;br /&gt;“Koq dik Risa gak ikut ke sana juga, kan kasian Suci” ,katanya.&lt;br /&gt;“Yah, begitulah Bang, aku kan tidak bisa pindah kerja juga, apalagi kini aku telah lama kerja di tempat yang sekarang, jadi sayang jika harus berhenti.” jawabku menutupi kemelut dalam rumah tanggaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lalu berbincang mengenai beberapa hal yang memang jarang aku dengar dari mulut bang Roji. Malam itu aku berkempatan bicara banyak dengannya juga tentang masa lalu dia dan kedua istrinya. Kami berbincang hingga malam semakin larut, namun anehnya aku tak merasakan kantuk. Akupun tak terlalu kuatir jika besok bangun kesiangan, apalagi sabtu dan minggu aku libur di kantor. Masih di kamar putriku aku seakan menemukan lawan bicara yang enak diajak bicara. Meskipun aku tahu kadang Bang Roji amat polos dalam pembicaraan namun aku tahu dia cukup berpengalaman dalam hal pergaulan bermasyarakat. Kadang aku senyum-senyum mendengar dia bicara mengenai sifat dari kedua istrinya itu. Dari situ aku tahu ia bukanlah seorang satpam sembarangan. Dia juga memiliki segudang ilmu kanuragan juga silat yang di tuntut dari mudanya.Dan merasa pembicaraan semakin hangat aku pun berusaha keluar kamar anakku untuk mengambil air minum. Namun baru beberapa gerakan mau berdiri tiba tiba aku tak tahan, kakiku seakan ngilu. Aku tak sanggup berjalan ke luar, syukurlah aku tak sampai jatuh karena keburu di sambut Bang Roji ke pangkuannya. Aku di papahnya duduk kembali di tempat semula.Dia bilang aku jangan berjalan dulu, biar dia yang ambil minuman katanya. Aku diam saja dan diapun keluar kamar mengambil yang aku maksud tadi.Kemudian dia kembali ke kamar dan membawa air minum kekamar.Lalu aku di suruhnya berbaring aja agar dipijat lagi.Aku mengikuti saja permintaannya itu.Bang Roji lalu mengambil bantal yang ada di atas ranjang putriku.Lalu diletakkannya di atas karpet dan aku disuruh rebahan agar gampang dipijat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dipijat aku merasakan amat rileks meskipun saat itu aku bersama pria lain. Sambil memijat kami selalu berbincang sampai ke hal masalah rumahtangga. Aku merasakan kenikmatan pijatannya telah membuatku kegelian dan merasa tercambuk gairah. Syukurlah saat itu bang Roji tak melihat perubahan di wajahku.Jujur saja saat itu aku mulai terangsang, kaki celana panjangku sudah naik kearah lutut. Bang Roji menghentikan pijatannya,dia merasa aku sudah tak sakit lagi.Aku di suruh untuk menggerakkan kakiku itu. Syukurlah kembali baik dan gak terasa lagi sakitnya. Bang Roji lalu bilang dia akan keluar saja sebab malam sudah larut katanya. Aku lalu berdiri dan minta dia tidur dikamar ini saja, biar aku yang keluar kamar kataku. bang Roji pun menuruti permintaanku. Aku kembali bangun dari rebahan dan duduk, Bang Roji pun kembali duduk diatas karpet itu. Namun dia memandangku dengan senyam senyum. Aku heran apa yang menyebabkan ia tersenyum seperti itu. Lalu dia bilang,yang seharusnya memijati aku adalah suamiku, dik Risa ini aneh katanya. Dengan menutupi keadaan rumah tanggaku, aku bilang saja bahwa suamiku kini di tempatkan di daerah dan menjadi kepala cabang perusahaanya. Dengan mengangguk Bang Roji bilang, kenapa aku gak ikut pindah kesana. Akupun beralasan gak enak meninggalkan pekerjaan yang telah aku rintis dan memulai yang baru lagi ditempat lain,apalagi kini kami sudah memiliki rumah yang harus kami selesaikan cicilannya. Ia tampaknya mengerti dengan keteranganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa malam semakin dingin, berdiri melihat putriku. Kututupi tubuhnya dengan selimut tebal, sebab aku kuatir ia akan kedinginan malam itu.Lalu aku kembali duduk di lantai beralas karpet itu dan ngobrol lagi dengan Bang Roji, sepertinya dia belum ngantuk, aku juga. Kami ngobrol masalah Mpok Esih juga istri mudanya kadang diselinggi obrolan masalah sex dia dengan kedua istrinya. Aku mendengar dengan penuh perhatian. Diam diam dalam hatiku merasa iri akan perhatian dia pada istrinya juga rasa tanggung jawabnya pada keluarganya. Amat berbeda sekali dengan yang dikatakan Mpok Esih selama ini. Sebagai laki laki aku rasa ia amat bertanggung jawab, tidak seperti suamiku saat ini yang melalaikan keluarga. Tanpa aku sadari aku menaruh simpati padanya, meskipun dia adalah seorang satpam dan tukang ojek serabutan. Namun karena tanggung jawabnya pada keluarga ia bisa menghidupi kedua keluarganya. Saat itu aku merasa amat kecil didepannya. Herannya aku semakin tak kuasa mendengar obrolannya yang amat menyentuh hatiku. Karena merasa capai dengan posisi duduk, akupun merebahkan kepala di bantal kecil. Sambil rebahan aku mendengarkan kisah juga tentang kenakalannya dimasa lalu. Aku antusias mendengarnya meski mulai dihinggapi rasa dingin yang menusuk tulang, padahal aku sudah memakai celana panjang kimonoku. Bang Roji melihat aku yang kedinginan menyarankan aku untuk memakai selimut atau sweater. Aku hanya mengambil selimut dari lemari kamar anakku dua lembar.yang satu buat Bang Roji dan yang satunya aku pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kututupi tubuhku dengan selimut, namun Bang Roji belum akan tidur tampaknya. Aku merasa saat itu seakan bisa menerima dia dan juga perhatiannya pada kami selama ini. Ia tampaknya tulus memberikan bantuan tenaga dan juga mau menemani putriku yang tanpa pamrih itu. Heran aku kini koq semakin merasa dia adalah sosok laki laki yang aku rasa bisa memberikan perlindungan padaku, pikiran pikiran itu muncul tiba tiba. Adakah aku telah kehilangan akal sehatku dengan menempatkan seorang pria yang dulunya amat aku takuti dan curigai karena perbuatannya dan juga kelakuannya yang amat tidak aku sukai sebagai sosok laki laki pelindung. Aku semakin kehilangan akal sehatku dan menilai nilai diri Bang Roji dengan penilaian yang amat plus dan tak menghiraukan dari mana dia dan bagaimananya sifat dan latar belakangnya selama ini.Aku kini telah mengenyampingkan peran dan sosok suamiku yang notabene masih sebagai kepala keluarga dan suamiku yang syah. Disaat itulah aku dikejutkan oleh panggilan Bang Roji yang tiba tiba mengagetkan aku yang sedang melamun.Aku tersadar bahwa telah melamunkan hal yang gak aku sadari itu.Aku lalu hanya senyum dan bilang tadi aku hanya membayangkan apa yang Bang Roji ucapkan.Ia pun lalu bilang jika aku ngantuk ya tidur aja kekamar sebab ia masih belum ngantuk katanya. Aku merasa malu saat diingatkan disaat lamunanku terbang kemana mana. Bang Roji pun bilang,apa aku punya masalah,sebab dari tadi saat dia ngobrol aku sepertinya menerawang dan tak nyambung. Dengan muka agak merah, aku mengangguk dan membenarkan tebakannya itu.Bang Roji pun terdiam dan hanya memandangku saja, matanya tajam memandang bola mataku.Aku hanya menundukkan wajahku, tak tahan ditatap seperti itu. Ia lalu berkata, jika aku tak keberatan ya boleh diutarakan aja katanya lagi. Lalu ia bertanya apakah selama ini ia dan istrinya sering membuatku merasa terganggu.Aku jawab bahwa gak ada hubungannya lo Bang dengan keberadaan Bang Roji disini. Lalu ia menebak lagi, apakah suamiku tak suka jika ia dan istrinya sering membantuku? Aku hanya menggelengkan kepalaku,pertanda tebakannya tak benar.Bang Roji lalu bilang,jika ia menganggu ketenangan aku,ya dia biar keluar kamar saja katanya sambil berdiri. Aku lalu menahan tangannya agar tidak keluar kamar.Aku heran kenapa saat itu langsung menahan tangannya untuk berdiri padahal dia bukanlah siapa siapa aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa aku tak menghendaki dia keluar kamar, Bang Roji pun mengurungkan niatnya.Dia lalu kembali duduk disampingku.Ketika itu tangannya masih berada di genggamanku.Herannya aku tak juga melepaskan tangan Bang Roji.Kini kami duduk di lantai dengan berdampingan.Dengan suara yang agak serak aku minta Bang Roji menemani aku sambil ngobrol meski aku tak peduli lagi aku bersama siapa malam itu.Apalagi aku lihat putriku masih terbaring nyenyak dalam tidurnya,ia tak akan tahu bagaimana problema yang aku rasakan saat ini. Apalagi untuk anak seusia itu yang masih kecil. Disaat itu sebenarnya aku ingin ada yang menemaniku dan mendengarkan keluh kesahku yang kini mendera, aku merasakan Bang Roji cocok untuk diajak ngobrol paling kurang sebagai penampung unek-unekku. Akupun lalu menumpahkan segala beban yang ada di hatiku selama ini dan tak lagi memandang dia siapa. Mulai dari saat aku menempati rumah ini hingga masalah rumah tanggaku yang dilanda dilema. Dia juga semakin antusias mendengar penuturan aku. Bang Roji pun semakin merapatkan tubuhnya kepadaku yang pada saat itu aku juga butuh tempat merebahkan kepalaku.Dalam keadaan labil saat itu,aku mandah saja di dada bidangnya. Perlahan aku seolah nyaman rebah di dadanya, diapun berusaha membuatku rileks. Aku mulai merasakan rasa damai dan tentram saat itu. Bang Roji lalu berusaha membelai belai rambutku.Ada rasa hangat yang aku rasakan di saat itu.Belaiannya di kepalaku seakan mampu menghilangkan kegundahanku selama ini.Aku sendiri sebenarnya amat bingung saat itu.Apakah yang terjadi sebenarnya didalam diriku.Aku pun masih memegang tangan kiri Bang Roji dan Bang Roji masih membelai rambutku juga samping pipiku.Aku merasakan semua masalahku selama ini hilang saat itu.Kini aku memasrahan diri pada Bang Roji.Aku seolah tak memiliki pilihan lain lagi untuk keluar dari masalah ini.Aku tahu ini amat bertentangan dengan norma kepatutan dan norma di masyarakat,apalagi dia adalah seorang satpam yang tidak berhak ikut dalam prolema keluargaku.Apa sih yang dapat aku harapkan dari dia? pertanyaan pertanyaan itu sering muncul di benakku.Namun kemudian hilang begitu saja,seolah aku amat membutuhkan nya tidak saja aku butuh teman curhat juga butuh hal lain yang tidak aku dapatkan dari suamiku.Namun sebagai wanita aku masih dibatasi oleh rasa angkuh yang tidak akan meminta sesuatu itu padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai laki laki dewasa dan berpengalaman ia seolah tahu apa yang aku butuhkan.Tanpa bicara ia mulai membelai belai pipiku yang halus dan memberikan hawa nafasnya ke tengkukku. Rasa geli dan hangat mulai menjalariku. Aku semakin membiarkannya melakukan itu,dan suatu kesempatan dengan keberaniannya ia pun mencium bibirku.Aku terkejut dan melepaskan kulumannya pada bibirku. Kulumannya terlepas, namun anehnya aku tidak berusaha menjauh dari pelukannya. Aku kemudian melengoskan wajahku kearah lain padahal aku melakukan itu semua adalah untuk menghindarkan kesan aku amat butuh saat itu. Tampak Bang Roji bukanlah laki laki kemaren sore yang bisa aku bikin semaunya. Tanpa di suruh dia lalu meraih wajahku dan kembali mengulum bibirku beberapa saat.&lt;br /&gt;“Sudah ahhh Bang, aku gak bisa bernafas nih” kataku berusaha melepaskan kulumannya.&lt;br /&gt;Namun apalah dayaku untuk menahan setiap tindakannya. Dia lalu melepaskan kulumannya dari bibirku, namun sebelah tangannya sudah memasuki blus piyamaku. Dengan perlahan dan pasti,jari-jarinya memasuki belahan dadaku dan berhenti di putting susuku. Rasa geli,juga nafsu mulai melandaku. Aku tak kuat diperlakukan begitu olehnya. Tanganku berusaha menahan gerakan jari-jarinya yang sudah berada di dalam bhku saat itu, bagaimanapun aku merasa malu. Dengan sebisaku aku berusaha menahan setiap gerakan jari-jarinya di permukaan putting susuku. ekuat aku menahannya sekuat itu pula ia berusaha memilinnya ingga usahaku menahannya semakin melemah karena deraan nafsu yang sudah mulai mempengaruhi setiap sendi tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perlakukan seperti itu,aku semakin terjerat oleh percikan birahi yang di kobarkan Bang Roji.Perlahan dan pasti ia berhasil melepas atasan piyama tidurku. an kini hanya tinggal bh yang hanya menutupi sebagian kecil didadaku.Aku semakin terjebak ke jurang gairah yang mulai menampakkan wujudnya. Aku pun kini seolah ikut menerima perlakuannya saat itu. Rasa hangat yang di pancarkan jari jari Bang Roji di permukaan kulitku sanggup membuatku merelakan dia melepas pengait bh yang aku kenakan saat itu. Lalu bibir Bang Roji mulai merayap dan menggigit kecil putting susuku secara perlahan,dan mampu membuatku seolah kembali menjadi seorang wanita dewasa yang sempurna.Kulit dadaku seakan rela menerima semua perlakuannya saat itu.Berulang ulang ia ekspos kedua bukit dadaku dengan intensitas yang meninggi.Aku serasa di perlakukan utuh sebagai wanita. Dengan kedua tanganku aku raih kepala Bang Roji,seakan tak rela ia menyudahi tindakannya itu.Saat ini aku tak peduli lagi siapa Bang Roji dan apa statusnya,yang penting saat ini bagiku,bagaimana dahagaku terpuaskan. Merasa aku sudah menerima semua perlakuannya, Bang Roji membisikkan sesuatu padaku.&lt;br /&gt;“Dik…Rissa, dikamar dik Rissa aja kita lanjutkan…gimana? kasian nanti Suci bisa bangun” terangnya dengan suara yang menahan sesuatu.&lt;br /&gt;Ia seakan yakin aku akan mau melakukan hubungan yang lebih lagi denganku malam itu. Aku juga sadar Bang Roji,ingin melakukannya dikamarku agar anakku tidak terbagun dan tak ingin nantinya anakku mengerti tentang hubungan yang kami lakukan.Saat ia meminta pindah kekamarku,aku terbayang sedikit tentang kejadian yang akan terjadi.Apalagi status kami yang cukup berbeda itu. Masih ada harapan bagiku untuk membatalkan keinginan Bang Roji saat itu. Sebelum aku bangun dari rebahan di lantai bersama Bang Roji aku kembali memunguti bh dan atasan piyamaku.Aku langsung saja mengenakan atasan piyamaku tanpa mengenakan kembali bh yang telah terlepas dari tubuhku oleh Bang Roji tadi.Bra itu tetap aku pegang dan aku pun berdiri, lalu membuka daun pintu yang masih tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun keluar dari kamar anakku dan berjalan kearah kamarku. Bang Roji saat itu mengikuti aku kekamar. Kudorong pintu kamar dan masuk ke dalamnya. Sesampai dalam kamar aku duduk diatas ranjangku. Bang Roji lalu menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia lalu duduk disampingku, diraihnya tanganku dan dibawanya kebibirnya dan diciuminya. Melihat tingkahnya itu,aku seakan terenyuh akan sikapnya yang terlihat sabar. Aku yakin tanpa aku mintapun malam ini ia akan melakukan hal yang belum pernah aku lakukan selain dengan suamiku. Aku tahu ini,amat bertentangan dengan norma agama dan adat ketimuran yang kuanut, apalagi aku termasuk wanita Jawa yang amat menjunjung tinggi tata krama, namun saat ini seakan hilang semua. Perbuatan dan penyelewengan suamiku seakan mencambuk diriku untuk melakukan pembalasan, meski saat itu aku menyadari tidaklah benar tindakanku saat ini. Bang Roji,menyadari juga perbuatannya saat itu,menyalahi hukum dan amat tercela,dengan suara berat seolah menahan sesuatu dia masih sempat bertanya padaku.&lt;br /&gt;“Dik Rissa rela..akan perbuatan abang ini?” sambil menatap bola mataku dalam dalam.&lt;br /&gt;Aku pun memandangnya dengan tatapan yang tajam seolah menantang dia ,namun hanya beberapa saat.Aku kembali menundukkan mukaku ada rasa malu jika aku memintanya melakukan itu.Bang Roji adalah laki laki dewasa yang sudah amat banyak pengalaman seolah tahu apa yang harus ia perbuat. Sikap diamku saat itu seakan persetujuan untuk perbuatannya selanjutnya. Sambil meraih kedua tanganku lalu tubuhku dibawanya kepelukannya. Kini tubuh kami amat dekat, meski saat itu kami masih mengenakan pakaian. Namun karena aku tak memakai bra saat itu,seolah mampu membuatnya semakin bernafsu padaku. Ketika aku dalam pelukannya,aku merasakan ada rasa damai dan hangat yang sudah lama tidak aku rasakan lagi.Ada rasa nyaman dalam pelukan Bang Roji yang bidang dan berotot itu,meski aku akui ada juga bau yang kurang sedap aku rasakan saat itu.Namun semua rasa yang ada dalam diriku seolah mampu mengalahkan bau bauan yang kurang sedap itu.Aku semakin tenggelam dalam sosok tubuh Bang Roji,iapun lalu mengulum bibirku,Aku berusaha semampunku untuk menerima kulumannya,namun kembali bau kurang sedap dari mulutnya karena rokok dan juga makanannya membuatku seakan hilang gairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam pelukan ketat Bang Roji,akupun kembali terpaksa menerima kuluman panasnya di bibirku.Rasa geli karena kumisnya yang bergesekan dengan bibirku mampu membuatku terlena. Apalagi jelajahan lidahnya didalam rongga mulutku mampu membuatku susah untuk bernafas.Dipancing seperti itu,aku mau tidak mau membalas kuluman Bang Roji,hingga membuat lidah kami seakan saling berkait dan ludah kami bercampur satu sama lainnya.Dengan lincah tangan Bang Rojipun melepas kancing atasan piyamaku hingga terlepas ke lantai. Jari-jarinya itu pun memilin dan memutar putting dadaku hingga aku semakin terlonjak nafsuku. Puas memainkan lidahnya di bibirku mulutnya turun melata dikulit dadaku. Kembali aku merasakan geli yang amat sangat diperlakukan begitu. Aku hanya bisa meraih kepalanya yang saat itu berada dibelahan dadaku. Kalung yang aku gunakan seolah mengganggu aktifitas mulutnya didadaku. Dengan tangan kirinya ia singkirkan kalungku kearah tengkukku lalu kembali ia menyedot bukit dadaku bergantian kiri kanan.Berbagai rasa kembali menderaku. Aku masih meraih kepalanya seakan tak ingin cepat berlalu.aku merasakan rasa basah di organ vitalku saat itu.beberapa lama bang Roji menggigit gigit dadaku dengan lembut dan meninggalkan tanda di dadaku yang putih. Aku hanya mampu memicingkan mataku dan menuruti perbuatan Bang Roji. Tiba tiba ia menghentikan aktifitasnya pada dadaku.Aku pun membuka mataku,ingin tahu apa yang menyebabkan ia menghentikan perbuatannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja aku merasa kecewa karena ia menghentikannya, namun aku diamkan saja. Rupanya Bang Roji sedang melepaskan kaos yang ia kenakan dan tampak dadanya yang bidang,juga berbulu lebat. Di bahunya terlihat sebuah tatto yang aku kurang mengerti gambarnya. Setelah kaos yang ia kenakan lepas dari tubuhnya iapun langsung melepas celana panjangnya. Kini ia hanya mengenakan celana dalam yang sudah terlihat menguning dan ada lubang disana sini. Namun aku juga sempat melihat tonjolan besar dibalik celana dalamnya itu. Dengan masih memakai celana dalam,bang Roji berjalan menuju aku. Dia meraih daguku dan kembali mengulum bibirku beberapa saat. Kemudian aku pun dibaringkannya diatas ranjangku. Saat aku terbaring menanti Bang Roji, dia terlebih dahulu mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu meja disamping ranjangku. Dengan hanya diterangngi lampu tidur,ia menaiki ranjang tempat aku tergolek pasrah.Aku tergolek lemah diranjang dengan bertelanjang dada dan masih mengenakan celana pendek piyamaku. Bang Roji menuju kearah kakiku, ia berusaha melepaskan celana piyamaku. Tidaklah susah melakukan hal itu sebab aku sudah amat pasrah padanya. Celana yang aku kenakan dilepas dan diletakkan dilantai samping ranjangku. Kini organ vitalku hanya tertutup cd putih berbahan katun. Aku berusaha menyilangkan kakiku agar basah di belahan kemaluanku tak terlihat Bang Roji. Bang Roji tidak melepaskan cd yang aku kenakan itu.Ia membuka kedua kakiku. Lalu salah satu tanganku masuk kedalam kain tipis penutup organ vitalku ini. Aku terkaget tak menduga ia akan memegang kemaluanku. Tanganku langsung menahan tangannya. Namun ia amat kuat dan tak berhasil kucegah jari-jarinya mulai masuk ke dalam jepitan kemaluanku.Aku merasakan seperti disengat aliran listrik yang sanggup membuatku kegelian dan seakan meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Roji terus mengekspos daging kecil di belahan kemaluanku membuatku semakin tak mampu menguasai diri. Hingga akhirnya aku orgasme dan menjerit histeris oleh perbuatan tangan Bang Roji. Lelehan air cintaku seakan membasahi jari bang Roji.Bang Roji lalu menarik dua jarinya yang basah oleh air cintaku. Ia membawa kedua jarinya yang basah itu ke bibirnya dan menjilatnya. Tanpa ragu ia mencicipi air cintaku. Aku tak sanggup melihat perbuatannya saat itu. Tubuhku semakin lemah karena orgasme yang kualami setelah beberapa lama tidak lagi aku dapatkan. Aku tergolek pasrah dengan kedua kaki terbuka. Kini Bang Roji berusaha melepas cdku yang basah oleh cairan orgasme. Tak sulit ia melepas cdku saat itu karena aku sudah amat lemah dan aku pun sudah tak merasa malu karena kini aku sudah telanjang bulat didepan orang lain selain suamiku. Kepasrahan aku membuatku tak merasakan rasa malu ditelanjangi saat itu. Aku tak merasakan lagi dinginnya malam yang diguyur hujan deras saat itu, yang aku rasakan hanya rasa puas,dan terbang keawang awang. Tubuhku yang basah oleh keringatku pun tak lagi aku hiraukan juga jejak cupangan di sekujur dadaku. Melihat aku yang masih telentang menikmati orgasme yang aku dapatkan Bang Roji pun seolah mengerti aku butuh waktu beberapa saat untuk melepaskan rasa yang kini menderaku. Tak membutuhkan waktu lama untuk kembali kekeadaan semula. Aku sadar bahwa Bang Roji juga ingin kupuaskan namun yang pasti dia ingin menggauli aku seperti hubungan suami istri.Aku merasa bimbang saat itu.Apakah aku akan membiarkannya memasuki aku atau menghentikannya.Aku tak punya keberanian saat itu.Aku tahu yang ia ingini seperti umumnya laki laki ingin hubungan itu bukan hanya kepuasan sepihak seperti yang aku dapatkan barusan. Bang Roji memandang aku dan dengan tatapan matanya, ia seakan minta aku rela untuk disetubuhinya. Aku pura pura tak mengerti apa yang dia ingini itu. Melihat kondisi aku yang sudah sedia kala,Bang Roji melangkah kearahku. Ia berusaha kembali memancing nafsuku dengan menciumi balik telingaku hingga tengkuk aku yang masih tersisa butir-butir keringat. Aku kembali merasakan geli dan gairah yang kembali muncul. Dengan penuh kesabaran Bang Roji tanpa merasa jijik sekalipun,menjilati kulitku,mulai dari leher,dada,perut,hingga belahan kemaluanku. Dia juga menjilati kedua kakiku. Aku merasa seorang ratu yang diperlakukan seperti itu. Tanpa merasa jijik sedikitpun ia jilati semua permukaan kulitku yang masih basah oleh keringatku. Punggungku dan belahan pinggulku tak luput dari jelajahan lidahnya. Aku semakin merasa salut dan kasihan atas perlakuannya itu padaku. Aku tak akan mungkin menolak kehendak bang Roji saat itu. Ia memperlakukan aku lebih dari apa yang selama ini aku bayangkan.Ini juga mungkin rupanya yang membuat Mpok Esih dan istri mudanya tak mau dipisah oleh bang Roji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan telaten Bang Roji seperti memandikan aku dengan lidahnya.Tak terlihat sedikitpun rasa lelah dan bosannya saat itu.Diperlakuakn seperti itu seakan mampu memacu gairahku saat itu.Dan Bang Roji,lalu meraih kedua belah buah dadaku dan membelainya dengan lembut.Padahal saat itu,aku sudah basah sekali di liang kemaluanku. Perlahan dan pasti pilinan dan rabaan di dadaku mampu membuatku kembali bergairah. Aku hanya mampu menghentakan kakiku di ranjang sehingga spreynya semakin kusut. Sedang kedua tanganku hanya memegang rambut Bang Roji yang masih asik di atas perutku.Ia pun terus turun menuju ke kemaluanku.Kedua kakiku ia sibakkan dan membuka. Kini tubuh kekar hitam Bang Roji sudah berada di antara kedua kakiku. Kepalanya singgah di lepitan kemaluanku, sementara lidahnya terus masuk ke liangku. Seolah memancing lidah Bang Roji terus merangsek masuk dan memasuki celah organ intimku. Aku hanya bisa memejamkan mata dan tak mampu membukanya. Aku semakin berada di titik paling labil saat itu.Aku berusaha menahan rasa geli yang kini semakin membuatku kepayahan. Bang Roji lalu melepaskan lidahnya dari liangku. Aku merasa letupan birahi yang akan segera meledak padam kembali. Bang Roji seakan tahu kelemahan aku. Aku tak tahu harus berbuat apa,apalagi rasa letupan itu tadinya hampir meledak. Namun Bang Roji pun bergerak bangun dan mengangkat kedua kaki dan menekuk lututku. Tampak saat itu Bang roji akan melakukan penetrasi kedalam kemaluanku.Bang Roji berdiri dan melepaskan penutup kemaluannya,yang tadi belum dibukanya.Setelah dibukanya penutup kemaluannya itu aku terkaget. Kemaluan bang Roji membuatku kaget dan takut sekali. Ukurannya cukup panjang dan besar.Aku serasa tak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini.Aku bergidik karena membayangkan apakah au akan sanggup menerima benda besar dan panjang itu.Padahal saat itu,kemaluan Bang Roji belumlah terlalu ereksi.Apalagi jika sudah dalam ukuran maksimal. Berbagai bayangan ketakutan berkecamuk didalam pikiranku.Aku berusaha menolakkan tubuhnya agar menjauh dari tubuhku padahal saat itu ia sudah siap siap untuk melakukan perangsangan kembali kepadaku. Ia terlihat heran, merasa ada penolakan dari aku saat itu,bang Rojipun menghentikan Aktifitasnya,namun belum bergerak dari kedua kakiku.Ia bertanya padaku dengan suara yang agak gugup.&lt;br /&gt;“Adddaa…apa dik Rissa menolak Abangg?”&lt;br /&gt;“Bang…apa gak bisa kita undur saja? Sebab…aku takut? punya abang…cukup..panjang dan besar” kataku gugup tanpa melihat ke arahnya karena baru saja didera rasa kaget dan takut saat itu..&lt;br /&gt;Bang Roji mengangguk-angguk saja perkataanku itu. Ia sadar miliknya cukup besar dan iapun tahu aku akan cukup kaget menerima benda miliknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Roji tampaknya tidak mau memaksaku untuk menerimanya saat itu. Ia cukup mengerti dengan alasan penolakan aku. Ia amat bisa menjaga perasaanku saat itu. Memang saat itu aku cukup egois dan tak berperasaan padanya. Namun rasa takut dan ngeri membuatku menolaknya. Bang Roji pun tak lagi memaksakan kemauannya.Masih dalam posisi diantara kedua kakiku, ia lalu kembali merebahkan tubuhnya diatas tubuhku. Ia kembali mengulum bibirku berulang ulang.Sementara keringatku kembali bercucuran di dahi dan dadaku. Sebagai perwujudan terima kasih aku kepadanya yang tidak memaksaku melakukan penetrasi aku pun menyambut kulumannya dibibirku. Lalu ia pun terus turun kearah buah dadaku dan menjilat putting susuku beberapa kali sambil mengigitnya.Gerakan mulutnya terus turun kearah perut dan singgah di organ vitalku yang kembali mulai basah.Aku semakin tak berani memandangnya saat itu.Hanya kedua tanganku yang terus memegang kepala dan bahunya yang sudah licin karena keringat apalagi dia sudah menahan birahinya untuk memasuki tubuhku. Ketika ia terus menjelajahi liang kelaminku, aku makin merasa terbang dan merasa siap untuk menerimanya. Pikiranku terus bekerja tentang keinginan Bang Roji itu. Liangku aku rasakan sudah amat basah dan beberapa saat lagi akan meledak.Bang Roji tampaknya tahu aku akan mendapatkan orgasme,namun aku dipermainkannya. Ia tiba tiba saja menghentikan jilatannya di belahanku yang telah basah itu. Cairan di liangku ia telan dan aku kecewa dengan sikapnya tadi.Aku gagal mendapatkan orgasme untuk yang kedua kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kakiku masih terbuka seolah siap dimasuki kelamin Bang Roji. Bang Roji memandangku diam.&lt;br /&gt;“Bang Oji jahat…aku abang siksa seperti ini. Bang tolong lah bang…jangan siksa aku seperti ini!” permintaanku saat itu.&lt;br /&gt;Dengan pandangan yang masih menahan birahi Bang Roji membuka kedua kakiku terbentang. Aku tak lagi menahannya untuk membuka kedua pahaku agar ia bisa mengekspos organ kelaminku ini.&lt;br /&gt;“Dik Rissa? abang ingin masuk…apa di bolehkan?” bisiknya.&lt;br /&gt;Ia terlihat amat menjaga perasaanku meski ia juga terlihat amat tersiksa saat itu.Bang Roji berusaha mempengaruhi mentalku dengan menarik tanganku untuk memegang kemaluannya yang cukup panjang dan telah siap dipakai itu. Aku yang menduga ia akan menarik tanganku kearah pinggulnya tak tahu bahwa tanganku dibawanya kearah kemaluannya. Aku terkejut dan melepaskan peganganku yang hanya beberapa saat itu. Namun aku sudah cukup kepayahan saat itu.Rasa gatal di organ vitalku menuntunku mengizinkannya memasukiku walaupun konsekwensinya aku akan merasa sakit nantinya. Namun apalah yang terjadi nanti biarlah terjadi, demikian perkataan bawah sadarku. Dengan sikap diam dan posisi kedua kaki yang sudah terbuka,Bang Roji lalu mengangkat kakiku. Ia menggeser pinggulnya kearah lipatan kelaminku.&lt;br /&gt;“Bangggg…sshhh!!!” dengusku “Jaangann kaaasarr ya bangg” pintaku.&lt;br /&gt;Bang Roji diam saja sambil fokus untuk memasukiku. Bertahap dan sangat lambat ia mulai meretas jalan bagi kemaluannya memasuki aku.Kini dengan sangat hati hati dan tak ingin menyakiti aku bang Roji sudah menempatkan kepala kemaluannya di permukaan liangku. Perasaan berdebar dan takut silih berganti menderaku.Aku pun memicingkan mataku dan hanya berusaha untuk menahan tubuhnya jika nanti merasa sakit.Perlahan namun pasti benda panjang dan besar itu,mulai masuk bertahap, aku mulai merasa sesak di liangku, detik detik pertemuan kelamin kami membuat debar debar aneh didadaku semakin keras.Dan rasa nyilu namun geli mulai aku rasakan.Karena licinnya liangku saat itu, juga kondisi aku yang memang tidak perawan. Tanpa kesulitan berarti kemaluan bang Roji pun masuk kedalam kemaluanku meski saat itu aku sempat menahan tubuhnya karena rasa ngilu di liangku.Aku merasakan liangku seakan penuh oleh benda milik Bang Roji.Bang Roji terus maju kedalam liangku dan iapun menghentikan gerakannya.Ia mendiamkan kemalauannya didalam liangku yang sudah serasa penuh.Aku sungguh merasakan rasa nyilu yang amat sangat juga penuh diorgan intimku ini.Beberapa saat kami sudah menyatu seperti pasangan suami istri yang sedang memadu kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami sudah menyatu, Bang Roji mengulum bibirku.Aku menerimanya dengan mengulum juga lidahnya yang bermain main membelit lidahku.Kini kami sudah menyatu satu sama lainnya. Ada rasa penyesalan dalam sanubariku saat itu. Kini aku tidak beda dengan suamiku yang juga telah berselingkuh dengan orang lain yang tidak aku kenal. Kini aku seakan dibutakan oleh rasa dendam kepada suamiku. Aku sudah tak lagi berusaha menyelamatkan rumah tanggaku yang sudah diambang kehancuran saat ini. Perbuatanku bersama Bang Roji saat ini merupakan perbuatan yang tidak terampuni didalam suatu rumah tangga. Namun gejolak dalam tubuhku saat ini mampu mengenyampingkan pikiran pikiran sehatku selama ini. Dalam sikap diam beberapa saat itu Bang Roji lalu menghentikan kulumannya dibibirku.Ia lalu menarik kemaluannya keluar dan masuk lagi. Beberapa kali ia maju mundur masuk kedalam kelaminku. Tampaknya kelaminku sudah dapat menerima kelamin Bang Roji, juga rasa nyeri dan ngilu sudah berangsur hilang diganti rasa nikmat dan birahi yang meninggi.Aku merasa sudah siap untuk mendapatkan orgasme yang tertunda tadinya.Gerakan Bang Roji semakin kuat dan cepat.Tubuhku seakan boneka yang gampang ia gerakan maju mundur. Aku pun mulai didera rasa yang mungkin tak didapat saat bersama suamiku.Tubuhku bergerak kuat menerima sodokan kemaluan Bang Roji yang semakin cepat.Kedua Payudaraku juga bergoyang kuat dan keringatku seolah membanjir di atas kulitku.Aku hanya merem menikmati gerakan maju mundur bang Roji yang saat itu memegang pinggulku.Sesekali ia meremas payudaraku yang juga telah mengeras.Dan muara dari hubungan kelamin kami berdua itu,aku pun semakin merapatkan kedua kakiku menjepit pinggul bang Roji,dengan dengusan yang aku tahan ,aku pun semakin meraih bahu Bang Roji hingga gores dan sedikit berdarah.Aku mendapatkan Orgasme dari persebadanan ini.Aku pun terkulai lepas dan melepaskan cengkraman di bahunya dan kedua kakiku lantas terlepas dari panggul Bang Roji.Namun Bang Roji seakan masih ingin terus memberiku kepuasan sejati.Aku sudah tak berdaya mengikuti gerakan Bang Roji.Ia masih saja masuk dan keluar berulang ulang hingga aku merasa nyilu didalam kemaluanku.Tak lama setelah aku mendapatkan Orgasme,Bang Rojipun lalu memajukan kemaluannya hingga mentok dan melepaskan spermanya didalam rahimku. Aku tak berusaha melarangnya untuk klimaks didalam rahimku.Aku juga tak perlu kuatir sebab saat ini aku masih melakukan kb jadi masih aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bang Roji klimaks,aku merasakan lelehan spermanya yang keluar dari liangku.Ia tak langsung melepaskan kemaluannya dari liangku.Ia masih menindihku dan berada diatas tubuhku.tampak ia cukup kelelahan saat itu.tak lama memang,kemaluan Bang Roji mulai keujud sebelumnya dan terlepas dari liang kemaluanku. Ia pun terkulai disampingku.Aku pun berusaha menutupi tubuh kami berdua dengan selimut.Padahal saat itu hujan masih mengguyur dengan cukup deras.seperti kebiasaan suamiku,setelah klimaks langsung tertidur. Bang Roji juga demikian, ia langsung rebah dan ngorok disamping aku.Aku pun membelakangnginya,dan meresapi kejadian yang baru aku alami itu.Aku berpikir keras ttg hubunganku yang sudah semakin jauh dengan Bang Roji.Aku pun sempat terbayang,mungkin begitu juga cara Bang Roji berhubungan dengan kedua istrinya.Pantas saja kedua istrinya tak mau minta cerai darinya.Sebab dalam berhubungan Bang Roji amat pengertian dan mampu memuaskan hasrat kedua istrinya,yang kini aku rasakan juga. Letih dengan hubungan badan yang baru aku alami dan pikiran pikiran ttg rumah tanggaku,akupun tertidur membelakangi Bang Roji yang tidur di sampingku saat itu.Tak lama memang,saat itu telah menunjukan pukul 02.30, hujan telah reda dan hawa dingin malam menusuk kulitku. Aku terbangun oleh gerakan gerakan yang aneh di sekujur tubuhku. Aku berusaha membuka mataku dan terliat Bang Roji sudah berada diantara kedua kakiku.Ia ingin melakukan persebadanan lagi saat itu.Aku yang juga sudah pulih dari rasa letih karena sempat tertidur beberapa saat lalu menerima saja keinginan Bang Roji itu. Tak lama kemudian kami sudah saling mencumbu satu sama lainnya. Dalam keasikkan kami itu, bang Roji lantas menbisiki aku untuk melakukan oral padanya. Aku terkaget sebab aku tak sanggup melakukan pada benda yang cukup besar itu. Apalagi selama aku berhubungan dengan suamiku aku tak pernah melakukannya. Namun Bang Roji memberiku pengertian agar aku mau melakukan sebab nantinya aku pasti suka.Dengan masih gugup dan takut aku mencoba memasukkan kemaluannya kemulutku. Mulanya bau khas kelamin pria membuatku sedikit jijik, namun karena Bang Roji yang menuntun aku,makanya aku hanya mampu mengulum batangnya yang mulai keras itu.Memang Batang Kemaluan Bang Roji amat panjang dan tak muat oleh mulutku.Untunglah Bang Roji mau mengerti aku yang tak siap melakukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami pun saling membelai agar birahi kami kembali terbakar.Tak memerlukan waktu lama memang,aku pun di minta Bang Roji untuk naik keti\ubuhnya.Ia hanya telentang dengan kemaluan yang tegak keras.Aku kemudian berusaha memasukkan tiang tegak milik Bang Roji ke lipatan kemaluanku.Dan beberapa saat kemudian aku pun bergerak naik turun. Sungguh hebat sekali sensasi yang aku dapatkan saat itu. Kuakui bahwa sensasinya amat dapat membuatku cepat orgasme. Sedang bang Roji masih belum apa apa. Aku terlanjur terkulai disampingnya.Dan Bang Roji lantas membelai belai payudaraku hingga aku merasa nikmat. Aku lalu ditelentangkannya dan kedua kakiku dibukanya. Ia masih memilin payudaraku dan lalu menjilatinya.Mulutnya lalu turun kearah perut dan liang kelaminku.Disaat aku sudah mulai kembali naik birahi,Bang Roji lalu memasukkan kemaluannya yang telah keras itu,hingga mentok.Aku mendengus tertahan,merasa kelaminku penuh.Dan seterusnya ia memaju mundurkan kemaluannya diliangku,Aku seakan tak diberi waktu bernafas malam itu.Keringatku kembali membasahi tubuhku.Dan disaat aku akan mendapatkan kembali orgasme,dengan mencengkram bahunya,Bang Rojipun semakin kuat dan cepat maju mundur dalam kelaminku.Bunyi bunyi pertemuan paha dan kelamin kami membuat nafsu kami berdua semakin memuncak. Tiba tiba aku merasa diserang ribuan rasa nikmat dan terbang. Aku orgasme dan Bang Rojipun memuncratkan air cintanya dalam tubuhku. Beberapa saat yang terdengar hanya deru nafas puas kami yang terdengar.bang Roji masih berdiam di atas tubuhku.Dia lalu melongsor disampingku karena kemaluannya sudah kembali keukuran semula dan terlepas dari kelaminku.Aku sangat puas atas kenikmatan ragawi yang diberikan Bang Roji. Tidak sama dengan yang di berikan suamiku yang setelah puas lalu menarik kemaluannya dari liangku.Kemudian dengan rasa capai yang terasa di tulangku aku tertidur berpelukan dengan Bang Roji.Kini Bang Roji bukan saja sebagai petugas keamanan kompleks namun juga sudah menjadi orang yang amat penting bagi kehidupan aku dan putriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya disaat aku terbangun,aku buru-buru membangunkan Bang Roji agar jangan sampai kepergok putri kecilku. Bang Roji cukup paham akan kekuatiranku ini.Ia lantas mengenakan pakaiannya yang sudah berceceran. Aku sempat melihat benda yang semalam memasukiku itu yang kini terkulai lemas. Dengan sedikit malu aku lengoskan mukaku dari pandangan mesra Bang Roji. Setelah pakaiannya terpasang ia pun keluar kamar. Bang Roji langsung pulang kerumahnya,mumpung masih sepi dan belum ada yang tahu.Aku pun lantas turun dari pembaringan,namun rasa nyilu dan pegal dipersendian tubuhku membuatku bermalas malasan hari Sabtu itu.Untunglah hari itu aku tak masuk kantor.Aku berusaha memunguti pakaiannku yang juga berceceran di lantai dan memasukannya kedalam kain kotor.Aku pun membersihkan kain sprey yang juga sudah awut awutan ditambah oleh adanya noda noda cairan sperma dan keringat kami berdua.Aku lalu masuk kekamar mandi untuk mandi dan membersihkan tubuhku yang aku rasakan lengket-lengket disana sini. Setelah mandi dan berganti pakaian, aku pun memasukkan kain kotorku kedalam mesin cuci. Pagi itu aku mencuci semua pakaian kotorku juga milik putriku.Tak lama memang aku pun menjemurnya.Aku lihat dikamar putriku, rupanya dia sudah bangun dan aku ajak dia untuk mandi pagi itu.Setelah memandikan putriku aku pun memasak makanan yang akan aku makan berdua dengan anakku.Pagi itu perutku terasa lapar ,karena malamnya memang habis bertarung birahi dengan Bang Roji.Aku sempat senyum sendiri membayangkan yang kami perbuat malam tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semuanya beres dan aku juga sudah minum suplement agar tubuhku tetap bugar,aku pun mengajak putriku untuk jalan keluar.Sebab aku merasa berdosa padanya akibat perbuatanku dan bang Roji malam tadi. Dengan mobil aku ajak putriku jalan jalan ke pusat perbelanjaan. Setelah beberapa jam melakukan jalan jalan dan membeli segala keperluan,aku pun balik pulang.Dan di gerbang menuju kompleks,aku kami bertemu Bang Roji yang sedang tugas.Putriku minta berhenti dan ia ingin bertemu Bang Roji.Lalu tiba-tiba saja putriku minta agar kami jalan-jalan ke Anyer lagi. Ia ingin main air laut katanya.&lt;br /&gt;“Maaaa…Cici ingin ke pantai, bareng Pak Roji!” katanya dengan suara yang masih cadel.&lt;br /&gt;Aku memandang Bang Roji. Dengan alasan Pak Roji masih tugas aku berusaha menenangkan putriku. Namun Bang Roji bilang Bahwa ia tugas sampai jam 15,00.&lt;br /&gt;“Nah sorenya kita bisa kesana dik Rissa” terang Bang Roji, “kan Besok hari minggu,abang bisa libur.”&lt;br /&gt;Aku pun terpaksa menuruti kemauan putriku itu. Setelah menyiapkan bekal seadanya, sore itu kami berangkat ke pantai Anyer bertiga dengan Bang Roji dan putriku. Selama perjalanan aku yang menyetir sebab Bang Roji tak bisa nyetir. Dalam perjalanan itu, putriku dan Bang Roji asik bercanda dan bermain main.Terdengar tawa keduanya yang duduk di bangku belakang. Entah apa yang diketawakan mereka berdua. Tampak sekali putriku butuh sosok ayah, dia terlihat manja bersama Bang Roji. Sesampai di Anyer,kamipun turun dan aku mengurus sewa villa yang akan kami tempati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Bang Roji memasukki villa dan membawa segala keperluan yang telah aku siapkan dari rumah.Aku pun lantas mengeluarkan makanan juga penganan yang akan kami santap malam nanti.Sementara aku di Villa asik masak dan menyiapkan makanan, Bang Roji dan putriku asik juga bermain di pantai hingga senja menjelang. Setelah puas bermain main di pantai, putriku aku bersihkan dengan air hangat dan suapkan makanannya. Mungkin karena telah lelah selama perjalanan dan main air laut, putriku pun tertidur. Akupun membaringkannya di kamar yang satunya lagi agar ia bisa dengan nyenyak tidur. Saat aku menidurkan putriku, bang Roji sedang duduk di beranda villa,sambil menghisap rokok.Aku pun memanggilnya untuk makan sebab aku tahu ia tentunya sudah lapar juga.Malam itu kami pun makan berdua di meja makan ruang tengah villa. Setelah makan dan menutup makanan dengan tudung yang aku bawa dari rumah, aku pun keluar villa untuk mencari angin. Aku berjalan menyusuri bibir pantai seorang diri dan tak lama kemudian aku sampai di pantai dekat villa.tampak Bang Roji masih duduk dipinggir pantai dekat Villa.Ia sengaja tak jauh dari villa sebab kuatir nanti putriku terbagun dan nangis.Apalagi katanya ia ingin menjaga villa agar tak dimasuki maling,sebab didaerah itu sering terjadi kehilangan katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat aku yang berada di pantai dekat villa, Bang Roji berjalan kearahku.Dia lalu meraih tanganku.Seoalah kami pasangan suami istri iapun lantas menciumi tanganku, aku lantas dipeluk dan kamipun berjalan kearah villa. Masih dalam berpelukan kamipun masuk villa. Bang Roji lalu menutup pintu vila dan mengandengku kekamar. Sampai dalam, kamipun naik ke pembaringan.Aku tak sanggup berkata apa apa sebab kami akan menjalani sorga dunia yang baru kami lakukan.Tidak terlalu berlama lama kamipun sudah dalam keadaan bugil. Dengan cumbuan dan rabaan yang cukup intens di payudara dan liang intimku, malam itu pun kami melakukan hubungan kelamin untuk yang kesekian kalinya. Bang Roji kurasakan amat perkasa dan mengerti apa yang aku inginkan. Kini aku sudah menemukan seseorang yang mampu mengisi hari hariku, meski aku merasa sedikit cemburu jika ia berada di rumah istri istrinya. Malam itu di vila yang aku sewa, aku kembali dihantarkan Bang Roji menggapai kepuasan sebagi wanita dewasa seutuhnya. Kini aku mendapatkan kepuasan itu dari orang yang aku curigai dulu sering mengintipku itu, apalagi dulunya aku amat tak suka padanya, namun kini aku sudah bisa menerimanya luar dalam. Aku selalu merasa puas bersetubuh dengannya, selain kepuasan seksual, juga kepuasan psikologis mampu membalaskan sakit hatiku pada suamiku yang juga berselingkuh di luar sana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3725440842778217774-6553356336221045595?l=arsip-cerita-dewasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/feeds/6553356336221045595/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3725440842778217774&amp;postID=6553356336221045595' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/6553356336221045595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/6553356336221045595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/2008/08/membalas-selingkuh-suamiku.html' title='Membalas Selingkuh Suamiku'/><author><name>love hurt</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3725440842778217774.post-4426408599357511716</id><published>2008-08-12T22:30:00.001-07:00</published><updated>2008-08-12T22:30:24.888-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='janda telanjang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita saru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita janda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita seru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='janda bugil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita seks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='janda bispak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='janda seksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto janda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita seks janda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita dewasa'/><title type='text'>Nikmat, Wanita setengah Baya</title><content type='html'>Sebenarnya jujur aku merasa malu juga untuk menceritakan pengalamanku ini, akan tetapi melihat pada jaman ini mungkin hal ini sudah dianggap biasa. Maka aku beranikan diri untuk menceritakanya kepada para pembaca. Tetapi ada baiknya aku berterus terang bahwa aku menyukai wanita yang lebih tua karena selain lebih dewasa juga mereka lebih suka merawat diri. Aku seorang pria yang suka terhadap wanita yang lebih tua daripadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dari aku SMA aku sudah berpacaran dengan kakak kelasku begitu juga hingga aku menamatkan pendidikan sarjana sampai bekerja hingga saat ini. Satu pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika aku berpacaran dengan seorang janda beranak tiga. Demikian kisahnya, suatu hari ketika aku berangkat kerja dari Tomang ke Kelapa Gading, aku tampak terburu-buru karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.45. Sedangkan aku harus sampai di kantor pukul 08.30 tepat. Aku terpaksa pergi ke Tanah Abang dengan harapan lebih banyak kendaraan di sana. Sia-sia aku menunggu lebih dari 15 menit akhirnya aku putuskan aku harus berangkat dengan taxi. Ketika taxi yang kustop mau berangkat tiba-tiba seorang wanita menghampiriku sambil berkata, "Mas, mau ke Pulo Gadung ya?" tanyanya, "Saya boleh ikut nggak? soalnya udah telat nich."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku perbolehkan setelah aku beritahu bahwa aku turun di Kelapa Gading. Sepanjang perjalanan kami bercerita satu sama lain dan akhirnya aku ketahui bernama Dewi, seorang janda dengan 3 orang anak dimana suaminya meninggal dunia. Ternyata Dewi bekerja sebagai Kasir pada sebuah katering yang harus menyiapkan makanan untuk 5000 buruh di Kawasan Industri Pulo Gadung. Aku menatap wanita di sebelahku ini ternyata masih cukup menggoda juga. Dewi, 1 tahun lebih tua dari aku dan kulit yang cukup halus, bodi yang sintal serta mata yang menggoda. Setelah meminta nomor teleponnya aku turun di perempatan Kelapa Gading. Sampai di kantor aku segera menelepon Dewi, untuk mengadakan janji sore hari untuk pergi ke bioskop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti biasanya, tepat jam 05.00 sore aku bergegas meninggalkan kantorku karena ada janji untuk betemu Dewi. Ketika sampai di Bioskop Jakarta Theater, tentunya yang sudah aku pilih, kami langsung antri untuk membeli tiket. Masih ada waktu sekitar 1 jam yang kami habiskan untuk berbincang-bincang satu sama lain. Selama perbincangan itu kami sudah mulai membicarakan masalah-masalah yang nyerempet ke arah seks. Tepat jam 19.00, petunjukan dimulai aku masuk ke dalam dan menuju ke belakang kiri, tempat duduk favorit bagi pasangan yang sedang dimabuk cinta. Pertunjukan belum dimulai aku sudah membelai kepala Dewi sambil membisikkan kata-kata yang menggoda. "Dewi, kalau dekat kamu, saudaraku bisa nggak tahan," kataku sambil menyentuh buah dadanya yang montok. "Ah Mas, saudaranya yang di mana?" katanya, sambil mengerlingkan matanya. Melihat hal itu aku langsung melumat habis bibirnya sehingga napasnya nampak tersengal-sengal. "Mas, jangan di sini dong kan malu, dilihat orang." Aku yang sudah terangsang segera mengajaknya keluar bioskop untuk memesan taxi. Padahal pertunjukan belum dimulai hanya iklan-iklan film saja yang muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyebutkan Hotel **** (edited), taxi itupun melaju ke arah yang dituju. Sepanjang perjalanan tanganku dengan terampil meremas buah dada Dewi yang sesekali disertai desahan yang hebat. Ketika tanganku hendak menuju ke vagina dengan segera Dewi menghalangi sambil berkata, "Jangan di sini Mas, supir taxinya melihat terus ke belakang." Akhirnya kulihat ke depan memang benar supir itu melirik terus ke arah kami. Sampai di tempat tujuan setelah membayar taxi, kami segera berpelukan yang disertai rengekan manja dari Dewi, "Mas Jo, kamu kok pintar sekali sih merangsang aku, padahal aku belum pernah begini dengan orang yang belum aku kenal." Seraya sudah tidak sabar aku tuntun segera Dewi ke kamar yang kupesan. Aku segera menjilati lehernya mulai dari belakang ke depan. Kemudian dengan tidak sabarnya dilucutinya satu persatu yang menempel di badanku hingga aku bugil ria. Penisku yang sudah menegang dari tadi langsung dalam posisi menantang Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku membalas melucuti semua baju Dewi, sehingga dia pun dalam keadaan bugil. Kemudian dengan rakus dijilatinya penisku yang merah itu sambil berkata, "Mas kontolnya merah banget aku suka." Dalam posisi 69 kujilati juga vagina Dewi yang merekah dan dipenuhi bulu-bulu yang indah. 10 Menit, berlalu tiba-tiba terdengar suara, "Mas, aku mau keluaarr.."&lt;br /&gt;"Cret.. cret.. cret.."&lt;br /&gt;Vagina Dewi basah lendir yang menandakan telah mencapai oragasmenya. 5 Menit kemudian aku segera menyusul, "Dewi, Wi, Mas mau keluar.."&lt;br /&gt;"Crot.. crot.. crot.."&lt;br /&gt;Spermaku yang banyak akhirnya diminum habis oleh Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kami pun beristirahat. Tidak lama kemudian Dewi mengocok kembali penisku yang lunglai itu. Tidak lama kemudian penisku berdiri dan siap melaksanakan tugasnya. Dituntun segera penisku itu ke vaginanya. Pemanasan dilakukan dengan cara menggosokkan penisku ke vaginanya. Dewi mendesah panjang, "Mas, kontolnya kok bengkok sih, nakalnya ya dulunya?" Tidak kuhiraukan pembicaraan Dewi, aku segera menyuruhnya untuk memasukkan penisku ke vaginanya. "Dewi, masukkan cepat! Jonathan tidak tahan lagi nih." Sleep.. bless.. masuk sudah penisku ke vaginanya yang merekah itu. Tidak lupa tanganku meremas buah dadanya sesekali menghisap payudaranya yang besar walaupun agak turun tapi masih nikmat untuk dihisap. Goyangan demi goyangan kami lalui seakan tidak mempedulikan lagi apakah yang kami lakukan ini salah atau tidak. Puncaknya ketika Dewi memanggil namaku, "Jonathan.. terus.. terus.. Dewi, mau keluar.." Akhirnya Dewi keluar disertai memanggil namaku setengah berteriak, "Jonathan.. aku.. keluaarr.." sambil memegang pantatku dan mendorongnya kuat-kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berselang lama aku pun merasakan hal sama dengan Dewi, "Wi.. ah.. ah.. tumpah dalam atau minum Wi.." kataku. Terlambat akhirnya pejuku tumpah di dalam, "Wi.. kamu hebat.. walaupun sudah punya 3 anak," kataku sambil memujinya. Akhirnya malam itu kami menginap di hotel **** (edited). Kami berpacaran selama 1 tahun, walaupun sudah putus, tetapi kami masih berteman baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah di antara pembaca baik itu gadis, janda, maupun tante yang bersedia kencan lepas denganku aku siap melayaninya, terlebih lagi kalau lebih tua dariku. Silakan kirim email ke alamatku disertai nomor telepon, pasti aku hubungi. Benar juga kata pepatah, "Kelapa yang tua, tentu banyak juga santannya". Yang lebih tua memang enak juga untuk dikencani. Salam!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3725440842778217774-4426408599357511716?l=arsip-cerita-dewasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/feeds/4426408599357511716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3725440842778217774&amp;postID=4426408599357511716' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/4426408599357511716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/4426408599357511716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/2008/08/nikmat-wanita-setengah-baya.html' title='Nikmat, Wanita setengah Baya'/><author><name>love hurt</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3725440842778217774.post-8772735286033320184</id><published>2008-08-11T04:18:00.001-07:00</published><updated>2008-08-11T04:18:36.471-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='janda muda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='janda telanjang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita janda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='janda bugil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto janda muda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='janda cantik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita setengah baya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='janda seksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita gadis'/><title type='text'>Janda Muda Cantik</title><content type='html'>Maaf... bisa geser mbak?sapaku membangunkan cewek yang tertidur di bis dewi sri jurusan jakart.&lt;br /&gt;emang dah penuh ya?jawabnya agak bermalas2an.&lt;br /&gt;akhirnya saya duduk di sampingnya,bispun mulai melaju menuju tujuan.&lt;br /&gt;pada mulanya kami saling diem,aku memulai membuka percakapan.&lt;br /&gt;mau ke mana mbak...&lt;br /&gt;ke jakarta...jawabnya..&lt;br /&gt;lama-lama kami mulai akrab karena aku sedikit mengorek ttg dirinya dan bercerita juga tentang masalaluku berpacaran.dari situ aku mulai memberanikan diri memegang tangannya.ternyata walau agak menolak genit tapi dia tetap diam ketika kuremas dan kuelus tangannya.&lt;br /&gt;aku mulai mengeluarkan jurusku,kupijit-pijit tanganya dan dia menikmati.&lt;br /&gt;wah pinter juga yah lo mijit,mau dong pijitin...guraunya.&lt;br /&gt;langsung saja ku teruskan memijit mulai pungggung dan merambat ke daerah di sekitar dadanya.dia diam saja dan mulai mendengus kenikmatan.karena bis melaju kencang dan lampu dimatikan,maka aku bisa lebih leluasa melakuakan aksiku.sesekali orang yang duduk di belakangku bangun dan melihat apa yang kami perbuat.&lt;br /&gt;ah...sebodoh amat,yang penting gw seneng dan cewek disamping gw juga menikmati...begitu gumamku dalam hati.&lt;br /&gt;hampir semalam suntuk aku kerjain dia,yang tadinya hanya memijit lama kelamaan gw remas toketnya.ternyata dia juga mnikmati,maka kuteruskan aksiku.kususupkan tanganku melalui kaos bagian bawahnya dan yanng satu lagi aku buat memainkan memeknya.dia menggelinjang kenikmatan.&lt;br /&gt;ihhhhhhhh mas sksd deh sindirnya..&lt;br /&gt;emang apa sksd ?tanyaku&lt;br /&gt;sok tahu sok dekat...&lt;br /&gt;owwwwwww....&lt;br /&gt;lo juga suka kan?&lt;br /&gt;dia hanya tersenyum.lalu kuteruskan pekerjaanku sampe dia klimaks.tak terasa sudah sampai pulo gadung dan dia mau cepat-cepat berangkat kerja.makanya dia langsung ngacir naik ojek karena takut kesiangan.untungnya saat di bisa kita saling tuker hp dan janjian mau ketemuan sabtu sorenya.&lt;br /&gt;singkat cerita...&lt;br /&gt;sore itu ku tunggu dia di terminal tanjung priok,karena kemacetan yanng di sebabkan naiknya harga BBM (waktu itu pas hari pertama naik) maka dia agak terlambat,waktu aku telp dia kubilang,udah naik ojek aja ntar gw yang bayarin.&lt;br /&gt;mau kemana kita sri....&lt;br /&gt;kemana aja deh mas katanya....&lt;br /&gt;ya udah ke ancol aja yuk..&lt;br /&gt;aku dah sangat bernafsu begitu dia sambut ajakanku.yanng ada dalam benakku hanya bagaimana aku bisa ngentot sama dia.&lt;br /&gt;sesampainya di ancol kupilih tempat yang agak sepi agar bisa bebas bermesraan.tapi saat aku minta dia untuk saling merangsang dia malah gak mau,malu katanya.&lt;br /&gt;ya udah kita jalan-jalan aja yuk.akhirnya kita jalan sampe jam 10 malam.&lt;br /&gt;sri kalo malam gini dah gak ada angkutan neh,gemana kalo kita cari tempat nginap aja?&lt;br /&gt;nggak akh takut...katanya.&lt;br /&gt;takut kenapa?aku janji gak ku apa-apain deh,swear...&lt;br /&gt;walau agak lama kurayu namun akhirnya membuahkan hasil juga.lalu kami naik mobil jurusan kota dan naik lagi sampe pasar baru.langsung saja aku ajak dia masuk ke hotel ***.karena dia belom pernah masuk hotel,kelihatan sekali dia sangat canggung.&lt;br /&gt;sesampainya didalam aku dah gak sabar lagi,tapi dia menolak waktu kuajak ML,ya udah kita cerita-cerita dulu.sambil cerita kurangsang dia,kuremas susunya dan kusedot-sedot putingnya.ternyata di situlah titik lemahnya,dia nggak tahan lagi.ku lucuti semua pakaian yang ada tanpa dia sadari,mungkin saking nikmatnya hingga dia gak memperhatikan apa yang kulakukan.mulai kususuri semua kulitnya,ku jilati telinga belakangnya.dia semakin menggelinjang.massssssss....ohhhh..enakkkkkkkkkk..trss masasssssss..ceracaunya.kuturunkan jilatanku sampai ke kedua payudarannya.kusedot-sedot dan ku remas-remas keduannya bergantian.dia semakin melayang terbang ke awan.jilatanku trs merembet sampai akhirnya kujilat dan kumainkan memeknya.ternyata sudah basah...enak ya say?...&lt;br /&gt;ssssssss iya mas...trs mas.......ohhhhh.ssssssshh...terus ku mainkan memeknya sampe bener-bener siap..aku tidak mau membuang kesempatan sia-sia,kupasangkan kontolku tepat di depan pintu memeknya.selagi dia menikmati rangsangankku di kedua payudara dan mulut serta kupingnya,ku masukkan saja kontolku.aku langsung tancap sampe bener-bener mentok.walaupun sudah janda tapi ternyata masih seret banget.(dari cerita-cerita kami, ku tahu bahwa dia sudah bukan gadis lagi,dia janda di tinggal suaminya,makanya dia sangat hot ketika dirangsang sedikit)tanpa ba-bi-bu terus ku genjot tubuhnya sampai ranjang hotel berderit.dia merem melek menikmati apa yang ku lakukan.masssssss sssshh nikmat masssss...lama aku entot dia sampe akhirnya ku gak kuat dan keluarlah spermaku di dalam memeknya.dia kaget dan tersadar bahwa aku sudah menjerumuskan dia ke lubang kenikmatan.dia menatapku sambil bertanya.mas tadi mas masukin yah kontolnya?...&lt;br /&gt;iya ..emang kamu gak terasa?&lt;br /&gt;iya sih enak banget,tapi kok dimasukkin sih?kan dah janji..&lt;br /&gt;iya deh sory-sory..aku gak tahan soalnya.&lt;br /&gt;akhirnya dia nangis di dadaku,terasa damai hatiku ada cewek nangis di dadaku.&lt;br /&gt;setelah beristirahat dan cerita-cerita ttg kehidupannya,aku mulai merangsang dia lagi.sekarang dia sudah tidak menolak sama sekali.dia menikmati semua yang ada.mungkin sudah terlanjur pikirnya.ku kulum bibirnya,kumainkan lidahku didalam mulutnya.dia mulai berreaksi menyambut kenikmatan yang kuberikan.kuremas-remas susunya.dia semakin menggelinjang tidak karruan.lalu kucium dan ku sedot kedua putingnya bergantian sambil kuremas-remas mesra.dia semakin tidak tahan.ku elus-elus vaginanya.kujilati lagi dan kumainkan klitorisnya,dia mengerang dahsyat.ssssssssshhhhhhhh...masssss..ouuuuuhhhhhhgggggf..trs mas..enakkkk...iiya say jawabku.&lt;br /&gt;sekarang masukin yah say?&lt;br /&gt;dia hanya diam sambil menatapku sayu.&lt;br /&gt;lalu ku atur posisi,ku letakkan pantatnya di pingir ranjang,aku berdiri,sementara kontolku sudah tepat di depan liang surganya.kumasukkan pelan-pelan.dia merintih keenakan.ayo mas..lakukan..puaskan dahagaku..aku dah gak kuat....&lt;br /&gt;ku tekan pelan2 kontolku,clep..blesssss..masuk semuanya walau masih sulit.kudiamkan sebentar sambil memberi dia kesempatan menerima kontolku yang cukup besar.&lt;br /&gt;mulai ku goyanng dan ku genjot maju mundur pelan...pelan dan akhirnya lebih cepat kugenjot dia.sssssssshhhhhh yeahhhhh..ayo mas terus mas...enak banget mas...&lt;br /&gt;setelah agak lama kuminta ganti posisi.say..sekarang ganti gaya yah..lo nungging..yah..&lt;br /&gt;lalu kuangkat pantanya sampe nunging.aku naik keranjang dan memasang kontolku pas di luang vaginanya.ku elus seluruh kulit punggungnya.ku cium dan ku jilat-jilat telinga belakangnya....ayo mas..masukin..dah gak tahan nih....&lt;br /&gt;iya say...kutekan kontolku merangsek ke dalam lubang nikmatnya.blesss..masuk juga kontolku di telan memeknya.terasa lebih sempit.ku genjot lagi dan lagi.sampai dia gak tahan dan mengerang panjang...kontolku terasa di sedot masuk kedalam,di pijat enak sekali.......ohhhhhhh masssssssss aku keluaaaaarrrrrr....&lt;br /&gt;ku biarkan kontolku di dalam memeknya,sambil memberi kesempatan dia istirahat,lalu ku ganti posisinya terlentang.&lt;br /&gt;kuangkat kedua kakinya ke pundakku,dan kumasukkan lagi kontolku,dia masih diam.ku genjot terus memeknya,gw dah gak sabar mau ngentot dia sampe lemes...&lt;br /&gt;akhirnya dia berreaksi,dia goyangkan pantanya dan sesekali ikut naik turun.&lt;br /&gt;sssssssseehhhhhhhh..ogffffffffff nikmat mas,trs ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3725440842778217774-8772735286033320184?l=arsip-cerita-dewasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/feeds/8772735286033320184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3725440842778217774&amp;postID=8772735286033320184' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/8772735286033320184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3725440842778217774/posts/default/8772735286033320184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arsip-cerita-dewasa.blogspot.com/2008/08/janda-muda-cantik.html' title='Janda Muda Cantik'/><author><name>love hurt</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry></feed>
